NovelToon NovelToon
My Little Wife

My Little Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Pagi itu, suasana di rumah terasa lebih berat dari biasanya. Kalender di dinding kamar Ziva seolah berteriak bahwa hari ini adalah peringatan 40 hari kepergian Kirana. Sebuah angka yang menandakan bahwa sang kakak benar-benar telah melangkah jauh ke alam lain, meninggalkan Ziva dalam labirin pernikahan yang tak pernah ia inginkan.

Getaran ponsel di atas nakas membuyarkan lamunan Ziva. Nama "Bunda" muncul di layar.

"Halo, Bun?"

"Ziva, Nak... kamu jangan lupa ya, sore ini acara doa bersama 40 harian Kak Kirana di rumah Ayah. Ajak Nak Baskara juga ya. Bunda sudah siapkan semuanya," suara Bunda terdengar parau, masih ada sisa-sisa kesedihan yang belum tuntas di sana.

"Iya, Bun. Ziva datang sama... Mas Baskara," jawab Ziva, lidahnya masih terasa kelu saat harus menyebut sebutan itu di depan Bundanya.

Setelah menutup telepon, Ziva keluar kamar. Ia mendapati Baskara sedang duduk di ruang tengah, tampak baru saja membersihkan sepatu dinasnya. Gadis itu berdehem pelan untuk menarik perhatian sang suami kaku yang masih betah dengan diamnya.

"Hari ini ada doa bersama 40 harian Kak Kirana. Lo disuruh ikut sama Bunda," ucap Ziva tanpa menatap mata Baskara. "Pake baju yang bagus. Jangan pake jaket! Jangan kelihatan kayak mau berangkat tugas atau mau nilang orang. Pakai baju koko atau apa kek yang rapi."

Baskara mendongak, menatap Ziva dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jam berapa kita berangkat?"

"Sore. Gue mau siap-siap dulu," ketus Ziva sambil berlalu kembali ke kamarnya.

Di dalam kamar, Ziva memilih gamis berwarna putih tulang dengan aksen renda sederhana di bagian lengan. Ia mematut dirinya di cermin, mencoba menata kerudung instannya agar terlihat rapi. Wajahnya dipoles make-up tipis agar tidak terlihat terlalu pucat. Hari ini bukan tentang dirinya, ini tentang menghormati kepergian kakaknya.

Sesampainya di rumah Ayah dan Bunda, suasana sudah ramai. Tenda putih terpasang di halaman depan, dan aroma masakan opor serta sambal goreng kentang khas acara kenduri menyeruak ke udara. Para tetangga dan sanak saudara, atau yang biasa disebut "perewang" (orang-orang yang membantu memasak dan menyiapkan acara), sudah berkumpul di area dapur dan teras.

Begitu mobil Baskara berhenti, perhatian semua orang langsung tertuju pada mereka. Ziva turun lebih dulu, disusul Baskara yang tampak sangat berbeda sore itu. Ia mengenakan baju koko berwarna biru navy dengan bordir minimalis—pilihan yang pas dan membuatnya terlihat jauh lebih muda, namun tetap gagah.

"Waduh, ini dia pengantin baru kita datang!" seru Bu RT yang sedang memotong buncis di teras depan.

"Ganteng tenan ya Nak Baskara kalau nggak pake seragam polisi. Pantesan Ziva mau ya?" goda seorang bapak-bapak yang sedang menata tikar.

Ziva hanya bisa tersenyum kaku, tangannya otomatis merangkul lengan Baskara karena ia tahu Bunda sedang memperhatikan dari balik jendela. Sandiwara dimulai lagi.

"Iya, Pak. Biar nggak ditilang terus, mending dinikahin aja supirnya," canda Baskara tiba-tiba.

Ziva melotot. Sialan si om-om ini! batinnya. Sejak kapan Baskara bisa meladeni godaan tetangga dengan selera humor seperti itu? Biasanya pria itu hanya akan mengangguk kaku atau tersenyum tipis yang nyaris tak terlihat.

"Aduh, pinter bercanda juga ya suaminya Ziva. Gimana Ziva, sudah ada 'isi' belum? Biar Ayah Bunda nggak sedih terus inget almarhumah Kirana, kan kalau ada cucu jadi rame," goda Bu Siti, salah satu saudara jauh Bunda.

Ziva sudah siap dengan jawaban ketusnya, namun Baskara lebih dulu menanggapi. Ia merangkul pundak Ziva dengan lembut, menariknya sedikit lebih dekat ke arahnya. "Doakan saja ya, Bu. Kita lagi ikhtiar pelan-pelan. Ziva masih mau manja-manjaan dulu sama saya," ucap Baskara sambil menatap Ziva dengan pandangan yang... entahlah, Ziva merasa bulu kuduknya meremang karena akting Baskara yang terlalu totalitas.

