NovelToon NovelToon
Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Embun Beku di Dapur Neraka dan Filosofi Sepotong Kayu

Penurunan suhu di Dapur Luar Sekte Awan Mengalir tidak terjadi dalam sekejap, melainkan merambat seperti predator tak kasat mata yang menggerogoti udara panas. Dimulai dari ambang pintu ganda, uap tebal dari delapan wajan raksasa yang mendidih tiba-tiba melambat di udara, lalu perlahan-lahan mengkristal menjadi butiran salju sehalus debu yang berjatuhan tanpa suara ke lantai batu.

Genangan air kaldu dan lemak babi yang menetes di lantai berminyak itu mulai mengeluarkan bunyi kertak-kertak pelan, membeku menjadi lapisan es transparan. Suhu yang tadinya cukup untuk memanggang kulit manusia kini anjlok hingga napas setiap murid pelayan berubah menjadi kepulan asap putih yang tebal.

Gadis berbalut jubah sutra biru es itu melangkah masuk. Setiap kali sol sepatu bot kulit rusa putihnya menyentuh lantai batu, terbentuk pola bunga teratai es kecil yang mekar selama satu tarikan napas sebelum kembali mencair. Wajahnya yang seputih pualam tidak menunjukkan emosi apa pun—datar, beku, dan tak tersentuh. Namun, jika seseorang berani menatap tangannya yang dibiarkan menggantung di sisi tubuh, mereka akan melihat buku-buku jarinya memutih karena mencengkeram sarung pedang gioknya terlalu erat.

Namanya adalah Su Qingxue, Murid Inti dari Puncak Teratai Salju. Di balik topeng ketidakpedulian mutlaknya, dadanya terasa sesak oleh keputusasaan yang disembunyikan rapat-rapat. Tiga hari lagi adalah turnamen besar sekte, dan meridian es di dalam tubuhnya sedang mengalami penyumbatan kritis akibat latihan paksa. Tabib utama sekte telah memvonis bahwa satu-satunya cara untuk menstabilkan energinya adalah dengan mengonsumsi sup dari 'Urat Naga Tanah' yang diproses secara sempurna. Masalahnya, koki di Dapur Dalam menolak untuk memasaknya karena bahan itu terlalu keras dan membutuhkan tenaga fisik kasar yang tidak mereka miliki. Dapur Luar yang kumuh ini adalah pilihan terakhirnya. Keputusasaannya memaksanya turun ke tempat yang menurutnya lebih kotor dari kandang babi hutan ini.

Mata biru es Su Qingxue yang tajam menyapu ruangan. Rasa jijik berkelebat singkat—sangat singkat hingga nyaris tak terdeteksi—saat melihat noda darah, sisa sayuran, dan para pelayan yang bau keringat. Tatapannya kemudian jatuh pada ratusan murid pelayan yang kini bersujud menyentuhkan dahi mereka ke lantai beku.

Di barisan paling depan, Kepala Koki Wang, tiran yang suaranya menggetarkan langit-langit dapur beberapa saat lalu, kini tampak sangat menyedihkan. Pria gempal itu berlutut dengan kedua tangan gemetar menekan lantai. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari dahi lebarnya, langsung membeku menjadi kristal-kristal kecil di alis tebalnya. Dia menelan ludah dengan susah payah, jakunnya bergerak kaku. Jantungnya berdegup begitu keras hingga menabrak tulang rusuknya sendiri. Berhadapan dengan seorang Murid Inti, nyawanya tidak lebih berharga dari sehelai rumput liar. Jika Su Qingxue mencabut pedangnya dan memenggal kepalanya saat ini juga, sekte hanya akan menyuruh orang lain mengepel darahnya.

Lalu, di tengah lautan manusia yang bersujud ketakutan itu, tatapan Su Qingxue terhenti pada sebuah anomali yang sangat mencolok.

Di sudut meja jagal yang berlumuran darah, di atas bangku kayu usang, seorang pemuda berjubah abu-abu kumal tengah menatapnya dengan mulut terbuka lebar, menguap tanpa suara. Pemuda itu memiliki sebelah kaki yang masih menggantung di udara, seolah-olah dia baru saja hendak turun dari bangku tetapi mendadak kehabisan tenaga di tengah jalan.

Keheningan yang mencekik menguasai dapur. Udara terasa semakin berat.

