Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Sisi Yang Berbeda
Arka Mahendra.
CEO muda yang membangun Aethera Creative Lab.
Usianya dua puluh sembilan tahun—Usia yang terbilang muda untuk ukuran seorang CEO, tetapi tidak benar-benar muda untuk berstatus lajang.
Sudah lima tahun sejak ia mendirikan perusahaan miliknya yang dibangun dari nol.
Aethera Creative Lab.
Digital Marketing & Brand Strategy Agency
Spesialis:
Brand storytelling
Campaign nasional
Digital ads
Rebranding perusahaan besar
Corporate image building
Arka tidak pernah menyangka jika keputusannya tujuh tahun yang lalu, ternyata membawanya sampai sejauh ini.
Sejak pertama kali ia lulus universitas di luar negeri. Arka dituntut untuk meneruskan bisnis keluarga—Arka adalah anak laki-laki kedua yang menjadi harapan keluarga, namun ia memilih untuk mandiri karena tidak ingin lagi kehidupannya diatur oleh keluarga.
Sejak kecil, hidupnya tak pernah benar-benar menjadi miliknya sendiri.
Sekolah mana yang harus ia masuki, jurusan apa yang harus ia pilih, bahkan mimpi seperti apa yang pantas ia punya—semuanya sudah ditentukan.
Ia tumbuh bukan dengan kebebasan, melainkan dengan arahan. Bukan dengan pilihan, melainkan dengan kewajiban.
Ia belajar tersenyum ketika diminta, belajar mengangguk meski hatinya ragu.
Belajar menekan keinginan sendiri demi satu hal: membuat orang tuanya bangga.
Lama-kelamaan, hidup terasa seperti panggung kecil yang sudah ditata rapi. Ia hanya perlu memainkan peran tanpa pernah menulis naskahnya sendiri.
Kadang ia bertanya dalam diam, apakah dirinya seorang anak, atau sekadar sesuatu yang dibentuk, dilatih, dan diarahkan untuk menyenangkan pemilik harapan?
Dan semakin dewasa, semakin ia sadar,
ia tidak pernah benar-benar hidup.
Ia hanya menjalani.
Sejak saat itu—Sejak ia merasa sudah dewasa dan merasa mampu untuk melangkah. Ia memutuskan ingin hidup mandiri, membangun karirnya sendiri dan memanfaatkan bidang yang dia kuasai.
Awalnya keluarga menentang keputusannya, tapi kemudian luluh dengan janji Arka yang akan membuktikan bahwa dia akan sukses dengan caranya sendiri.
Selama itu—beberapa kali jatuh bangun.
Hingga uangnya mulai menipis, karena itu Arka terpaksa pernah bekerja sebagai karyawan perusahaan ritel. Namun upah yang ia terima tidak cukup untuk memulai kembali.
Dia pernah merasa hampir putus asa, berniat kembali pada keluarga dan meneruskan bisnis keluarganya. Kembali menjadi seseorang yang tidak memiliki jiwa—Sampai ia menemukan jalan lain untuk memulai langkahnya kembali.
Meminjam uang kepada kakaknya yang telah berkeluarga dan hidup di Singapore.
Awalnya sang kakak merasa ragu, tapi karena melihat kegigihan adik satu-satunya itu. Akhirnya sang kakak mengulurkan tangan.
Dan dari sanalah Aethera Creative Lab, berdiri hingga saat ini.
Arka berhasil membuktikan pada keluarganya. Janji yang ia tinggalkan bukan lagi sekedar ucapan manis belaka.
Kini keluarganya mempercayai setiap keputusannya, setiap jalan yang ia pilih.
Kesibukan telah menjadi alasan paling nyaman untuk menghindari hal-hal yang tak ingin ia pikirkan—termasuk soal pasangan. Hari-harinya dipenuhi target, angka, dan pencapaian. Tidak ada ruang untuk romansa. Atau mungkin, ia memang tak pernah berniat memberi ruang.
Baginya, perempuan bukan prioritas. Bukan kebutuhan yang mendesak. Hanya bagian kecil dari kehidupan yang bisa datang dan pergi tanpa mengganggu arah langkahnya.
Kalaupun suatu hari ia harus berpasangan, ia tak menganggapnya perkara sulit. Ia terbiasa mendapatkan apa yang ia mau. Dan hubungan, dalam pikirannya, tak lebih rumit dari negosiasi.
Selama ini ia memegang satu keyakinan sederhana—dan sedikit sinis: perempuan tak jauh berbeda dari uang. Tanpa uang, tak ada yang mendekat. Dengan uang, perhatian akan datang sendiri.
