Area 21 +
Rasa kecewa tak bisa terbendung lagi bagi kedua orang tua Alana kala mengetahui dirinya tengah hamil di luar nikah.
"Katakan sama papi, siapa laki laki itu. Kalau kamu tidak ingin memberitahu. Papi akan cari tahu sendiri. Dan kamu tentu tahu bagaimana dengan mudahnya papi mencari. Papi hanya ingin kamu jujur saat ini." Tekan papi Wibowo menatap putrinya yang menangis tersendu sendu. Alana meragu.
~~~~~~~
Alana tak menyangka karena rasa cinta yang begitu sangat dalam membawa nya kejurang yang salah.
Dia harus mengandung tanpa seorang suami di sisinya. Alana memutuskan pergi meninggalkan tanah air tanpa memberitahu anak yang di kandung nya pada ayah biologis.
Alana juga berusaha untuk membuang rasa cinta nya, pada pria yang merupakan cinta pertamanya itu. Pada sepuluh tahun kemudian, Alana memutuskan untuk kembali ke tanah air dengan status yang berbeda.
Bukan single mom.
Tapi sebagai seorang istri dan memiliki seorang putra.
Alana menikah dengan pilihan orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hee_Sty47, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8
***
Rasa canggung sejak tadi menyerang Alana,kini di kediamannya ramai dengan hadirnya kedua orang tua Rayan . Mama Vina wanita yang sedikit tua dari mami nya itu, namun masih terbilang sangat cantik. Ada papa Altaric, merupakan mertua laki laki nya.
Lalu kakak pertama Rayan seorang dokter bernama Amelia. Wanita itu memiliki dua orang putri. Kedua keponakan dari Rayan itu tak dapat hadir.
Alana cukup merasa di terima baik oleh keluarga Rayan, begitupun dengan putranya.
Alana berbincang bincang dengan mami, mamah mertua serta kakak perempuan Rayan.
Melihat interaksi sang mami dengan mamah nya Rayan, kedua nya seperti sudah lama mengenal satu sama lain. Hanya dirinya saja yang masih merasa asing.
Besok mereka akan langsung kembali ke tanah air. Alana mau pun Kevin sudah tidak sabar untuk segera sampai di sana.
"Nak, bawa Rayan istirahat." Tiba tiba papi Wibowo menginterupsi nya. Membuat Alana yang memang sudah menganti gaun nya dengan setelan santai mengangguk saja.
Karena Rayan masih menggunakan tuxedo nya. Alana lantas pamit pada mami, mamah mertua serta kakak ipar nya. Setelah mendapat ijin lantas Alana membawa Rayan masuk ke dalam kamar yang sudah sepuluh tahun menemaninya untuk istirahat.
"Mas mau mandi? " Tanya Alana menekan rasa gugup nya.
"Boleh." Sahut Rayan sambil menelisik kamar Alana yang sangat rapi dan bersih.
"Mas mau berendam? Jika mau berendam saya siapkan air nya dulu ." Kata Alana kembali.
"Boleh, jika tidak merepotkan mu." Sahut Rayan yang kini mulai melepas kan kancing tuxedo nya.
"Tidak sama sekali merepotkan , tunggu sebentar ya mas." Titah nya
"Heum." Sahut Rayan bergumam saja. Alana lantas melangkah ke kamar mandi menyiapkan air rendaman untuk Rayan.
Beberapa saat kemudian ia keluar dari kamar mandi. Saat itu pandangannya langsung tertuju pada Rayan yang melepas pakaian atas nya. Memperlihatkan tubuh yang atletis, dada bidang serta otot perut yang terbentuk enam bagian. Alana meneguk ludahnya susah payah.
Segera wanita satu anak itu memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Tiba tiba wajahnya terasa memanas.
Gila tubuh suami gue ok banget. Batin nya
Sementara Rayan tersenyum tipis.
"Ma- aas air nya sudah si- ap." Kata Alana tiba tiba bicara dengan terbata bata. Setelah itu dia merutuki dirinya sendiri, bisa bisanya suaranya seperti itu. Alana yakin Rayan pasti menertawakan dirinya dalam hati.
