"Kau tahu apa masalahmu, Salena? Kau terlalu sibuk menjadi sempurna sampai lupa caranya menjadi manusia." — Zane Vance.
"Dan kau tahu apa masalahmu, Vance? Kau pikir dunia ini panggung sirkusmu hanya karena teman-teman bodohku memanggilmu Dewa. Dasar alay." — Salena Ashford
Zane Vance (21) pindah ke Islandia bukan untuk mencari musuh. Tapi saat di hari pertama dia sudah mendebat Salena Ashford—si putri konglomerat kampus yang kaku dan perfeksionis—perang dunia ketiga resmi dimulai.
Semua orang memuja Zane. Mereka memanggilnya "Dewa dari New York" karena pesonanya yang bad boy, dingin, dan Urakan Ganteng (ini kata teman Selena), kecuali Salena.
Namun, semakin keras Salena berusaha menendang Zane dari tahtanya, semakin ia terseret masuk ke dalam rahasia hidup cowok itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apartemen yang panas
Apartemen Zane terasa jauh lebih hangat malam ini, seolah aura dingin yang selama ini menyelimuti setiap sudut ruangan telah luruh bersama perginya Phoenix.
Salena, yang biasanya memuja kesunyian di rumah besarnya sendiri, kini merasa bahwa kesunyian itu mulai terasa seperti kesepian yang menyesakkan.
Saat Zane memintanya untuk menginap, kali ini bukan dengan nada putus asa seperti semalam, melainkan dengan binar penuh harapan, Salena tidak menemukan alasan untuk menolak.
"Ambil apa saja di lemariku, Sal. Kau butuh sesuatu yang lebih nyaman daripada gaun hukum itu," ucap Zane sambil mengacak rambutnya sendiri, matanya tak lepas memandang Salena.
Setelah mandi air hangat yang membantu merelaksasi otot-ototnya yang tegang karena drama tamparan tadi sore, Salena melangkah keluar dari kamar mandi dengan uap tipis yang mengikutinya. Ia memilih sepotong kemeja putih milik Zane.
Kemeja itu tampak sangat kebesaran di tubuh ramping Salena, lengan kemejanya menutupi hingga ujung jarinya, dan bagian bawahnya jatuh hingga pertengahan pahanya. Aroma sandalwood dan maskulinitas khas Zane langsung memeluk indra penciumannya, memberikan sensasi protektif yang aneh.
Salena sedang berdiri di depan cermin besar di kamar Zane, berusaha menggulung lengan kemeja yang terlalu panjang, ketika ia melihat pantulan Zane di cermin.
Zane berdiri di ambang pintu, bersandar pada bingkai kayu dengan tangan terlipat di depan dada. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan celana kain santai, namun ia tetap bertelanjang dada. Matanya menggelap saat melihat Salena mengenakan pakaiannya.
Pemandangan itu, seorang wanita yang tampak begitu polos namun berani di dalam kemejanya, merupakan pemandangan yang paling indah sekaligus berbahaya bagi Zane.
Zane melangkah maju tanpa suara, mendekat hingga Salena bisa merasakan hembusan napasnya di tengkuknya. Ia membalikkan tubuh Salena perlahan.
"Kemeja itu terlihat seribu kali lebih baik padamu daripada padaku," bisik Zane rendah, suaranya parau.
Tanpa menunggu jawaban, Zane menunduk dan menciumnya.
Ciuman kali ini berbeda dari ciuman di lampu merah tadi. Jika tadi penuh dengan rasa terima kasih yang meluap, kali ini ciuman itu terasa lebih dalam, lebih menuntut, dan penuh dengan gairah yang selama ini mereka tekan di balik kata-kata sinis dan perdebatan di kampus.
Zane merengkuh pinggang Salena, menariknya hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka, sementara tangan Salena secara refleks mencengkeram kain kemeja di bahu Zane.
Di tengah keintiman yang mendebarkan itu, Salena merasa dunianya seolah berputar. Ia lupa pada fakta bahwa ia adalah seorang Ashford yang kaku. Ia lupa pada hukum dan aturan. Ia hanya tahu bahwa di bawah kemeja kebesaran ini, jantungnya berdetak hanya untuk pria yang sedang mendekapnya erat.
