NovelToon NovelToon
Legenda Manusia Dewa

Legenda Manusia Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.

Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.

Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.

Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Panglima Sombong dan Jurus Sapu Jagat

Matahari baru saja naik, menyiramkan cahaya keemasan yang berkilau di atas atap-atap bangunan megah Ibu Kota Astagina.

Namun, riuh rendah di Alun-Alun utama sudah memuncak sejak fajar menyingsing.

Hari ini bukan sekadar hari biasa, hari ini adalah puncak dari babak utama kompetisi bela diri kerajaan, di mana para petarung pilihan dari seantero negeri akan diadu untuk menentukan siapa yang layak menyandang gelar Pendekar Utama Kerajaan.

Gelar itu bukan hanya tentang kebanggaan, melainkan tiket emas untuk memasuki jajaran elit militer istana.

Di panggung kehormatan yang dibangun dari kayu jati pilihan dan dilapisi kain sutra merah, Raja Astagina duduk dengan angkuh.

Di sampingnya, berdiri seorang pemuda gagah yang mengenakan baju zirah emas yang ditempa dengan sangat halus. Dia adalah Panglima Muda Mahesa.

Mahesa bukan sekadar putra dari menteri pertahanan yang berpengaruh, tetapi ia dikenal sebagai jenius bela diri yang langka.

Di usianya yang baru menginjak dua puluh tahun, ia dikabarkan telah mencapai Ranah Perak tingkat puncak, sebuah pencapaian yang biasanya membutuhkan waktu puluhan tahun bagi pendekar biasa.

Sorak-sorai penonton bagaikan guntur yang membelah langit saat sang pembawa acara maju ke tengah panggung yang luas.

Ia mengangkat gulungan perkamen emas dan berteriak dengan suara yang diperkuat oleh tenaga dalam.

"Selanjutnya, Wira Wisanggeni melawan Raden Mahesa!"

Lautan penonton seketika riuh rendah. Nama Mahesa sudah diprediksi akan menang mudah, sementara nama Wira Wisanggeni masih menjadi teka-teki yang mengundang tawa sekaligus rasa penasaran setelah kejadian di babak penyisihan.

Mahesa melompat ke panggung dengan gerakan elegan, melayang di udara sejenak sebelum mendarat tanpa suara. Jubah merahnya berkibar tertiup angin sore, menciptakan citra seorang pahlawan yang sempurna.

Dengan gerakan sombong, ia mencabut pedang panjangnya yang bertahtakan permata biru di bagian gagangnya.

Pedang itu memancarkan aura tajam yang sangat dingin, hingga penonton di baris terdepan pun harus menarik napas panjang karena merasa bulu kuduk mereka meremang.

Di sisi lain panggung, pemandangan yang sangat kontras tersaji.

Wira Wisanggeni naik ke atas panggung sambil menguap lebar, seolah-olah ia baru saja terbangun dari tidur siang yang sangat nyenyak di bawah pohon rindang. Ia mengenakan caping bambu lebar yang sedikit miring, menutupi separuh wajah tampannya yang tampak acuh tak acuh.

Di bahunya, ia menyandarkan sebuah tongkat kayu lusuh yang permukaannya sudah kasar dan penuh goresan.

Bagi siapapun yang melihat, ia lebih mirip seorang penggembala kerbau yang tersesat daripada seorang petarung yang akan berhadapan dengan panglima kerajaan.

Mahesa menatap lawannya dengan tatapan yang menghujam, penuh dengan penghinaan yang tidak ditutup-tutupi. Ia memutar pedangnya satu kali, menciptakan desing angin yang tajam.

"Hei, Bocah Hutan," Mahesa berucap dengan nada yang sangat meremehkan, suaranya terdengar hingga ke sudut-sudut alun-alun.

"Aku melihat pertarunganmu kemarin. Kau hanya beruntung karena lawanmu lemah dan kau menggunakan trik murahan untuk menjatuhkannya. Di hadapanku, tongkat kayumu itu hanya akan menjadi serpihan kayu bakar dalam hitungan detik. Sebaiknya kau berlutut sekarang sebelum pedangku merobek pakaian gembelmu itu." lanjut ejeknya.

Wira berhenti menguap. Ia membetulkan posisi capingnya yang hampir jatuh, lalu menatap Mahesa dengan wajah polos dan mata yang berkedip-kedip seolah sedang mengagumi sesuatu yang sangat luar biasa.