Ziva mencubit pinggang Baskara dengan sangat keras di balik lipatan baju kokonya. "Ih, apaan sih lo," bisiknya tajam.

Baskara hanya meringis tipis tanpa melepaskan rangkulannya. Mereka masuk ke dalam rumah, disambut oleh pelukan hangat Bunda dan jabat tangan erat dari Ayah.

"Terima kasih sudah datang, Bas. Ayah senang kamu bisa sempatkan waktu," ucap Ayah dengan nada tulus.

"Sama-sama, Yah. Ini sudah kewajiban saya," jawab Baskara dengan nada rendah yang penuh hormat.

Sepanjang acara doa berlangsung, Baskara duduk di barisan depan bersama Ayah. Ia tampak khusyuk melantunkan ayat-ayat suci, suaranya yang bariton terdengar samar di telinga Ziva yang duduk di barisan wanita. Ziva menatap punggung tegap itu dari kejauhan. Ada rasa sesak yang kembali muncul. Di satu sisi, ia benci karena Baskara adalah orang yang selamat dari kecelakaan itu sementara kakaknya tidak. Namun di sisi lain, ia melihat bagaimana pria ini begitu dihormati oleh keluarganya.

Acara makan-makan dimulai setelah doa selesai. Ziva sibuk membantu Bunda di dapur, namun matanya tak lepas dari Baskara yang kini sedang dikerumuni oleh bapak-bapak tetangga yang bertanya soal urusan hukum dan lalu lintas. Baskara meladeni mereka dengan sabar, tertawa kecil sesekali—hal yang sangat langka Ziva lihat di rumah.

"Suami kamu itu baik banget, Ziv. Bunda titip kamu ya sama dia. Kirana pasti tenang di sana liat kamu dijaga sama orang sehebat Baskara," bisik Bunda sambil mengelus rambut Ziva.

Ziva hanya bisa terdiam, menatap piring di tangannya. Harusnya Kirana yang mendapatkan semua ini. Harusnya Kirana yang mendengar pujian-pujian itu. Ziva merasa seperti pencuri yang merampas kebahagiaan yang bukan miliknya, sementara pria yang dianggap pahlawan oleh semua orang itu adalah "penjara" baginya setiap malam.

Saat hari mulai gelap dan para tamu mulai pulang, Baskara menghampiri Ziva yang sedang membereskan sisa gelas di teras.

"Sudah selesai? Mau pulang sekarang?" tanya Baskara.

"Bentar lagi. Gue mau pamit sama Bunda dulu," jawab Ziva dingin. Ia melepaskan tangan Baskara yang mencoba membantunya membawa nampan. "Akting lo tadi bagus banget ya. Calon pemenang Oscar lo, Om."

Baskara menatap Ziva dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Aku nggak sedang akting, Ziva. Aku cuma mencoba menghargai keluarga kamu."

Ziva hanya mendengus sinis dan berlalu masuk ke dalam rumah. Ia tidak tahu bahwa sepanjang acara tadi, Baskara terus memperhatikan Ziva dari kejauhan, memastikan istrinya itu tidak kelelahan atau merasa sedih berlebihan. Bagi Baskara, 40 hari ini bukan hanya doa untuk Kirana, tapi juga janji diam-diamnya pada mendiang tunangannya itu untuk menjaga Ziva seumur hidupnya, meskipun ia harus menjadi musuh dalam selimut di mata istrinya sendiri.

.***

Jalanan menuju rumah mereka terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu-lampu jalan yang kuning pucat berkelebat di kaca jendela, menciptakan bayangan yang menari-nari di wajah Ziva. Kelelahan emosional setelah acara 40 harian Kak Kirana benar-benar menguras tenaganya. Belum lagi tekanan batin karena harus berakting harmonis di depan keluarga besar dan para tetangga yang tak henti-hentinya menggoda mereka.

Mata Ziva mulai mengerjap-ngerjap. Ia mencoba menahan kantuk dengan menatap aspal jalanan, namun kepalanya terasa semakin berat. Perlahan, kesadarannya menipis. Kepalanya terkulai ke arah jendela, membentur kaca dengan bunyi duk pelan, lalu merosot ke posisi yang sangat tidak nyaman—lehernya tertekuk patah dan mulutnya sedikit terbuka karena napasnya yang teratur.

