Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.
Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.
Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?
"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Jari telunjuk Felysha Anindhita bergerak pelan, menekan sisa bubuk arang di atas kertas sketsa yang permukaannya sedikit kasar. Ia menggeser jari itu perlahan, membuat gradasi bayangan pada lekuk pundak desain gaun yang baru saja ia buat. Arang itu meninggalkan jejak hitam di ujung kukunya, namun ia tidak peduli. Matanya tetap fokus pada detail kecil di bagian pinggang sketsa tersebut, memastikan setiap garis pensilnya memiliki ketebalan yang pas.
Ia meraih penghapus balok di sudut meja, lalu menggosok bagian yang menurutnya terlalu gelap. Bunyi gesekan karet penghapus dengan kertas terdengar ritmis di dalam apartemennya yang sunyi. Butiran debu penghapus mulai menumpuk di permukaan meja kayu yang catnya sudah mulai mengelupas di beberapa sisi. Felysha meniup debu itu, memperhatikannya terbang dan menghilang di antara cahaya lampu meja yang berwarna kuning pucat.
Di luar jendela, langit Paris sudah sepenuhnya gelap. Hanya ada pantulan lampu jalanan yang masuk melalui celah tirai, menciptakan garis-langkah cahaya di atas lantai kayu apartemennya. Felysha meraih botol air mineral di dekat laptopnya, meminumnya sedikit untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Saat ia meletakkan kembali botol itu, benda di sampingnya bergetar.
Ponsel pintarnya bergeser beberapa milimeter di atas meja, menciptakan suara dengung yang panjang. Layarnya menyala terang, membiaskan cahaya putih ke wajah Felysha yang pucat. Nama 'Julian' terpampang jelas di sana. Felysha hanya menatap layar itu tanpa bergerak. Ia menghitung dalam hati berapa lama getaran itu akan berlangsung.
Satu detik. Tiga detik. Enam detik.
Getaran itu berhenti, namun hanya berselang lima detik sebelum getaran kedua muncul lagi. Julian tidak pernah menelepon hanya sekali. Pria itu akan terus menekan tombol panggil sampai Felysha menjawab, seolah ingin menunjukkan bahwa ia memiliki kendali penuh atas waktu yang dimiliki tunangannya.
Felysha akhirnya menggeser ikon hijau di layar. Ia tidak langsung bicara. Ia hanya menempelkan ponsel itu ke telinganya, menunggu suara dari ujung sana yang selalu terdengar seperti perintah.
"Kenapa lama sekali?"
Suara Julian masuk ke pendengarannya, tajam dan dingin. Felysha bisa membayangkan pria itu sedang duduk di kursi kerjanya yang besar di Jakarta, mungkin sambil memutar-mutar pena mahalnya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Aku sedang mengerjakan tugas studio, Julian. Ponselnya tertutup kain muslin," jawab Felysha pelan. Ia berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.
"Tugas lagi? Aku sudah bilang kan, jangan terlalu memaksakan diri. Biaya kuliah yang aku bayar di sana bukan supaya kamu jadi kuli jahit yang tidak punya waktu untuk calon suaminya sendiri."
Felysha meremas pinggiran mejanya. "Ini bagian dari penilaian semester, Julian. Aku tidak bisa mengabaikannya."
"Aku sudah kirimkan makanan lewat layanan kurir. Seharusnya sudah sampai di lobi apartemenmu. Ambil dan makan. Aku tidak mau pas aku ke Paris bulan depan, kamu kelihatan kurus dan pucat." Julian menjeda kalimatnya sejenak. "Oh ya, aku baru saja bicara dengan ibumu tadi sore. Dia bilang dia sangat senang karena aku baru saja melunasi tunggakan pajak rumah kalian yang telat dua tahun."
Kalimat itu mendarat seperti hantaman di dada Felysha. Ia memejamkan mata rapat-rapat. Julian selalu punya cara untuk mengingatkannya tentang siapa yang memegang kendali. Setiap rupiah yang Julian keluarkan untuk keluarganya di Jakarta adalah satu rantai tambahan yang melilit pergelangan tangan Felysha di Paris.
"Terima kasih, Julian," ucap Felysha lirih. Ia merasa lidahnya pahit saat mengucapkan kata itu.
"Bagus. Sekarang kirimkan foto sketsa yang kamu kerjakan. Aku ingin lihat apakah seleramu sudah meningkat sejak tinggal di sana. Dan ingat, jam sepuluh malam nanti aku akan telepon lagi lewat video. Kamu harus sudah ada di tempat tidur dan siap istirahat."
Klik. Sambungan diputus sepihak.
Felysha perlahan menurunkan ponselnya. Ia menatap layar yang kini gelap, memantulkan bayangan wajahnya yang tampak kuyu dengan lingkaran hitam di bawah mata. Ia merasa sesak, seolah oksigen di dalam apartemen mewahnya ini tiba-tiba habis. Apartemen ini sangat luas untuk satu orang, namun baginya, setiap sudut ruangan ini adalah mata dan telinga Julian.
Ia berdiri dari kursinya, langkah kakinya tidak mengeluarkan suara di atas karpet tebal yang menutupi lantai. Felysha berjalan menuju dapur kecilnya. Ia membuka kulkas, namun tidak mengambil apa-apa. Ia hanya berdiri di sana, membiarkan udara dingin dari kulkas menerpa wajahnya yang terasa panas karena amarah yang tertahan.
