Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekas Yang Tidak Pernah Hilang
Jejak yang Tidak Pernah Hilang
Pagi itu kota terasa lebih sibuk dari biasanya, jalanan dipenuhi kendaraan yang bergerak lambat di antara deretan gedung tinggi, sementara di lantai tiga puluh kantor Hartono Group suasana masih tenang, Rania sudah berada di ruang kerjanya sejak sebelum sebagian besar karyawan datang, kebiasaan yang mulai ia lakukan sejak beberapa minggu terakhir, bukan karena pekerjaannya menuntut itu, melainkan karena pikirannya jarang benar benar tenang ketika malam tiba. Ia duduk di kursi besar di belakang meja kayu gelap yang menghadap jendela panjang, sinar matahari pagi masuk perlahan menembus tirai tipis, menyentuh map map proyek yang tersusun rapi di mejanya, namun perhatiannya tidak benar benar tertuju pada dokumen itu, pikirannya kembali pada percakapan malam sebelumnya di halaman rumahnya, ketika Adrian berdiri di sana dengan wajah yang tidak lagi terlihat seperti pria yang dulu ia kenal, bukan lagi pria dingin yang selalu yakin dengan setiap keputusan, melainkan seseorang yang tampak seperti orang yang baru saja menyadari sesuatu yang terlalu mahal untuk diperbaiki. Rania menarik napas pelan, lalu membuka map di depannya, dokumen itu berisi laporan perkembangan proyek energi yang sedang mereka jalankan bersama Adrian Group, proyek yang dalam beberapa minggu saja sudah menjadi pusat perhatian dunia bisnis, investor mulai berdatangan, media terus membicarakan kerja sama yang aneh antara dua perusahaan yang memiliki sejarah pribadi rumit, namun semua itu tidak benar benar menarik bagi Rania, baginya proyek itu hanya satu bagian kecil dari rencana yang jauh lebih panjang. Pintu ruang kerjanya diketuk dua kali, lalu terbuka tanpa menunggu jawaban. Arsen masuk sambil membawa tablet dan secangkir kopi yang langsung ia letakkan di meja. Ia duduk di kursi depan meja Rania dengan ekspresi santai, namun matanya jelas mengamati sesuatu di wajah wanita itu.
"Kau tidak tidur semalam."
Rania menatapnya sebentar.
"Kau terlalu sering memperhatikan hal yang tidak penting."
Arsen mengangkat bahu, lalu menyalakan layar tablet di tangannya, beberapa berita bisnis muncul di layar itu, sebagian besar masih membahas proyek energi Hartono Group dan Adrian Group, sebagian lagi membahas konflik lama yang kini kembali menjadi cerita publik. Ia memutar layar tablet ke arah Rania.
"Media mulai berubah nada."
Rania membaca sekilas.
Judul berita itu berbunyi bahwa Adrian Group kini berada di posisi yang lebih lemah dalam kerja sama tersebut, beberapa analis bahkan mengatakan bahwa Adrian terlihat terlalu bersedia mengikuti keputusan Rania, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya di dunia bisnis yang mengenal Adrian sebagai negosiator keras. Rania mengembalikan tablet itu tanpa banyak reaksi.
"Media selalu suka membuat cerita."
Arsen menatapnya beberapa detik.
"Bukan hanya media."
Rania mengangkat alis sedikit.
"Apa maksudmu."
Arsen bersandar di kursinya.
"Aku baru mendapat kabar dari orang dalam Adrian Group."
Rania tidak terlihat terlalu tertarik.
"Dan."
Arsen berkata santai.
"Direksi mereka mulai khawatir."
Rania membuka map lain di mejanya.
"Itu bukan urusanku."
Arsen tersenyum tipis.
"Mereka bilang Adrian menolak beberapa proyek besar lagi pagi ini."
Rania berhenti membuka dokumen.
Arsen melanjutkan dengan nada yang hampir seperti menceritakan gosip ringan, namun matanya jelas memperhatikan reaksi Rania dengan teliti.
