NovelToon NovelToon
Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Pengganti / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

" Vania, kamu gak kedinginan nak? Padahal cuacanya lagi dingin begini loh, kita masuk aja yuk," ajak sang ayah.

Vania yang sedang melihat sisa api yang membakar kenangan tentang Deo pun mendongak ke arah ayahnya yang sedang berdiri di sampingnya. "Sebentar pah, tunggu apinya padam dulu. Aku harus benar-benar pastiin kalau semuanya jadi abu."

Ayahnya perlahan-lahan duduk disampingnya Vania. Laki-laki paruh baya itu merangkul pundak Vania seakan menguatkan putri semata wayangnya itu. Ayahnya kemudian memandang ke arah depan, ikut menyaksikan api yang masih berkobar di sana.

"Pah, kenapa papah gak nuntut Deo atas nama pencemaran nama baik aja? Masalahnya Deo udah keterlaluan, di podcast itu jelas dia menjelekkan nama papah dan mamah. Vania gak terima, pah," uajr Vania geram. "Papah kan punya kuasa hukum supaya Deo jera dan merasakan sakit kayak Vania," ujarnya lagi, kali ini nada bicara gadis itu sedikit bergetar sebab tersulut emosi.

"Papa punya kuasa hukum untuk menuntut Deo. Tapi, papah masih ingat kebaikan ayah dan ibu Deo waktu papah masih muda. Dulu mereka yang menolong papah saat masih kuliah, mereka yang bantu papah cari dana untuk kuliah papah. Papah bisa menjadi sukses seperti sekarang juga salah satunya karena bantuan mereka, nak. Mereka yang jadi saksi perjuangan papah di masa muda," jelas ayahnya.

"Tapi,pah, Vania hanya meminta agar Papah menuntut Deo, bukan orang tuanya."

"Vania, Papah mengerti. Tetapi Papah tidak ingin masalah ini semakin rumit. Sebagai seseorang yang aktif di media sosial, kamu harus paham bahwa jika masalah ini menjadi viral, akan timbul pro dan kontra yang tidak kita inginkan. Biarkan Tuhan yang membalas apa yang telah Deo lakukan kepada kita. Sekarang, Papah ingin kamu memulai lembaran baru, menghirup udara kebebasan tanpa terbebani. Mamah dan Papah tidak akan memaksa kamu untuk segera menikah. Nikmati masa-masa ini, pelajari lagi apa itu kebahagiaan sesungguhnya, Nak."

"Iya pah, Vania akan klarifikasi dan mengungkapkan semua bukti kalau Deo yang bersalah, supaya tidak jadi fitnah. Tapi papa nggak keberatan kan, kalau Vania menunda nikah di usia Vania yang sekarang?"

"Papah nggak mempermasalahkan itu, nak. Bisa lagi Vania bahagia , nikmati saja masa sendiri Kamu yang fokus dengan karir kamu. Papa dan Mama mengerti hanya butuh waktu untuk pulih dari rasa sakit yang Vania alami sekarang."

"Baik, pah."

"Ya sudah, sekarang kita masuk yuk. Mama sudah menyiapkan kue dan susu hangat di dalam."

Vania mengangguk, " Vania berterima kasih karena papah ngertiin keadaan Vania."

Papahnya tersenyum lalu mengelus kepala Vania." Papah kan orang tua Vania, sudah seharusnya papah seperti ini kan? Kita masuk ya."

Keduanya lalu masuk ke dalam rumah, mereka berkumpul bersama di ruang keluarga termasuk dengan kedua asisten Vania. Sambil menikmati kue dan susu hangat, keluarga itu menonton televisi yang menyiarkan serial drama yang kebetulan diperankan oleh Farel. Kedua asistennya menggoda Vania saat ada Farel di layar kaca itu, Vania memutar bola matanya malas sebagai reaksi godaan kedua asistennya.

" Kalian ini kenapa sih, setiap kali aktor itu muncul pasti kalian godain Vania?" Tanya ibu dari Vania.

Salah satu asisten Vania menjawab." Bapak dan ibu belum tau ya? Mbak Vania kan pernah nolong putrinya mas Farel tau. Anaknya cantik banget pak Bu, gemes saya aja suka liatnya," ucap Laras asistennya yang lain.

Vania menarik napas dalam. "Hanya menolong anak yang nyaris diculik, pah. Waktu itu, naluri Vania membimbing untuk berbuat sesuatu," ujarnya dengan nada penuh kekhawatiran.

"Mamah penasaran, setelah itu kamu bagaimana dengan anak tersebut?" tanya sang ibu dengan mata penuh pertanyaan.

"Tentu saja Vania mengantarkannya pulang ke rumah, tidak mungkin Vania biarkan dia terlantar," jawab Vania, matanya berbinar menandakan tekad yang kuat.

"Anak kecil selalu membuatmu risih, Vania. Sungguh luar biasa kamu membantu kali ini," sang ayah menimpali, suaranya mencampur rasa heran dan bangga.