Ia teringat ayahnya. Felysha menutup pintu kulkas dengan sedikit hentakan. Jika saja ayahnya tidak meninggal dan meninggalkan tumpukan utang perusahaan yang nyaris mustahil dilunasi, ia tidak akan pernah berada dalam posisi ini. Ia tidak akan pernah harus tersenyum saat Julian membelikannya gaun-gaun mahal yang sebenarnya tidak ia sukai.
Felysha berjalan menuju meja kerjanya lagi. Ia meraih pensil 2B, lalu mulai mengarsir sketsanya dengan gerakan yang lebih kasar. Ia memfokuskan seluruh energinya pada kertas itu, mencoba mematikan semua emosinya. Bunyi sret-sret dari pensil yang beradu dengan kertas menjadi satu-satunya musik di ruangan itu.
Pukul sembilan malam, Felysha memutuskan untuk berhenti. Punggungnya terasa kaku karena terlalu lama membungkuk. Ia berjalan menuju balkon, membuka pintu kaca geser yang terasa berat. Angin malam Paris yang dingin langsung menusuk kulitnya yang hanya terbalut kaos tipis. Ia merapatkan pelukannya pada tubuhnya sendiri, menatap lampu-lampu kota di kejauhan.
Menara Eiffel terlihat berkelap-kelip, memberikan pertunjukan cahaya yang selalu dikagumi turis. Namun bagi Felysha, keindahan itu terasa jauh dan asing. Ia merasa seperti hantu yang terjebak di kota yang paling romantis di dunia. Tidak ada romansa di sini, yang ada hanyalah jadwal harian yang harus ia laporkan kepada Julian setiap jam.
Ponselnya bergetar lagi di atas meja dalam ruangan. Kali ini sebuah pesan teks masuk.
Julian: Foto sketsanya mana? Jangan bikin aku nunggu.
Felysha menghela napas panjang, uap tipis keluar dari mulutnya di tengah udara dingin. Ia masuk kembali, mengambil ponselnya, lalu mengarahkan kamera ke arah sketsa gaun biru tuanya. Setelah menekan tombol kirim, ia segera berjalan menuju kamar mandi.
Ia menyalakan keran air panas di bathtub. Suara gemericik air yang memenuhi bak mandi memberikan sedikit ketenangan. Felysha melepas pakaiannya satu per satu, menaruhnya di keranjang cucian. Saat ia melirik ke arah cermin, ia melihat cincin tunangan dengan berlian besar di jari manisnya. Ia ingin melepaskannya, tapi ia teringat ancaman Julian bahwa cincin itu tidak boleh lepas dari jarinya selama ia di Paris.
Felysha masuk ke dalam air yang panas, membiarkan tubuhnya tenggelam hingga sebatas leher. Ia memejamkan mata, mencoba membayangkan jika ia punya keberanian untuk lari. Namun, bayangan wajah ibunya yang memohon agar ia bertahan demi keselamatan rumah mereka selalu muncul sebagai penghalang.
Satu jam kemudian, ia sudah berbaring di tempat tidur yang sangat luas. Piama sutra pemberian Julian terasa dingin di kulitnya. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi, menghitung detik sampai pukul sepuluh.
Tepat saat jarum jam menunjuk angka sepuluh, ponselnya berdering lagi. Panggilan video.
Felysha menarik napas, mengatur raut wajahnya agar tidak terlihat terlalu sedih, lalu menekan tombol terima. Wajah Julian muncul di layar. Pria itu sudah mengenakan jubah mandi sutra, duduk di kursi kerjanya yang mewah di Jakarta.
"Nah, gitu dong. Penurut," ucap Julian sambil tersenyum tipis. "Sketsamu lumayan, tapi bagian dadanya terlalu terbuka. Aku tidak mau tunanganku memakai atau mendesain baju yang memamerkan tubuh seperti itu. Ubah bagian itu besok."
"Tapi Julian, itu gaya desain yang sedang tren di sini..."
"Aku tidak peduli tren, Fely. Aku peduli pada apa yang menurutku pantas untuk calon istriku. Kamu mengerti kan?"
Felysha hanya mengangguk pelan. "Iya, Julian. Aku mengerti."
"Bagus. Sekarang tidur. Jangan coba-coba bangun lagi untuk lanjut kerja. Aku akan minta Andre untuk cek mobilmu besok pagi untuk pastikan kamu langsung ke kampus."
Julian mematikan sambungan. Felysha meletakkan ponselnya di nakas, lalu mematikan lampu kamar dengan tombol di dinding. Ruangan itu mendadak menjadi sangat gelap. Felysha menarik selimutnya hingga ke dagu, mencoba mencari kehangatan yang tidak kunjung ia temukan.
Malam itu, di tengah kota yang tidak pernah tidur, Felysha Anindhita menutup matanya dengan rasa hampa yang sama seperti malam-malam sebelumnya. Ia tidak tahu bahwa dalam beberapa hari ke depan, Paris akan memberinya kejutan yang tidak pernah Julian rencanakan dalam jadwalnya.