Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.
Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.
Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.
Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.
Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Sarapan terlalu pagi
Cahaya matahari pagi yang menyeruak dari balik gorden linen berwarna krem itu terasa seperti gangguan kasar bagi Arunika. Ia mengerang pelan, membalikkan tubuhnya yang masih terbalut piyama satin berwarna moka, mencoba mencari posisi yang paling nyaman untuk kembali terlelap. Namun, usahanya sia-sia. Aroma kopi Arabika yang tajam, bercampur dengan wangi roti panggang yang mentega, sudah lebih dulu menyerbu indra penciumannya. Itu adalah aroma yang konsisten—aroma yang selama enam bulan terakhir ini selalu menjadi penanda bahwa suaminya, Devan, sudah bangun dan sedang menguasai dapur.
Nika membuang napas kasar. Dengan gerakan malas yang kentara, ia menyibakkan selimut bulu angsanya. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai marmer yang dingin, mengirimkan sensasi kejut yang seketika mengusir sisa kantuknya. Ia berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya cantik, kulitnya mulus, namun ada gurat keangkuhan yang selalu ia pelihara di sana—sebuah tameng yang ia bangun sejak hari di mana orang tuanya menyeretnya ke altar untuk bersanding dengan pria yang tak pernah ia minta.
Langkah kakinya menuruni tangga rumah mewah itu terdengar berirama, namun terasa hampa. Di ruang makan yang luas, Devan duduk dengan punggung tegak, fokus pada tablet di tangannya. Pria itu tampak sangat rapi dalam balutan kemeja kerja berwarna biru gelap yang lengannya digulung hingga siku. Nika selalu benci bagaimana Devan bisa terlihat begitu tenang dan terkendali, seolah dunia ini selalu berada di bawah kendalinya. Bahkan cara Devan memegang cangkir kopinya terlihat begitu elegan, sangat kontras dengan Nika yang sering kali merasa berantakan di dalam jiwanya sendiri.
"Selamat pagi, Ni," suara Devan terdengar berat dan lembut, tidak berubah sedikit pun meskipun Nika tidak pernah membalas sapaan itu dengan layak.
Nika hanya bergumam tidak jelas. Ia menarik kursi kayu jati itu dengan sengaja, menimbulkan bunyi derit yang cukup keras untuk memecah keheningan yang tenang. Ia duduk dengan punggung menyandar, melipat tangan di dada, dan menatap meja makan yang sudah penuh dengan hidangan sarapan sehat. Ada omelet dengan taburan peterseli, roti gandum, dan jus jeruk yang masih terlihat berembun di gelasnya. Semuanya disiapkan oleh Devan. Pria itu tidak pernah membiarkan asisten rumah tangga menyentuh urusan sarapan istrinya.
"Aku membuatkanmu omelet dengan sedikit keju, seperti yang kamu suka," kata Devan lagi, kali ini ia meletakkan tabletnya dan menatap Nika. Matanya teduh, jenis mata yang seharusnya membuat wanita mana pun merasa aman, tapi bagi Nika, tatapan itu hanyalah bentuk belenggu yang halus.
"Aku tidak lapar, Mas," jawab Nika ketus. Ia meraih gelas jus jeruknya, hanya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. "Lagi pula, aku sudah bilang berkali-kali, jangan repot-repot menyiapkan semua ini. Aku bisa sarapan di kantor atau di kafe mana pun yang aku mau."
Devan terdiam sejenak. Ia tidak tampak marah, hanya ada jeda yang sedikit lebih lama dari biasanya sebelum ia menjawab. "Aku suamimu, Ni. Menyiapkan sarapan untukmu adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan sebelum kita sibuk dengan dunia masing-masing."
"Suami?" Nika tertawa hambar, sebuah tawa yang sarat akan sarkasme. "Mas, jangan lupa. Kita menikah karena perjanjian bisnis orang tua kita. Jangan berpura-pura seolah ini adalah pernikahan yang didasari cinta yang manis. Kamu mendapatkan investasimu, dan aku... aku kehilangan kebebasanku. Jadi, berhentilah berperan sebagai suami idaman di depanku. Itu memuakkan."
Nika memperhatikan bagaimana jakun Devan bergerak saat pria itu menelan ludah. Ada kilatan rasa sakit yang melintas sekejap di mata pria itu, namun dengan cepat ia sembunyikan di balik topeng ketenangannya. Devan kemudian merogoh sesuatu dari saku jasnya yang tergantung di kursi—sebuah kartu kredit baru yang ia letakkan dengan perlahan di atas meja, tepat di depan Nika.
"Gunakan ini. Limitnya lebih besar dari yang kemarin. Aku tahu kamu sedang mempersiapkan koleksi baru untuk butikmu. Jangan sampai kamu kesulitan hanya karena urusan biaya," ucap Devan datar.