"Duh.. Hei Panglima... pedangmu bagus sekali, mengkilap, pasti setiap pagi di lap pakai kain sutra ya? Apa tidak sayang kalau nanti kena debu panggung yang kotor ini?"

"Atau jangan-jangan, Panglima sering memakainya untuk bercermin saat menyisir rambut? Pantas saja rambutnya aneh sekali!" sambung Wira sambil tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat jujur namun bagi Mahesa, itu adalah tamparan keras di depan umum.

"Lancang! Beraninya kau menghina senjataku dan martabatku sebagai perwira kerajaan!" teriak Mahesa murka. Wajahnya yang tampan kini memerah padam.

Ia tidak terbiasa diremehkan, apalagi oleh anak ingusan yang auranya, jika dipindai secara kasar, hanya terlihat berada di Ranah Dasar.

Para tetua di kursi juri, termasuk Ki Ageng Jaya yang duduk dengan tenang, memperhatikan interaksi tersebut dengan saksama.

Mata tua Ki Ageng Jaya menyipit, mencoba menembus kabut energi yang menyelimuti Wira.

"Bagaimana bisa anak itu begitu tenang di bawah tekanan haus darah Mahesa?" bisik salah satu juri di sebelah Ki Ageng.

"Kultivasi Mahesa berada di puncak Ranah Perak. Tekanan auranya saja seharusnya sudah cukup untuk membuat seorang praktisi Ranah Dasar berlutut atau setidaknya gemetar hebat. Tapi bocah itu... ia bahkan masih sempat memikirkan cara menyisir rambut lawan." lanjut juri itu.

Ki Ageng Jaya hanya diam, namun dalam hatinya ia merasakan kegelisahan yang sama.

Ia melihat bahwa Wira tidak sedang bertahan dari tekanan Mahesa, ia seolah-olah tidak merasakan tekanan itu sama sekali, seperti air yang tidak terpengaruh oleh bayangan awan yang melintas di atasnya.

Mahesa tidak ingin membuang waktu lebih lama untuk berdebat dengan bocah yang menurutnya tidak waras.

Ia menghentakkan kakinya ke lantai panggung, membuat kayu jati yang kokoh itu bergetar. Ia menerjang maju dengan kecepatan yang mengagumkan, mengaktifkan jurus andalan perguruan istana

 'Pedang Matahari Menembus Awan'.

Cahaya kuning keemasan yang menyilaukan terpancar dari bilah pedangnya, menciptakan gelombang panas yang terasa hingga ke barisan penonton.

Pedang itu melesat lurus ke arah dada Wira, membawa niat membunuh yang sangat pekat.

Srett! Srett!

Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat semua orang ternganga. Wira bergerak mundur dengan langkah-langkah yang terlihat sangat aneh dan tidak beraturan. Ia tidak menggunakan langkah kaki bela diri formal yang diajarkan di perguruan manapun.

Gerakannya lebih menyerupai cara monyet hutan menghindari lemparan batu atau cara dahan pohon bambu meliuk saat diterjang badai.

Kakinya lincah, pinggulnya bergoyang secara jenaka, dan dengan posisi yang sangat tipis, serangan Mahesa hanya membelah udara kosong yang ditinggalkan oleh bayangan Wira.

"Jangan lari, pengecut! Tunjukkan kemampuanmu jika kau memang memiliki nyali!" Mahesa semakin membabi buta. Ia terus menebas dan menusuk, menciptakan serangkaian kilatan cahaya emas yang memenuhi panggung, namun tak satu pun yang berhasil menyentuh ujung kain baju Wira.

"Siapa yang lari? Saya cuma sedang mencari posisi yang enak buat menguap, Panglima! Habisnya, gerakan Panglima terlalu indah seperti sedang menari, saya jadi mengantuk lagi," sahut Wira sambil tertawa di sela-sela gerakannya yang mustahil.

Mahesa yang merasa dipermainkan di depan ayahnya dan Sang Raja akhirnya kehilangan kesabaran sepenuhnya. Ia menarik napas dalam, mengumpulkan seluruh tenaga dalamnya ke ulu hati, lalu mengalirkannya ke pedang.

