NovelToon NovelToon
Ixevons

Ixevons

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Action
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: Riahe

"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PULANG DENGAN BEBAN

Dua hari di kediaman Tuan Orochi terasa seperti mimpi yang sangat singkat namun merubah segalanya. Riezky dan Valerius akhirnya memutuskan untuk berpamitan. Meski Orochi dan An menawarkan tempat untuk bernaung lebih lama, Riezky merasa atmosfir di sana terlalu tenang untuk hatinya yang sedang bergejolak. Ia butuh kembali ke tempat yang ia kenal—Aethelgard.

Seminggu perjalanan pulang di atas kapal dihabiskan Riezky dengan lebih banyak diam. Ia sering berdiri di anjungan kapal, menatap buih ombak yang pecah, memikirkan nama Thomas Ixevon dan bayangan kerajaan tandus yang diceritakan An.

Tepat saat garis pantai Aethelgard mulai terlihat di cakrawala, Riezky tiba-tiba menepuk dahinya sendiri.

"Ah!" keluh Riezky pelan.

"Kenapa kamu? Mabuk lautnya baru kerasa sekarang?" tanya Valerius yang sedang menyesuaikan layar.

"Aku lupa nanya soal 'Malako' ke Tuan Orochi atau An," ucap Riezky dengan nada menyesal. Di tengah guncangan informasi tentang orang tuanya, kata misterius dari makhluk hitam itu benar-benar luput dari pikirannya.

Namun, rasa penasaran itu tidak bertahan lama. Detik berikutnya, bahu Riezky kembali merosot. Rasa penasaran soal "Malako" seolah tertutup oleh kabut putus asa yang lebih besar. Mendengar bahwa tempat asalnya hancur dan orang tuanya kemungkinan besar sudah tidak ada lagi di dunia ini, membuat segala teka-teki lain terasa tidak relevan.

"Sudahlah," gumam Riezky sambil menatap dermaga Aethelgard yang semakin dekat. "Mau tahu arti kata itu pun, kalau tidak ada siapa-siapa lagi yang tersisa, buat apa?"

Valerius mendekat, berdiri di samping Riezky. Ia tidak berusaha menghibur dengan kata-kata manis karena ia tahu Riezky bukan anak kecil lagi. "Setidaknya kau pulang dengan sebuah nama, Riz. Thomas Ixevon. Itu lebih baik daripada pulang dengan tangan kosong."

Kapal pun bersandar. Aethelgard menyambut mereka dengan aroma pasar ikan yang akrab dan teriakan warga yang merindukan sang pelindung. Namun, Riezky yang turun dari kapal hari itu bukan lagi Riezky yang sama dengan yang berangkat seminggu lalu. Tatapannya lebih dalam, dan ada api serta petir yang kini ia bawa dengan kesadaran penuh akan warisan darahnya yang tragis.

"Tuan Riezky sudah kembali!" "Aethelgard aman sekarang!"

Riezky hanya membalas dengan senyum tipis dan anggukan kecil yang terasa formal. Ia segera kembali ke rutinitasnya sebagai pelindung: berpatroli di sepanjang tembok kota, memeriksa pos-pos penjagaan, dan memastikan tidak ada ancaman dari hutan bayangan. Namun, ada sesuatu yang berbeda.

Warga Aethelgard mulai merasakan perubahan itu. Riezky yang biasanya ramah dan sering melontarkan banyolan satir saat sedang bertugas, kini menjadi sosok yang sangat pendiam. Jika dulu ia sering berhenti sejenak untuk mengobrol dengan warga di sela-sela patrolinya, sekarang ia lebih banyak berjalan dalam keheningan dengan tatapan yang tajam namun kosong.

"Dia kenapa? Apa perjalanan kemarin terlalu berat?" bisik salah satu pedagang pasar saat melihat Riezky berjalan melewati mereka tanpa menyapa lebih dulu.

"Mungkin beban sebagai Pelindung semakin berat baginya," sahut yang lain.

Di balik seragam pelindungnya, pikiran Riezky terus berputar. Nama Thomas Ixevon dan bayangan "Patung Besi" di bawah tanah yang diceritakan Valerius terus membayanginya. Setiap kali ia memusatkan energi untuk memanggil Fist Blade-nya, ia teringat bahwa kekuatan api dan petir inilah yang mungkin menjadi alasan kehancuran tempat asalnya.

Keinginan untuk melindungi Aethelgard kini bercampur dengan rasa putus asa yang mendalam. Ia merasa sedang melindungi sebuah kota, sementara kotanya sendiri—tempat ia seharusnya berasal—sudah lama menjadi abu dan hanya menyisakan patung-patung yang membeku.