Namun, di balik kegelapan kamar dan hangatnya dekapan Zane, ponsel Salena yang tergeletak di atas nakas kembali bergetar. Sebuah pesan baru masuk dari tim keamanannya:
"Target (Kharel) telah menyewa mobil dan sedang bergerak menuju pusat kota. Dia menuju ke arah apartemen Zane Vance."
Salena bisa merasakan bibir Zane berpindah ke lehernya, memberikan kecupan-kecupan kecil yang membuatnya merinding. Salena terjebak di antara keinginan untuk membiarkan momen ini berlanjut selamanya, atau melepaskan diri untuk bersiap menghadapi api yang sedang melaju menuju pintu mereka.
Suasana kamar yang tadinya hangat dan penuh gairah mendadak berubah menjadi mencekam. Bunyi bel apartemen yang berulang-ulang itu terdengar seperti ketukan kematian di tengah kesunyian malam Reykjavik. Salena merasakan jantungnya berdegup kencang, tangannya mencengkeram sprei sutra saat ia menyadari bahwa api Manhattan benar-benar telah sampai di depan pintu mereka.
Namun, sebelum Salena sempat bangkit untuk menghadapi wanita itu, tangan kokoh Zane justru menahannya. Zane mengukung tubuh Salena, tatapannya yang tadi penuh cinta kini berubah menjadi sangat tajam dan gelap, memancarkan aura predator yang siap menyerang.
"Wanita gila itu telah tiba, Salena," bisik Zane tepat di telinga Salena. Suaranya rendah, dingin, dan mengandung kebencian yang begitu dalam hingga membuat Salena merinding.
Tanpa menunggu balasan dari Salena, Zane tiba-tiba bangkit dari ranjang. Tubuhnya yang bertelanjang dada memperlihatkan setiap lekuk otot dan tato yang tampak mengintimidasi di bawah cahaya remang kamar.
Dengan gerakan yang tegas dan tanpa ragu, ia menyambar kemeja kainnya dan berjalan keluar kamar, meninggalkan Salena yang masih terpaku di atas ranjang dengan kemeja putih besarnya.
Salena bisa mendengar langkah kaki Zane yang berat menuju pintu depan. Ada rasa takut yang merayap di hatinya, bukan takut pada Kharel, tapi takut pada apa yang mungkin dilakukan Zane jika ia dibiarkan menghadapi obsesi gilanya sendirian.
Zane sampai di depan pintu. Ia tidak langsung membukanya. Ia melihat melalui lubang intip dan menemukan sosok Kharel Renaud berdiri di sana dengan mantel bulu mahal dan tatapan mata yang haus akan konfrontasi.
Zane menarik napas panjang, rahangnya mengeras. Ia membuka pintu itu dengan sentakan kasar.
"Mau apa kau di sini, Kharel?" suara Zane menggelegar di lorong apartemen yang sunyi.
Kharel tidak tampak terkejut. Ia justru tersenyum manis, sebuah senyuman yang terlihat sangat tidak wajar.
"Zane, sayang... kau pikir kau bisa bersembunyi di balik wanita Islandia itu selamanya? Aku datang untuk menjemput milikku."
Salena, yang tidak tahan hanya berdiam diri di kamar, akhirnya turun dari ranjang. Ia berjalan perlahan menuju ruang tamu, berdiri di kegelapan koridor untuk melihat bagaimana Zane menghadapi hantu masa lalunya.
"Aku bukan milikmu, dan aku tidak akan pernah kembali," desis Zane. "Pergilah sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeret mu keluar."
"Oh, Zane... Phoenix bilang kau sudah berubah. Tapi aku tahu kau hanya sedang bermain sandiwara," Kharel melangkah masuk tanpa diundang, matanya langsung tertuju pada sosok Salena yang berdiri di kejauhan. "Jadi, ini Singa Islandia yang berani menyentuh milikku?"
Salena melangkah keluar dari kegelapan, cahaya lampu ruang tamu menyinari wajahnya yang tenang namun mematikan. Ia tidak tampak gentar sedikit pun meskipun hanya mengenakan kemeja Zane.
"Kau sangat jauh dari rumah, Kharel," ucap Salena dengan nada yang sangat datar. "Dan di sini, aturanmu tidak berlaku."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