"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"
Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"
Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."
Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.
"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."
Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 - PENYELAMATAN BRUTAL
Salma bereaksi cepat, menarik Dara dari meja operasi dengan pisau bedah di leher Dara, menggunakan tubuhnya sebagai perisai.
"JANGAN BERGERAK ATAU AKU BUNUH DIA!" teriaknya.
Arkan dan Regan membeku, pistol masih teracung tapi tidak berani menembak.
"Salma, ini sudah selesai," kata Pak Bambang, komandan tim khusus yang memimpin operasi. "Gedung sudah dikepung. Tidak ada jalan keluar."
"Selalu ada jalan keluar." Salma menyeret Dara mundur... menuju pintu belakang. "Dan kalau tidak ada, aku akan buat jalan keluar dengan darah dia."
Dara merasakan pisau menekan kulitnya, tajam, dingin. Tubuhnya masih lemas karena obat pelemas otot. Dia tidak bisa melawan.
Tapi aku masih bisa berpikir.
"Salma..." kata Dara dengan suara lemah tapi jelas. "Kamu tahu apa bedanya aku dan kamu?"
"Sekarang bukan waktunya filosofi..."
"Aku pernah mati. Aku tidak takut mati lagi." Dara menatap Arkan, matanya mengirim pesan: percayalah padaku. "Tapi kamu... kamu belum pernah mati. Kamu takut mati. Makanya kamu obsesi dengan reinkarnasi."
"Diam..."
"Dan karena kamu takut mati, kamu akan ragu." Dara menggerakkan kepalanya sedikit, membuat pisau tergelincir, memotong kulitnya dangkal tapi cukup untuk berdarah. "Seperti sekarang."
Salma tersentak melihat darah, refleksnya melonggar sedetik. Sedetik yang cukup. Dara menggerakkan siku ke belakang, mengenai perut Salma dengan keras meski tubuhnya masih lemah.
Salma terhuyung... pisau jatuh.
BANG!
Regan menembak, peluru menembus bahu Salma, membuatnya jatuh. Arkan langsung berlari menangkap Dara sebelum dia jatuh.
"Kiara! Kamu baik-baik saja?!"
"Kirana..." Dara mencengkeram kemejanya dengan tangan gemetar. "Kirana ada di ruangan sebelah, selamatkan dia."
Regan sudah berlari, membuka pintu ke ruangan sebelah.
Di sana Kirana dalam keranjang bayi, menangis keras. Asisten Salma sudah melarikan diri lewat jendela.
"Ketemu!" Regan mengangkat Kirana dengan lembut. "Dia aman! Tidak ada luka!"
Dara menangis, kali ini tangis lega yang meluap. "Terima kasih Tuhan..."
Tapi kemudian...
Salma meski terluka parah di bahu, meraih detonator dari sakunya.
"KALAU AKU TIDAK BISA PUNYA DATA INI, TIDAK ADA YANG BOLEH PUNYA!"
Dia menekan tombol.
Ledakan kecil tapi cukup untuk menghancurkan semua komputer dan data penelitian. Api mulai menjalar membakar dokumen, mesin, semua bukti eksperimen Salma.
"EVAKUASI! SEKARANG!" teriak Pak Bambang.
Arkan menggendong Dara berlari keluar. Regan mengikuti dengan Kirana di pelukannya.
Tim polisi menyeret Salma keluar, wanita itu tertawa histeris meski darah mengalir dari bahunya.
"KAMU TIDAK AKAN PERNAH MENGERTI! KAMU TIDAK AKAN PERNAH BISA BUKTIKAN AKU SALAH!" teriaknya sambil ditahan.
Di luar gedung, ambulans sudah standby.
Dara dibaringkan di brankar, paramedis langsung memeriksa luka di lehernya yang masih berdarah.
"Lukanya dangkal. Tidak kena arteri. Nyonya akan baik-baik saja."
Arkan memegang tangannya, wajahnya basah air mata. "Aku pikir aku kehilangan kamu..."
"Aku berjanji akan pulang, kan?" Dara tersenyum lemah. "Aku tidak pernah ingkar janji."
Regan mendekat dengan Kirana, bayinya sudah tenang, mengisap jempolnya.
"Dia kuat. Seperti ibunya."
Dara mengulurkan tangan, menyentuh pipi Kirana. "Maafkan mama, sayang. Mama buat kamu ketakutan..."
Kirana membuka mata perlahan, menatap Dara dengan tatapan yang jernih, seolah mengatakan: tidak apa-apa, mama. aku tahu mama akan datang.
"Nyonya Kiara..." Pak Bambang mendekat. "Kami tangkap Salma. Kali ini tidak ada yang bisa menyelamatkannya. Dengan semua bukti percobaan pembunuhan, penculikan, eksperimen ilegal. Dia akan masuk penjara seumur hidup. Minimum."
"Datanya?"
"Terbakar semua. Tapi kami punya rekaman dari kamera yang dia pasang sendiri, merekam pengakuannya, merekam percobaan pembedahannya pada Nyonya. Itu cukup untuk mengunci dia selamanya."
