NovelToon NovelToon
Vessel Of Eternity

Vessel Of Eternity

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi / Cinta Terlarang / Iblis / Kutukan / Romansa
Popularitas:352
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

Malam festival musim gugur di London tiba dengan gegap gempita yang terasa asing bagi Kenzie. Cahaya lampion kertas berwarna jingga dan merah digantung di sepanjang jalan utama, menciptakan pendaran hangat yang menari-nari di atas aspal. Aroma jagung bakar, gula kapas dan kayu manis memenuhi udara, bercampur dengan suara tawa ratusan manusia yang tumpah menuju ke Thames River Bridge Tower.

Kenzie berdiri di mulut gang gelap yang menuju ke apartemennya. Ia sengaja memilih tempat ini sebagai titik temu. Meskipun Hallen telah memenangkannya dalam taruhan konyol itu, Kenzie tetaplah Kenzie, makhluk yang harus menjaga privasinya seperti menjaga nyawanya sendiri.

Apartemennya adalah benteng terakhirnya, tempat tenangnya di mana ia bisa melepas topeng kemanusiaannya. Kenzie tidak akan membiarkan Hallen atau siapa pun mengusik kesunyian itu.

Dari kejauhan, lampu depan sebuah mobil sport berwarna biru metalik membelah kegelapan gang. Hallen turun dari mobil dengan pakaian yang jauh lebih rapi dari biasanya, kemeja flanel mahal yang dipadukan dengan jaket denim. Luka lebam di wajahnya hasil pukulan Julian beberapa hari lalu masih terlihat samar, memberikan kesan pejuang yang tampaknya sengaja ia pamerkan.

"Kau tampak luar biasa, Kenzie." ucap Hallen, matanya berbinar saat menatap Kenzie yang hanya mengenakan sweater rajut oversized berwarna krem dan celana jeans hitam. Kesederhanaan Kenzie justru selalu menonjol di tengah keramaian.

"Terima kasih, Hallen. Kita bisa pergi sekarang?" suara Kenzie datar, tidak memberikan ruang bagi basa-basi lebih lanjut.

"Tentu. Aku tidak sabar menunjukkan padamu sisi London yang paling indah saat festival." Hallen membukakan pintu mobil dengan gerakan sopan, mencoba bersikap seperti laki-laki sejati.

Sepanjang perjalanan menuju pusat kota, Hallen tidak berhenti bicara. Ia bercerita tentang rencana masa depannya setelah lulus, tentang beasiswa basket dan betapa senangnya ia karena Julian benar-benar menepati janjinya untuk menjauh. Kenzie hanya menanggapi dengan anggukan singkat atau gumaman kecil.

Pikirannya tidak ada di dalam mobil itu, pikirannya terjebak pada bayangan Julian yang berjalan melewati koridor sekolah seperti hantu yang terlupakan dan mimpi buruk tentang pedang yang terus berulang setiap kali ia memejamkan mata.

Sesampainya di tempat tujuan. Festival itu jauh lebih padat dari yang Kenzie bayangkan. Manusia berdesakan, saling bersenggolan dalam kegembiraan yang bising. Hallen terus berada di sisi Kenzie, sesekali meletakkan tangannya di dekat bahu Kenzie untuk melindunginya dari desakan orang-orang, sebuah gerakan yang membuat Kenzie merasa sedikit risih namun ia tahan demi menghargai usaha laki-laki itu.

Mereka melewati berbagai stand permainan dan makanan. Hallen membelikan Kenzie sebuah apel karamel yang tidak benar-benar Kenzie makan dan memenangkan sebuah boneka kecil dari stand menembak sasaran. Bagi Hallen, ini adalah kencan impian. Sedangkan bagi Kenzie, ini adalah latihan menguji kesabaran.

Namun, di balik kegembiraan itu, Kenzie merasakan sesuatu yang aneh. Aura di sekitar festival terasa bergetar. Ada jejak energi yang sangat halus, mirip dengan aroma mawar hitam yang ia cium di baju Hallen saat pertandingan basket. Kenzie merasa seolah-olah ada ribuan mata yang mengawasi mereka dari balik kegelapan di luar jangkauan cahaya lampion.

"Ayo ke sana, dekat pagar pembatas sungai." ajak Hallen, suaranya sedikit meninggi untuk mengalahkan suara musik dari panggung utama. "Pemandangannya indah, lampion-lampion itu terpantul di air."

Kenzie menurut. Mereka berjalan menuju tepi tower yang dibatasi oleh pagar besi tua yang berkarat, memisahkan area festival dengan aliran sungai di bawahnya. Di sini, suasana sedikit lebih sepi dan temaram. Angin malam bertiup dingin, membawa sisa-sisa embun.

Hallen berhenti, bersandar pada pagar besi itu. Ia menatap Kenzie dengan tatapan yang dalam, tatapan seorang remaja yang merasa telah menaklukkan dunia. "Kenzie, aku benar-benar senang kau setuju datang malam ini. Aku tahu aku bukan laki-laki misterius seperti Julian, tapi aku tulus padamu."

Hallen melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka. Kenzie mematung. Ia bisa merasakan apa yang akan terjadi selanjutnya. Logikanya memerintahkannya untuk menghindar, namun tubuhnya terasa berat, seolah udara di sekitarnya mendadak menjadi pekat.

