Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Logika di Atas Salju
Kepalaku berat. Di balik kelopak mata yang tertutup, bayangan itu datang lagi. Seorang gadis—wajahnya selalu kabur, seperti lukisan yang kena air—menangis. Isaknya menyayat, tangannya terulur seolah ingin menahanku.
"Jangan pergi... jangan tinggalkan aku..."
Suaranya seperti gema dari lubuk hati yang paling dalam. Tapi aku sudah lelah. Lelah dengan semua misteri, lelah dengan mimpi-mimpi yang tak jelas.
"Aku cuma mau pulang," batinku membisik, bahkan dalam mimpi. "Pulang ke tempat yang kupahami. Pulang... meski itu berarti kembali jadi bukan siapa-siapa."
Keputusasaan itu terasa nyata, menusuk sampai ke tulang.
Lalu, sesuatu yang hangat menyentuh wajahku. Bukan sentuhan angin, tapi seperti... tetesan? Lembut, dan meninggalkan bekas hangat yang aneh di pipi.
Tiba-tiba, CAHAYA.
Menyilaukan. Membakar kelopak mataku yang tertutup hingga aku terpaksa membukanya.
SOROT MATAHARI PAGI yang keemasan menerpa wajahku langsung, membanjiri kabin perahu kecil itu. Aku mengerang, mengangkat tangan untuk meneduhkan mata. Udara pagi yang dingin dan asin memenuhi paru-paruku.
"Anjir... pagi sudah?" gumamku sambil duduk, badan masih terasa kaku. Mimpi gadis itu masih tersisa seperti kabut, tapi cahaya matahari yang terang benderang perlahan mengusirnya.
Kudapati Eveline masih duduk di posisinya yang sama, seolah tidak bergerak semalaman. Ratri, dalam wujud remajanya, sedang duduk di haluan, menatapku dengan senyum kecil.
"Selamat pagi, Rian," sapanya. Suaranya terdengar... lebih lembut dari biasanya.
Aku mengusap wajah, masih mencoba membuang sisa-sisa mimpi buruk. Bekas hangat aneh di pipi itu masih terasa.
"Kita... sudah sampai?" tanyaku, melihat daratan yang sudah cukup dekat di depan. Gunung-gunung bersalju dan hutan yang gelap membentang di kejauhan.
"Belum," jawab Ratri. "Tapi hampir. Frostwind Expanse sudah di depan mata."
Aku berdiri, meregangkan badan yang pegal. Masih ada rasa berat di dada, gema dari tangisan dalam mimpiku dan kerinduan akan rumah yang mungkin sudah tak lagi ada. Tapi matahari pagi ini terasa seperti pengingat. Masih ada hari yang harus dijalani. Masih ada jawaban yang harus kutemukan.
"Oke," ucapku, mengambil kemudi. "Ayo kita selesaikan perjalanan ini."
Meski hati masih ingin pulang, langkahku harus tetap maju. Karena di dunia yang gila ini, diam berarti mati.
Angin laut yang menyambut kami saat mendekati dermaga Frostwind Expanse bukan main dinginnya. Bukan dingin sejuk seperti AC di Jakarta, tapi dingin yang menusuk tulang, seperti jarum es yang menyelusup lewat setiap celah pakaian. Aku cuma pakai kemeja flanel tipis dan jaket jeans—sama sekali nggak memadai untuk tempat yang kayak gini. Badan udah mulai menggigil, gigi gemeretuk.
Tiba-tiba, seorang nelayan tua yang lagi membereskan jaring di dermaga mendekat. Matanya kosong, gerakannya kaku. Dia nyelonong aja nyelipin sebuah jaket kulit tebal berbulu ke tanganku.
"Ini untukmu, Anak Muda," katanya dengan suara datar. "Dari... seseorang."
Aku langsung ngerasa nggak enak. Gue lirik Ratri yang berdiri di sampingku dengan senyum kecil yang terlalu polos.
