Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.
Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.
Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.
"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"
Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan cinta, tapi butuh
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah belakang. Sosok Ares muncul dengan wajah yang begitu gelap hingga para wanita itu mundur ketakutan.
Ares tidak berteriak. Ia hanya berjalan perlahan menuju Gia, lalu merangkul pundaknya dengan sangat posesif.
"Lima menitmu sudah habis sayang!" ucap Ares yang lagi-lagi memangil Gia dengan sebutan itu di depan orang lain. Seolah pengakuan namun hanya untuk di depan orang lain.
Ares mengabaikan para wanita itu seolah mereka tidak ada. Ia kemudian melirik mereka sekilas dengan tatapan mematikan.
"Jika kalian punya waktu untuk mengurusi kehidupan pribadiku, mungkin orang tua kalian perlu tahu bahwa anak-anak mereka sudah engan bekerjasama dengan Ardiansyah, semua akan saya tinjau ulang besok pagi!"
"Ares, kami tidak bermaksud...."
"Pergi!" Potong Ares pendek.
Setelah mereka lari ketakutan, Ares membawa Gia ke area balkon yang sepi. Ia memutar tubuh Gia agar menghadapnya. Ia melihat mata Gia yang berkaca-kaca.
"Apa yang mereka katakan padamu?" Tanya Ares lembut, jemarinya menghapus setetes air mata yang jatuh di pipi Gia.
"Mereka bilang... saya hanya bayangan!" bisik Gia jujur.
Ares terdiam cukup lama. Ia menangkup wajah Gia dengan kedua tangannya. Matanya menatap dalam ke netra Gia yang jernih.
"Kamu bukan bayangan siapa pun, Gia. Kamu adalah alasan Mas bisa berdiri tegak di pesta ini tanpa rasa malu. Mengertilah, Mas menjagamu bukan karena Mas terpaksa, tapi karena Mas ingin!"
Gia memberanikan diri menatap mata Ares. Dia mencari kejujuran di sana. Gia ingin tau omongan Ares bisa ia percaya atau tidak. Tapi tatapan mata itu tak terbaca, memang terkadang hangat sampai membuat Gia terlena, namun terkadang dingin sampai seluruh tubuh Gia merinding dan kaku.
🌹🌹🌹
Setelah ketegangan di pesta tadi, Ares tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Gia hingga mereka sampai di depan pintu mobil. Di dalam kabin sedan mewah yang kedap suara itu, suasana terasa jauh lebih intim sekaligus mencekam. Hanya ada suara deru mesin halus dan aroma parfum kayu cendana milik Ares yang memenuhi mobil itu.
Gia menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu kota yang berpendar. Ia masih terngiang kata-kata Ares di balkon tadi.
"Kamu adalah alasan Mas bisa berdiri tegak!"
Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh punggung tangannya. Ares meletakkan tangannya di atas tangan Gia yang berada di atas pangkuan. Pria itu tidak menoleh, tetap menatap lurus ke depan, namun ibu jarinya mengusap kulit Gia dengan gerakan melingkar yang menenangkan.
"Apa kakimu sakit?" Tanya Ares memecah keheningan. Suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.
Gia menoleh sedikit, terkejut dengan perhatian kecil itu.
"Sedikit, Mas. Saya tidak terbiasa memakai sepatu setinggi ini dalam waktu lama!"
Ares terdiam sejenak. Tanpa diduga, ia membungkuk sedikit, meraih kaki Gia, dan membantu melepaskan kaitan sepatu hak tinggi itu satu per satu.
"Mas... tidak perlu, saya bisa sendiri!" Bisik Gia dengan wajah yang memerah hebat. Ia merasa tidak enak hati melihat pria seberwibawa Ares menyentuh kakinya.
"Diamlah, Gia!" Ucap Ares tanpa nada memerintah, justru terdengar seperti permintaan. Setelah kedua sepatu itu lepas, Ares tidak menjauhkan tangannya. Ia justru membiarkan kaki Gia tetap dalam genggamannya.
"Kamu sudah melakukan tugasmu dengan sangat baik malam ini. Maaf jika dunia ini terkadang terlalu kasar untukmu!"
Gia memberanikan diri menatap profil samping wajah Ares.
"Mas sendiri... apa Mas merasa terbebani dengan semua ucapan orang-orang tadi tentang... Kak Siska?"
Rahang Ares tampak mengeras sejenak mendengar nama itu, namun ia segera mengendurkannya. Ia menoleh dan menatap mata Gia. Di bawah cahaya lampu jalan yang masuk ke dalam mobil, mata Ares terlihat sangat dalam dan penuh rahasia.
"Dulu, mungkin iya," Jawab Ares jujur.
"Tapi malam ini, saat Mas melihatmu berdiri di sana menghadap mereka... Mas merasa bahwa takdir mungkin punya cara yang aneh untuk memberikan apa yang sebenarnya Mas butuhkan, bukan apa yang Mas inginkan."
Gia tertegun. Jantungnya berdegup kencang. Kalimat itu sangat bermakna, namun Ares tetap memberikan jarak, ia tidak mengatakan..."Mas mencintaimu" tapi Ares hanya mengatakan "Mas membutuhkanmu"
🌹🌹🌹
Sesampainya di mansion, rumah sudah gelap dan para pelayan sudah beristirahat. Ares tidak langsung masuk ke kamarnya. Ia mengikuti Gia ke dapur.
"Mas belum mau tidur. Kamu mau teh?" tanya Ares sambil melepas dasi dan membuka kancing teratas kemejanya, memberikan kesan santai yang jarang Gia lihat.
Gia mengangguk. Mereka duduk di kursi bar dapur, diterangi hanya oleh lampu gantung yang temaram. Di sinilah, jauh dari sorot lampu pesta dan mata orang-orang, mereka baru benar-benar merasa seperti suami istri.
"Ceritakan padaku tentang masa kecilmu, Gia!" Ucap Ares tiba-tiba, sambil menyodorkan cangkir teh.
"Mas ingin tahu tentang gadis yang dulu sering bersembunyi di balik punggung Siska!"
Gia tersenyum getir. Dari dulu dia memang tak pernah punya kepercayaan diri karena status sosialnya.
"Tidak banyak yang bisa diceritakan, Mas. Saya hanya bayang-bayang. Kalau Kak Siska dapat baju baru, saya dapat baju bekasnya. Kalau Siska ingin les musik, saya yang membersihkan rumah agar dia bisa berlatih. Saya terbiasa tidak terlihat!"
Ares mendengarkan dengan saksama. Ia mengulurkan tangannya di atas meja, menunggu sampai Gia meletakkan tangannya di sana.
Gia tampak ragu, namun tangannya mulai bergerak meraih jemari panjang milik Ares.
"Di rumah ini, kamu tidak perlu menjadi bayang-bayang lagi!" Ucap Ares mantap.
"Kamu adalah pusatnya sekarang. Mulai sekarang, kalau kamu mau sesuatu, kamu tidak perlu menunggu sisa dari orang lain atau harus bekerja keras. Minta sama Mas, Mas akan berikan semua yang kamu mau!"
Gia menatap jemari mereka yang bertautan. Perasaan hangat mulai merambat di hatinya. Kehadiran Ares yang protektif namun tetap menjaga jarak ini justru membuat Gia semakin penasaran. Ia mulai mengagumi ketegasan pria ini, dan tanpa ia sadari.
sabar satria, dah maklumin aja orang lagi bucin mah suka begitu
Tuh semua jadi tahu kalau Gia istri Ares Ardiansyah, gak ada yg berani nganggu tuh di kampus