Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.
Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.
Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.
Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: REPIHAN MEMORI DAN SUSU KESUKAAN
BAB 19: REPIHAN MEMORI DAN SUSU KESUKAAN
Matahari Delhi mulai merangkak naik, namun cahaya yang masuk melalui celah gorden di paviliun belakang kediaman Vashishth tidak mampu menghangatkan hati Vanya. Sepanjang malam, ia tidak memejamkan mata. Ia duduk di kursi kayu di samping tempat tidur, memperhatikan wajah Arlan yang sedang tertidur pulas. Dalam tidurnya, Arlan terlihat seperti pria yang ia kenal di Simla—tegas, kuat, dan penuh pesona. Namun, begitu Arlan membuka mata, realita pahit itu kembali menghantam.
Vanya bangkit perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Ia pergi ke dapur paviliun. Ia teringat sesuatu. Di Simla, Arlan tidak bisa memulai harinya tanpa segelas susu segar dengan taburan kapulaga dan madu. Arlan selalu bilang bahwa susu itu memberinya kekuatan untuk bekerja seharian. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Vanya menyiapkan minuman itu. Ia berharap, mungkin rasa dan aroma yang familiar bisa memicu sesuatu di dalam otak Arlan yang terkunci.
Saat Vanya kembali ke kamar dengan segelas susu di tangannya, Arlan sudah bangun. Ia sedang duduk di lantai, mencoba mengikat tali sepatunya dengan cara yang sangat berantakan. Ia tampak frustrasi, bibirnya mengerucut, dan hampir menangis karena tidak berhasil membuat simpul.
"Arlan..." panggil Vanya lembut, ia berlutut di depan Arlan. "Lihat apa yang kubawa. Susu kesukaanmu."
Arlan mendongak. Matanya berbinar melihat gelas itu. Ia merampasnya dari tangan Vanya tanpa mengucapkan terima kasih, persis seperti anak kecil yang tidak sabaran. Ia meminumnya dengan rakus hingga kumis putih tersisa di bibirnya.
"Enak! Manis!" seru Arlan sambil tertawa. Ia menatap Vanya dengan mata bulatnya. "Hei, Kakak Cantik, bagaimana kau tahu aku suka ini? Apakah kau peri yang bisa membaca pikiran?"
Vanya tersenyum pedih, air mata hampir jatuh lagi. "Aku bukan peri, Arlan. Aku... aku adalah orang yang paling mengenalmu. Kau ingat saat kita di pasar? Kau ingat saat kau sering mencuri pandang padaku saat aku sedang berdoa?"
Arlan memiringkan kepalanya, berpikir keras. Keningnya berkerut, dan tiba-tiba ia memegang kepalanya dengan kedua tangan. "Pasar? Sakit... kepalaku sakit! Ada suara berisik! Ada kayu besar yang jatuh!" Arlan mulai berteriak dan mengguncang-guncangkan tubuhnya. Gelas susu di tangannya jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai marmer.
"Arlan! Tenanglah! Jangan dipaksakan!" Vanya panik, ia mencoba memeluk Arlan untuk menenangkannya, namun Arlan mendorongnya hingga Vanya terjatuh.
Di saat yang sama, Rayhan sedang berjalan menuju paviliun. Ia mendengar teriakan dari dalam dan segera berlari masuk. Ia melihat Vanya terduduk di lantai dekat pecahan gelas, dan Arlan sedang meringkuk di pojok ruangan sambil menutup telinga.
"Vanya! Apa yang terjadi?" Rayhan segera membantu Vanya berdiri.
"Aku mencoba mengingatkannya tentang Simla, Rayhan. Tapi dia kesakitan," isak Vanya.
Rayhan menatap Arlan dengan penuh rasa kasihan, namun sebagai seorang Mayor, ia harus berpikir logis. Ia mendekati Arlan, berjongkok di depannya tanpa menyentuhnya agar tidak memicu trauma lebih lanjut. "Arlan, lihat aku. Tidak ada kayu di sini. Kau aman. Aku Tuan Tentara, ingat? Aku akan menjagamu."
Perlahan, Arlan menurunkan tangannya. Ia menatap seragam Rayhan dan perlahan-lahan mulai tenang. Ia merangkak mendekati Rayhan dan memeluk kakinya. "Tuan Tentara, jangan biarkan suara itu kembali. Aku takut gelap."
Rayhan mengusap punggung Arlan. Ia menoleh pada Vanya. "Vanya, dokter bilang kita tidak boleh memaksanya. Ingatannya adalah luka yang menganga. Jika kita menyentuhnya terlalu keras, dia akan semakin hancur. Biarkan dia menemukan jalannya sendiri."