"Makasih Alana." Ucap Rayan seraya melangkah ke arah kamar mandi. Di mana Alana yang masih terdiam di depan pintu. Seperti masih terhipnotis dengan tubuhnya, wanita itu sampai berdiri kaku di tempat.
Alana menahan nafas kala tubuh tegap Rayan berada di hadapan nya yang terkikis jarak. Pria itu sedikit menunduk dan mencondongkan tubuhnya. Aroma maskulin dari pria itu lantas menyapa indra penciuman Alana.
"Bernafas lah yang benar Alana." Bisik Rayan membuat Alana kelabakan. "Boleh saya lewat." Pria itu kembali menegakkan tubuhnya, menjauh.
"Ah itu, hm ya." Kata Alana dengan menggeser tubuh nya. "Silah -kan mass. " Serunya mempersilahkan dengan rasa gugup yang lagi lagi menguasainya saat ini.
Rayan mengangguk dan tersenyum tipis, lantas pria itu masuk ke dalam kamar mandi. Namun sebelum pintu tertutup sempurna, Rayan buka suara lagi.
"Kamu nggak mau join? " Mata Alana langsung melotot , lantas dia menggeleng kepala cepat.
"Nggak mas makasih atas tawarannya." Usai mengatakan seperti itu Alana lantas menjauh dari depan pintu kamar mandi. Rayan menutup pintu nya dengan senyum samar. Tidak menyangka dirinya bisa menggoda Alana.
Astaga, kenapa gue gini banget sih. Lagian kok bisa bisa nya mas Rayan ajak join sesantai itu. Alana mengipasi wajah nya yang kembali memanas. Ciuman lembut Rayan saja masih ingat di kepalanya.
Menghalau pikiran yang seperti itu, Alana lantas cepat cepat ke arah koper Rayan. Untuk menyiapkan pakaian pria itu. Meskipun belum ada cinta di antara mereka, namun Alana sadar dirinya adalah seorang istri. Dan juga wejangan panjang kali lebar Alana terima semalam dari mami dan papi nya.
Alana meletakkan setelan santai di atas kasur. Sambil menunggu Rayan menyelesaikan aktivitas nya , wanita itu memutuskan untuk membuka ponselnya.
Ada pesan masuk dari kedua sahabat nya. Mereka akan menunggu kedatangan Alana di tanah air. Tidak lupa ucapan selamat atas pernikahannya. Tidak lupa Alana segera membalas pesan itu.
Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka, Rayan keluar dari sana dengan handuk putih yang melilit di pinggang pria itu. Tangan pria itu bergerak mengusap rambut nya yang masih basah menggunakan handuk kecil, yang memang selalu Alana siap kan di dalam kamar mandi.
Alana sempat melihat ke arah Rayan. Namun hanya sebentar karena tak ingin ketahuan sedang menatap pria itu. Ia lantas kembali menatap ponselnya.
Alana berdehem. "Baju nya mas sudah saya siapkan." Kata nya sambil menunjuk baju Rayan yang berada tak jauh dari dirinya saat ini.
Alana duduk di tepi kasur. Wanita itu bicara tanpa menoleh ke arah sang suami.
Rayan lantas mendekat, membuat Alana meremat ponselnya, untuk menetralisir kan perasaan gugup nya.
Bisa ia rasakan kehadiran Rayan yang sudah kian mendekat.
"Mm..Alana " Panggil Rayan, pria itu sudah berdiri di samping ranjang.
"Ya." Alana memberanikan diri untuk menoleh seraya mendongak untuk menatap Rayan yang saat ini sedang menatap ke arah nya.
"Dalaman nya nggak ada. " Wajah Alana langsung memerah, karena merasa malu sendiri. Dia segera memalingkan wajahnya.
"Mm itu saya nggak tahu letak nya mas." Kilah Alana tak sepenuhnya berbohong. Karena dia memang tak menemukan celana dalam Rayan. Kalau pun dia melihat, wanita itu sama sekali tak berniat menyiapkan.