Su Qingxue memicingkan matanya. Hawa dingin yang memancar dari tubuhnya menebal. Niat membunuh yang sangat tipis, namun setajam jarum perak, menusuk tepat ke arah Lin Fan. Bagi Su Qingxue, ini bukanlah sekadar masalah rasa hormat. Di dunia kultivasi, kelemahan dan ketidaksopanan dari makhluk rendahan adalah provokasi yang menantang tatanan alam. Dia menunggu pemuda itu untuk sadar, memucat, dan menjatuhkan dirinya ke lantai memohon ampun.

Namun, yang terjadi justru di luar nalar sehat mana pun.

Lin Fan merasakan jarum tak kasat mata dari niat membunuh itu menggelitik kulit wajahnya. Alih-alih merinding ketakutan, pikiran pertamanya adalah keluhan panjang. *Astaga, kenapa udara tiba-tiba menjadi sangat dingin? Otot-ototku akan kram jika aku tiba-tiba berlutut di lantai batu yang beku itu. Apalagi aku baru saja makan pil. Berlutut akan menekan lambungku dan mengganggu pencernaan pasifku.*

Dengan gerakan yang sangat lambat—bukan lambat karena provokasi yang disengaja, melainkan murni karena keengganan untuk membuang energi—Lin Fan menutup mulutnya dari uapan. Kelopak matanya yang sayu bergerak turun perlahan, menyembunyikan sebagian besar pupil hitamnya. Dia memiringkan kepalanya sedikit, lalu dengan gerakan menyeret yang memakan waktu tiga napas penuh, dia menurunkan kakinya yang menggantung hingga telapak sepatunya menyentuh lantai batu secara mendatar, nyaris tanpa suara.

Alih-alih berdiri atau berlutut, Lin Fan memposisikan kedua sikunya di atas paha, menopang dagu dengan kedua telapak tangan, dan balas menatap Su Qingxue dengan tatapan kosong seorang kakek tua yang sedang berjemur di teras rumah.

Su Qingxue mematung. Otot di sudut bibirnya berkedut samar. Tangan kirinya tanpa sadar menggenggam sarung pedangnya semakin erat hingga terdengar bunyi gesekan pelan antara sarung kayu giok dan sutra jubahnya. Dia belum pernah, seumur hidupnya sejak memasuki sekte, ditatap dengan tatapan yang begitu... kosong. Tidak ada kekaguman, tidak ada ketakutan, tidak ada kebencian. Hanya kehampaan absolut dari seseorang yang tampaknya menganggap eksistensi Su Qingxue sama pentingnya dengan sepotong lobak layu di sudut ruangan.

*[Ding! Aura dingin Murid Inti mencoba mengintimidasi Host.]*

*[Peringatan: Berlutut membutuhkan pergerakan enam kelompok otot utama dan menghabiskan 15 kalori. Ini melanggar doktrin Kemalasan Mutlak!]*

*[Misi Harian Ketiga Diperbarui: Pertahankan posisi duduk dan abaikan intimidasi Murid Inti Su Qingxue. Biarkan dia berbicara lebih dulu.]*

*[Hadiah Misi: Teknik Pernapasan Penyu Kuno (Pasif), Pengalaman Kultivasi +200]*

Suara sistem yang berdenting di benaknya membuat Lin Fan menghela napas panjang dalam hati. *Sistem ini benar-benar tidak peduli dengan nyawaku. Tapi memikirkan rasa sakit di lutut jika harus bersujud di atas es... biarlah. Aku mending mati kedinginan sambil duduk daripada mati kelelahan karena harus merangkak memohon ampun.*

Lin Fan sedikit mengubah posturnya, membiarkan punggungnya melengkung dengan postur yang sangat buruk, benar-benar melunturkan semua sisa aura seorang kultivator dari tubuhnya. Dia terlihat layaknya sepotong kayu lapuk yang siap hancur ditiup angin.

Su Qingxue akhirnya memalingkan wajahnya. Menghukum seorang murid pelayan yang gila di depan umum hanya akan menunda tujuan utamanya dan merendahkan statusnya. Dia akan mengurus ketidaksopanan ini nanti. Dengan satu tarikan napas pendek dan terkontrol, dia melangkah maju melewati wajan-wajan yang apinya kini mengecil karena hawa dinginnya.

