Rian telah menunggu jawaban atas cintanya selama dua bulan, hanya untuk disambut kabar bahwa Sari, teman masa kecil yang sangat ia cintai, telah resmi berpacaran dengan orang lain.
Alih-alih merasa bersalah,
Sari justru meminta jawaban cinta Rian "ditunda" agar hubungan mereka tetap nyaman.
Di saat itulah, Rian menyadari bahwa selama ini ia bukan orang spesial, melainkan hanya alat kenyamanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awanbulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Sudut Pandang Rina
──Aku masih mengantuk sekali.
Aku sudah memaksakan diri bangun pagi demi Rian sejak kemarin, tapi tubuhku belum terbiasa. Rasanya nyawaku belum terkumpul sepenuhnya. Tapi ini baru hari kedua, aku tidak boleh mengeluh.
Demi Rian, demi Rian, demi Rian... Baiklah!
Aku dan Rian berjalan beriringan menuju sekolah sambil sesekali menguap lebar. Karena masih pagi, suasana jalanan masih sepi. Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintas di kepalaku.
“Kalau dipikir-pikir, kenapa kamu berangkat sepagi ini, Rian? Kamu tidak punya kegiatan klub, kan?”
“Tidak ada alasan khusus.”
“Lalu kenapa harus sepagi ini?”
“Sari yang memintanya. Dia bilang ingin jalan berdua denganku saat suasana masih sepi... huh?” Rian tiba-tiba berhenti, wajahnya mendadak merah padam karena marah. “--Sial! Jadi selama ini dialah alasan aku harus bangun pagi buta dan kenapa aku jadi mudah marah belakangan ini!”
Rian mendadak meledak. Aku sampai sedikit merinding melihatnya.
“O-Oke... jadi kita berangkat agak siangan mulai besok?” tawarku.
“Tidak perlu. Ini sudah jadi kebiasaan, sudah telat untuk mengubahnya sekarang,” jawabnya ketus.
Anak ini... bodoh atau bagaimana, sih? Tapi melihatnya begitu, aku malah ingin tertawa.
“Ngomong-ngomong, kenapa akhir-akhir ini kamu memanggil Sari dengan nama lengkapnya?”
“...Aku tidak ingin merasa akrab lagi dengannya.”
“Begitu ya.”
Sari... apa sebenarnya kesalahanmu? Ini pertama kalinya aku melihat Rian membenci seseorang sampai sebegitunya. Sejujurnya, aku juga tidak punya kenangan indah dengan Sari. Dulu, aku sudah menabung banyak uang untuk membelikan Rian makanan enak di festival, tapi Sari malah menarik Rian pergi saat aku lengah. Semuanya jadi sia-sia.
Aku ingat saat itu aku hampir menangis, dan Rian malah ikut menangis sambil minta maaf padaku. Padahal aku kakaknya, tapi aku malah membuat adikku sendiri merasa bersalah. Sejak saat itu, aku bersumpah tidak akan membiarkan Rian menangis lagi.
Begitu sampai di sekolah, kami berpisah di area loker.
“Sampai jumpa nanti, Rian.”
“...Ya.”
Bisa bicara normal lagi dengan Rian rasanya seperti mimpi. Selama ini aku selalu merasa dia takut dan menjaga jarak denganku. Aku dulu berpikir Rian mengagumi berandal, makanya aku ikut-ikutan jadi berandal agar dia bangga. Tapi ternyata aku salah paham. Aku terjebak terlalu dalam di dunia kenakalan ini dan sekarang sudah terlambat untuk keluar.
“--Rina!”
Saat aku sedang mengganti sepatuku, sebuah suara memanggil. Aku mendongak dan melihat Naya berlari kecil ke arahku. Jarang sekali ada yang berani menghampiriku selain Tina.
“Ada apa? Loker sepatumu di sebelah sini?”
Tiba-tiba—Grep!
Dia memelukku erat. Benar-benar erat sampai aku hampir terjengkang. Ada apa dengan anak ini?! “W-wah...” Aku hanya bisa mematung. Harus kuakui, payudaranya besar sekali... aku jadi sedikit iri.
