NovelToon NovelToon
Best Part

Best Part

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Mantan / Romansa
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kiadilkia

Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.

Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.

Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.

Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22 - Gosip yang Terus Berjalan

...“Aku tidak pernah meminta perhatian, tapi entah kenapa namaku selalu disebut bersama namanya.”...

Happy Reading!

...----------------...

Setelah semua gosip itu, sekolah seolah menemukan hiburan baru.

Bukan lomba. Bukan acara perpisahan. Tapi aku dan Raven.

Setiap lewat lorong, selalu ada tatapan. Setiap duduk berdekatan, selalu ada bisik-bisik. Tidak jahat. Tidak benar-benar menyebalkan. Tapi cukup untuk membuatku sadar—kami sudah terlalu terlihat untuk pura-pura biasa saja.

Dan aku kira… semua itu akan berhenti di kelas.

Aku salah.

Hari itu jadwal pelajaran olahraga. Jam yang biasanya paling ditunggu, karena kami bebas dari seragam putih abu-abu dan bangku kelas.

Lapangan sekolah jadi pusat keramaian—terbuka, luas, dan dikelilingi ruang-ruang kelas yang saling berhadapan. Dari mana pun berdiri, rasanya selalu ada yang melihat.

Kami berbaris rapi di tengah lapangan. Pak Yoga, guru olahraga kami, berdiri di depan, memimpin pemanasan dengan suara lantang.

“Putar bahu! Satu—dua—tiga—empat!”

Aku mengikuti gerakan sambil menatap lurus ke depan. Angin siang berembus pelan, rambut sedikit tersapu angin. Matahari tidak terlalu terik. Semuanya terasa normal.

Raven berdiri agak ke depan. Tidak terlalu jauh, tapi cukup terpisah. Dari posisiku, aku bisa melihat punggungnya—kaus olahraganya menempel pada kulit karena keringat, rambutnya sedikit berantakan tapi entah kenapa tetap terlihat rapi. Tangannya terkadang ikut bergerak dengan ritme pemanasan, tubuhnya santai, langkah kakinya stabil. Anehnya, bahkan di jam olahraga, ia tetap terlihat tenang.

Pandangan mataku lalu menangkap pergerakan di sekitar lapangan.

Dari arah belakang, Pak Damar, guru fisika, berjalan mendekat dengan langkah santai, seolah sedang mencari seseorang. Punggungnya tegak, tangan terkadang diselipkan di saku celana. Di waktu yang hampir bersamaan, pintu salah satu ruang kelas yang langsung menghadap lapangan terbuka.

Dari sana keluar Pak Aditya Pratama.

Ayah Raven.

Pak Aditya melangkah beberapa langkah ke depan, lalu berhenti di depan kelas. Pandangannya menyapu seluruh lapangan, melewati barisan siswa yang sedang pemanasan, hingga akhirnya menetap di satu titik. Raven.

“Raven.”

Suaranya tidak keras, tapi cukup tegas untuk terdengar.

Raven langsung menoleh. Begitu melihat ayahnya, ia keluar dari barisan dan berlari kecil menghampiri. Rambutnya sedikit terangkat karena angin, napasnya teratur, tapi matanya jelas fokus. Aku masih mengira tidak akan terjadi apa-apa. Mungkin hanya dipanggil sebentar.

Pak Damar berhenti tidak jauh dari barisan kami. Tidak menyebrang lapangan—hanya berdiri, tangan disilangkan di dada, kaki sedikit ditekuk, seperti orang yang sedang menunggu. Rupanya ia ingin meminjam kunci mobil Pak Aditya. Ada barang yang tertinggal di dalam.

Raven kemudian berjalan menjauh ke arah parkiran, membawa kunci itu. Kakinya bergerak ringan, tapi mata kadang menoleh ke arahku, seakan memastikan aku aman.

Dan di saat itulah—aku sendirian.

Pak Damar tidak ikut Raven. Ia tetap di tempatnya, matanya menyapu barisan siswa satu per satu. Kepala sedikit mencondong, senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

Aku masih melakukan pemanasan. Masih menghadap depan. Masih merasa aman.

Sampai aku merasakan sesuatu.

Tatapan.

Aku menoleh sedikit. Dan di situlah kesalahanku.