Hallen perlahan menundukkan wajahnya, matanya perlahan terpejam saat ia mencoba mendekatkan bibirnya ke bibir Kenzie.

Tepat saat bibir Hallen hampir menyentuh milik Kenzie, sebuah bayangan melesat dari kegelapan dengan kecepatan yang mengerikan.

BRUKK!

Seorang pria dengan tudung hitam menabrak Hallen dengan kekuatan yang sangat besar, seolah-olah pria itu sengaja menjadikan Hallen sebagai sasaran empuk. Tabrakan itu begitu keras hingga Hallen terlempar ke belakang dengan sentakan yang dahsyat. Tubuh Hallen melayang ke arah pagar besi yang memiliki ujung-ujung tajam berbentuk tombak kecil di bagian atasnya.

"Hallen!" Kenzie berteriak.

Dalam hitungan milidetik, insting pelindung Kenzie mengambil alih. Ia tahu jika Hallen menghantam pagar itu, ujung besi tajam tersebut bisa menembus paru-parunya. Kenzie tidak menggunakan kekuatannya secara terang-terangan karena ada banyak orang di sekitar, namun ia bergerak dengan reflek yang melampaui batas manusia.

Kenzie menjulurkan lengannya, mencoba menarik kerah jaket Hallen dan menahan beban tubuhnya agar tidak menghantam besi runcing tersebut.

Sret!

Hallen berhasil ditarik menjauh, terjatuh di atas aspal dengan aman. Namun, lengan baju sweater Kenzie tersangkut pada salah satu ujung pagar besi yang berkarat dan tajam. Karena sentakan beban tubuh Hallen yang besar, besi itu menyayat lengan bawah Kenzie dengan cukup dalam.

"Argh!" Kenzie meringis pelan.

Darah segar berwarna merah pekat namun memiliki pendaran keemasan yang sangat samar mulai mengalir keluar dari luka di lengannya. Darah itu menetes, membasahi besi pagar yang berkarat, meresap ke dalam pori-pori logam tua itu.

Hallen bangkit dengan tergesa-gesa, wajahnya pucat pasi. Ia mengabaikan rasa sakit di bahunya akibat tabrakan tadi. "Kenzie! Oh Tuhan, kau terluka! Maafkan aku, ini semua salahku!"

Hallen panik. Ia melihat darah yang terus mengucur dari lengan Kenzie. Ia mencoba meraih sapu tangan dari sakunya dengan tangan yang gemetar hebat. "Aku harus membawamu ke rumah sakit. Kenapa kau melakukan itu? Kau menyelamatkanku..."

Kenzie tidak mendengarkan kepanikan Hallen. Matanya terpaku pada pagar besi itu. Darahnya yang menempel di sana tampak seolah-olah sedang diserap. Asap tipis yang hampir tak terlihat keluar dari titik di mana darahnya bersentuhan dengan karat besi.

Kenzie mendongak, mencari pria yang menabrak mereka tadi. Namun, jalanan di belakang mereka sudah dipenuhi orang yang lewat dan pria bertudung itu telah menghilang seolah-olah ia hanyalah asap di tengah badai. Kenzie tahu itu bukan kecelakaan. Itu adalah serangan yang direncanakan. Seseorang ingin ia mengeluarkan darah di tempat ini.

"Hallen, tenanglah. Aku baik-baik saja," ucap Kenzie, suaranya kembali dingin meskipun luka di lengannya terasa berdenyut menyakitkan. Ia segera menutupi lukanya dengan tangan yang lain, menyembunyikan pendaran keemasan dari darahnya agar tidak dilihat oleh mata Hallen atau manusia lain.

"Tidak! Kau tidak baik-baik saja! Lihat darahnya, Kenzie!" Hallen hampir berteriak karena rasa bersalah yang membuncah.

Di kejauhan, di balik bayangan sebuah stand tua, sepasang mata perak menatap pemandangan itu dengan seringai yang lebar. Seseorang dengan jubah merah dan tudung yang hampir menenggelamkan setengah wajahnya berdiri di sana. Orang itu menyaksikan semuanya.

Kenzie merasakan aura gelap itu, seolah ribuan mata manusia yang ada di sana sedang menatap ke arahnya. Namun, ia merasakan ada sepasang mata yang lebih mengerikan. Terasa sangat haus dan penuh peringatan.

"Kita harus pergi dari sini, Hallen. Sekarang." bisik Kenzie, menarik Hallen menjauh dari pagar besi yang kini tampak seolah sedang berkilau merah di bawah cahaya lampion.

Suasana di tepi sungai itu mendadak menjadi sangat riuh bagi indra Kenzie yang tajam. Suara detak jantung Hallen yang berpacu karena panik, deru napas orang-orang yang melintas dan denyut lukanya sendiri menciptakan simfoni kekacauan yang memekakkan telinga. Hallen masih meracau, mencoba menekan luka di lengan Kenzie dengan sapu tangannya, namun Kenzie menepisnya dengan kasar.

"Hallen, aku bilang aku baik-baik saja!" desis Kenzie. Matanya yang jernih kini berkilat tajam, membuat Hallen tertegun sejenak.

Tepat saat itu, getaran kuat terasa di saku celana Kenzie. Ponselnya berbunyi, memecah ketegangan di antara mereka. Kenzie melihat layar ponselnya. Nama yang tertera di sana membuat jantungnya yang abadi seolah berhenti berdetak sesaat.

Julian.

...•••...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!