"Proyek teknologi dari Jepang, investasi logistik dari Eropa, semuanya ditolak tanpa negosiasi."
Rania menutup map itu pelan.
"Lalu."
Arsen mengangkat bahu.
"Semua sumber daya mereka dialihkan ke proyekmu."
Beberapa detik ruangan itu sunyi.
Rania akhirnya berkata datar.
"Itu keputusan bisnisnya."
Arsen tertawa kecil.
"Kau masih mengatakan itu."
Rania menatapnya.
"Karena itu memang fakta."
Arsen menggeleng pelan, lalu berdiri dari kursinya dan berjalan menuju jendela, ia melihat jalanan di bawah yang mulai padat oleh kendaraan, lalu berkata tanpa menoleh.
"Kadang aku penasaran."
Rania menunggu.
Arsen melanjutkan.
"Jika Adrian benar benar melakukan semua ini karena proyek, atau karena seseorang."
Rania tidak menjawab.
Namun ia tahu Arsen sengaja mengatakan itu.
Arsen akhirnya kembali ke meja, mengambil tablet itu dan memasukkannya ke dalam tasnya.
"Rapat dengan investor siang nanti jangan lupa."
Rania mengangguk kecil.
Arsen berjalan menuju pintu, lalu berhenti sebentar sebelum keluar.
"Ada satu kabar lagi."
Rania menatapnya.
"Apa."
Arsen berkata pelan.
"Ibu Adrian kembali ke kota kemarin malam."
Kalimat itu membuat ruangan terasa sedikit lebih dingin.
Rania tidak langsung menjawab.
Arsen melihat reaksinya beberapa detik sebelum akhirnya membuka pintu.
"Kurasa cerita ini akan semakin menarik."
Pintu tertutup.
Rania tetap duduk di kursinya cukup lama setelah itu, pikirannya tidak lagi pada proyek energi atau rapat investor, melainkan pada satu nama yang sudah lama tidak ia dengar secara langsung, ibu Adrian, wanita yang tiga tahun lalu berdiri di depan gerbang rumah besar keluarga Adrian dengan wajah yang sama dinginnya dengan malam itu, wanita yang mengucapkan kalimat yang mengubah hidup Rania hanya dalam beberapa detik. Rania berdiri dari kursinya dan berjalan menuju jendela, kota terlihat seperti biasa, orang orang berjalan, mobil bergerak, bisnis terus berjalan seperti tidak ada drama pribadi yang pernah terjadi di antara para pemimpin perusahaan besar itu, namun bagi Rania masa lalu tidak pernah benar benar hilang, masa lalu hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali muncul. Sementara itu di gedung lain yang tidak terlalu jauh dari sana, di lantai tertinggi kantor Adrian Group, suasana ruang kerja Adrian juga terasa lebih tenang daripada biasanya, meja kerjanya dipenuhi laporan proyek energi, dokumen investasi, dan beberapa proposal kerja sama baru yang belum ia sentuh, sekretarisnya sudah beberapa kali masuk membawa berkas baru, namun sebagian besar kembali keluar tanpa jawaban pasti. Adrian berdiri di depan jendela dengan tangan di saku celana, pemandangan kota di depan matanya sama dengan yang dilihat Rania dari gedung lain, hanya saja pikirannya tidak berada pada bisnis pagi itu. Pintu ruang kerjanya diketuk sebelum terbuka. Asistennya masuk dengan ekspresi yang terlihat sedikit tegang.
"Tuan Adrian, ada tamu."
Adrian tidak menoleh.
"Siapa."
Asisten itu menjawab pelan.
"Ibu Anda."
Beberapa detik ruangan itu benar benar sunyi.
Adrian akhirnya menutup matanya sebentar sebelum berkata.
"Biarkan dia masuk."
Beberapa detik kemudian seorang wanita elegan berusia sekitar enam puluh tahun masuk ke ruangan itu dengan langkah yang tetap tegap, ia mengenakan setelan mahal berwarna gelap, rambutnya tersusun rapi seperti biasa, wajahnya masih memiliki ekspresi tenang yang sama seperti tiga tahun lalu, seolah dunia tidak pernah benar benar menggoyahkan keyakinannya tentang apa yang benar dan salah. Ia berhenti beberapa langkah dari meja Adrian.