"Ini ulah lo, ya?" tanyaku langsung pada intinya.
Dia mengangguk, masih tersenyum. "Iya. Kemampuan Lembutkan Kehendak. Aku hanya membisikkan kebutuhan kita pada alam bawah sadarnya."
Lembutkan Kehendak. Kedengerannya elegan, tapi yang kuliat tadi itu... lebih mirip orang kesurupan. Ngeri.
"Bukan. Gak boleh." Gue langsung balikin jaket itu ke si bapak, yang masih berdiri kaku. "Lepasin dia. Sekarang."
Ratri terlihat sedikit kaget, tapi dia mengangguk. Seketika mata si bapak berkedip, dan dia kembali sadar, bingung memandangi jaket di tangannya dan kemudian ke arahku.
"Maaf, Pak," gue bilang cepet, sambil ngeluarin koin perak dari kantong pemberian Paman Alaric. "Saya mau beli jaket itu. Boleh?"
Si bapak nelayan, yang masih bingung, akhirnya mengangguk dan menerima koin itu. Baru setelah transaksi selesai, gue terima jaket itu.
Gue balik ke Ratri, wajah gue serius. "Denger, Ratri. Jangan pernah main-main sama pikiran orang tanpa izin mereka. Itu... itu nggak benar. Ngeri, soalnya."
Aku mengharapkan dia ngeles atau defensif. Tapi yang terjadi malah bikin gue tambah ngeri.
Dia malah tersenyum. Bukan senyum polos tadi, tapi senyum yang... dalam. Seperti dia baru aja nemukan sesuatu yang dia cari-cari.
"Kenapa lo senyum-senyum gitu? Serem, soalnya," tanyaku, waspada.
Ratri cuma menggeleng, matanya yang emas itu berkilau. "Ah, tidak apa-apa. Aku cuma... jadi semakin suka dengan caramu, Rian."
Suka? Dalam situasi beku kayak gini, di depan orang yang baru aja nunjukin dia bisa mind-control orang, denger kata "suka" malah bikin bulu kuduk gue berdiri. Ini bukan pujian. Ini kayak... konfirmasi.
Gue bukan merasa disukai. Gue merasa kayak spesimen yang lagi diamatin.
Bukannya seneng atau malu, gue malah ngerasa takut. Takut sama kekuatan yang dia punya. Dan lebih takut lagi sama apa yang ada di balik senyum dan kata-kata "suka"-nya itu.
"Yaudah, daripada lo 'suka-suka' yang aneh-aneh, mending bantu cari info dimana kita bisa beli perlengkapan winter yang bener," gue potong, berusaha balik fokus ke hal praktis. "Gue nggak mau beku jadi es batu di sini."
Tapi di dalam hati, peringatan udah berdering kencang. Dewi ini punya standar moral yang berbeda. Dan gue harus ekstra hati-hati.
Setelah membeli perlengkapan winter seadanya dan menyewa kamar losmen sederhana di pinggir kota pelabuan Frostwind, aku duduk di depan perapian, mencoba menghangatkan tangan yang hampir membeku. Pikiran ini terus bekerja, menganalisis situasi seperti biasanya.
Mencari Budi Santoso... atau siapapun Pendatang Celah lainnya. Itu seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami beku. Bahkan jika kita menemukan petunjuk, begitu dia tahu ada orang asing yang mencarinya, dia pasti akan kabur lagi. Kita hanya akan membuatnya terus berlari.
Napasku mengembun di udara dingin. Ini sia-sia. Aku tidak ingin menjadi alasan orang lain hidup dalam pelarian terus-menerus.
"Ratri," panggilku, memecah kesunyian kamar. Eveline duduk di sudut, sedang membersihkan pedangnya dengan kain.
"Ya, Rian?"
"Aku pikir... kita perlu mengubah rencana." Aku menatap api yang berkobar. "Mencari orang seperti Budi itu seperti memberi tahu Kekaisaran di mana dia bersembunyi. Semakin kita cari, semakin kita membahayakannya."
