NovelToon NovelToon
Jodoh Pilihan Untuk Sang CEO

Jodoh Pilihan Untuk Sang CEO

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:310.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Di hari pernikahannya, Farhan Bashir Akhtar dipermalukan oleh calon istrinya yang kabur tanpa penjelasan. Sejak saat itu, Farhan menutup rapat pintu hatinya dan menganggap cinta sebagai luka yang menyakitkan. Ia tumbuh menjadi CEO arogan yang dingin pada setiap perempuan.

Hingga sang ayah menjodohkannya dengan Kinara Hasya Dzafina—gadis sederhana yang tumbuh dalam lingkungan pesantren. Pertemuan mereka bagai dua dunia yang bertolak belakang. Farhan menolak terikat pada cinta, sementara Kinara hanya ingin menjadi istri yang baik untuknya.

Dalam pernikahan tanpa rasa cinta itu, mampukah Kinara mencairkan hati sang CEO yang membeku? Atau justru keduanya akan tenggelam dalam luka masa lalu yang belum terobati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

“Tidak butuh wanita?” Pak Ardhan melangkah mendekat. “Atau tidak mau menerima kenyataan bahwa kau masih terluka?”

Dada Farhan terasa mengeras. Namun ia menahan diri untuk tidak menunjukkan reaksi apapun. Ayahnya menatapnya lama, kemudian kembali berbicara yang kali ini mencoba untuk memahaminya, seperti sedang merawat luka di hatinya yang sudah sangat parah.

“Kau pikir Ayah dan Mamamu tidak melihat betapa menderitanya kamu, Farhan? Kau pikir kami tidak merasakan bagaimana kau membiarkan dirimu terjebak dalam masa lalu yang menyakitkan?”

Farhan mengalihkan pandangannya dari ayahnya. Rahangnya mengeras.

“Ayah tahu perasaanmu waktu itu, saat Adilla pergi.” Suara ayahnya sedikit menurun, namun tidak kehilangan ketegasan. “Tapi, sampai kapan kau mau hidup dalam penjara yang kau buat sendiri, nak?”

Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan menusuk. Membuat Farhan mengepalkan tangannya.

"Kalau ayah sudah tahu jawabannya lantas kenapa ayah masih membicarakan hal ini kepadaku?" Sahut Farhan yang membuat pak

Ardhan mengangkat alisnya.

“Benarkah? Kau sungguh akan hidup seperti ini selamanya? Menutup pintu hatimu untuk orang lain dan membiarkan dirimu terjebak dalam masa lalu?”

“Aku sudah berulang kali bilang, ayah. Aku tidak butuh orang lain dalam hidupku. Aku tidak akan membiarkan seorang wanita pun masuk lagi ke dalam kehidupanku. Tidak setelah kejadian itu.” ucap Farhan sembari menatap ayahnya dengan sorot dingin. Nada suaranya tajam, tidak bergetar dan tanpa ragu sedikitpun.

Namun di balik ketegasan itu, ada luka besar yang masih menganga. Pak Ardhan merapatkan bibirnya. Kesedihan tersembunyi jelas terlihat pada wajahnya. Ia melangkah lebih dekat lagi, kini hanya berjarak satu langkah dari putranya.

“Anakku, biar ayah kasih tahu kamu sedikit kalau hidup bukan hanya tentang bekerja, mengumpulkan kekayaan, atau menutup luka dengan prestasi. Manusia itu perlu dicintai dan perlu mencintai.” pak Ardhan berhenti sejenak untuk menatap Farhan dalam dalam.

“Apa kau kira Ayah tidak pernah merasakan kehilangan? Apa kau kira Ayah belum pernah merasakan terluka?”

Farhan terdiam.

Namun pak Ardhan tidak ingin mengungkit masa lalunya lebih jauh. Ia tahu ini bukan tentang dirinya. Ini tentang anaknya yang selama dua tahun ini mencoba terlihat kuat padahal jiwanya hancur.

“Kau berhak bahagia, Nak. Jangan hukum dirimu atas kesalahan yang dilakukan oleh orang lain.” katanya pelan.

Farhan menutup matanya sesaat, memendam semua emosi yang mencoba merayap keluar. Ia menolak terlihat rapuh bahkan di hadapan ayahnya sendiri. Ketika ia membuka matanya lagi, hanya ada kebekuan di sana.