"Ada di bag kecil, khusus dalaman saya." Beritahu Gavin tanpa rasa malu, yang hanya di balas Alana dengan mulut berbentuk O saja. Dia enggan mengambil. Karena mereka tidak seintim itu sampai mengurusi dalaman.
Rayan yang mengerti jika Alana enggan mengambil, untuk itu ia memilih mengambil sendiri.
"Mas tolong ganti di dalam kamar mandi ya." Kata Alana ketar ketir, dia tidak siap melihat Rayan memasang pakaian nya di hadapan nya saat ini.
Gerakan tangan Rayan yang sedang membuka kopernya berhenti sesaat. Pria itu lantas menoleh pada Alana yang sedang melihat ke arahnya.
"Karena saya belum terbiasa. " Sambung Alana memberitahu, yang langsung di angguki oleh Rayan.
Pria itu lantas membawa pakaiannya kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Alana menghela nafas dengan lega. Hal seperti ini akan selalu dia lihat. Tubuh Rayan yang sulit untuk Alana lupakan. Bagaimana lekuk nya masih teringat jelas di kepala nya. Sejak ciuman yang di berikan Rayan membuat otak Alana rada rada.
Sial gue mesum banget. Alana sampai menggeleng kepalanya.
***
Makan malam kali ini sangat ramai. Di mana kedua keluarga itu menyatu menikmati santapan makan malam mereka.
Alana dan Kevin sangat menikmati momen malam terakhir di negara ini. Alana berharap Kevin dapat menyesuaikan musim di Indonesia. Mengingat dari kecil putranya itu berada di Jerman.
Selesai makan malam mereka kembali berbincang bincang. Rayan tentu bersama para pria. Sementara Alana bergabung dengan mami dan mamah Vina serta kakak perempuannya.
Waktu semakin berjalan hingga mereka membubarkan diri untuk istirahat.
Alana memilih melipir ke kamar Kevin, separuh barang mereka akan di kirim. Besok mereka hanya membawa yang penting penting saja .
"Belum tidur." Alana masuk usai di persilahkan Kevin masuk. Terlihat anaknya itu sedang melamun.
"Ada rasa sedih mom, harus meninggalkan tempat ini." Alana mengangguk dengan kedua mata berkaca kaca. Dia pun sama, di sinilah kenangan bersejarah untuknya sepuluh tahun terakhir ini. Banyak momen berharga yang sudah terlewatkan dirumah ini.
Dimana dia yang masih sangat muda, melahirkan seorang putra dan membesarkan nya dari tahun ke tahun.
Namun di sisi lain Alana juga tidak mungkin selamanya menetap di sini. Apalagi dirinya sudah berkeluarga, sudah menjadi seorang istri.
"Kalau kita rindu, kita bisa liburan kesini boy." Kata Alana membuat Kevin mengangguk setuju.
"Kevin juga nggak sabar mom kerumah opa dan oma. Nanti kita tinggal di mana mom?" Tanya Kevin membuat Alana sendiri bingung hendak menjawab seperti apa. Mengingat dia sudah menikah tentu ikut kemana Rayan membawa nya. Entah lah, dia belum mengetahui apa apa mengenai suaminya itu.
"Mmm mommy belum tahu, soalnya belum ada pembahasan dengan daddy kamu."
Ya, Kevin langsung mengubah panggilan Rayan yang semula om kini sudah resmi memanggil daddy. Saat pemberkatan tadi pagi selesai. Putranya itu langsung berinisiatif sendiri memanggi Rayan tanpa di minta.
Kevin mengangguk. "Kata daddy, Kevin akan ikut kemana pun daddy dan mommy berada. Karena Kevin sudah di anggap seperti anak daddy sendiri." Beritahu Kevin membuat Alana tersenyum.
"Kamu bahagia kan? "
"Tentu mom, selama mommy juga bahagia. Kevin akan selalu bahagia." Alana tak dapat berkata kata namun kini tubuh Kevin sudah ia tarik ke dalam pelukannya.
"Satu hal yang Kevin harus tahu, mommy bahagia miliki Kevin di sisi mommy sampai kapan pun."
Mommy tak pernah menyesal kamu hadir di hidup mommy, sekali pun mommy harus sendiri membesarkan kamu nak.