"Lalu apa yang akan kita lakukan?"
"Kita berhenti mencari." Kataku dengan tegas. "Prioritas berubah. Nomor satu sekarang: kita pelajari dunia ini. Benar-benar pelajari. Budaya, politik, sistem sihir, ekonomi, semuanya. Kita perlu berbaur, memahami bagaimana segala sesuatu bekerja di sini."
Aku berdiri, mulai berjalan bolak-balik. "Selama ini kita hanya bereaksi. Dikejar, kabur, sembunyi. Itu tidak sustainable. Kita butuh... basis pengetahuan. Dengan memahami dunia ini, kita bisa:
Bergerak lebih efektif tanpa menarik perhatianTahu di mana harus mencari informasi tentang kekuatan anomali atau jalan pulangBertahan hidup lebih baik tanpa selalu bergantung pada kekuatan kalian berdua"Aku berhenti, menatap Ratri dan Eveline. "Prioritas nomor dua tetaplah cari jalan pulang. Tapi sekarang, untuk mencapai itu, kita butuh fondasi yang kuat. Kita harus jadi bagian dari dunia ini dulu, sebelum bisa menemukan cara keluar darinya."
Ini seperti saat aku pertama kali cari kerja di Jakarta. Nggak bisa asal Lamar. Harus pahami dulu pasar kerjanya, skill yang dibutuhkan, cara buat CV yang benar. Sama seperti ini.
"Jadi mulai besok," lanjutku, "kita observasi. Pelajari pasar, dengarkan percakapan orang, pahami hierarki sosial di sini. Kita cari cara untuk menghasilkan uang secara legal. Kita bangun kehidupan di sini, sambil diam-diam mencari informasi."
Ratri mengamati dengan mata berbinar. "Pendekatan yang... sangat manusiawi. Tidak terburu-buru."
"Karena terburu-buru hanya bikin kita mati," jawabku. "Aku sudah lelah jadi buronan. Sekarang waktunya jadi... pengamat yang sabar."
Perubahan strategi ini terasa tepat. Daripada terus menjadi pelarian yang hanya bereaksi, lebih baik menjadi pembelajar yang proaktif. Siapa tahu, justru dengan memahami dunia inilah, jalan pulang itu akan ditemukan.
Kami berdiri di sebuah alun-alun kecil di Frostwind Expanse, dikelilingi bangunan kayu beratap salju dan warga setempat yang lalu lalai dengan mantel tebal. Udara masih menggigit, tapi setidaknya jaket kulit berbulu yang kubeli tadi sudah cukup menghangatkan. Saatnya merancang strategi baru.
"Eveline," panggilku, membuatnya menoleh. Matanya yang biru pucat menatapku dari balik cadarnya. "Dengarkan baik-baik. Mulai sekarang, kita ubah caramu bersembunyi."
Aku menyentuh cadarnya. "Lepaskan ini. Identitasmu sebagai Putri Eveline van der Linden justru akan jadi tameng kita kali ini."
Dengan patuh, dia melepas cadarnya. Wajah pucatnya yang cantik dan tatapan kosongnya langsung terlihat. Beberapa orang yang lewat melirik dengan takjub—ciri-ciri bangsawannya tak bisa disembunyikan.
"Kau akan berperan sebagai dirimu sendiri. Seorang putri bangsawan yang sedang melakukan perjalanan incognito. Bersikaplah lemah lembut, anggun, dan berwibawa. Itu sudah menjadi alamiahmu." Aku menatapnya tajam. "Tapi ingat aturan utamanya: jika kau merasa ada ancaman terhadapku, laporkan segera. Jika ada ancaman langsung padamu, hindari. Jika tidak bisa dihindari..." Aku berhenti sebentar, "Lawan. Tapi jangan berlebihan. Cukup lumpuhkan, jangan bunuh."