Pak Damar sudah menemukanku. Tangannya terangkat, jari telunjuk lurus menujuku. Ekspresinya setengah jahil, setengah serius.

Beberapa detik kemudian, suaranya menggema di lapangan.

“PAK ADITYA!!”

Semua gerakan berhenti.

Pak Yoga menoleh bingung, alis terangkat. Teman-teman langsung refleks melihat ke arah sumber suara.

Pak Aditya menoleh dari kejauhan. Matanya sedikit melebar, lalu berkedip ringan.

Pak Damar mengangkat tangan, kemudian menunjuk lurus.

Ke arahku.

“INI CALON MANTU!”

Aku membeku. Jari-jari menekuk di atas pinggang, pundak terangkat, napas tercekat. Mata melebar.

Hening sepersekian detik—lalu lapangan pecah.

“HAHAHAHAHAHA—”

“ASTAGA PAK DAMAR”

“YA AMPUN SHAIRAAAA!”

Tawa datang dari segala arah. Ada yang sampai membungkuk, ada yang menepuk tangan, ada yang menutup mulut sambil menahan tawa, ada yang sengaja berteriak memanggil namaku.

Mukaku panas. Kepala terasa berat. Napasku tercekat. Aku ingin menghilang, menekuk badan, menempel ke lantai—serius.

Raven tidak ada di situ. Dan itu yang paling parah.

Pak Aditya di kejauhan sempat terdiam, lalu tertawa kecil. Bukan tawa mengejek. Lebih seperti tawa orang dewasa yang pasrah menghadapi kelakuan rekan kerjanya.

“Ah, Pak Damar bisa aja,” katanya sambil menggeleng.

Itu tidak menolong. Sama sekali tidak.

Pak Yoga berdeham keras.

“Sudah! Lanjut pemanasan!”

Tapi butuh waktu lama sampai lapangan benar-benar tenang.

Aku melanjutkan gerakan dengan kaku. Tangan mengikuti ritme pemanasan, tapi mata sesekali melirik teman-teman yang masih tersenyum. Rasanya seperti berdiri di panggung tanpa mendaftar menjadi pemeran.

Beberapa menit kemudian, Raven kembali dari arah parkiran. Langkahnya melambat begitu melihat suasana. Tatapannya menyapu lapangan, wajah teman-temannya yang masih tersenyum, lalu berhenti padaku.

Aku tidak menatapnya. Tapi aku tahu—dia langsung mengerti.

Saat pelajaran selesai dan kami berjalan kembali ke arah ruang ganti, Raven menyamakan langkah denganku. Kakinya seirama dengan kakiku, tangan sesekali menyentuh punggungku ringan, bahunya sedikit condong ke arahku.

“Kenapa tadi?” tanyanya pelan.

Aku menghela napas panjang, bahu turun sedikit. “Pak Damar.”

Raven mendesah kecil, menundukkan kepala sebentar. “Kenapa?”

Aku berhenti sebentar, menunduk. “Dia teriak ke ayah kamu. Nunjuk aku. Bilang aku calon mantu.”

Raven berhenti juga, menatapku, lalu tertawa kecil. Bukan tawa mengejek. Bukan tawa keras. Tawa pasrah.

“Maaf,” katanya sambil menggaruk tengkuk, jari-jari menyentuh rambut sedikit rapi, ekspresinya ringan tapi menenangkan.

Aku menutup wajah dengan tangan, pipi panas. “Aku mau pindah planet.”

“Kalau kamu pindah,” jawabnya ringan,

“aku ikut.”

Aku menurunkan tangan. Menatapnya. Mata kami bertemu sebentar, senyumnya tipis tapi menenangkan.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, rasa maluku sedikit mereda.

Karena meskipun satu lapangan menertawakan kami, meskipun gosip sudah menyebar ke mana-mana, meskipun namaku sudah terlalu sering disebut—Raven tetap berdiri di sisiku.

Dan mungkin, di tengah sekolah yang terlalu ramai dengan cerita kami, itu sudah cukup.

...----------------...

Kalau kupikir-pikir, hari olahraga itu seharusnya sudah cukup memalukan untuk satu minggu.

Ternyata tidak.