“Aku sudah pernah memberikan semuanya pada seseorang, ayah. Dan ayah tahu bagaimana akhirnya,” ucap Farhan dingin. “Jadi, berhenti berharap aku akan berubah. Aku sudah mati rasa pada yang namanya cinta.”

Suasana hening kembali menyelimuti ruangan. Begitu tebal dan menyakitkan. Pak Ardhan mengusap wajahnya perlahan, lelaki yang terbiasa mengendalikan ribuan karyawan itu kini terlihat kalah di hadapan anaknya sendiri.

“Ayah cuma takut kalau suatu saat, saat usia Ayah dan ibumu semakin tua, kau akan benar-benar sendirian di dunia ini, nak.” ucap pak Ardhan pelan dan membuat Farhan mengerang dalam hati. Ia sangat membenci arah percakapan ini.

"Tolong jangan buat dirimu menderita seperti ini nak. Ayah benar benar tidak tahan melihatmu seperti ini." Ucap pak Ardhan dengan lirih.

"Aku tidak bisa, ayah. Dan tolong jangan minta Farhan untuk meruntuhkan tembok yang sudah Farhan bangun selama dua tahun ini." Ujar Farhan dengan jujur dari hatinya yang paling dalam.

Pak Ardhan memejamkan matanya sejenak, seperti menahan sesuatu yang ingin ia katakan. Ia melangkah mundur, tangannya menggenggam pinggiran meja untuk menjaga keseimbangannya, seolah kalimat itu lebih menyakitkan dari pukulan mana pun.

Sungguh, tak ada yang lebih menyiksa bagi seorang ayah selain menyadari bahwa ia tak bisa mengobati luka di hati putranya sendiri.

Namun ia tidak akan menyerah. Ia akan berusaha untuk meruntuhkan tembok yang sudah mengurung perasaan putranya sejak lama.

“Jika itu yang menjadi pilihanmu, maka Ayah yang akan membuat keputusan untukmu.” kata pak Ardhan pada akhirnya, suaranya kembali tenang namun menyimpan tekad yang kuat dan membuat Farhan mengerutkan alisnya karena bingung dan mulai merasa tidak nyaman.

“Apa maksud Ayah?” tanyanya.

Pak Ardhan mengangkat wajahnya untuk menatap Farhan dengan ketegasan yang belum pernah ia tunjukkan dalam percakapan ini.

“Ayah tidak bisa membiarkan mu hidup seperti ini terus. Kau butuh seseorang dalam hidupmu baik kau mau atau tidak.”

Farhan langsung tegang. Nada suaranya mendingin beberapa derajat lebih tajam.

“Ayah jangan lakukan sesuatu yang membuatku kecewa kepada ayah.” ucap Farhan pada ayahnya namun terlambat, karena ayahnya itu sudah memutuskan sesuatu untuknya.

“Ayah akan mencarikan seseorang yang bisa menuntun mu kembali menjadi manusia yang punya hati. Seseorang yang akan Ayah pilih sebagai istrimu.” ujar pak Ardhan dengan mantap.

Farhan terpaku, matanya membulat sementara rahangnya mengeras.

“Tidak, ayah tidak bisa melakukan ini padaku.” tolak Farhan dengan tegas namun sedikit mengancam.

Pak Ardhan tidak terkejut dengan respon itu. Ia sudah menduganya. Ia justru tersenyum tipis, senyum yang menandakan ia sudah jauh lebih siap menghadapi penolakan itu dibandingkan Farhan yang menolak keputusannya itu.

“Kau adalah satu satunya anak ayah, nak. Dan Ayah tidak akan tinggal diam melihatmu hancur seperti ini.” kata pak Ardhan dengan penuh cinta seorang ayah.

Farhan melangkah maju, emosi yang ia tekan mulai menyeruak.

“Ayah pikir seorang wanita akan memperbaiki hidupku? Mereka justru penyebab semuanya.” ujar Farhan yang membuat pak Ardhan menggeleng.

“Tidak semua wanita akan bersikap seperti itu nak."

Farhan terdiam. Ada kemarahan dan juga kebencian yang terlihat di matanya tapi yang paling kuat adalah rasa takut akan kembali terluka. Membuat ayahnya berjalan menghampirinya dan menepuk lembut bahunya. Tepukan yang hangat itu justru membuat Farhan merasa lebih terpojok daripada ditenangkan.