Udara di sekitar panggung mendadak terasa berat dan sangat panas. Mahesa melompat ke udara, berputar dengan sangat cepat, dan melepaskan tebasan horisontal yang mengeluarkan lidah api yang menjilat-jilat.

Wira kini tampak terpojok di tepi panggung. Di belakangnya hanya ada jurang pendek menuju tanah alun-alun.

Lidah api itu menyambar dengan luas, tidak menyisakan ruang bagi Wira untuk menghindar dengan langkah kakinya lagi.

Dalam posisi yang dianggap mustahil untuk selamat itu, Wira akhirnya berhenti bercanda. Ia memegang tongkat kayu lusuhnya dengan kedua tangan, namun dengan cara yang sangat santai, seperti orang yang sedang memegang sapu lidi.

"Aduh, Panglima main api ya? Bahaya lho kalau kena rumput kering. Ya sudah, mari kita bereskan sedikit."

"Jurus Sapu Halaman, Bersihkan Sampah!" seru Wira dengan suara yang dibuat-buat seperti kakek tua, padahal jurusnya tidak pernah memiliki nama yang pasti.

Wira memutar tongkat kayunya di atas kepala dalam satu lingkaran sempurna, lalu dengan gerakan yang terlihat lambat namun bertenaga, ia menghantamkan ujung tongkat kayu itu ke lantai panggung tepat di depannya.

BUM!

Suara yang dihasilkan bukanlah hantaman fisik kayu bertemu kayu, melainkan suara dentuman energi yang sangat berat.

Gelombang energi kanuragan murni yang sangat padat, berwarna biru pucat keputihan, meledak dari titik sentuhan tongkat tersebut. Ledakan itu menciptakan angin puyuh kecil yang sangat kuat.

Ajaibnya, angin puyuh itu seketika memadamkan lidah api Mahesa dan membelah gelombang panasnya seolah-olah itu hanyalah asap tipis.

Hantaman energi itu terus merambat maju, menghantam dada Mahesa yang masih berada di udara.

Sang Panglima Muda terpental mundur beberapa langkah, kakinya terseret di lantai panggung hingga menimbulkan bunyi decit yang memilukan.

Ia berhasil berdiri tegak, namun wajahnya yang tadinya kemerahan kini pucat pasi karena kaget dan ngeri.

Mahesa gemetar hebat. Ia menatap tangannya yang memegang pedang pusaka, tangan itu terasa kebas, seolah-olah baru saja menghantam dinding baja yang tidak terlihat.

"K-kekuatan apa ini? Kau... kau menyembunyikan kultivasimu! Tidak mungkin seorang siswa Ranah Dasar bisa menghasilkan kekuatan penghancur seperti itu!"

Di bangku penonton yang agak tersembunyi, Sekar Arum yang mengamati dengan saksama tersenyum tipis di balik cadarnya.

Ia satu-satunya orang di alun-alun itu selain Wira sendiri yang paham apa yang baru saja terjadi.

Wira memang tidak memiliki tingkatan ranah yang tinggi secara formal karena ia belum melakukan ritual 'Penguncian Inti Bumi' yang menjadi standar pendekar di kerajaan ini.

Namun, tubuh Wira telah ditempa dengan energi dewa dan sari pati alam di Hutan Terlarang selama bertahun-tahun.

Kualitas energi murninya jauh lebih padat dan lebih murni daripada energi Ranah Perak tingkat manapun.

Ibaratnya, energi Mahesa adalah satu ember air, sementara energi Wira adalah satu tetes air, namun tetesan itu memiliki berat satu ton.

Wira mulai melangkah mendekat. Wajah komedinya yang jenaka mendadak hilang, digantikan oleh ekspresi yang tenang namun sangat dingin.

Tatapannya menembus langsung ke dalam mata Mahesa, membuat sang Panglima merasa seolah sedang berhadapan dengan seekor predator purba dari dalam hutan.

"Panglima, kau tahu kenapa pedangmu begitu mengkilap dan tanpa noda?" ucap Wira dengan suara rendah yang entah bagaimana terdengar jelas oleh Mahesa di tengah kebisingan alun-alun.

"Itu karena kau tidak pernah menggunakannya untuk melindungi orang yang benar-benar membutuhkan. Kau tidak pernah menggunakannya untuk menebas ketidakadilan. Kau hanya menggunakannya sebagai hiasan untuk pamer kekuasaan dan menindas mereka yang kau anggap lebih rendah darimu." lanjut Wira dengan kata yang halus namun tajam.

