NovelToon NovelToon
Ya Mungkin Besok

Ya Mungkin Besok

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Slice of Life
Popularitas:283
Nilai: 5
Nama Author: Budiarto Consultant

Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.

Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”

Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.

Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”

Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan yang Terlalu Panjang

Sore itu, langit kota berubah menjadi jingga keemasan. Matahari perlahan turun di balik gedung-gedung tinggi, meninggalkan cahaya lembut yang memantul di jendela kaca. Nina berjalan keluar dari gedung kantornya sambil membawa tas laptop, sementara Raka mengikuti di sampingnya dengan langkah santai seperti seseorang yang tidak pernah terburu-buru dalam hidup.

“Jadi…” kata Raka sambil menatap langit. “Presentasimu benar-benar berhasil?”

Nina mengangguk kecil.

“Investor setuju untuk lanjut ke tahap negosiasi.”

Raka tersenyum lebar.

“Berarti proyek miliaran rupiah itu aman?”

“Untuk sementara.”

Raka mengangkat kedua tangannya seperti sedang merayakan kemenangan tim sepak bola.

“Lihat kan? Aku membawa keberuntungan.”

Nina memutar matanya.

“Kamu membawa kekacauan.”

“Kadang kekacauan membawa keberuntungan.”

Nina tidak menjawab. Tapi sudut bibirnya sedikit terangkat.

Mereka berhenti di pinggir jalan.

Nina membuka aplikasi transportasi online di ponselnya.

“Kenapa tidak naik taksi saja?” tanya Raka.

“Lebih cepat,” jawab Nina.

Beberapa menit kemudian sebuah taksi berhenti di depan mereka.

Nina masuk terlebih dahulu.

Raka ikut masuk tanpa ragu.

Sopir menoleh lewat kaca spion.

“Mau ke mana?”

Nina menyebutkan alamat apartemennya.

Mobil mulai bergerak.

Di dalam taksi, suasana tiba-tiba menjadi sedikit canggung.

Raka melihat keluar jendela.

Lampu-lampu kota mulai menyala.

Sementara Nina menatap layar ponselnya, membaca email yang terus masuk.

Beberapa menit berlalu.

Raka akhirnya berkata,

“Kamu kerja terus.”

Nina tidak mengalihkan pandangan dari layar.

“Itu namanya tanggung jawab.”

Raka berpikir sebentar.

“Aku pernah dengar kata itu.”

Nina menoleh pelan.

“Kamu pernah dengar?”

“Iya. Tapi belum pernah mencoba.”

Nina tertawa kecil.

Tiba-tiba…

BRUKK!

Mobil tersentak keras.

Taksi berhenti mendadak di pinggir jalan.

“Aduh…” kata sopir sambil membuka kap mobil.

“Ada apa?” tanya Nina.

Sopir keluar dan membuka kap mesin.

Beberapa detik kemudian ia berkata,

“Mobilnya mogok.”

Raka mengangguk bijak.

“Ya mungkin besok hidup kita lebih lancar.”

Nina menatapnya.

“Kita terjebak di tengah jalan.”

“Ini pengalaman.”

Mereka akhirnya turun dari taksi.

Hujan mulai turun lagi.

Awalnya hanya gerimis.

Lalu semakin deras.

Raka dan Nina berdiri di trotoar yang hampir kosong.

Nina mencoba memesan mobil lagi lewat aplikasi.

“Driver-nya jauh semua,” katanya.

Raka melihat sekeliling.

Lampu jalan menyala.

Suasana kota malam terasa tenang tapi sedikit dingin.

“Kalau begitu kita jalan saja,” kata Raka.

Nina menatapnya.

“Jalan?”

“Iya.”

“Ke apartemenku?”

Raka melihat peta di ponselnya.

“Hmm…”

“Berapa jauh?”

Raka menunjukkan layar ponselnya.

4,8 kilometer.

Nina menghela napas panjang.

“Kamu serius?”

Raka mengangguk santai.

“Ya mungkin kita sampai sebelum besok.”

Nina akhirnya tertawa lagi.

Mereka berjalan di trotoar sambil berbagi satu payung.

Jalanan basah memantulkan lampu kota.

Beberapa mobil lewat dengan cepat, menyiram sedikit air ke pinggir jalan.

“Ini pertama kalinya aku pulang kerja jalan kaki sejauh ini,” kata Nina.

“Ini pertama kalinya aku berjalan sejauh ini tanpa alasan menunda,” kata Raka.

Nina menoleh.

“Kamu benar-benar aneh.”

Raka tersenyum.

“Aku sering mendengar itu.”

Setelah berjalan hampir dua puluh menit, mereka berhenti di sebuah taman kecil.

Ada bangku di bawah lampu jalan.

Raka duduk.

Nina ikut duduk di sebelahnya.

Hujan mulai reda.

Angin malam terasa dingin tapi menyenangkan.

Untuk beberapa saat mereka hanya diam.

Raka akhirnya berkata pelan,

“Nina.”

“Iya?”

“Boleh aku tanya sesuatu?”

Nina menoleh.

“Tanya apa?”

“Kenapa kamu selalu bekerja sekeras itu?”

Nina menatap ke depan.

Beberapa detik ia tidak menjawab.

Lalu ia berkata pelan,

“Karena aku tidak suka menunda.”

Raka tersenyum kecil.

“Itu jelas.”

Nina melanjutkan,

“Ayahku dulu selalu bilang… kalau kita menunda terlalu lama, kesempatan bisa hilang.”

Raka terdiam.

Ia menatap lampu taman yang berpendar di jalan basah.

“Kalau aku menunda… karena takut.”

Nina menoleh.

“Takut apa?”

Raka mengangkat bahu.

“Takut gagal.”

Nina menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata dengan lembut,

“Semua orang takut gagal.”

“Termasuk kamu?”

“Terutama aku.”

Raka terlihat sedikit terkejut.

Untuk pertama kalinya, Nina terlihat… tidak sempurna.

Dan justru itu membuatnya terlihat lebih manusia.

Beberapa saat kemudian mereka berdiri lagi.

“Masih tiga kilometer lagi,” kata Nina.

Raka tersenyum.

“Petualangan.”

Mereka berjalan lagi.

Dan tanpa mereka sadari…

Jarak di antara mereka semakin dekat.

Tangan mereka hampir bersentuhan beberapa kali.

Sampai akhirnya…

Tangan mereka benar-benar bersentuhan.

Keduanya berhenti berjalan.

Beberapa detik mereka saling menatap.

Raka membuka mulut seolah ingin mengatakan sesuatu.

“Nina…”

“Iya?”

“Aku sebenarnya mau bilang…”

Tiba-tiba sebuah motor lewat dengan suara knalpot keras.

Momen itu langsung pecah.

Raka menghela napas.

“Ya mungkin besok saja.”

Nina tersenyum kecil.

Ia tidak berkata apa-apa.

Tapi di dalam hatinya, ia berharap…

besok datang lebih cepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!