Bahkan Sabrina pun sempat tertegun saat melihat Riezky berdiri di atas menara pengawas tertinggi, menatap ke arah barat selama berjam-jam tanpa bergerak sedikit pun.

Setelah turun dari menara, Riezky memilih duduk di beranda rumah mereka, menatap kosong ke arah jalanan Aethelgard yang mulai diterangi lampu-lampu jalan. Langkah kaki yang lembut mendekatinya. Lyra, yang sudah mendengar cerita lengkap dari Valerius tentang takdir tragis keluarga Ixevon, duduk perlahan di samping putra angkatnya itu.

Ia tidak langsung bicara. Ia membiarkan keheningan malam menyelimuti mereka sejenak sebelum akhirnya menyentuh tangan Riezky yang terasa dingin.

"Nak, Ibu turut bersedih kalau orang tuamu sudah tidak ada. Ibu sangat menyayangkan hal itu terjadi padamu," ucap Lyra lembut, suaranya bergetar oleh empati yang tulus.

Riezky masih menunduk, namun bahunya sedikit bergetar mendengar suara ibunya.

"Tapi percayalah, Ibu di sini sangat menyayangimu," lanjut Lyra sembari mengusap rambut Riezky. "Ibu juga kehilangan orang yang Ibu cintai dulu, tapi kamu mengobati rasa itu. Ibu berterima kasih padamu, dan juga kepada orang tuamu karena telah menghadirkanmu ke dunia ini."

Kata-kata itu seperti air sejuk yang memadamkan api kemarahan dan membasuh rasa putus asa di hati Riezky. Selama ini ia merasa seperti anak yang tidak memiliki akar, namun Lyra mengingatkannya bahwa meski akar aslinya mungkin telah tercabut, ia telah tumbuh dan mekar di tanah Aethelgard dengan kasih sayang yang tidak kalah besar.

Riezky menarik napas panjang, matanya yang tadi sempat berpendar redup kini mulai kembali normal. Ia menoleh ke arah Lyra dan melihat senyum tulus wanita yang telah membesarkannya dengan penuh perjuangan.

"Terima kasih, Bu," bisik Riezky. "Aku sempat merasa tidak punya siapa-siapa lagi setelah mendengar cerita disana. Tapi aku lupa... aku punya Ibu di sini."

Setelah percakapan mendalam dengan Lyra malam itu, beban berat yang menghimpit dada Riezky seolah terangkat sebagian. Esok paginya, warga Aethelgard kembali melihat sosok "Riezky yang asli". Di sepanjang rute patrolinya, ia kembali menyapa ibu-ibu di pasar dengan banyolan satirnya, menggoda anak-anak kecil, dan tentu saja, kembali bawel serta berisik saat melihat ada penjaga gerbang yang sedikit mengantuk di posnya.

"Woi! Itu mata apa jendela? Merem dikit lagi tembus itu!" teriak Riezky sambil tertawa saat melewati pos jaga barat.

Meski sesekali sifat murungnya muncul—terutama saat ia sedang sendiri menatap matahari terbenam atau saat melihat kain bayi yang tersimpan rapi—ia tak lagi membiarkan dirinya tenggelam. Kesedihan mendalam yang ia rasakan sebelumnya justru memicu efek samping yang unik: rasa penasarannya terhadap musuh misterius bin mahluk bayangan itu tiba-tiba menguap.

Baginya sekarang, mahluk hitam yang muncul di hutan tempo hari hanyalah mahluk jahat biasa yang kebetulan mengganggu ketenangan kota. Ia tak lagi peduli apakah mahluk itu punya hubungan dengan masa lalunya atau tidak.

"Mau bayangan, mau monster, mau hantu... kalau ganggu Aethelgard, tinggal kusambar pake petir, beres kan?" ucapnya enteng saat Valerius mencoba membahas soal 'Malako' lagi.

Riezky lebih memilih fokus menjaga kedamaian yang ada di depan matanya daripada mengejar bayang-bayang di masa lalu yang hanya memberinya luka. Baginya, menjadi Pelindung Aethelgard yang ramah dan sedikit menyebalkan jauh lebih baik daripada menjadi pangeran dari kerajaan yang sudah jadi abu.

Namun, di balik sikap santainya, dunia seolah tidak membiarkannya tenang begitu saja. Tanpa ia sadari, sikap meremehkannya terhadap mahluk bayangan itu adalah celah yang sedang ditunggu-tunggu oleh sesuatu yang jauh lebih besar di kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!