Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.
Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.
Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Helena yang berubah menjadi diam
Semua orang terkejut ketika melihat banyak sekali perubahan pada Helena, terutama Freya yang merasakan bagaimana perubahan Helena yang biasanya sangat bawel kepada mereka.
Helena tidak lagi membangunkan membangunkan Freya dan Kenzo sholat shubuh juga saat mereka akan sekolah. Helena tidak lagi mengetuk pintu Freya dan Kenzo untuk makan malam, tidak ada lagi Helena yang bawel bertanya keadaan Freya dan Kenzo selama di sekolah, tidak ada lagi Helena yang panik saat Freya terjatuh akibat ceroboh, tidak ada lagi Helena yang selalu membantu Kenzo yang sering kali lupa menaruh barang-barangnya.
Kenzo dan Freya saling melirik satu sama lain, lalu sama-sama menatap Helena yang makan sangat tenang di meja makan, bahkan ia tidak lagi menanggapi ocehan Nael saat sedang makan.
Dan yang paling membuat heran adalah, tidak ada lagi sapaan ataupun perbincangan hangat antara Helena dan juga Farhan, mereka masih tidur satu kamar, makan di meja makan yang sama, tapi benar-benar saling diam, tidak ada yang berbicara atau mengajaknya berbincang.
"Kenapa suasananya jadi dingin banget, yak?" tanya Freya di dekat telinga Kenzo.
Kenzo hanya mengangguk singkat, lalu kembali melanjutkan makan malamnya, tidak mau memperdulikan masalah Helena juga papanya. Biarkan saja, itu urusan mereka, dan Kenzo tidak aka memusingkan pikirannya hanya untuk mencaritahu mengapa Helena benar-benar sangat berubah, berubah menjadi diam dan tidak banyak bicara.
"Tumben sekali kau diam? Ada apa? Kau sedang bermasalah dengan papa?" celetuk Freya yang tidak di tanggapi Helena. dan itu memancing rasa marah Freya kepada Helena.
"Berani sekali kamu mendiamkan aku, memangnya kau siapa di sini, hah? Kau tidak lebih dari wanita murahan yang dinikahi papaku," bentak Freya menggebrak meja makan, sehingga menimbulkan bunyi nyaring karena meja makan yang terbuat dari kaca juga peralatan makan yang terbuat dari kaca.
"Makan yang benar Freya, malam ini oma dan opa akan mampir ke sini untuk bertemu kalian!" perintah Farhan menatap putrinya yang berdiri dengan tatapan tajam mengarah kepada Helena.
Freya mengabaikan papanya, "Kenapa kau tidak lagi membangunkanku hah, kemarin aku telat sekolah gara-gara kau tidak membangunkanku, semuanya gara-garamu," Freya sampai menunjuk-nunjuk wajah Helena.
Helena tetap diam, mengunyah makananya dengan pelan, sama sekali tidak merasa terganggu dengan hal-hal yang dikatakan Freya. Sudah tika mempan, air matanya tidak bisa lagi keluar juga hatinya yang sudah benar-benar mati.
"Kurang ajar, ada apa denganmu, hah? Kau tuli ya? Kau tidak mendengarku berbicara," teriak Freya semakin menjadi-jadi.
Freya yang benar-benar sangat kesal dan juga marah terhadap Helena, secara berjalan menghampiri Helena dan menjambak kerudung yang sedang di pakai Helena. Benar-benar tidak sopan, dan Farhan membiarkan itu.
"Kau bisa mengambil kerudungku jika kau mau, Freya, " ucap Helena dingin, Kenzo yang mendengarnya sampai merinding, karena untuk pertama kalinya ia mendengar suara yang tidak pernah Helena keluarkan selama dengan mereka, biasanya selalu hangat juga ceria.
Freya menarik tangannya, dan membanting piring Helena ke lantai, menimbulkan suara pecahan yang sangat nyaring karena rumah yang sangat sepi juga sunyi.