Baskara melirik dari balik kemudi. Ia memperlambat laju mobilnya saat melihat posisi tidur Ziva yang tampak menyakitkan. Tanpa suara, saat lampu merah menyala, ia mengulurkan tangan kirinya, dengan sangat hati-hati menyangga kepala Ziva agar tidak terus membentur kaca. Sentuhan jemari Baskara yang besar di pelipis Ziva terasa begitu kontras dengan kulit halus gadis itu.

"Satu tahun, Ziva... hanya itu yang kamu minta," bisik Baskara sangat pelan, seolah takut suaranya akan memecahkan keheningan kabin mobil.

Gendongan dalam Keheningan

Sesampainya di halaman rumah, Baskara mematikan mesin mobil. Ia tidak segera membangunkan Ziva. Ia menatap wajah istrinya yang tampak sangat damai saat tidur—wajah yang tidak menyembunyikan dendam, wajah yang tidak mengeluarkan kata-kata tajam seperti "pembunuh" atau "om-om pemaksa".

Baskara turun dari mobil, memutari moncong SUV-nya, dan membuka pintu penumpang. Dengan gerakan yang sangat terlatih sebagai seorang polisi yang sering menangani situasi darurat, ia menyusupkan satu lengannya di bawah lutut Ziva dan satu lagi di bawah punggungnya.

Baskara mengangkat tubuh Ziva dengan mudah. Gadis itu terasa begitu ringan, atau mungkin kekuatan Baskara yang memang di atas rata-rata. Kepala Ziva secara alami terkulai ke ceruk leher Baskara, embusan napas hangatnya menerpa kulit leher sang pria, menciptakan sensasi yang membuat jantung Baskara berdegup tidak karuan.

Ia membawa Ziva masuk ke dalam rumah yang gelap, menaiki anak tangga satu per satu dengan langkah yang dijaga agar tidak menimbulkan suara. Begitu sampai di depan kamar Ziva, ia menekan gagang pintu dengan sikunya.

Baskara meletakkan Ziva di atas ranjang dengan sangat lembut, seolah gadis itu terbuat dari porselen yang mudah retak. Ia segera menarik selimut putih tebal untuk menutupi tubuh istrinya. Namun, saat Baskara hendak menarik tangannya dan berdiri untuk pergi ke kamarnya sendiri di bawah, sebuah gerakan tak terduga terjadi.

Ziva, yang masih terjebak dalam mimpinya—mungkin mimpi tentang kecelakaan itu atau mimpi tentang Kak Kirana—tiba-tiba menggerakkan tangannya. Jemarinya yang mungil mencengkeram kuat lengan baju koko Baskara.

"Jangan... jangan pergi..." igau Ziva dengan suara parau yang penuh ketakutan.

Tarikan itu begitu mendadak dan kuat bagi seseorang yang sedang tidur. Baskara yang posisinya sedang membungkuk dan tidak siap, langsung kehilangan keseimbangan.

Brukk!

Baskara terjatuh tepat di samping Ziva di atas kasur yang empuk. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inci. Baskara bisa mencium aroma sabun bayi dan sedikit wangi melati dari rambut Ziva yang berantakan. Jantungnya berpacu liar, seolah-olah ia baru saja melakukan pengejaran penjahat kelas kakap.

Baskara mencoba untuk bangkit, namun cengkeraman tangan Ziva di lengannya tidak terlepas. Gadis itu justru semakin mendekat, mencari sumber kehangatan, dan akhirnya menyandarkan kepalanya di bahu Baskara. Ziva mendengkur halus, tampaknya sudah kembali ke dalam tidur yang lebih lelap setelah menemukan "sandaran".

Baskara mematung. Seluruh otot tubuhnya menegang. Ia berada di posisi yang sangat serba salah. Di satu sisi, ia tahu ia harus segera pergi karena ini melanggar batas yang ditetapkan Ziva. Namun di sisi lain, melihat betapa tenangnya Ziva saat memeluk lengannya, Baskara tidak tega untuk melepaskan paksa.

Ia menatap langit-langit kamar dalam kegelapan. Ia membiarkan lengannya menjadi bantal bagi gadis yang paling membencinya. Di malam yang sunyi ini, di bawah atap yang sama dengan sejuta luka yang mereka bagi, Baskara menyadari bahwa menjaga Ziva tidak hanya soal menjauhkan laki-laki lain atau membiayai hidupnya. Menjaga Ziva adalah tentang hadir di sana, bahkan saat ia menjadi sandaran bagi mimpi buruk yang ia ciptakan sendiri.

Baskara akhirnya ikut memejamkan mata sesaat, membiarkan dirinya merasakan kedamaian yang semu ini sebelum fajar menyingsing dan mereka kembali menjadi dua orang asing yang saling menyakiti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!