Nika menatap kartu itu dengan tatapan meremehkan. "Kamu pikir segalanya bisa dibeli dengan uang, Mas? Kebahagiaanku, cinta, atau bahkan waktu? Kamu tahu apa yang paling aku inginkan sekarang? Kebebasan. Bukan kartu plastik ini."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Nika, tanpa ia sadari betapa dalamnya luka yang ia goreskan. Selama enam bulan ini, Nika memang terbiasa menyerang Devan dengan kata-kata tajam. Ia ingin Devan menyerah. Ia ingin Devan merasa tidak tahan dan akhirnya melayangkan surat cerai. Namun, pagi ini, reaksi Devan berbeda. Biasanya pria itu akan tersenyum kecil dan memaklumi kemarahannya. Tapi kali ini, Devan hanya menatap kartu itu, lalu menatap Nika dengan pandangan yang kosong.
"Kebebasan," Devan mengulang kata itu dengan nada bisikan yang hampir tak terdengar. "Jika itu memang yang kamu inginkan, mungkin aku memang harus berhenti memaksamu untuk tinggal di zona yang menurutmu adalah penjara."
Devan berdiri, gerakannya lambat dan penuh wibawa. Ia tidak melanjutkan sarapannya. Ia merapikan jasnya, membetulkan letak jam tangan peraknya, lalu mengambil tas kerjanya. Sebelum melangkah pergi, ia berhenti di samping kursi Nika. Aroma parfum woody yang maskulin milik Devan memenuhi indra penciuman Nika, membuat dadanya tiba-tiba berdegup dengan ritme yang aneh.
"Aku akan pulang sangat terlambat hari ini. Mungkin aku akan menginap di apartemen dekat kantor jika pekerjaanku tidak selesai. Kamu tidak perlu menungguku, atau bahkan memikirkanku," ucap Devan tanpa menoleh sedikit pun ke arah istrinya.
Nika tertegun. Ini adalah pertama kalinya Devan berbicara dengan nada sedingin itu. Biasanya, Devan akan pamit dengan mencium keningnya—meskipun Nika selalu menghindar—atau setidaknya memberikan pesan agar Nika berhati-hati di jalan. Tapi sekarang, Devan melangkah pergi begitu saja. Pintu depan tertutup dengan suara dentuman pelan yang entah kenapa menggema begitu hebat di telinga Nika.
Nika tetap duduk di kursinya, menatap omelet yang kini mulai mendingin. Suasana rumah yang luas itu tiba-tiba terasa begitu sunyi. Biasanya, keheningan adalah teman baiknya, tapi pagi ini, keheningan itu terasa mencekik. Ia menatap piring Devan yang masih berisi sisa roti yang hanya dimakan separuh. Selama ini, Devan selalu menghabiskan makanannya. Apakah suaminya itu benar-benar terganggu dengan ucapannya tadi?
Nika mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia seharusnya senang. Akhirnya, Devan memberikan jarak. Akhirnya, pria itu berhenti bersikap terlalu peduli. Nika meraih kartu kredit yang ditinggalkan Devan, menggenggamnya kuat-kuat. Ia seharusnya merasa menang, tapi yang ia rasakan justru sebuah lubang kecil yang mulai menganga di sudut hatinya. Ia mencoba memakan omelet buatan Devan, namun rasanya hambar. Tak ada rasa keju yang biasanya ia puji dalam hati. Semuanya terasa seperti debu.
Ia bangkit dari kursi, melangkah menuju ruang kerja Devan yang pintunya sedikit terbuka. Nika tidak pernah masuk ke sana. Baginya, itu adalah wilayah terlarang yang penuh dengan hal-hal membosankan tentang konstruksi. Namun, rasa ingin tahu yang tiba-tiba muncul mendorongnya untuk masuk. Di atas meja kerja yang rapi itu, Nika melihat sebuah tumpukan berkas. Di paling atas, ada sebuah map cokelat yang terbuka sedikit.
Dengan tangan gemetar, Nika menarik map itu. Jantungnya berdegup kencang saat ia melihat isinya. Bukan draf kontrak kerja, melainkan draf gugatan cerai yang sudah ditandatangani oleh Devan di kolom suaminya. Tanggalnya kosong. Di sampingnya, ada secarik kertas kecil bertuliskan tangan Devan yang rapi: "Jika aku sudah tidak lagi mampu membuatmu tersenyum, maka biarlah surat ini yang melakukannya untukmu."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Nika. Kakinya terasa lemas hingga ia harus berpegangan pada pinggiran meja. Penyesalan, sebuah rasa yang belum pernah ia undang, tiba-tiba datang tanpa permisi, menyesakkan dadanya, dan membuat air matanya luruh seketika membasahi kertas di tangannya. Ia baru saja menyadari, bahwa ia telah menyia-nyiakan satu-satunya pria yang mencintainya dengan begitu sabar, hanya demi ego yang tak ada harganya.