Utang Rp500 juta dan biaya pengobatan adik yang sakit ginjal menjadi paksa bagi Putri Aulia untuk menerima tawaran perjodohan dari keluarga Adinata—salah satu sindikat mafia terkuat di kota.
Dia berpikir ini adalah jalan keluar terbaik, sampai saatnya dia menemukan kaset rahasia yang membuktikan Pak Hidayat, ayah calon suaminya, adalah dalang kematian orang tuanya untuk mengambil alih bisnis keluarga.
Tanpa pilihan lain, Putri menyembunyikan niat balas dendam dalam diri dan hidup sebagai istri yang patuh. Dia mulai menyusup ke dalam sistem mafia keluarga itu, mengumpulkan bukti dan merusak rencana kejahatan mereka secara tersembunyi.
Namun, semakin dekat dia dengan Rizky Adinata—putra Pak Hidayat yang tidak suka dengan dunia kekerasan dan menyembunyikan usaha untuk membantu anak-anak korban konflik mafia—semakin besar kebingungannya. Cinta mulai tumbuh di hati yang penuh dendam, sementara rival mafia Pak Darmawan mencoba memanfaatkannya untuk menggulingkan Pak Hidayat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: ALIBI DAN KERAGUAN
Hening yang canggung menyelimuti ruang tamu yang luas itu. Putri bisa merasakan tatapan Rizky menusuk setiap inci wajahnya, mencari jawaban yang mungkin tersembunyi di balik ekspresinya. Jantung Putri berdegup kencang di dalam dadanya, seolah ingin melompat keluar, tapi dia memaksakan dirinya untuk tetap tenang. Dia tidak boleh menunjukkan ketakutan. Tidak sekarang.
Putri menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dia melangkah maju beberapa langkah, melepas topi dan jaketnya dengan gerakan yang seolah santai, padahal tangannya sedikit gemetar. Dia menyembunyikan tasnya di belakang punggung sebentar sebelum meletakkannya di meja samping dengan hati-hati, memastikan flashdisk berharga di dalamnya tetap aman.
"Aku pergi ke panti asuhan, Rizky," jawab Putri pelan, suaranya lembut namun tegas. Dia menatap mata Rizky, berusaha menampilkan ketulusan yang sebenarnya bercampur dengan rasa bersalah. "Kamu tahu kan, akhir-akhir ini aku sering ke sana untuk membantu mengurus kebutuhan anak-anak. Hari ini mereka butuh bantuan untuk merapikan perpustakaan kecil di sana, dan aku tidak tega menolak."
Rizky masih diam, matanya masih menyapu wajah Putri, lalu beralih ke arah Nina yang baru saja masuk ke rumah dan berdiri canggung di dekat pintu.
"Benarkah?" tanya Rizky akhirnya, suaranya rendah dan tidak bisa dibaca apakah dia percaya atau tidak. Dia menoleh ke arah Nina. "Nina, kamu ikut dengannya?"
Nina terkejut sedikit, tapi dia segera mengangguk cepat. "Iya, Tuan. Saya ikut Nyonya. Karena jalanan agak macet dan Nyonya ingin membawa beberapa buku bekas yang cukup berat, Nyonya meminta saya untuk mengantar dan membantu membawanya."
Putri menghela napas lega dalam hati. Nina selalu bisa diandalkan saat situasi genting seperti ini. Putri melanjutkan, "Aku lupa memberitahumu karena pagi tadi kamu buru-buru pergi ke kantor polisi. Aku tidak ingin mengganggumu dengan hal-hal remeh saat kamu sedang punya banyak masalah."
Rizky menghela napas panjang, lalu berjalan mendekati Putri. Dia tidak berhenti sampai dia berdiri tepat di hadapannya, menatapnya lekat-lekat. Jantung Putri berpacu semakin kencang. Apakah dia tahu? Apakah dia melihat sesuatu yang mencurigakan?