"Jangan pernah membenci mommy." Lirih Alana dengan rasa ketakutan nya akan di benci oleh Kevin, bagaimana putranya itu bisa hadir di hidupnya adalah sebuah kesalahan nya darinya.
"Kevin nggak akan pernah membenci mommy. Kevin janji akan selalu ada sama mommy dalam keadaan apa pun." Alanai tak mampu menahan laju air matanya, karena kini carian kristal bening itu sudah lolos begitu saja.
"Terima kasih Kevin, anak mommy."
"Jangan menangis mom." Pelukan mereka mengendur. Tangan Kevin langsung terulur mengusap jejak air mata Alana.
"Mommy nangis karena terharu sayang. Mommy bersyukur miliki kamu nak." Kata Alana sambil mengusap pucuk kepala Kevin.
Sementara di depan pintu kamar Kevin, Rayan berada di sana menyaksikan ibu dan anak saling mengungkapkan perasaan mereka.
Rayan yang bosan sendiri memilih menyusul Alana. Siapa sangka dia akan di sajikan dengan pemandangan keduanya. Pria itu hanya bisa menatap nanar.
Mendengar Alana hendak istirahat, Rayan bergegas meninggalkan tempat nya berada saat ini. Tak ingin Alana mengetahui dan berakhir menilai dirinya suka menguping.
"Selamat malam sayang." Alana mengecup kening putranya.
"Selamat malam mom. " Alana lantas keluar dari kamar Kevin, setelah mengganti lampu kamar Kevin menjadi tamaram.
Cklek!
Alana membuka pintu kamar, bersamaan Rayan yang keluar dari kamar mandi. Tadi Alana memang sudah pamit untuk mengecek Kevin.
Seketika ruangan itu terasa begitu mencengkram bagi Alana.
"Kevin sudah tidur?" Tanya Rayan
"Baru mau tidur mas, tadi ngobrol bentar. " Rayan mengangguk. Pria itu dapat melihat kedua mata Alana yang habis menangis , namun ia tak ingin menyinggung wanita itu.
Alana dengan langkah yang kaku mengarah ke lemari, meraih set piyama tidurnya. Lantas dia melangkah ke kamar mandi, untuk mengganti pakaiannya.
Sementara Rayan memilih naik ke atas kasur.
Alana menghela nafas berat, menatap dirinya dari pantulan cermin. Sungguh rasanya dia belum siap jika satu ranjang dengan Rayan malam ini.
Dia sudah lengkap dengan piyama tidurnya hanya saja sengaja mengulur waktu untuk keluar.
Wanita itu berharap Rayan sudah tidur, jadi tak ada rasa canggung jika dirinya keluar dari kamar mandi.
Namun harapan Alana sirna, karena saat membuka pintu kamar mandi Rayan langsung menoleh ke arahnya. Pria itu duduk dengan bersandar di headboard ranjang.
Alana berdehem, lantas melangkah ke arah meja rias. Dia hendak memakai skincare routine malam nya.
Semua pergerakan Alana tak lepas dari Rayan yang memperhatikan nya.
Mas Rayan kok nggak tidur juga sih. Padahal gue udah lama lamain di kamar mandi. Racaunya membatin.
"Alana" Wanita itu tersentak.
"Keenapa mas? " Tanya nya gugup sambil menoleh menatap Rayan .
"Apa saya tidak membuatmu nyaman berada di kamar ini?" Tanya nya langsung membuat Alana langsung mengigit bibirnya singkat.
Sebenarnya lebih ke rasa canggung saja, mengingat dia sepasang suami istri namun hanya sebagai formalitas saja untuk saat ini. Karena belum ada perasaan di antara mereka. Alana juga belum mengenal lebih jauh sosok Rayan seperti apa.
"Bukan gitu mas, hanya saja merasa canggung." Aku Alana jujur pada akhirnya.
"Nanti juga akan terbiasa, tidur lah sudah larut. Pagi besok kita langsung ke bandara. Kamu tenang saja, saya tidak akan melewati batas. Kecuali ciuman tadi."
Blushhh.....
Wajah Alana langsung menyembur kan rona merah mudanya.