Ia tidak pernah mempertanyakan pemikiran itu.
Karena sejauh ini, dunia selalu membuktikannya benar.
Urusan bisnis, ia adalah pria yang dipandang baik, berwibawa dan gentleman.
Namun urusan perasaan, Arka hanyalah kertas putih yang tidak pernah ternodai oleh tinta—Polos.
Masa pubernya di bangku SMP tak pernah benar-benar hidup.
Tuntutan keluarga membuatnya menjadi seorang anak remaja yang dingin dan tidak pernah memikirkan hal-hal selain nilai dan peringkat terbaik.
Begitupun di bangku putih abu-abu, hingga masuk dunia universitas. Hidupnya menjadi lebih terarah oleh harapan orang tua—Harapan masa depan yang masih menjadi tanda tanya baginya.
Masa depan yang lebih baik.
Atau Menyesali kehidupan yang tidak dapat diulang kembali.
Tapi sejak pertama kali ia melihat siluet perempuan dibalik sinar senja yang hangat. Ada sesuatu dalam dirinya yang bergejolak. Sulit untuk dijelaskan oleh logikanya, karena untuk pertama kalinya ia merasakan debar yang asing.
Biasanya debar itu hanya muncul dalam urusan yang bisa dihitung dan diproyeksikan.
Saat hendak menanam investasi baru, saat berjabat tangan dengan klien bernilai miliaran, saat berdiri di depan para pimpinan cabang, memastikan performanya tak menyisakan cela.
Jantungnya berdegup bukan karena rasa—melainkan karena target.
Bukan karena seseorang, melainkan karena angka.
Ia terbiasa dengan adrenalin yang lahir dari persaingan, dari risiko, dari kemungkinan untung dan rugi. Semua terukur, semua rasional dan semua berada dalam kendali.
Selama ini, begitulah caranya merasakan hidup:
melalui bisnis.
Arka menangkap sesuatu yang berbeda pada perempuan itu. Sesuatu yang tak mudah ia temukan pada siapa pun. Bukan kecantikan yang mencolok, bukan sikap manis yang dibuat-buat. Ada jarak, ada batas. Dan itu justru membuatnya ingin melangkah lebih dekat.
Ia terbiasa menjadi pusat perhatian. Tatapan yang terpaku, senyum yang sengaja dilempar, sikap gugup yang berusaha disembunyikan, semuanya bukan hal baru baginya. Namun perempuan ini berbeda.
Saat mata mereka nyaris bertemu, ia justru lebih dulu menunduk.
Bukan karena malu yang dibuat-buat, bukan pula karena ingin menarik perhatian. Seolah-olah menatapnya terlalu lama adalah sesuatu yang tak ingin ia izinkan terjadi.
Dan justru karena itulah, untuk pertama kalinya, Arka merasa… tidak diunggulkan.
Saat yang lain sibuk dengan gosip yang mereka ciptakan. Perempuan itu hanya duduk membaca buku dan menikmati setiap tegukan susu coklatnya.
Dia selalu berbicara dengan nada rendah, kalimatnya selalu sopan.
Tidak pernah memberontak ketika dirinya merasa direndahkan.
Membuat CEO muda itu mulai menjahilinya dengan lebih sering berhadapan langsung dengannya.
Hanya untuk memastikan degup itu hanya sekedar degup yang tak berarti.
Hanya untuk memastikan bahwa perasaannya keliru memahami logikanya sendiri.
Namun anehnya.
Justru semakin hari, degup itu semakin intens. Semakin nyata untuk dikatakan tidak berarti sesuatu.
Ketika dia mencoba menghentikan interaksi dengannya justru ada sesuatu yang hilang, ada rindu yang tidak bisa menjelaskan perasaan.
Dan untuk pertama kalinya.
Aluna Pramesti.
Sebuah nama yang meruntuhkan dinding pertahanan hati seorang Arka Mahendra.
Ia hanya perempuan biasa, dengan hidup yang berjalan sederhana dan nyaris tak terdengar. Tidak ada gemerlap, tidak ada ambisi yang mencolok. Hanya langkah tenang dan dunia kecil yang ia jaga sendiri.
Sementara Arka hidup di tempat yang berbeda—di antara ambisi, kuasa, dan keputusan-keputusan besar.
Perbedaan mereka terasa seperti langit dan bumi.
Saling melihat dari kejauhan, namun tak pernah benar-benar bisa bersentuhan.
***