Namun, alih-alih menuduh atau bertanya lebih lanjut, Rizky mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Putri dengan lembut. Wajahnya yang tadinya tegang kini melunak, menunjukkan rasa khawatir yang tulus.
"Maafkan aku, Putri," bisik Rizky pelan. "Aku tidak bermaksud mencurigaimu. Hanya saja... hari ini sangat melelahkan dan menegangkan. Saat aku pulang dan rumah terasa sepi, aku jadi panik. Aku takut ada sesuatu yang terjadi padamu, terutama setelah kemarin kemunculan Pak Darmawan dan masalah di pelabuhan itu."
Putri merasakan beban berat terangkat dari bahunya. Rizky percaya. Atau setidaknya, dia memilih untuk percaya. Rasa bersalah itu kembali menyergapnya, lebih tajam dari sebelumnya. Pria di hadapannya begitu mencintainya, begitu khawatir padanya, tapi dia terus-menerus membohonginya.
"Tidak apa-apa, Rizky," jawab Putri lembut, membiarkan dirinya bersandar sedikit pada sentuhan tangan suaminya. "Aku mengerti. Situasi memang sedang tidak baik-baik saja. Aku juga khawatir padamu. Bagaimana tadi di kantor polisi? Apakah semuanya berjalan lancar?"
Rizky menarik tangannya dan berjalan ke sofa, lalu duduk dengan wajah lelah. Putri duduk di sebelahnya. Nina, yang merasa kehadirannya sudah tidak diperlukan, pamit undur diri setelah memastikan semuanya baik-baik saja.
"Sulit, Putri," jawab Rizky sambil mengusap wajahnya kasar. "Mereka bertanya banyak hal. Tentang isi kontainer, tentang jadwal pengiriman, tentang siapa yang bertanggung jawab. Untungnya, Bang Rio bisa membantu menjawab sebagian pertanyaan dan memberikan alibi yang kuat untuk kita. Tapi aku tahu, polisi tidak akan berhenti di sini. Bukti yang mereka temukan itu... sangat aneh. Seolah-olah seseorang memang sengaja menaruhnya di sana untuk menjerat kita."
Putri menunduk, memainkan ujung bajunya. "Mungkin memang ada orang yang ingin menjatuhkan Ayahmu, Rizky. Dunia bisnis itu keras, kan? Banyak saingan."
"Mungkin," gumam Rizky. Dia menoleh ke arah Putri, menatapnya dalam-dalam. "Tapi aku punya perasaan aneh belakangan ini. Seolah-olah ada sesuatu yang sedang terjadi di sekitarku, sesuatu yang besar, tapi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Beberapa proyek keluarga gagal beruntun dalam beberapa bulan terakhir. Awalnya aku pikir itu hanya kebetulan atau kesalahan manajemen, tapi sekarang... setelah masalah di pelabuhan ini, aku mulai curiga ada orang dalam yang menyabotase kita."
Darah Putri berdesir. Rizky mulai curiga. Dia tidak bisa meremehkan kecerdasan suaminya. Dia harus mengalihkan perhatiannya, dan cepat.
Putri mengangkat wajahnya, menatap Rizky dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Dia memutuskan untuk menggunakan senjata lain—cerita tentang masa lalunya yang menyedihkan, sesuatu yang selalu bisa membuat Rizky luluh dan melupakan kecurigaannya.
"Rizky..." suara Putri bergetar pelan. "Apakah kamu... apakah kamu benar-benar percaya tidak ada orang lain yang terlibat selain saingan bisnis? Atau... apakah kamu curiga padaku?"
Rizky terkejut melihat air mata yang mulai menetes di pipi Putri. Dia segera menggenggam tangan Putri erat-erat. "Tidak, Putri! Tentu tidak! Aku tidak pernah mencurigaimu. Kenapa kamu berpikir begitu?"