Aku meletakkan tangan di bahunya. "Dan yang terpenting, pelajari segala sesuatu di sekitarmu. Cara orang berinteraksi, bagaimana mereka berdagang, apa yang mereka bicarakan. Kau adalah mata dan telingaku."
Eveline mengangguk perlahan. "Aku paham. Berperan sebagai putri, waspada, dan belajar."
Sekarang giliran Ratri. "Ratri, untuk sementara, kau akan mengawasi Eveline. Pastikan dia tidak—"
"Tidak," potong Ratri dengan cepat, wajahnya serius. "Jika aku mengawasinya, lalu siapa yang akan menjagamu? Kau paling lemah di antara kita, Rian. Tanpa kami, kau hanya manusia biasa."
Dia benar. Tapi...
"Justru itulah masalahnya," bantahku. "Dua wanita cantik dengan ciri yang sangat mencolok—satu bangsawan, satu bermata emas—selalu mengikutiku kemana-mana? Itu seperti membawa papan nama 'TOLONG PERHATIKAN KAMI!'. Kita akan jadi bahan gunjingan, dan itu berbahaya."
Aku melihat sekeliling. "Di tempat asing seperti ini, seorang pria yang sendirian justru kurang menarik perhatian. Aku bisa menyamar sebagai pedagang, pengembara, apapun. Tapi dengan kalian berdua di sampingku, itu seperti... parade."
Ratri masih terlihat tidak yakin, tapi dia tahu logikaku masuk akal. Tiba-tiba, dia mengeluarkan sebuah kalung sederhana dari balik tuniknya. Sebuah batu kristal kecil berwarna biru susu tergantung di tali kulit.
"Kalau begitu, terimalah ini," katanya, menyodorkannya padaku. "Ini 'Echo Stone'. Tempelkan di telingamu dan bisikkan namaku. Aku akan mendengarnya, dimanapun aku berada. Begitu pula sebaliknya. Jika kau dalam bahaya, panggil aku. Aku akan segera datang."
Aku menerima kalung itu. Batu kristalnya terasa hangat, seperti memiliki denyutnya sendiri. Aku langsung mengenakannya, menyembunyikannya di balik jaket.
"Baik," kataku. "Ini komprominya. Kalian berdua tetap bersama, tapi dengan peran yang jelas. Aku akan menjelajah sendiri, tapi dengan ini," aku menepuk kalung di dadaku, "kita tetap terhubung."
Ratri akhirnya mengangguk, meski raut khawatir tidak sepenuhnya hilang dari wajahnya.
"Eveline, Ratri," panggilku untuk terakhir kali sebelum kami berpisah sementara. "Ingat, tujuan kita sekarang adalah belajar dan berbaur. Jadilah rendah hati, perhatikan sekitar, dan... tolong, jangan buat keributan."
Dengan perjanjian itu, kami pun berpisah. Aku melihat mereka berdua—sang putri dan sang dewi—berjalan menyusuri pasar, sementara aku berbalik arah, menyusuri gang sempit sendirian. Untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, aku benar-benar sendiri. Tapi kali ini, bukan karena tersesat, tapi karena pilihanku. Sebuah langkah strategis dalam misi baruku: memahami dunia ini dari sudut pandang orang biasa.
Setelah berpisah sementara dengan Eveline dan Ratri, misi pertamaku adalah mencari tempat tinggal yang stabil. Menginap di losmen terus-terusan bakal bikin bokek dan mencurigakan. Aku butuh basis operasi—tempat untuk merencanakan langkah selanjutnya, menyimpan barang, dan yang paling penting, berbaur seperti penduduk lokal.
Setelah bertanya ke beberapa orang, seorang tua pemilik toko kayu menawarkanku sesuatu yang menarik.
"Ada rumah tua di ujung jalan dekat hutan," katanya sambil mengunyah tembakau. "Punya anakku. Dia pergi ke ibukota kadipaten. Murah saja, tapi... butuh sedikit perbaikan."