Dara mengangguk lega. "Terima kasih, Pak."
Tapi kemudian... teriakan dari arah gedung yang terbakar.
"ADA YANG MASIH DI DALAM! ADA ORANG DI LANTAI DUA!"
Semua orang berbalik. Dari jendela lantai dua, asap hitam keluar, dan siluet seseorang terlihat... terjebak.
"Itu siapa?!" teriak salah satu polisi.
Dara menyipitkan mata, mengenali siluet itu.
Lenna...
Tidak. Kenapa dia di sini?
"LENNA!" teriak Dara.
Dari jendela, Lenna berteriak balik suaranya hampir tidak terdengar karena api. "AKU...AKU COBA SELAMATKAN DATA! UNTUK BUKTI TAMBAHAN! TAPI PINTU TERKUNCI."
"BODOH!" Dara mencoba turun dari brankar—tapi paramedis menahannya.
"Nyonya tidak bisa masuk! Nyonya baru saja..."
Tapi Regan sudah berlari.
"REGAN, JANGAN!" teriak Arkan.
Tapi Regan sudah masuk ke gedung yang terbakar, lalu menghilang dalam asap tebal. Dua menit yang terasa seperti dua jam.
Kemudian...
Regan keluar... batuk-batuk, wajah hitam karena jelaga, menggendong Lenna yang pingsan.
"MEDIS! DIA KERACUNAN ASAP!"
Paramedis langsung mengerubungi Lenna, memberikan oksigen, memeriksa tanda vital.
"Detak jantung lemah tapi ada. Dia akan selamat."
Dara menatap Lenna yang terbaring tidak sadarkan diri. Wanita yang dulu musuhnya, lalu pengkhianat, lalu... apa sekarang?
Kenapa kamu lakukan itu? Kenapa kamu coba selamatkan bukti untuk kami?
Seolah mendengar pertanyaan dalam hati Dara, Lenna membuka mata sedikit menatap Dara dengan lemah.
"Aku..." suaranya serak, "...aku mau tebus dosa."
Lalu matanya tertutup lagi... pingsan.
Tiga jam kemudian, di rumah sakit.
Dara sudah dijahit lukanya, enam jahitan di leher. Dokter bilang tidak akan ada bekas luka permanen kalau dirawat dengan baik.
Kirana sudah diperiksa tidak ada luka, tidak ada trauma fisik. Hanya perlu pengawasan untuk beberapa hari.
Lenna di ruang rawat intensif, keracunan asap cukup parah tapi akan pulih.
Salma di ruang tahanan rumah sakit dengan luka tembak di bahu dan tiga polisi menjaganya.
"Ini selesai," kata Arkan sambil duduk di samping ranjang Dara. "Akhirnya selesai."
"Belum." Dara menatap keluar jendela, langit Jakarta yang mulai terang. "Masih ada sidang. Masih ada proses hukum. Masih banyak yang harus diselesaikan."
"Tapi yang penting kamu dan Kirana selamat. Salma tertangkap. Jaringannya hancur."
"Ya." Dara tersenyum... lelah tapi tulus. "Itu yang penting."
Regan masuk dengan wajah yang masih sedikit hitam karena jelaga.
"Kak, aku dapat kabar, polisi menemukan arsip cadangan Salma di cloud. Ternyata dia tidak menghancurkan semua data. Ada backup."
"Itu bagus untuk jaksa. Lebih banyak bukti."
"Dan..." Regan ragu, "...ada sesuatu dalam data itu. Tentang Kakak."
Dara langsung waspada. "Tentang aku apa?"
"Tentang proses reinkarnasi Kakak. Salma punya catatan detail sejak dia meracuni Dara, sampai dia menemukan Kiara yang hampir mati, sampai dia melakukan ritual untuk 'memfasilitasi perpindahan jiwa'."
"Jadi..." Dara menelan ludah, "...dia memang yang menyebabkan aku reinkarnasi?"
"Entahlah. Catatannya ambigu. Ada kemungkinan dia hanya kebetulan ada di tempat dan waktu yang tepat. Atau..." Regan menatapnya, "...ada kemungkinan dia memang berhasil. Dan Kakak adalah satu-satunya keberhasilan dari dua puluh tiga percobaan."
Dara menutup mata.
Aku tidak tahu harus merasa bagaimana dengan ini. Apa dia harus berterima kasih pada Salma karena memberikan kesempatan hidup kedua? Atau benci pada Salma karena membunuhnya di kehidupan pertama?
"Apapun yang terjadi..." Arkan menggenggam tangannya, "...kamu di sini sekarang. Dengan aku. Dengan Kirana. Dengan keluarga yang mencintaimu. Itu yang penting."
Dara membuka mata menatap Arkan, lalu Regan, lalu Kirana yang tidur di ayunan di sudut ruangan.
Keluarganya. Bukan keluarga yang dia lahirkan. Tapi keluarga yang dia pilih dan yang memilihnya.
"Ya," bisiknya. "Itu yang penting."
Dan untuk pertama kalinya sejak reinkarnasi, Dara merasakan damai yang sebenarnya.
👻👻👻👻