"Memang, pah. Biasanya Vania tak terlalu peduli, tetapi melihat dia dalam bahaya, rasa kemanusiaan Vania tergugah," Vania menjelaskan, suaranya bergetar menahan emosi.

"Jadi, rumah Farel itu dekat dengan kita?" tanya ibunya, mencoba menyambung cerita. "Iya, Mah, tak jauh dari sini. Vania tak terlalu mengikuti berita selebritas," Vania menyimpulkan dengan senyum tipis.

"Kalau gak salah Farel itu duda kan? Farel itu hebat dalam memerankan tokoh di setiap drama yang dia bintangi, mamah sering lihat di televisi dia selalu mendapatkan penghargaan sebagai aktor favorit loh," ujar ibunya bersemangat.

Vania merotasi bola matanya begitu mendengar sang ibu memuji Farel. "Ya memang kalau dilihat dari layar kaca dia memang hebat. Beda dengan kenyataanya, buktinya tadi pagi dia buat Vania kesal. Bisa-bisanya dia nyerobot pesanan Vania, padahal kan Vania duluan yang pesan. Udah ya, jangan bahas soal Deo atau Farel, bikin Vania gak mood aja."

Baik kedua orangtuanya maupun asistennya tertawa kecil melihat Vania yang merajuk. Meski situasi mereka sedang tidak baik-baik saja, namun canda tawa seperti ini sangat mereka perlukan agar mengurangi rasa stress akibat masalah yang menimpa masalah mereka. Sedang asyik berbincang tiba-tiba notifikasi pesan masuk dari ponsel Vania. Dilayar tertulis jika manajemennya mengirim pesan, dengan segera ia membukanya.

RA Managemen

Vania, saya harap besok kamu bisa datang ke sini. Kami sudah berdiskusi dan sepakat untuk membiarkan kamu klarifikasi yang sebenarnya terjadi. Saya khawatir jika dibiarkan Deo akan semakin memfitnah dan menjatuhkan kamu. Kamu tidak perlu takut, kami selalu mendukung kamu.

Setelah Vania membaca pesan itu lantas melirik kedua orang tuanya yang sedang berbincang. Ia menghela napas untuk kesekian kalinya. Ia berusaha meyakinkan diri, dibalasnya pesan masuk itu dengan menyetujui membuat klarifikasi kebenaranya.

----

Keesokan harinya, ruangan tampak semakin menegang. Vania, dengan rambutnya yang tergerai rapi, memandang ke luar jendela, menggenggam erat ponsel di tangan. Ayahnya, dengan wajah yang penuh penyesalan, mendekatinya.

"Papah harus pergi ke kantor, ada urusan mendesak yang tidak bisa ditunda," ujar ayahnya dengan suara berat. Ada kerutan di dahi dan bibirnya yang terkatup menunjukkan betapa dia tidak ingin meninggalkan Vania dalam keadaan seperti ini.

Vania mengangguk pelan, matanya tidak berpaling dari luar jendela. "Vania mengerti, Papah selalu punya banyak tanggung jawab," sahutnya, mencoba menyembunyikan kekecewaan yang mulai menyesakkan dada.

Ayahnya mendekat dan memeluk Vania dengan hangat. "Ayah percaya, Vania bisa menghadapi ini. Kamu kuat, Nak," bisiknya, sebelum akhirnya melepaskan pelukan dan berpamitan pada ibu Vania yang berdiri di pintu dengan raut muka yang sama khawatirnya.

Vania mengangguk lalu melambaikan tangan pada ayahnya, " Papah hati-hati ya."

Ayahnya tersenyum hangat lalu mengangguk. "Iyaa nak, papah akan selalu berhati-hati."

Vania berdiri di sana, memandangi pintu yang telah tertutup rapat di belakang ayahnya. Sekarang, ia harus menghadapi mantan tunangannya itu sendirian, membawa serta keberanian yang ia kumpulkan sepanjang malam.

Vania lalu beralih pada ibunya yang mulai melangkahkan kaki menuju ke kamar." Tunggu sebentar ya nak, mamah mau siap-siap dulu."

Tak lama menunggu, ibunya keluar dari kamar dengan pakaian yang rapih. Dengan setelan sederhana namun terlihat elegan, mamahnya memang pandai dalam memilih pakaian. Selain ibunya, kedua asistennya juga susah siap sedia di luar rumah untuk berangkat menuju ke manajemen yang telah membesarkan namanya.

"Sudah siap, nak?" Tanya mamahnya.

Vania mengangguk dengan semangat. " Tentu saja siap mah, semoga rencana ini berjalan dengan lancar ya. Dan Vania harap setelah ini gak ada yang mengusik keluarga kita lagi. Mah, hari ini kita pakai taksi gak apa-apa kan? Mobil yang biasa Vania pakai lagi di service."

"Iya gak apa-apa nak, yuk kita berangkat."

Sebelum keluar rumah Vania berdoa semoga maslah ini cepat selesai.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
falea sezi
bodoh kn ada tuh fto dio. up aja lah bego
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!