Dia berhenti tiga langkah di depan Kepala Koki Wang yang masih bersujud.

"Kau Kepala Koki di tempat ini?" Suara Su Qingxue terdengar untuk pertama kalinya. Suaranya merdu, sejenih dentingan gelas kristal yang diadu, namun nadanya sedingin angin utara di puncak gunung bersalju. Tidak ada emosi, tidak ada intonasi yang naik turun.

Wang menelan ludah kasar. Tubuhnya tersentak keras seolah baru saja disambar petir kecil. Dia tidak berani mengangkat wajahnya. Kepalanya tetap menempel di lantai beku.

"Me... menjawab Yang Mulia Murid Inti... hamba... hamba adalah Wang Ta, penanggung jawab Dapur Luar..." Suara Wang bergetar hebat, giginya saling bergemeretak menghasilkan bunyi 'tak-tak-tak' yang terdengar jelas di tengah keheningan dapur yang mencekam. "A-apa yang bisa... hamba yang hina ini... lakukan untuk Yang Mulia?"

Su Qingxue tidak menatap Wang. Pandangannya lurus ke depan, tertuju pada deretan pisau daging yang berkarat di dinding seberang. Tangan kanannya bergerak masuk ke dalam lengan bajunya yang lebar, lalu dengan gerakan elegan yang terukur sempurna, dia melempar sebuah benda ke lantai, tepat di depan wajah Kepala Koki Wang yang masih menempel di tanah.

*DUK.*

Suara benda berat yang menghantam lantai batu menggema tumpul.

Mata Wang melirik dari sudut matanya tanpa mengangkat kepala. Di atas lantai es, tergeletak sebuah kotak kayu cendana hitam berukir naga melingkar. Kotak itu memancarkan hawa dingin yang jauh lebih menusuk daripada aura Su Qingxue, memunculkan kabut putih tebal di sekitarnya. Dengan tangan yang bergetar seolah terkena penyakit lumpuh, Wang perlahan meraih tutup kotak itu dan membukanya.

Begitu kotak terbuka, gelombang energi spiritual bumi yang sangat liar dan kasar meledak keluar, menyapu wajah Wang dan membuatnya terpental ke belakang, jatuh terduduk dengan posisi yang sangat tidak sedap dipandang. Napasnya tercekat.

Di dalam kotak tersebut, berbaring sepotong daging berwarna cokelat gelap kemerahan, panjangnya sekitar dua jengkal dan setebal lengan orang dewasa. Permukaannya dipenuhi sisik-sisik halus transparan, dan setiap kali terkena cahaya, daging itu tampak sedikit berdenyut, seolah-olah masih memiliki nyawa sendiri.

Wang terbelalak, wajahnya yang tadi pucat pasi kini berubah seputih kertas naskah kuno. Matanya hampir keluar dari rongganya. Bibirnya gemetar liar tak terkendali saat dia mencoba merangkai kata-kata yang tersangkut di tenggorokannya.

"Ini... ini..." Suara Wang hanyalah cicitan parau yang menyedihkan. Jari-jarinya menunjuk ke arah kotak kayu itu sambil terus bergerak mundur perlahan di atas lantai, seolah-olah isi kotak itu adalah ular berbisa yang bersiap mematuk lehernya. "U-Urat Naga Tanah... dari monster tingkat lima..."

Di sudut lain, Zhao Er yang berjongkok di dekat kaki Lin Fan menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha menahan erangan ketakutan. Lin Fan sendiri, dari posisinya yang masih bertopang dagu di atas bangku, hanya menaikkan sebelah alisnya dengan gerakan yang sangat lambat. Dia menatap daging berdenyut di dalam kotak itu sejenak, lalu matanya perlahan bergerak kembali ke wajah Su Qingxue.

*Monster tingkat lima?* batin Lin Fan dengan nada malas yang kental. *Kudengar daging monster semakin tinggi tingkatannya, teksturnya semakin alot. Memotong benda itu pasti membutuhkan tenaga setara dengan membelah batu karang selama sepuluh tahun berturut-turut. Tolong jangan bilang dia membawa benda itu ke sini untuk...*

"Aku butuh urat itu diproses menjadi seratus delapan irisan setipis sayap jangkrik," ucap Su Qingxue memotong kepanikan Wang, nadanya masih sangat datar dan memancarkan otoritas mutlak yang tidak menerima bantahan. Matanya perlahan menunduk, menatap tajam ke arah Kepala Koki Wang yang kini terduduk lemas. "Tanpa merusak satu pun jalur urat energi spiritual di dalamnya. Dan aku membutuhkannya sebelum matahari terbenam."

