NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: KEMATIAN YANG MEMBEKU

Dimensi Abyss: Sektor Glacial – Kedalaman Nol Mutlak.

Jika Sektor Penumbra adalah tanah tulang yang gersang, maka Glacial Abyss adalah penjara kristal yang tak berujung. Langitnya tidak memiliki warna; hanya ada kekosongan putih yang memancarkan suhu ekstrem yang mampu menghentikan getaran atom. Di sini, badai mana salju bukan terdiri dari air, melainkan serpihan jiwa-jiwa yang membeku. Penguasa tempat ini adalah 'Grand Duke Vritra', seekor naga es kuno yang jantungnya adalah bongkahan kristal es primordial.

Di tengah badai yang mampu menghancurkan zirah Hunter Kelas S dalam hitungan detik, sebuah lingkaran portal darah terbuka. Rehan (Plague) melangkah keluar, diikuti oleh Elara (Seer). Rehan mengenakan jubah ungu yang kini telah dilapisi oleh membran energi Sanguine yang berdenyut, sementara Elara memegang busur tulangnya yang memancarkan cahaya merah hangat untuk melindungi mereka dari suhu mematikan.

"Seer, laporan visual," ucap Rehan. Suaranya terdengar berat, uap ungu keluar dari balik masker logamnya dan seketika membeku menjadi kristal beracun di udara.

Elara membuka matanya, pupil silang emasnya berputar cepat. "Vritra berada di puncak menara kristal di koordinat jam dua. Dia sedang tidur, namun napasnya menciptakan badai yang kita hadapi sekarang. Ada sepuluh ribu 'Frost Giants' yang terkubur di bawah salju di sekitar kita. Mereka sedang menunggu sinyal untuk bangkit."

'Julian, berikan kami zona isolasi,' pinta Rehan melalui Blood-Link.

'Dimengerti, Kakak,' suara Julian terdengar jernih. 'Aku telah menyelaraskan frekuensi Blood-Fortress dengan koordinat kalian. Aku akan menarik seluruh panas dari dimensi saku kita dan menyalurkannya pada kalian sebagai cadangan energi. Plague, Sovereign ingin kau mencoba teknik "Viral Crystallization". Jangan biarkan satu pun monster es ini tersisa.'

Seoul, Kediaman Liora – Pukul 21.00.

Liora duduk di meja belajarnya, menatap botol kecil pemberian Elara. Di luar jendela, salju mulai turun secara tidak wajar di tengah musim yang seharusnya hangat. Ia menyentuh kaca jendela, merasakan kedinginan yang tidak biasa—kedinginan yang terasa "jahat".

"Arkan... apa yang sedang kau lakukan sekarang?" bisik Liora.

Ia menyalakan televisi, dan seluruh saluran berita internasional sedang menyiarkan fenomena aneh. Satelit cuaca dunia menunjukkan adanya penurunan suhu drastis yang berpusat di kutub utara, namun sensor mana mencatat bahwa sumber energinya berasal dari "luar dimensi". Dunia sedang panik, mengira Zaman Es baru akan dimulai. Mereka tidak tahu bahwa itu hanyalah efek samping dari pertempuran besar di Glacial Abyss.

Kembali ke Glacial Abyss, Rehan melangkah maju. Ia melepaskan kedua sarung tangannya, memperlihatkan tangan yang kini benar-benar hitam keunguan. Ia menghujamkan tinjunya ke lantai es yang sekeras berlian.

"Sanguine Art: Plague Glacier Infection!"

Bukannya meledak, energi Rehan meresap masuk ke dalam es seperti tinta yang tumpah di atas kertas putih. Warna ungu mulai menjalar di bawah permukaan es, bergerak secepat kilat menuju arah para raksasa es yang bersembunyi.

KRAK! KRAK! KRAK!

Satu per satu, Frost Giants yang bersembunyi di bawah tanah meledak. Namun, mereka tidak mencair. Tubuh mereka yang terbuat dari es mendadak ditumbuhi oleh kristal ungu yang tajam. Racun Rehan telah bermutasi menjadi virus kristal yang memakan energi dingin untuk tumbuh.

"Apa?! Bagaimana mungkin racun bisa bekerja di suhu ini?!" sebuah suara menggelegar dari puncak menara.