"Karena... karena Pak Darmawan mencurigaiku kemarin," isak Putri, membiarkan air matanya mengalir. "Dia menatapku seolah aku adalah penjahat. Dan hari ini, saat kamu pulang dan menatapku seperti itu... aku takut, Rizky. Aku takut kamu juga berpikir aku bisa melakukan hal buruk seperti itu. Aku tahu aku baru saja masuk ke keluarga ini. Aku tahu latar belakangku tidak sebesar kalian. Tapi aku tidak pernah bermaksud buruk pada siapa pun, apalagi pada kamu atau Ayahmu."
Putri menyandarkan kepalanya di bahu Rizky, menangis tersedu-sedu. "Aku hanya... aku hanya takut kehilangan semuanya lagi. Setelah orang tuaku meninggal, aku dan Rara hidup susah. Aku berjanji pada diriku sendiri aku akan melindungi Rara dengan cara apa pun. Dan sekarang, saat aku sudah merasa punya tempat untuk pulang, saat aku merasa aman bersamamu... aku takut semua ini hancur karena kesalahpahaman."
Rizky mengelus rambut Putri dengan lembut, suaranya penuh penyesalan. "Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku karena membuatmu merasa seperti itu. Aku tidak bermaksud membuatmu takut. Aku percaya padamu, Putri. Aku percaya sepenuhnya. Kamu adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk Pak Darmawan, mencurigaimu atau menyakitimu."
Dia mengangkat wajah Putri, lalu menghapus air mata di pipinya dengan ibu jarinya. Tatapannya penuh cinta dan kelembutan. "Kamu terlalu baik untuk dunia yang kotor ini, Putri. Kamu tidak tahu betapa beruntungnya aku memilikimu. Saat aku bersamamu, aku bisa melupakan semua kekacauan di luar sana."
Hati Putri terasa hancur melihat ketulusan di mata Rizky. Dia sedang memanipulasi suaminya yang begitu mencintainya. Tapi di saat yang sama, dia tidak bisa menolak kehangatan yang ditawarkan Rizky. Perasaan bingung itu kembali menyerangnya—apakah dia benar-benar bisa melanjutkan rencananya untuk menjatuhkan ayah dari pria yang sedang memeluknya dengan penuh kasih sayang ini?
"Rizky..." bisik Putri pelan.
"Ya?" jawab Rizky lembut, masih menatap mata Putri.
Jarak di antara mereka semakin dekat. Putri bisa merasakan napas hangat Rizky. Detik itu, dunia di sekitar mereka seakan menghilang. Tidak ada mafia, tidak ada dendam, tidak ada bukti di dalam flashdisk. Hanya ada mereka berdua.
Rizky perlahan mendekatkan wajahnya, lalu mengecup kening Putri dengan lembut, lalu turun ke pipinya, dan akhirnya berhenti tepat di depan bibirnya. "Aku mencintaimu, Putri Aulia. Sangat mencintaimu."
Hati Putri berdebar kencang, tapi kali ini bukan karena takut. "Aku juga... aku juga mencintaimu, Rizky," jawabnya jujur, meski kata-kata itu terasa berat di lidahnya.
Rizky tersenyum, senyum yang membuat wajahnya berseri, lalu dia mencium Putri lembut di bibir. Ciuman itu penuh kasih sayang, penuh kelembutan, dan membuat Putri lupa sejenak pada semua beban yang dia pikul. Di momen itu, Putri benar-benar merasa dia adalah Putri biasa yang dicintai oleh suaminya, bukan Putri yang menyimpan rahasia besar dan rencana balas dendam.
Namun, saat ciuman itu berakhir dan Rizky memeluknya erat, pikiran Putri kembali melayang ke flashdisk yang tersimpan di tasnya, ke wajah orang tuanya yang meninggal tragis, dan ke peringatan Bang Rio tentang kesetiaan Rizky.
"Tidak peduli seberapa baik dia, dia tetap bagian dari keluarga ini. Dan jika dia tahu apa yang kamu lakukan... aku tidak tahu di mana kesetiaannya akan berada."
