Dara memimpikan indahnya kehidupan setelah menikah. Dara mengira menikah dengan orang yang di cintai akan membuat hidupnya bahagia. namun kenyataannya nasib buruk yang didapatkan di rumah suaminya. dia dilakukan bak babu bahkan sering dara mendapatkan caci maki dari mertua ketika pekerjaan rumah ada yang terlewatkan. tidak hanya diperlakukan seperti babu, ketika dara ada selisih paham dengan mertua nya suaminya tidak membela dara bahkan ikut menyudutkan Dara. hal yang paling menyakitkan lagi ketika dara mendapatkan kabar dari temannya jika suaminya selingkuh dibelakang nya. bagaimana kisah Dara selanjutnya. yuk mampir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jihan Fahera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dara Mulai Curiga
Huftt... Dara menghirup udara terlebih dahulu untuk menetralisir dari keterkejutannya. Setelah dirasa lebih baik Dara menuju ke dispenser dekat ruang tamu dan mengabaikan pertanyaan ibu mertuanya.
"Eh- eh, ini mantu kalau ditanya sama mertua main nyelonong aja, budeg ya kamu?" ucap Bu Dewi dengan mata melotot.
" Kenapa, emang masalah ya buat ibu?, aku keluarkan mau ke pasar. Toh mas Bagas juga belum pulang ini" Tanya balik Dara setelah menyelesaikan minumnya dan duduk di ruang tamu.
" Ya jelas masalah! Kamu itu numpang dirumah ini, Jadi kamu harus nurut dengan peraturan ibu, gak bisa seenaknya main pergi begitu saja! Sadar diri dong!" Ucap Bu Dewi sewot.
"apa kata ibu?, aku disini numpang?. Ibu lupa ya kalau Dara mantu ibu, istri dari anak kandung ibu, kalau ibu bilang aku numpang, aku ingatkan ya bu dari awal nikah mas Bagas yang mengajak aku tinggal disini buat nemenin ibu!" jawab Dara santai. Padahal dalam hati Dara selalu beristighfar meminta maaf karena Dara sadar perkataan nya tidak sopan kepada orang tua.
"Dara disini juga sadar diri kok bu, Dara yang bersihin rumah bahkan baju ibu, Dara yang nyuci plus setrika" kata Dara lagi.
"Kamu itu kalau dibilangin orang tua ngejawab terus. Harusnya kamu itu diam. Kalau ditanya baru jawab. Paham kamu!" Ucap Bu Dewi sambil memegang kepalanya mungkin darah tingginya mulai kumat.
" Sudah ya Bu, Dara masuk dulu mau istirahat, capek aku habis jalan- jalan di pasar" ucap Dara pergi meninggalkan Bu Dewi yang masih memegang kepalanya.
"Dasar menantu sableng, ketemu dimana itu si Bagas" gerutu Bu Dewi sambil menuju ke kamarnya.
Ceklek...
"Heran, perasaan marah- marah terus, kayak gak ada kerjaan aja" ucap Dara langsung mengunci kamarnya.
"Oh.. ternyata sudah jam satu. Pantesan ibu mertua marah. Ternyata aku perginya udah lama, sholat dulu aja baru istirahat" guman Dara langsung menuju kamar mandi yang berada di dapur.
Setelah berwudhu Dara melaksanakan shalat dhuhur lalu berdoa dengan khusus.
"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad. Ya Allah, tolong perluas sabar hamba, berikanlah hidayah kepada suami dan mertua hamba agar tidak mendzolimi hamba, sungguh hamba merasa terzolimi. Ya Allah jika ini sudah menjadi takdir hamba, hamba ikhlas, tapi jika hamba tidak sanggup menghadapi mereka bolehkah hamba minta cerai ya Allah, Hamba tau sesungguhnya perceraian dibolehkan tapi itu sangat engkau benci. sungguh hamba tidak ridho dengan perlakuan mereka, mereka selalu memusuhi hamba ya Allah, padahal hamba dirumah ini menantu, bahkan suami hamba tidak pernah membela hamba malah kadang ikut membentak hamba, apa suami hamba ini bukan jodoh hamba yang asli?.
Jika memang bukan jodoh hamba yang asli. Berikan petunjuk mu ya Allah, tapi jika boleh meminta tolong berikanlah hamba jodoh yang tampan, Soleh dan lebih kaya dari suami hamba serta mendapat ibu mertua yang baik.. AMIN" curhat Dara kepada Allah sang pencipta alam semesta.
Setelah selesai Dara melipat kembali mukenanya. Setelah itu Dara merebahkan tubuhnya. Selang beberapa menit hp Dara berbunyi. Dara pun mengambil handphone nya dan melihat siapa yang menelpon ternyata sang ayah. Dara pun segera mengangkat telponnya.
"Assalamualaikum, hallo sayang" Sapa Aska ayah Dara
Dara tersenyum mendengar sapaan dari ayahnya.
"Waalaikumsalam, iya ayah" jawab Dara sambil tersenyum.
"Kamu lagi apa sayang? Tidak sibuk kan? Tanya Ayah.