Rayhan kemudian melihat ke arah lantai yang basah oleh susu. Ia memperhatikan sesuatu yang jatuh dari saku celana Arlan saat ia meronta tadi. Sebuah dompet kulit tua yang sudah sangat usang. Rayhan mengambilnya.
"Jangan buka itu! Itu milikku!" seru Arlan, ia mencoba merebutnya namun Rayhan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Hanya sebentar, Arlan. Aku ingin mencari identitasmu agar bisa membantumu lebih baik," ucap Rayhan.
Rayhan membuka dompet itu. Di dalamnya tidak ada uang, hanya ada beberapa lembar foto yang sudah lecek. Foto pertama adalah foto Arlan dan Vanya yang diambil secara sembunyi-sembunyi di bukit Simla. Rayhan menatap foto itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Namun, saat ia membuka lipatan foto kedua, jantung Rayhan seolah berhenti berdetak.
Itu adalah foto seorang pria berseragam militer kuno, berdiri di samping seorang wanita yang sangat cantik. Pria itu adalah mendiang Ayah Rayhan, Mayor Jenderal Suman. Dan wanita di sampingnya adalah Sujati, ibu Arlan. Di belakang foto itu tertulis sebuah pesan pendek: "Untuk cintaku yang abadi di Simla."
Tangan Rayhan gemetar. "Ini... ini tidak mungkin. Kenapa Ayah punya hubungan dengan ibu pria ini?"
Sementara itu, di bangunan utama, Suman sedang gelisah. Ia melihat Rayhan, Vanya, dan Arlan menghabiskan waktu terlalu lama di paviliun. Ia tahu bahwa Arlan membawa beberapa barang dari Simla yang bisa membongkar kebohongan yang ia jaga selama puluhan tahun.
Suman memanggil pelayan kepercayaannya. "Masuklah ke paviliun saat mereka lengah. Ambil semua barang bawaan pengemis itu dan bakar semuanya. Jangan biarkan selembar kertas pun tersisa!"
Namun, sebelum pelayan itu bergerak, Suman melihat Rayhan berjalan keluar dari paviliun dengan wajah yang pucat pasi, memegang sebuah foto di tangannya. Rayhan berjalan langsung menuju kamar ibunya.
BRAK!
Rayhan membuka pintu kamar Suman tanpa mengetuk. Ia melemparkan foto itu ke atas meja rias ibunya.
"Ibu, jelaskan padaku apa arti foto ini!" suara Rayhan menggelegar, penuh dengan kemarahan dan kekecewaan. "Kenapa Ayah berfoto dengan ibu Arlan? Kenapa ada kata-kata cinta di belakangnya? Siapa sebenarnya Arlan, Ibu?!"
Suman tertegun, wajahnya memucat, namun ia segera mencoba mendapatkan kembali kendalinya. "Itu hanya foto lama, Rayhan! Ayahmu dulu bertugas di Simla, mungkin wanita itu hanya salah satu penduduk desa yang meminta bantuan!"
"Bohong!" teriak Rayhan. "Wajah Arlan... jika aku memperhatikannya dengan teliti, dia memiliki mata yang sama dengan Ayah. Katakan padaku yang sebenarnya, Ibu! Apakah Arlan adalah putra Ayah? Apakah dia saudaraku?!"
Suman tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajahnya. Kebisuan Suman adalah jawaban yang paling mengerikan bagi Rayhan.
Di paviliun, Vanya sedang mencoba membersihkan sisa pecahan gelas. Arlan tiba-tiba mendekatinya dan membantu mengambil pecahan itu.
"Hati-hati, Kakak Cantik. Nanti tanganmu berdarah," ucap Arlan dengan nada yang tiba-tiba sangat dewasa, meski matanya tetap polos.
Vanya menatap Arlan. "Kau memanggilku apa?"
"Kakak Cantik," jawab Arlan sambil tersenyum lebar. Ia kemudian menunjuk ke arah dada Vanya, tepat di mana kalung pernikahan itu berada. "Tadi aku melihat gambar di kepalaku. Ada kau, ada aku, dan ada pohon besar. Kita sedang tertawa. Tapi kemudian ada naga besar yang datang dan memisahkan kita. Naga itu punya wajah seperti ayahmu."
Vanya tertegun. Ingatan Arlan mulai muncul dalam bentuk fragmen imajinasi anak-anak. "Arlan... itu bukan naga. Itu Ayahku. Dan kita... kita saling mencintai."
Arlan tertawa dan kembali melompat-lompat. "Cinta! Cinta itu seperti cokelat, kan? Manis!"
Vanya hanya bisa menangis dalam diam. Di rumah ini, rahasia mulai terkuak satu per satu. Rayhan mulai mengetahui identitas Arlan, Suman mulai kehilangan kendali, dan Arlan mulai mendapatkan kembali potongan-potongan memorinya meskipun masih dalam bentuk dongeng.