Yang dia sebut "sedikit perbaikan" ternyata cukup ekstrem. Rumah kayu dua kamar itu tampak sudah lama tidak dihuni. Lapisan debu tebal di mana-mana, beberapa jendela kayunya copot, dan atapnya bocor di beberapa titik. Tapi strukturnya masih kokoh, dan yang paling penting, ada ruang bawah tanah.
Setelah tawar-menawar singkat, aku menyepakati harganya dengan uang pemberian Paman Alaric. Ini akan jadi investasi.
Beberapa jam kemudian, Eveline dan Ratri sudah bergabung denganku. Kami menghabiskan sisa hari membersihkan dan memperbaiki seadanya. Aku dan Eveline menutup lubang atap dengan papan dan daun kering, sementara Ratri—dengan kekuatannya yang halus—mengusir semua debu dan kotoran hanya dengan gerakan tangan. Aku memilih tidak berkomentar.
Setelah ruangan atas cukup layak, aku memeriksa ruang bawah tanah. Tangga kayunya berderit, tapi ruangannya justru mengejutkan. Dingin, kering, dan teratur. Rak-rak kayu kosong berjejer rapi. Ini jelas ruang penyimpanan makanan yang bagus. Persis yang kubutuhkan.
"Mungkin dulu pemiliknya pedagang," gumamku, sudah membayangkan menyimpan persediaan makanan dan barang berharga di sini.
Malam tiba dengan cepat, dan bersamanya datanglah badai musim dingin pertama yang kualami di dunia ini. Angin menderu, menggoyangkan kerangka rumah, dan hawa dingin yang menusuk menyusup meski kami sudah menutup semua celah. Aku menggigil hebat, duduk dekat perapian dengan selimut berlapis. Tapi yang membuatku heran, Ratri sama sekali tidak terpengaruh. Dia bahkan tidak memakai jaket.
"Lo kenapa nggak kedinginan?" tanyaku, gigi masih gemeretuk.
Ratri tersenyum kecil. "Aku adalah Dewi Jatuh, Rian. Suhu ekstrem seperti ini tidak lagi mempengaruhiku."
Ah, iya juga. Kadang aku lupa bahwa wanita remaja di depanku ini sebenarnya makhluk setengah dewa. Aku menghela napas, sedikit iri.
"Tunggu sebentar," ujarnya lalu pergi ke dapur kecil. Aku mendengar dia membuka-buka kantong dan panci. Beberapa saat kemudian, dia kembali dengan dua cangkir kayu berisi minuman berwarna keemasan yang mengepulkan uap harum.
"Ini Sunbeam Mead," katanya, memberikanku satu cangkir. "Minuman penghangat kawasan ini. Terbuat dari madu Sunset Blossom, jahe hutan es, dan sedikit... Ember Root untuk kehangatan ekstra."
Aku mencium aromanya—manis, pedas, dan seperti kayu bakar. Setelah meniupnya pelan, kuteguk. Hangat! Bukan sekadar panas di lidah, tapi kehangatan yang langsung menyebar ke dada dan perut, lalu merambat ke seluruh tubuh. Rasa menggigilku perlahan mereda.
"Wow," gumamku, terkagum. Kuangkat jempol padanya. "Enak!"
Ratri tersipu malu, senyum bahunya mengembang. "Aku dulu sering membuatnya untuk para penjaga di pulau saat musim dingin."
Malam itu, sementara badai mengamuk di luar, kami duduk dalam kehangatan sementara. Aku dengan Sunbeam Mead-ku, Ratri dengan senyum puasnya, dan Eveline yang diam mengamati kami dari sudut ruangan. Untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, ada sedikit rasa... kepenuhan. Kami punya atap di atas kepala, rencana yang jelas, dan secangkir kehangatan di tangan.
Mungkin, bertahan hidup di dunia fantasi tidak harus selalu tentang pertarungan dan pelarian. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah strategi yang baik, sedikit perbaikan rumah, dan secangkir minuman hangat yang tepat.