Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Pagi berikutnya, matahari baru saja naik di Kota Golden Core ketika Xiao Han tiba di depan kosan baru Aria. Dia membawa dua bungkus nasi goreng bungkus dari warung dekat kontrakan, plus segelas es teh manis untuk masing-masing. Motornya diparkir rapi di pinggir gang, helm sudah dilepas dan digantung di stang.
Aria membuka pintu dengan wajah segar, rambut hitam kecoklatannya masih sedikit acak-acakan, mengenakan kaus oversized kuning cerah dan celana pendek olahraga. Matanya langsung berbinar melihat Xiao Han.
“Kak Han! Tepat waktu banget. Aku baru selesai mandi. Masuk, masuk!”
Kamar baru Aria lebih luas dari yang lama—lantai keramik bersih, jendela besar menghadap taman kecil, dan dinding putih polos yang masih kosong. Kardus-kardus kemarin malam sudah dibuka sebagian, isi barang berserakan di lantai: buku sketsa, cat air, kuas, pakaian lipat, laptop, dan beberapa poster motivasi yang belum ditempel.
Xiao Han meletakkan nasi goreng di meja kecil.
“Makan dulu. Biar kuat angkat-angkat barang.”
Aria tertawa kecil, langsung duduk bersila di lantai.
“Kak Han bawa sarapan? Aku lagi laper banget. Makasih ya!”
Mereka makan sambil ngobrol ringan. Aria bercerita tentang kosan lama yang pemiliknya pelit, dan betapa senangnya dia bisa pindah ke tempat yang lebih terang dan dekat kampus. Xiao Han mendengar sambil mengangguk, sesekali menimpali dengan senyum kecil.
Setelah makan, mereka mulai bekerja. Xiao Han mengangkat lemari kecil dan meja belajar ke posisi yang Aria inginkan. Aria naik ke kursi untuk menempel poster di dinding. Suasana awalnya tenang, tapi pelan-pelan berubah jadi ceria.
Saat Aria membuka kardus berisi alat lukis, matanya berbinar.
“Kak Han, ini kuas-kuas kesayanganku! Aku mau cat dinding kamar ini sedikit biar nggak polos banget. Mau bantu?”
Xiao Han menggeleng sambil tertawa.
“Aku nggak bisa gambar, Ling. Nanti malah jelek.”
“Gapapa! Kita corat-coret aja. Seru kok!”
Aria mengambil kuas lebar, mencelupkan ke cat akrilik biru muda yang dia beli kemarin. Dia mulai menggores dinding dengan garis-garis abstrak—gelombang, bintang kecil, dan coretan bebas.
Xiao Han ikut mendekat, mengambil kuas kecil dan mencelupkan ke cat kuning.
“Ini aku bikin matahari aja deh. Biar cerah.”
Tapi saat dia hendak menggores, Aria tiba-tiba menyodorkan kuasnya ke pipi Xiao Han—cepat dan nakal.
“Gotcha!”
Garis biru tipis langsung menempel di pipi kiri Xiao Han.
Xiao Han terbelalak, lalu tertawa lepas—tawa yang jarang sekali dia keluarkan akhir-akhir ini.
“Eh, nakal!”
Dia balas menyodorkan kuas kuning ke hidung Aria. Gadis itu menjerit kecil sambil menghindar, tapi terlambat—garis kuning tipis sudah ada di hidungnya.
“Kak Han jahat!”
Aria mengejar Xiao Han keliling kamar kecil itu. Mereka berlari-lari seperti anak kecil, menghindari kardus dan tumpukan baju. Xiao Han pura-pura lari lambat supaya Aria bisa menangkapnya, lalu Aria berhasil menyentuh pipi Xiao Han lagi dengan kuas merah.
“Merah buat kamu! Biar tambah ganteng!”
Xiao Han berbalik, menangkap pergelangan tangan Aria dengan lembut, lalu balas mencoret pipi Aria dengan cat hijau.
“Sekarang kita sama-sama monster!”
Mereka berdua jatuh duduk di lantai sambil tertawa terbahak-bahak. Napas tersengal, wajah penuh coretan warna-warni: biru, kuning, merah, hijau. Aria menyandarkan punggungnya ke dinding, masih tertawa kecil.
“Kak Han… aku lama nggak ketawa segini lepas. Makasih ya.”
Xiao Han menyeka cat di pipinya sendiri, tapi malah tambah belepotan.
“Aku juga. Lama nggak main gini. Kayak balik kecil lagi.”
Aria menatapnya lama, matanya biru abu-abu itu berkilau di bawah cahaya pagi yang masuk lewat jendela.
“Kak Han baik banget. Aku senang bisa kenal Kakak. Di kota ini aku sering merasa sendirian… tapi sejak ketemu Kakak sama Xiao Mei di taman danau, rasanya ada orang yang peduli.”
Xiao Han tersenyum lembut.
“Aku juga senang kenal kamu, Aria. Kamu ceria, tulus. Bikin hari orang lain lebih ringan.”
Mereka diam sejenak, hanya suara napas dan hujan kecil di luar yang terdengar. Aria mengambil kuas lagi, tapi kali ini dia tidak mencoret—dia menggores hati kecil sederhana di dinding dekat tempat tidur, lalu menulis di dalamnya dengan huruf kecil: **A & H**.
Aria tersipu, lalu menoleh ke Xiao Han.
“Itu… buat kenangan aja. Biar kamar ini nggak kosong.”
Xiao Han menatap hati itu lama, lalu mengangguk pelan.
“Bagus. Kenangan yang bagus.”
Mereka melanjutkan membereskan barang dengan suasana yang semakin hangat. Tawa kecil sesekali pecah lagi saat salah satu dari mereka salah meletakkan barang atau menjatuhkan sesuatu. Pagi itu terasa seperti oasis di tengah kehidupan Xiao Han yang penuh tekanan—sederhana, ceria, dan tanpa beban apa pun selain tawa dan coretan cat di wajah.
Saat matahari semakin tinggi, Xiao Han berdiri.
“Aku harus balik dulu. Ibu lagi terapi pagi ini. Kamu butuh apa-apa lagi nggak?”
Aria menggeleng, tapi senyumnya lebar.
“Nggak, Kak. Udah cukup banget. Makasih ya hari ini. Besok-besok… boleh mampir lagi?”
Xiao Han mengangguk.
“Boleh banget. Kalau butuh bantu apa-apa, telpon aja.”
Dia melangkah ke pintu, tapi sebelum pergi, Aria memeluknya pelan dari belakang—pelukan singkat, hangat, dan penuh terima kasih.
“Kak Han… hati-hati di jalan ya.”
Xiao Han membalas pelukan itu sebentar, lalu melepaskan diri dengan senyum.
“Janji.”
Motornya melaju meninggalkan kosan itu. Di spion, dia masih bisa melihat Aria berdiri di teras, melambai sampai motor menghilang di tikungan.
Pagi itu, untuk sesaat, dunia terasa ringan lagi.