Sekolah seperti punya cara sendiri untuk memastikan aku tidak lupa—bahwa gosip ini sudah hidup mandiri, berjalan dari satu ruang ke ruang lain, dari satu guru ke guru berikutnya.

Beberapa hari setelah kejadian di lapangan, kami mendapat jadwal praktik pelajaran agama.

Praktik bacaan salat sunnah—kebetulan materi yang dipraktikkan hari itu adalah bacaan salat jenazah.

Pak Haris, guru agama kami, meminta seluruh siswa datang ke mushola sekolah untuk praktik langsung. Tidak bersamaan, tapi bergiliran. Satu per satu. Katanya supaya lebih tertib dan fokus.

Aku dan Nara berangkat lebih dulu. Raven dan beberapa yang lain masih tertinggal di kelas, menyelesaikan catatan yang belum rampung.

Mushola sekolah cukup sepi saat kami sampai. Lantainya dingin, udara di dalamnya terasa lebih tenang dibanding hiruk-pikuk kelas. Karena kami datang lebih awal, Pak Haris langsung memanggil kami berdua.

“Ya, kalian duluan saja,” katanya sambil membuka buku catatan.

Nara maju lebih dulu, melangkah dengan bahu tegak, napas teratur, lalu menunduk hormat ke Pak Haris. Aku menunggu sebentar, mengatur posisi kaki, menarik napas panjang, dan mencoba menenangkan diri sebelum maju.

Aku berdiri di depan beliau, tangan sedikit mengepal di samping tubuh, mencoba fokus. Bacaan salat mulai kuucapkan pelan, berusaha mengingat urutannya dengan benar. Jujur, aku agak gugup—bukan karena bacaan, tapi karena suasana hening yang terlalu khidmat.

Sampai tiba-tiba—Pak Haris menurunkan bukunya dan menatapku.

“Shaira,” panggilnya.

Aku langsung menoleh, bahu sedikit tegang.

“Iya, Pak?” jawabku refleks.

Beliau menoleh ke sekeliling mushola, lalu bertanya dengan nada santai yang sama sekali tidak santai di telingaku.

“Raven mana?”

Jantungku rasanya langsung jatuh. Bahu kaku, tangan menekuk di depan tubuh.

“Hah…?”

Aku benar-benar refleks kaget, langkahku hampir mundur sebentar.

Aku menoleh ke Nara sekilas. Nara sudah pasang ekspresi: mata melebar, bibir menahan tawa, tangan menutup mulut. “Oh tidak, ini lagi,” seolah berkata begitu tanpa suara.

“E—enggak tahu, Pak,” jawabku terbata. “Kayaknya masih di kelas.”

Tanganku sedikit menggenggam ujung lengan baju, lutut sedikit menekuk, badan otomatis condong ke depan.

Pak Haris mengangkat alis, kepala sedikit menunduk, ekspresinya seolah sedang menimbang sesuatu.

“Loh,” katanya ringan tapi menusuk.

“Kok bisa nggak tahu?”

Aku diam, menunduk, pundak turun sedikit, napas tercekat.

Beliau melanjutkan, masih dengan nada datar yang terasa terlalu tahu banyak. “Kan kalian sama-sama terus. Sering pulang bareng juga.”

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Aku merasa seluruh mushola mendadak menyempit. Lututku hampir melemah, tangan mulai bergerak-gerak tidak sadar, jari-jari saling menggenggam.

“B—bukan selalu, Pak,” jawabku terbata. “Kadang aja…”

Aku menunduk, pipi memanas, mata mencoba menghindari tatapan beliau.

Nara menunduk lebih rendah, menahan tawa sambil sesekali menutup wajah dengan tangan.

Pak Haris tersenyum kecil, bahu rileks, tangan memegang buku ringan di samping tubuhnya. Bukan senyum menghakimi. Lebih seperti senyum orang dewasa yang sudah mendengar gosip yang sama dari banyak arah.

“Iya, iya,” katanya. “Bapak cuma nanya.”

Tapi, itu sudah terlambat.

Karena kalimat itu cukup untuk memastikan satu hal:

Gosip ini…sudah sampai ke guru agama.