“Sudah menjadi kodrat manusia untuk hidup berpasang pasangan nak, dan kau tidak bisa menghindar dari kodrat yang diatur tuhan untuk semua hambanya. Ayah akan memperjuangkan kebahagiaanmu meski kau menolaknya.” ucap pak Ardhan dengan hati hati dan membuat Farhan menatap ayahnya dengan campuran frustasi dan ketidakpercayaan.

“Aku sudah bilang aku tidak ingin—”

“Dan Ayah sudah memutuskan,” potong pak Ardhan dengan tegas.

Untuk pertama kalinya, Farhan merasa kendali hidupnya benar-benar terancam. Ia ingin membantah, ingin memberontak, namun semua kata-kata itu terhenti di tenggorokannya.

Pak Ardhan melangkah kembali ke arah jendela, menatap malam yang masih kelam.

"Ayah percaya bahwa akan ada perempuan di luar sana yang bisa mengobati luka di hatimu nak. Dan ayah akan menemukan wanita itu untuk menjadi pendamping hidupmu."

Farhan terdiam dan membeku. Kata-kata ayahnya menggantung di udara, menjadi ancaman yang tidak bisa ia lawan bahkan dengan segala kekuasaan yang ia miliki sebagai CEO.

Di luar sana, angin kembali berhembus, menggerakkan tirai yang menari perlahan. Seolah malam ikut menertawakan masa depan Farhan yang baru saja berubah arah tanpa ia kehendaki.

1
Febby fadila
jangan dipaksakan Kinara buat Farhan nyaman sama kamu dulu baru pelan² menuntun dirinya kejlan yg sama kek kamu
Febby fadila
jangan mengedepankan ego yang akan menghancurkan semua hati dan jiwa kamu Farhan, berdamailah dengan masa lalu itu jauh lbih indan 🥰🥰
Febby fadila
hmmm dari sifat Farhan aku jadi ingat sama om aku juga bgt, hingga kini nggak nikah² bahkan umurnya udah 37 Thun 🥹
Umi Kulsum
se.angat farhan ayat alqur,an memang bisa menenangkan
Febby fadila
aku sampai nggak bisa komen apa, seakan lidahku ikut keluar
Febby fadila
Farhan karena kamu hidup terlalu lama dlm kehidupan gelap jadi kamu nggak tau maksud dari ayah kamu
Febby fadila
ya Thor air mataku menetes di bagian waktu Farhan meletakkan tangan dikepala Kinara dan berdoa 😭😭😭😭
Febby fadila
lagian ngapain kamu harus berpatokan untuk masa lalu yang hanya buat luka, lupankan Adilla, dan menata masa depan yg bahagia bersama istri dan anakmu kelak
Febby fadila
pernikahan itu ibadah jadi jalani aja dulu, dan bukalah hatimu untuk istrimu dan melihat kedepan meyakinkan bahwa kamu berhak bahagia
Febby fadila
semua yg kamu anggap nggak baik tp itu adalah jln yg akan kamu tuju ke masa depan Farhan yg lebih cerah dan penuh dengan cinta dan sayang
Febby fadila
semoga pernikahan mereka berjalan dengan baik, dan Farhan bisa membuka hatinya untuk Kinara
Febby fadila
Semoga setelah semuanya siap dengan cara sholat istikharah, kamu bisa meluluhkan es di hati Farhan
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: aamiin 🤲
total 1 replies
Febby fadila
sungguh peraturan yg ajaib di perusahaan Farhan 🤣
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: saking traumanya sama perempuan kak🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Febby fadila
semua orang berhak bahagia, dan semua orang dewasa pun pernah merasakan yg namax sakit hati karena cinta, tapi bukan berarti harus di jadikan sebagai patokan untuk menutup diri,
Febby fadila
betul tu kata ayahmu Farhan nggak seharusx kamu hidup dalam luka masa lalu yg adlle lakukan, buktikan padanya kalau kamu bisa jauh lbih baik tanpanya
Febby fadila
kenapa musti jadikan patokan untuk menyakiti diri sendiri cobalah untuk kembali hidup dengan tenang dan lupakan masa lalu dan menata hidupmu agar bisa menjadi lebih baik lagi, klw trus seperti itu berarti kamu kalah farhan
Umi Kulsum
mantep jadi swami yang selalu siaga farhan...
Umi Kulsum
ya tambah pebasaran aja
Umi Kulsum
sedih eh mbacaya...lanjut tor
Umi Kulsum
bagus atuh klau kmu menyadarinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!