"Kau terlihat lebih kurus."
Adrian akhirnya menoleh.
"Ibu datang tanpa memberi tahu."
Wanita itu duduk di kursi depan meja Adrian tanpa menunggu undangan.
"Aku mendengar kabar yang menarik."
Adrian tidak menjawab.
Wanita itu melanjutkan dengan nada yang tetap tenang namun jelas mengandung sesuatu yang lebih tajam.
"Kau bekerja sama dengan wanita itu lagi."
Adrian menatapnya lurus.
"Namanya Rania."
Wanita itu tersenyum tipis.
"Aku tahu namanya."
Beberapa detik mereka saling menatap dalam diam.
Wanita itu akhirnya berkata.
"Aku juga mendengar kau menolak beberapa proyek besar."
Adrian duduk di kursinya.
"Itu keputusan bisnis."
Wanita itu tertawa kecil.
"Kau mengulang kalimat itu sejak kau berusia dua puluh lima tahun."
Ia bersandar di kursinya, matanya mempelajari wajah Adrian dengan teliti.
"Namun kali ini aku tidak yakin itu benar."
Adrian tidak membantah.
Wanita itu berkata lagi.
"Apakah kau benar benar ingin menghancurkan perusahaanmu hanya untuk membuktikan sesuatu pada wanita itu."
Adrian menjawab tenang.
"Aku tidak menghancurkan apa pun."
Wanita itu menggeleng pelan.
"Adrian."
Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
"Kesalahan terbesar seorang pemimpin adalah membiarkan emosi memimpin keputusan bisnis."
Adrian menatapnya tanpa berkedip.
"Kesalahan terbesar seorang ibu adalah menganggap semua keputusan yang ia buat selalu benar."
Kalimat itu membuat ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
Wanita itu tidak langsung menjawab, namun matanya berubah sedikit lebih dingin.
"Jadi ini tentang malam itu."
Adrian berkata pelan.
"Itu selalu tentang malam itu."
Wanita itu berdiri dari kursinya.
"Kau masih belum mengerti."
Adrian tidak bergerak.
Wanita itu berjalan menuju jendela yang sama yang tadi Adrian lihat, kota yang luas terbentang di bawah, lalu berkata dengan nada yang tetap yakin seperti tiga tahun lalu.
"Apa yang kulakukan malam itu menyelamatkan perusahaan ini."
Adrian menjawab tanpa ragu.
"Dan menghancurkan hidup seseorang."
Wanita itu menoleh padanya.
"Dia baik baik saja sekarang."
Adrian berkata pelan.
"Itu bukan karena kita."
Wanita itu memandangnya cukup lama sebelum akhirnya berkata sesuatu yang membuat udara di ruangan itu terasa lebih berat.
"Kalau begitu kau berencana membawa wanita itu kembali ke hidupmu."
Adrian tidak menjawab langsung.
Namun diamnya sudah cukup jelas.
Wanita itu tersenyum tipis, senyum yang tidak benar benar hangat.
"Kalau begitu aku harus memastikan satu hal."
Adrian mengerutkan kening sedikit.
Wanita itu melanjutkan dengan suara yang sangat tenang.
"Bahwa kali ini dia tidak akan menghancurkan semuanya."
Di gedung lain di seberang kota, Rania berdiri di depan jendela ruang kerjanya tanpa menyadari bahwa sebuah permainan lama baru saja mulai bergerak lagi, permainan yang tiga tahun lalu menghancurkan hidupnya hanya dalam satu malam.