Grand Duke Vritra terbangun. Naga raksasa dengan sayap kristal itu terbang ke langit, menutupi sisa-sisa cahaya di sektor tersebut. Ia menghembuskan napas beku yang mampu mematikan bintang.

"Hanya manusia kecil yang membawa aroma kematian... kau pikir kau bisa menantang keabadian es?" raung Vritra.

Elara menarik busur tulangnya, tiga anak panah cahaya merah terbentuk. "Target terkunci pada sayap kiri, sendi leher, dan inti jantung!"

SWOOSH!!!

Anak panah Elara melesat membelah badai beku, menghantam titik-titik tersebut dengan presisi yang membuat Vritra kehilangan keseimbangan di udara.

"Plague, sekarang!" teriak Elara.

Rehan melompat tinggi ke udara, didorong oleh ledakan gas ungu dari kakinya. Ia mendarat tepat di punggung naga tersebut. Ia menusukkan jari-jarinya ke dalam sisik kristal Vritra.

"Kau pikir esmu abadi?" Rehan menyeringai di balik maskernya. "Darah Sovereign-ku adalah satu-satunya hal yang abadi. Makanlah ini, 'The Black Decay'!"

Rehan menyuntikkan seluruh esensi racunnya langsung ke dalam aliran mana Vritra. Seketika, naga es yang agung itu mulai berubah warna. Kristal bening di tubuhnya menjadi ungu gelap dan mulai membusuk. Vritra menjerit kesakitan saat ia merasakan tubuhnya sendiri mengkhianatinya. Energi dinginnya kini justru mempercepat penyebaran racun Rehan.

Vritra jatuh menghantam lantai es, menghancurkan menara kristalnya sendiri. Ia menatap Rehan dengan mata yang mulai meredup. "Siapa... siapa tuanmu... kekuatan ini bukan milik manusia..."

"Dia adalah penguasa dari segala yang mengalir," jawab Rehan dingin.

Rehan menarik inti kristal es primordial dari dada Vritra. Seketika, seluruh dimensi Glacial Abyss yang tadinya putih membeku, mendadak mulai hancur dan terserap ke dalam inti tersebut. Rehan dan Elara segera melompat masuk ke portal darah sebelum dimensi itu runtuh sepenuhnya.

The Blood Fortress – Himalaya.

Arkan menerima inti es primordial itu dari tangan Rehan. Dengan satu sentuhan, Arkan memurnikan energi dingin yang liar tersebut dan mengintegrasikannya ke dalam dinding benteng. Kini, The Blood Fortress memiliki kemampuan untuk membekukan ruang di sekitarnya, membuatnya benar-benar tak tersentuh oleh serangan fisik maupun sihir.

"Kerja bagus, Rehan, Elara," ucap Arkan. "Dengan ini, dua dari lima jenderal Abyss telah tumbang. WHA sekarang pasti sedang merangkak dalam ketakutan di bawah meja mereka."

Arkan menoleh ke arah Julian. "Julian, siapkan pengumuman global ketiga. Aku ingin dunia tahu bahwa kedinginan yang mereka rasakan semalam adalah tanda bahwa salah satu ancaman terbesar mereka telah musnah. Dan beritahu Alice Pendragon... jika dia masih mencoba menghubungi sisa jenderal Abyss yang ada di Sektor Magma, aku sendiri yang akan menjemputnya di kelas besok pagi."

Arkan menatap ke arah luar jendela benteng, melihat dunia manusia yang begitu kecil di bawah sana.

"Liora... kau ingin tahu kenapa aku bersembunyi?" Arkan memegang botol perlindungan yang sama dengan yang ia berikan pada Liora. "Karena duniaku terlalu dingin untukmu. Tapi segera, aku akan membuat dunia ini cukup hangat agar kau bisa berdiri di sampingku tanpa harus merasa takut."

Fase invasi berlanjut. Sang Sovereign tidak hanya menghancurkan musuh; ia sedang merombak ulang realitas, satu sektor Abyss dalam satu waktu. Sementara itu, di markas WHA, Jenderal Silas hanya bisa menatap layar yang menunjukkan hilangnya Sektor Glacial dari peta dimensi dengan air mata keputusasaan.

1
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Lian Na ¿?
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Lian Na ¿?: owhhh
total 4 replies
Xiao Lian Na ¿?
Eh... Julian?
Xiao Lian Na ¿?
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Lian Na ¿?
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!