"Ini habis sholat terus dilanjut rebahan aja ayah, sama sekali tidak sibuk" jawab Dara.
"Kamu bagaimana kabarnya nak?" Tanya ayah.
"Alhamdulillah kabar Dara baik, kabar ayah, ibu dan Raffa bagaimana?" Ucap Dara.
"Alhamdulillah kami semua sehat. Sayang.. Ibumu akhir- akhir ini selalu bermimpi buruk tentang kamu. Kamu baik - baik saja kan disana? Tanya ayah dengan nada pelan.
Dara terdiam ternyata firasat ibu tentang anaknya sangat kuat.
"Hallo nak,, kenapa diam" tanya ayah dengan nada khawatir.
"Ah,, iya ayah. Dara disini baik- baik saja. Tolong beri tau ibu untuk tidak berfikir negatif ya ayah. Takut malah ibu jatuh sakit" jawab Dara cepat.
"Alhamdulillah jika seperti itu. Jika ada apa- apa kamu segera hubungi ayah atau adik mu ya nak" ucap ayah.
"Iya ayah, pasti Dara kasih tau ayah atau adik jika Dara kenapa- kenapa" jawab Dara.
"Ya sudah, ayah hanya ingin memastikan keadaan kamu saja. Kalau begitu ayah matikan dulu telponnya. Ayah mau mempelajari berkas untuk meeting nanti" ucap ayah yang pamit pada sang putri.
"Iya ayah, semangat cari cuank ya,, semoga meetingnya lancar" ucap Dara menutup sambungan telpon.
"Maafkan Dara ayah jika berbohong. Dara janji jika Dara sudah tidak kuat dengan keluarga toxic ini Dara akan meminta ayah jemput Dara" ucap Dara didalam hati.
ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR
terdengar bunyi suara adzan, Dara pun segera melaksanakan sholat asar. Setelah selesai sholat asar Dara ke dapur untuk masak makan malam. Setelah selesai masak Dara beres- beres dapur lalu menyapu rumah dan halaman.
.
.
.
Hari sudah sore jam menunjukkan pukul 4 menandakan waktu jam kerja sudah selesai untuk karyawan kantor. Bagas membereskan berkas kerjanya dan bergegas pulang.
Hari ini jalan begitu ramai sehingga membuat Bagas terjebak macet selama 2 jam lamanya. Bagas sampai rumah pukul 6 lalu dia bergegas mandi. Setelah selesai mandi Bagas bersiap untuk makan malam.
Di meja makan
"Apa ini Dara? Kok cuma oseng kangkung aja yang kamu masak!" Seru Farhan yang komplain dengan lauk yang dimasak oleh Dara.
"Sesuai uang yang kamu kasihlah mas, ini itu sudah akhir bulan uang yang kamu kasih awal bulan cuma cukup buat beli ini, kalau mau makan ayam atau babi ya tambahin uang belanjanya mas" jawab Dara dengan santai.
"Kamu ini bicara apa to? Kita ini muslim, gak boleh makan daging babi haram itu" sahut Bu Dewi.
"Lah ibu setiap bulan nilep jatah aku. Itu tuh sama aja haram Bu, gak berkah jadinya" ucap Dara yang meladeni ucapan ibu mertuanya.
"Heh, kamu doa in ibu masuk neraka gitu? Lihat Gas tingkah istrimu sudah sangat kelewat batas sama ibu. Nanti kualat baru tau rasa. Dasar menantu durhaka" sahut Bu Dewi dengan nada sewotnya.
Bagas memijit pelipisnya karena pusing dengan tingkah ibu dan istrinya yang hampir setiap hari selalu cekcok.
"Sudah Bu, tadi aku lihat didapur ada telor ibu goreng telor aja buat lauknya. Bagas capek mau segera istirahat" ucap Bagas dan mulai memakan makanan yang ada.
Setelah selesai makan Bagas masuk kedalam kamar. Didalam kamar Bagas memainkan handphone nya sambil senyum- senyum. Dara pun merasa penasaran.
"Kamu lagi lihat apa mas kok senyum- senyum dari tadi, lihat dong" kata Dara yang kepo.
"Kepo banget jadi orang, udah tidur sana besok masak yang enak dan bergizi jangan tempe sama sambal terus" ucap Bagas sambil mematikan handphone nya.
"Lah aku kan udah bilang mas uang yang kamu kasih udah habis, kalau mau dimasakin makanan yang enak dan bergizi minta uang buat beli lauk besok" sahut Dara sambil mengadakan tangannya.
"Kamu itu duit duit duit Mulu, jadi istri jangan sukanya habisin uang suami. Boros banget jadi orang. Bulan ini kita harus hemat, udah tidur sana" ucap Bagas lalu keluar dari kamar.
"aku masih bertahan mas jika masalah nafkah tapi kalau kamu berani bermain api di belakang ku itu sudah fatal dan tidak ada kesempatan kedua" batin Dara yang mulai mencurigai suaminya karena akhir akhir ini Dara sering melihat suaminya senyum senyum sendiri saat bermain handphone.