Bab 32 Sesi 2
Rania tidak tahu bahwa pada saat yang hampir bersamaan sebuah percakapan yang lama tertunda sedang terjadi di lantai tertinggi gedung lain di pusat kota, namun entah kenapa sejak mendengar kabar tentang kepulangan ibu Adrian pagi itu pikirannya terasa sedikit lebih berat dari biasanya, bukan karena ia takut, bukan juga karena ia ragu dengan langkah langkah yang sudah ia rencanakan selama bertahun tahun, melainkan karena beberapa luka lama kadang kembali terasa ketika orang yang pernah membuka luka itu muncul kembali di hidup seseorang. Ia berdiri cukup lama di depan jendela ruang kerjanya, melihat kendaraan yang bergerak perlahan di bawah sana seperti aliran waktu yang tidak pernah benar benar berhenti, lalu ia kembali duduk di kursinya ketika layar ponselnya bergetar pelan di atas meja. Nama Arsen muncul di layar.
Rania mengangkat panggilan itu tanpa banyak bicara.
"Ada apa."
Suara Arsen terdengar santai seperti biasa, namun Rania tahu pria itu jarang menelepon tanpa alasan yang cukup penting.
"Aku baru keluar dari gedung Adrian Group."
Rania tidak terlalu terkejut.
"Kau mengawasi mereka sekarang."
Arsen tertawa kecil.
"Aku menyebutnya berjaga jaga."
Rania menunggu.
Arsen melanjutkan dengan nada yang lebih serius.
"Ibunya benar benar datang."
Rania tidak menjawab.
Arsen berkata lagi.
"Dan mereka bertemu cukup lama."
Rania bertanya singkat.
"Kau tahu apa yang mereka bicarakan."
Arsen menjawab jujur.
"Tidak sepenuhnya."
Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
"Tapi sumberku mengatakan suara mereka cukup keras."
Rania menyandarkan punggungnya di kursi.
"Itu tidak mengejutkan."
Arsen berkata pelan.
"Aku juga mendengar satu hal lagi."
Rania menunggu.
Arsen melanjutkan.
"Ibunya menyebut namamu."
Beberapa detik Rania tidak mengatakan apa apa.
Arsen akhirnya berkata dengan nada yang sedikit lebih hati hati.
"Kau baik baik saja."
Rania menjawab datar.
"Aku sudah melewati bagian terburuk dari cerita ini."
Arsen tidak langsung percaya.
Namun ia juga tahu Rania bukan orang yang mudah menunjukkan sesuatu yang sebenarnya ia rasakan.
"Aku hanya memberi tahu."
Rania berkata pelan.
"Aku tahu."
Arsen akhirnya menutup percakapan itu dengan kalimat singkat.
"Kalau ada sesuatu yang bergerak di pihak mereka aku akan tahu duluan."
Telepon berakhir.
Rania meletakkan ponselnya kembali di meja, matanya jatuh pada salah satu dokumen proyek energi yang terbuka di depannya, halaman itu berisi jadwal kerja sama antara Hartono Group dan Adrian Group selama enam bulan ke depan, jadwal yang padat, penuh pertemuan, negosiasi, presentasi investor, dan berbagai keputusan besar yang bisa mengubah arah bisnis kedua perusahaan. Ia menatap dokumen itu cukup lama sebelum akhirnya menutupnya perlahan.
Rania tahu sesuatu yang orang lain mungkin tidak sadari.
Proyek ini bukan hanya proyek bisnis.
Ini adalah medan yang jauh lebih pribadi.
Sementara itu di kantor Adrian Group suasana di ruang kerja Adrian masih dipenuhi ketegangan yang belum benar benar mereda sejak percakapan dengan ibunya beberapa menit lalu. Wanita itu masih berdiri di dekat jendela dengan sikap yang tetap tenang, seolah tidak ada kalimat tajam yang baru saja terucap di ruangan itu, sementara Adrian kembali duduk di kursinya dengan ekspresi yang lebih dingin dari sebelumnya.
Ibunya akhirnya memecah keheningan.
"Kau terlihat sangat yakin dengan keputusanmu."
Adrian menjawab singkat.
"Aku tidak membuat keputusan tanpa berpikir."
Wanita itu menoleh sedikit.
"Aku tahu."
Ia berjalan kembali menuju meja Adrian, lalu berhenti beberapa langkah di depannya.
"Itulah yang membuatku lebih khawatir."
Adrian mengangkat alis tipis.
Wanita itu melanjutkan.
