Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gua yang Berbisik
Pertarungan melawan Serigala Bayangan berlangsung lebih lama dari yang Qiu Liong sadari.
Setelah beberapa kali serangan dan balasan yang nyaris tak seimbang, akhirnya makhluk itu mundur. Bukan karena ia kalah, melainkan karena merasa mangsanya tidak lagi sepadan dengan usaha yang dikeluarkan.
Kabut kembali menelan sosoknya.
Namun Qiu Liong tahu, ia tidak benar-benar aman.
Lengan kirinya berdarah, napasnya berat, dan qi di dalam tubuhnya terasa semakin kacau. Ia bersandar pada batang pohon besar, mencoba menghentikan pendarahan dengan ramuan sederhana.
Rasa sakit itu nyata.
Namun yang lebih mengganggunya adalah perasaan kecil di dalam hati
Ia hampir mati.
Dan tak seorang pun akan tahu.
Ia tertawa kecil, getir.
“Misi bunuh diri…” gumamnya pelan.
Langkahnya kembali bergerak mengikuti jejak yang makin samar. Beberapa meter dari lokasi pertarungan, ia menemukan sobekan kain jubah murid sekte tersangkut di semak berduri.
Jejak darah terlihat memudar di tanah.
Mereka masih hidup? Atau sudah…
Qiu Liong tidak menyelesaikan pikirannya.
Kabut mulai berubah. Bukan hanya tebal, tetapi terasa lebih dingin. Seolah suhu turun beberapa derajat tanpa alasan.
Di kejauhan, samar-samar ia melihat siluet batu besar di balik pepohonan.
Semakin mendekat, ia menyadari itu bukan batu biasa.
Itu adalah mulut sebuah gua.
Tersembunyi di balik akar pohon tua yang menjalar seperti cakar raksasa.
Jejak kaki mengarah ke dalamnya.
Qiu Liong berdiri di depan mulut gua itu.
Udara yang keluar dari dalam terasa berbeda.
Bukan lembap seperti hutan.
Lebih… tua.
Dan dingin hingga menusuk tulang.
Ia menelan ludah.
Instingnya mengatakan untuk pergi.
Namun rasa ingin tahunya dan mungkin keputusasaan yang lebih dalam mendorongnya melangkah masuk.
Gelap menyambutnya.
Ia meraba dinding batu, melangkah perlahan agar tidak terpeleset. Semakin jauh masuk, suara hutan di luar menghilang sepenuhnya.
Yang tersisa hanyalah… keheningan.
Lalu
Bisikan.
Samar.
Seperti angin yang menyentuh telinga.
Qiu Liong berhenti.
Ia menahan napas.
Tidak ada siapa pun.
Namun suara itu kembali terdengar.
Bukan kata yang jelas.
Lebih seperti gema pikiran yang bukan miliknya.
“…akhirnya…”
Ia menegang.
“Siapa di sana?” suaranya terdengar kecil di ruang sempit itu.
Tak ada jawaban langsung.
Namun udara terasa bergetar halus.
Langkahnya maju lagi, kali ini lebih hati-hati.
Gua itu ternyata lebih luas di dalam. Ruangan alami terbuka dengan langit-langit tinggi. Di tengahnya, terdapat batu hitam besar dengan retakan bercahaya samar, seperti urat cahaya ungu yang berdenyut pelan.
Jantung Qiu Liong berdetak tidak teratur.
Bisikan itu semakin jelas.
“…kau… yang retak…”
Ia merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Kau… mendengar?”
Suara itu tidak keluar dari udara.
Ia terasa langsung di dalam kepalanya.
Qiu Liong mundur satu langkah.
“Apa kau… manusia?” tanyanya, suaranya hampir tak terdengar.
Hening beberapa detik.
Lalu
“Terlalu lemah… untuk manusia. Terlalu keras kepala… untuk mati.”
Keringat dingin mengalir di punggungnya.
Ia ingin keluar.
Namun kakinya tak bergerak.
Retakan cahaya di batu hitam itu berdenyut lebih terang.
Seolah merespons kehadirannya.
Qiu Liong merasakan sesuatu di dalam dadanya beresonansi. Meridian retaknya terasa panas, bukan sakit seperti biasa… melainkan seperti tertarik.
“Datanglah…”
Bisikan itu kini lembut.
Menggoda.
Seperti seseorang yang memahami seluruh luka dan kehinaannya.
“Kau ingin kuat… bukan?”
Pertanyaan itu menusuk lebih dalam dari cakar Serigala Bayangan.
Ia ingin menyangkal.
Ingin mengatakan tidak.
Namun gambar-gambar melintas di benaknya
Tawa di arena.
Tatapan dingin Mei Lanyue.
Kata “beban” di Balai Sekte.
Darah di tangga batu.
Tangannya gemetar.
“Aku…” suaranya tercekat.
Retakan cahaya itu berdenyut lagi.
Lebih kuat.
“Datang… dan aku akan memberimu… kekuatan.”
Gua itu terasa hidup.
Bukan sekadar tempat.
Melainkan sesuatu yang menunggu.
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki Hutan Kabut Hitam, Qiu Liong menyadari
Mungkin misi ini bukan hanya tentang mencari murid yang hilang.
Mungkin…
takdirnya memang sedang menunggunya di dalam kegelapan ini.
Perlahan, dengan napas yang tak stabil dan jantung yang berdebar liar,
Qiu Liong melangkah mendekati batu hitam yang berbisik itu.
jangan bikin kecewa ya🙏💪