Helena tersenyum kecil, ia semakin mati rasa ketika Freya benar-benar bermain fisik dengannya, ia menatap Freya yang masih menetralkan napasnya yang tidak beraturan, "aku setuju dengan peraturan keluarga kalian yang tidak boleh menikah dengan orang yang terlahir muslim, tapi melihat sikap kalian yang tidak lebih dari binatang ini, aku menjadi ragu, sepertinya sangat di sayangkan jika seorang wanita muslimah atau pria muslim yang baik, masuk ke dalam lingkaran keluarga kalian," ucap Helena tersenyum kecil, lebih mirip seperti senyum untuk mengejek.
Farhan dan Freya terdiam, tidak membantah sama sekali ucapan Helena. Karena apa yang di katakan oleh Helena benar.
Helena pun baru menyadari satu hal, agama apapun yang mereka peluk, tidak bisa menjamin ia menjadi orang yang baik, sekalipun itu islam. Tapi ia sama sekali tidak pernah menyesal masuk agama islam, karena walaupun beberapa kali ia menemukan hal tidak baik di dalamnya, ia masih banyak menemukan hal indah di dalam agama islam.
***
Satu bulan berlalu, semuanya masih sama, Helena masih diam dan mengabaikan semuanya. hanya saja sesekali Helena mengajak Nael bermain, karena Nael yang sering kali menangis ingin bermain bersama Helena. Helena memang sangat malas, tiba-tiba saja ia pun menjadi mudah abai dengan Nael, padahal dulu, Helena akan menjadi orang paling ceria ketika bermain bersama Nael.
Helena berencana untuk menyiapkan surat perceraian dengan Farhan, ia sudah benar-benar muak dengan Farhan yang terkadang masih bermain tangan dengannya, walaupun seminggu yang lalu Farhan mendatangi dirinya dan menangis-nangis, meminta maaf sudah berbuat sangat kasar kepada Helena, Helena masih belum bisa memaafkannya, luka yang di berikan Farhan terlalu besar, dan ia benar-benar tidak bisa lagi melihat Farhan sebagai orang terkasihnya.
Pagi ini ketika semua orang sudah pergi dari dalam rumah, termasuk Nael yang sedang pergi bermain di playground bersama babysitternya, Helena mengalami mual-mual, entah sudah berapa kali Helena bolak-balik ke kamar mandi, tidak tidak ada yang keluar, hanya air liurnya saja.
Helena yang tubuhnya mulai tidak enak, juga rasa pusing yang tiba-tiba menyerang kepalanya, memutuskan untuk pergi ke rumah sakit, akan ia gunakan uang dari Farhan untuk memeriksa keadaannya di salah satu rumah sakit terbaik di kota tempat tinggalnya.
Ia tidak lagi memikirkan harus berhemat, ia menjadi merasa bisa menikmati pemberian Farhan.
Dengan langkah yang sedikit lemas, Helena kembali duduk di kursi penunggu, ia baru saja kembali dari kamar mandi setelah tadi rasa jualnya kembali datang, rasanya tubuhnya jadi benar-benar terasa sangat lemas, karena tidak ada makanan yang benar-benar keluar saat ia muntah tadi.
Setelah mengurus administrasi, Helena langsung diarahkan ke salah satu ruangan yang saat masuk, nuansanya sangat elegan juga rapih.
"permisi!" sapa Helena kepada dokter wanita yang belum menyadari kedatangannya. Ia baru mendongak begitu Helena menyapanya.
"Oh ya ampun, dengan nona Helena Mirella?" tanya dokter itu ramah.
"Benar, saya dokter,"
"Silakan duduk, nona!"
Helena langsung mendaratkan bokongnya di kursi untuk pasien, ia ditanya beberapa keluhan sebelum akhirnya ia diminta untuk berbaring di atas sebuah brankar yang lebih mirip dengan kasur VIP di ruang rawat inap.
Bahkan Helena menjalani tes urine, yang dimana urine yang ia tampung itu langsung di celupkan sebuah benda yang tentu saja membuat Helena terkejut.
"T-tidak dok, u-untuk apa alat itu? Saya tidak hamil, t-tidak perlu tes memaki testpack." ucap Helena dengan wajah paniknya.