"Kau bukan tipe pria yang melakukan sesuatu tanpa alasan."
Adrian menatapnya.
"Benar."
Wanita itu berkata pelan.
"Dan alasan itu sekarang adalah wanita itu."
Adrian tidak membantah.
Beberapa detik mereka saling menatap sebelum wanita itu berkata lagi dengan nada yang lebih rendah.
"Aku ingin bertemu dengannya."
Kalimat itu membuat Adrian sedikit mengerutkan kening.
"Kenapa."
Wanita itu tersenyum tipis.
"Aku ingin melihat sendiri seperti apa wanita yang membuat putraku mengubah seluruh arah bisnisnya."
Adrian menjawab tanpa ragu.
"Itu bukan ide yang bagus."
Wanita itu tertawa kecil.
"Adrian."
Ia berkata dengan nada yang hampir seperti menenangkan anak kecil.
"Kau tidak bisa melindunginya selamanya."
Adrian menjawab dingin.
"Aku tidak mencoba melindungi siapa pun."
Wanita itu menatapnya beberapa detik sebelum berkata pelan.
"Kau benar benar sudah berubah."
Adrian tidak menjawab.
Namun di dalam pikirannya satu wajah muncul dengan jelas, wajah Rania tiga tahun lalu ketika ia berdiri di depan gerbang rumah besar keluarga Adrian, hujan malam itu turun cukup deras, namun ia masih ingat dengan jelas bagaimana wanita itu berdiri tegak meskipun kata kata yang ia dengar malam itu seharusnya cukup untuk menghancurkan siapa pun.
Ibunya melanjutkan dengan nada yang sedikit lebih serius.
"Aku akan datang ke pertemuan investor kalian minggu ini."
Adrian menatapnya tajam.
"Untuk apa."
Wanita itu menjawab tenang.
"Aku ingin melihat permainan ini dari dekat."
Adrian berkata pelan.
"Ini bukan permainan."
Wanita itu tersenyum lagi, senyum yang sama yang selalu membuat orang lain sulit membaca apa yang sebenarnya ia pikirkan.
"Semua bisnis adalah permainan, Adrian."
Ia mengambil tasnya dari kursi.
"Dan aku tidak suka melihat anakku bermain tanpa memperhitungkan semua kemungkinan."
Wanita itu berjalan menuju pintu, namun sebelum keluar ia berhenti sebentar dan berkata tanpa menoleh.
"Aku ingin tahu satu hal."
Adrian menunggu.
Wanita itu melanjutkan.
"Jika wanita itu suatu hari benar benar menghancurkanmu."
Ia berhenti sebentar.
"Apakah kau masih akan menyebutnya keputusan bisnis."
Pintu tertutup setelah itu.
Ruangan itu kembali sunyi.
Adrian duduk diam beberapa saat sebelum akhirnya membuka salah satu map di mejanya, dokumen di dalamnya bukan laporan proyek, bukan juga proposal investasi, melainkan laporan latar belakang seseorang yang ia minta timnya kumpulkan beberapa minggu lalu.
Nama di bagian atas halaman itu tertulis jelas.
Rania Hartono.
Di halaman halaman berikutnya tercatat semua yang terjadi selama tiga tahun terakhir, bagaimana Rania membangun Hartono Group dari perusahaan yang hampir tidak dikenal menjadi salah satu perusahaan energi paling cepat berkembang di Asia, bagaimana ia memenangkan proyek proyek besar yang bahkan perusahaan lama tidak berani sentuh, bagaimana ia membangun jaringan investor yang sekarang membuat banyak orang di dunia bisnis mulai memandangnya dengan cara berbeda.
Adrian menutup map itu perlahan.
Ia tahu satu hal yang mungkin orang lain belum sadari.
Rania bukan lagi wanita yang dulu berdiri di depan gerbang rumahnya dengan mata penuh luka.
Rania sekarang adalah seseorang yang mampu mengubah arah permainan.
Dan Adrian tahu satu hal lagi yang jauh lebih penting.
Permainan ini belum benar benar dimulai.