Kata-kata itu terus bergema di kepalanya. Putri memejamkan matanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan Rizky, tapi di dalam hatinya, dia tahu bahwa momen damai ini hanya sementara. Permainan bayangan ini belum berakhir. Bahkan, ini baru permulaan. Rizky mungkin percaya padanya sekarang, tapi kecurigaannya sudah muncul. Dia harus lebih berhati-hati. Dia harus terus mengumpulkan bukti, tapi dia juga harus menjaga hati Rizky agar tidak hancur.
Malam itu, suasana di rumah terasa lebih hangat. Putri berusaha sebaik mungkin untuk menjadi istri yang pengertian dan penyayang. Dia menyiapkan makan malam favorit Rizky, mendengarkan keluh kesahnya tentang pekerjaan, dan tertawa bersama saat Rara menceritakan kesehariannya di sekolah.
Namun, saat semua orang sudah tidur, Putri bangun diam-diam. Dia duduk di tepi ranjang, menatap wajah Rizky yang damai dalam tidurnya. Dengan hati-hati, dia mengambil tasnya, mengeluarkan flashdisk hitam pemberian Bang Rio, dan memegangnya erat-erat.
"Aku minta maaf, Rizky," bisiknya pelan di dalam hati. "Aku minta maaf harus membohongimu. Tapi aku harus melakukan ini. Demi kebenaran. Demi orang tuaku. Dan semoga... suatu hari nanti, kamu akan mengerti dan memaafkanku."
Putri tahu, dia harus segera memeriksa isi flashdisk itu. Tapi dia tidak bisa melakukannya di rumah ini. Terlalu berisiko. Dia harus menunggu kesempatan yang tepat, mungkin saat dia pergi ke panti asuhan lagi atau saat ada waktu yang aman bersama Nina.
Saat dia hendak menyembunyikan flashdisk itu kembali, tiba-tiba ponselnya bergetar pelan di atas meja nakas. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Putri segera mengambilnya dan membukanya. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat membaca isi pesan itu:
[Saya tahu kamu bertemu dengan Rio hari ini. Main-main dengan serigala bisa berbahaya, Putri. Apakah kamu tidak ingin bermain dengan yang lebih besar? Kita perlu bicara. - PD]
PD. Pak Darmawan.
Darah Putri menjauh. Dia tahu! Pak Darmawan tahu dia bertemu dengan Bang Rio! Bagaimana bisa? Apakah dia mengawasinya sepanjang hari?
Pesan itu diikuti dengan alamat sebuah rumah tua di pinggiran kota dan waktu: Besok malam, jam 8. Datang sendiri. Jangan beritahu siapa pun, atau aku akan memberitahu Rizky dan Hidayat apa yang sebenarnya kamu lakukan.
Putri menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Situasi semakin rumit. Dia baru saja mendapatkan sekutu dari Bang Rio, tapi sekarang dia dipancing oleh musuh yang lain, Pak Darmawan. Dia terjebak di antara dua kekuatan besar yang berbahaya.
Putri mematikan layar ponselnya dan menyimpannya kembali. Dia menatap Rizky sekali lagi.
"Apa lagi yang harus aku hadapi?" bisiknya pelan, air mata kembali menetes. "Apakah aku akan bisa melewati semua ini sendirian?"
Dia tahu dia tidak punya pilihan. Dia harus pergi ke pertemuan itu besok malam. Dia harus tahu apa yang diinginkan Pak Darmawan. Dan dia harus memastikan rahasianya tetap aman.
[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Putri baru saja berhasil meyakinkan Rizky dan mengalami momen romantis bersamanya, namun malam itu dia menerima pesan mengerikan dari Pak Darmawan yang tahu dia bertemu dengan Bang Rio dan memaksanya datang bertemu besok malam dengan ancaman membocorkan rahasianya. Jika kamu jadi Putri, apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan memenuhi undangan Pak Darmawan sendirian, mencari bantuan Bang Rio, atau memberitahu Rizky meskipun risikonya besar?