Mahesa mencoba menjawab, namun lidahnya terasa kaku. Ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidup mulai merayap di tulang punggungnya.

Wira menghentakkan tongkat kayunya ke udara sekali lagi. Kali ini, ujung tongkat kayu yang tadinya tampak rapuh itu mulai mengeluarkan percikan cahaya biru langit yang berderak-derak seperti kilat kecil.

"Sekarang, biarkan aku menunjukkan padamu bagaimana 'kayu bakar' ini bekerja saat ia merasa kesal karena dihina."

Tanpa peringatan, Wira melesat maju. Kecepatannya kini benar-benar melampaui apa yang bisa ditangkap oleh mata manusia biasa.

Ia hanya tampak seperti kilatan bayangan abu-abu. Mahesa mencoba mengangkat pedangnya untuk menangkis, namun tongkat Wira seolah memiliki nyawa sendiri dan kecerdasan yang licin.

Tongkat itu mematuk, memutar, dan menyelinap di sela-sela pertahanan baju zirah emas sang panglima yang biasanya dianggap tak tertembus.

Plak!

Tongkat menghantam bahu kiri Mahesa, membuat bahunya lunglai seketika.

Duk!

Bagian pangkal tongkat menyentuh lutut kanannya dengan presisi yang mematikan.

Setiap sentuhan tongkat itu bukan hanya menyakitkan secara fisik, tetapi Mahesa merasakan aliran energinya diacak-acak, diputus, dan disedot oleh kayu misterius itu.

Mahesa akhirnya terjatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal, keringat dingin mengucur deras di wajahnya. Pedang pusakanya tergeletak tak berdaya di sampingnya.

Sang jenius kebanggaan kerajaan itu kini tampak tak lebih dari seorang pesakitan di depan bocah yang baru saja ia ejek sebagai gembel.

"Cukup! Berhenti!" teriak Menteri Pertahanan dari kursi kehormatan dengan suara menggelegar.

Ia berdiri dengan wajah merah padam karena murka. Melihat putra kesayangannya dipermalukan sedemikian rupa adalah penghinaan yang tak tertahankan bagi keluarganya.

Tanpa peduli pada aturan kompetisi, ia memberi isyarat tangan kepada sepasukan prajurit elit kerajaan yang berjaga di sekeliling panggung.

"Tangkap bocah itu! Dia pasti menggunakan ilmu hitam atau sihir terlarang untuk mencelakai Panglima Mahesa! Hancurkan dia!"

Dalam sekejap, puluhan prajurit bersenjata lengkap melompat ke atas panggung, mengepung Wira dari segala arah.

Wira berdiri tegak di tengah kepungan itu, tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Ia kembali menyandarkan tongkatnya di bahu dan membetulkan letak capingnya yang sempat miring.

"Wah, wah... sepertinya acaranya berubah jadi pesta keroyokan ya? Seru juga! Tapi maaf ya Paman Menteri, saya belum mau ditangkap sekarang. Masih banyak ubi bakar yang belum saya coba di kota ini."

Tanpa rasa takut, Wira mendongak, menatap langsung ke arah Raja Astagina yang kini berdiri dari singgasananya dengan wajah tegang.

Di balik kemegahan istana yang menjulang di belakang sang Raja, mata batin Wira melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain, sebuah pusaran energi hitam pekat yang semakin membesar, berputar-putar seperti lubang tanpa dasar. Itu adalah pertanda bahwa sesuatu yang jauh lebih buruk dan lebih haus darah daripada sekadar konflik kerajaan akan segera bangkit dari kegelapan.

Konflik semesta yang diramalkan oleh Dewi Shinta Aruna kini benar-benar telah dimulai.

Dan dengan menundukkan sang panglima sombong, Wira Wisanggeni baru saja menabuh genderang perang pertama yang akan membawa namanya terbang hingga ke telinga para Dewa di puncak langit.

......................

1
anggita
nama jurus yg keren. lanjutkan Thor, moga novelnya sukses.
Jung Karya: terimakasih banyak atas komentar baik dan dukungannya kak 😍
total 1 replies
anggita
dukung like👍+2x iklan☝☝.
anggita
tongkat pemutus takdir💥👍👌💪
Jung Karya
Jangan lupa bintangnya 😁
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!