Hening.

Keheningan yang menyusul kata-kata Su Qingxue terasa lebih berat daripada kutukan maut.

Kepala Koki Wang, seorang kultivator Pemurnian Tubuh Tingkat 4 yang biasanya bisa mengangkat seekor babi hutan utuh dengan satu tangan, tiba-tiba menangis. Air mata keputusasaan benar-benar menggenang di matanya yang sipit dan mengalir turun melewati pipinya yang berlemak. Dia mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan kembali bersujud, kali ini membenturkan dahinya ke lantai batu hingga terdengar bunyi 'dug' yang keras dan bergema. Sedikit darah merah mulai merembes dari dahinya, menodai lantai es yang putih.

"Yang... Yang Mulia... ampun..." ratap Wang, suaranya pecah, hidungnya berair. Kesombongannya telah hancur lebur tanpa sisa. "Urat Naga Tanah tingkat lima... kekerasannya melampaui baja hitam kelas atas! Pisau daging di Dapur Luar ini akan hancur lebur sebelum berhasil menembus sisik luarnya! Bahkan jika hamba menghabiskan seluruh sisa umur hamba... hamba tidak memiliki tenaga atau kendali Qi untuk mengirisnya setipis sayap jangkrik tanpa merusak energinya! Hamba pantas mati! Tolong ampuni nyawa anjing hamba ini!"

Dahi Su Qingxue berkerut tipis, lipatan samar yang menunjukkan bahwa kesabaran dan harapan terakhirnya mulai retak. Tangannya yang memegang sarung pedang bergetar sangat halus, sebuah detail yang hanya disadari oleh Lin Fan yang sedari tadi terus memperhatikan tanpa berkedip (sebagian besar karena dia terlalu malas untuk mengedipkan mata). Gadis jenius ini tidak datang untuk membully pelayan; dia datang karena benar-benar terjepit di sudut keputusasaan, dan sekarang jalan terakhirnya pun tertutup.

Su Qingxue memejamkan matanya perlahan. Ketika dia membukanya kembali, sorot matanya berubah menjadi lautan es abadi yang kosong. Dia tidak memarahi Wang. Dia tidak menghukumnya. Dia hanya menatap kotak kayu cendana itu dengan kehampaan yang memilukan, bersiap untuk berbalik dan menghadapi kegagalan meridiannya sendirian.

Namun, sebelum Su Qingxue sempat memutar tubuhnya, sebuah suara serak, pelan, dan diwarnai dengan nada malas yang luar biasa menyebalkan memecah keheningan di udara beku itu.

"Haaaahh..."

Sebuah helaan napas panjang yang terdengar sangat enggan terdengar dari sudut meja jagal.

Su Qingxue menghentikan langkahnya. Wang menghentikan ratapannya. Ribuan pasang mata perlahan menoleh ke arah sumber suara.

Di atas bangkunya, Lin Fan masih bertopang dagu. Matanya menatap sayu ke arah kotak cendana. Dengan gerakan yang sangat lambat, dia mengangkat satu jari telunjuknya yang kotor dan menunjuk ke arah potongan Urat Naga Tanah tersebut.

"Hei, Nona yang membuat lantai ini menjadi licin," ucap Lin Fan, suaranya mengayun santai tanpa beban, sama sekali tidak memedulikan aura dingin yang membekukan darah di sekitarnya. "Jika kau hanya butuh benda alot itu diiris tipis tanpa menghancurkan urat energinya... bisakah kau melakukannya tanpa harus menyuruh orang berkeringat dan mengangkat pisau? Suara pisau beradu dengan baja akan mengganggu waktu istirahatku."

Mata biru es Su Qingxue perlahan beralih menatap Lin Fan. Untuk pertama kalinya sejak dia melangkah masuk ke dapur ini, ekspresi di wajah pualamnya retak, digantikan oleh sorot ketidakpercayaan yang mendalam.

1
ikyar
bagus lucu
rinn
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!