“Rina! Berkat bantuanmu, aku bisa mengirim email ke Rian kemarin! Kami bisa berkomunikasi normal lewat pesan teks, dan dia mengizinkanku mengirim pesan lagi kapan saja!”
“Hmm... syukurlah kalau begitu.”
Aku ikut lega. Naya sebenarnya gadis yang baik. Meski trauma Rian terhadapnya sangat parah, setidaknya mereka mulai melangkah maju.
“Iya! Ini luar biasa!” seru Naya riang. Dia menyandarkan dagunya di bahuku, memelukku dari depan sehingga posisi kami terlihat sangat intim. Aku benar-benar malu. Meski dia sesama perempuan, merasakan sesuatu yang empuk menempel di dadaku membuat wajahku terasa panas.
Di sekitar kami, siswa tahun ketiga—yang biasanya gemetar ketakutan melihatku—kini melongo tak percaya. Mereka menyaksikan "Si Berandal Penakluk" sedang ditahan oleh gadis kecil bertubuh mungil.
“Rina, kamu akan ke halaman lagi hari ini untuk makan siang, kan?” tanya Naya.
“Hah? Kenapa? Kan urusanmu dengan Rian sudah membaik?”
“Duh, kalian berdua sama-sama tidak peka ya. Aku sangat menantikan makan siang bareng Rina! Pria yang paling kucintai memang Rian, tapi wanita yang paling kuhormati tanpa ragu adalah Rina! Hehehe.”
“Guh...!” Aku kehilangan kata-kata. Caranya merayuku benar-benar menggemaskan.
“Hari ini aku mau makan sambil duduk di pangkuan Rina!”
“Hei, jangan berlebihan!”
Anak ini... apa dia juga memeluk Rian dengan cara seperti ini? Membayangkannya saja sudah membuatku pusing.
“TIDAAAKKK!!!”
Tiba-tiba terdengar teriakan melengking. Tina muncul entah dari mana dan berlari ke arah kami dengan ekspresi murka.
“Hei kau! Kenapa kamu memeluk Rinaku?!” Tina mencoba menarik Naya menjauh, tapi tenaganya yang lemah tidak sanggup menggeser Naya yang menempel erat seperti perangko.
Naya menatap Tina dengan bingung. “Rina, siapa orang kecil ini?”
“Hah?! Aku Ketua OSIS, tahu!” seru Tina tidak terima.
“Ah! Kita pernah bertemu sebelumnya... Tina, selamat pagi.”
“Jangan selamat pagi-selamat pagi! Apa yang kamu lakukan pada Rinaku?! Pergi sana!”
“Eh? Tapi Rina sendiri tidak keberatan, kok,” jawab Naya sambil makin mempererat pelukannya.
Aku terjepit di antara mereka berdua. “Eh... tidak, maksudku, ini bukan berarti buruk—”
“Rian adalah milikku, jadi diamlah!” seru Tina lagi.
Aku melihat sekeliling. Siswa-siswa lain yang menyaksikan drama ini langsung kabur begitu aku menatap mereka. Rasanya sedih sekali, padahal aku tidak sedang membuat keributan.
“Aku yang paling dekat dengan Rina!” seru Tina.
“Jangan egois! Aku sudah menganggap Rina seperti kakakku sendiri!” balas Naya.
“Grrr...!! Rina!!” Tina beralih padaku dengan mata berkaca-kaca. “Siapa yang terbaik di antara kami?!”
“Siapa yang paling kamu suka?!” Naya ikut menodongku.
“...Rian.” jawabku refleks.
“Aku juga suka Rian!! Tapi maksudku di antara kami berdua!” seru Naya.
“Rina! Jangan terlalu menunjukkan kalau kamu brother complex begitu! Malu-maluin!” teriak Tina.
“...Aku ingin menghilang saja.”
Wajahku merah padam sampai ke telinga. Tanpa sadar, Tina pun ikut memelukku dari sisi lain. Bagaimana bisa reputasiku sebagai berandal hancur total di lobi sekolah hanya dalam satu pagi?
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