Aku melanjutkan praktik dengan kepala kosong. Bacaan keluar otomatis, tapi pikiranku melayang ke mana-mana. Tangan tetap bergerak mengikuti gerakan salat jenazah, tapi mata kadang menoleh ke arah pintu, tubuh masih sedikit tegang. Ke aula. Ke ruang guru. Ke lapangan. Dan sekarang—ke mushola.

Lengkap sudah.

Setelah selesai, aku dan Nara duduk di sudut mushola. Aku duduk dengan punggung menempel dinding, kaki menyilang sedikit, tangan menutup sebagian wajah. Napasku masih berat, pipi hangat.

Nara langsung mendekat, menempel di sampingku, sedikit menepuk bahuku, dan berbisik, “Sha… ini udah parah.”

Aku menutup wajah sepenuhnya dengan tangan, menunduk, mencoba mengecilkan diri. “Ini udah ke mana-mana.”

“Guru agama, Sha,” lanjutnya sambil menahan tawa. Bibirnya menahan senyum, mata berkilat lucu. “GURU AGAMA.”

Aku menghela napas panjang, menggerakkan bahu lelah ke belakang. “Gue capek malu.”

Tak lama kemudian, Raven masuk ke mushola bersama beberapa siswa lain. Ia berjalan pelan, langkah ringan tapi tenang, matanya langsung mencari wajahku. Begitu bertemu, bahunya rileks, senyum tipis muncul, dan aku tahu—dia langsung sadar ada yang terjadi lagi.

Saat kami keluar setelah praktik, Raven berjalan di sampingku. Kakinya seirama dengan kakiku, bahu sesekali menyentuh ringan tubuhku tanpa sengaja, dan tangannya tetap santai di samping.

“Ada apa?” tanyanya pelan, mata menatapku.

Aku menoleh dengan tatapan lelah, bahu turun, tangan menutup wajah sebentar sebelum menurunkannya. “Pak Haris nanya kamu.”

Raven berhenti sebentar, menunduk ringan, wajahnya menahan senyum. “Kenapa?”

“Beliau heran aku nggak tahu kamu di mana,” jawabku. “Katanya… kan kita sering bareng.”

Aku menunduk, mata menatap lantai sebentar, tangan masih sedikit menutup wajah.

Raven terdiam, tangan di saku, menatapku penuh pengertian.

Lalu tertawa kecil. Pelan. Pasrah. Bahu ikut bergerak lembut mengikuti tawa, matanya tetap hangat.

“Yaudah,” katanya.

“Resmi.”

Aku mendesah, menurunkan tangan perlahan, kepala menoleh ke arahnya. “Resmi apa?”

“Resmi satu sekolah tahu.”

Ia tersenyum tipis, bahu sedikit condong ke arahku, seperti memberi kekuatan tanpa harus berkata banyak.

Aku ingin protes. Ingin menyangkal. Ingin bilang ini semua kebetulan yang terlalu kebetulan.

Tapi di saat yang sama—aku tidak merasa sendirian. Karena setiap kali gosip itu menyebut namaku, nama Raven selalu ada di sampingnya.

Dan mungkin, di sekolah yang terlalu suka ikut campur, itu adalah hal paling menenangkan yang bisa kupunya.

...----------------...

...“Raven – terobos gosip apapun asal sama kamu.”...

1
Nonà_syaa.
Lanjutt cntik❤
Chici👑👑
Nih visual cowok nya jaehyun bukan sih..
D: bener bgtt/Chuckle/
total 1 replies
Chici👑👑
Mampir nih kak.. mampir juga yuk kak di novelku judul Gadis Polos Untuk Dokter Kulkas
Nonà_syaa.
Nyesek bacanya/Sob/
D: ikutan galau ya😔
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Canteknyoo foto visual Aluna... Gue juga mau kek gitu cantek nya 😭❓
D: bahkan aku juga mau sih kak cantik begitu😂♥️
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Thor gue udah mampir nih 😅
Nonà_syaa.
Mampir nih ka,
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/
Nonà_syaa.: Haha iyaa/Cry/
Sama" kk
total 2 replies
Eka Sari Agustina
👍
Ummu Shafira
mampir😍😍 sepertinya ceritanya menarik,mengenang masa² putih abu² 🤭🤭
D: semoga sukaa ya kakk😍
total 1 replies
D
rekomen bgt buat dibacaa!! ayo baca ceritaku hehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!