Seorang pemuda yang sejak lahir telah ditakdirkan menderita. Bakatnya dicuri, keluarganya dihancurkan, ia dijual sebagai budak. Namun dari abu kehancuran itu, ia bangkit sebagai api yang membakar segalanya.
Xu Hao bukan pahlawan biasa. Ia adalah pemberontak sejati, seseorang yang menolak takdir, menentang kehendak Langit, dan menempuh jalannya sendiri: Dao Pemberontakan. Dengan kekuatan ini, ia mampu melampaui batas-batas kultivasi konvensional, menghancurkan hukum alam, dan bahkan melukai makhluk yang dianggap dewa.
Namun di balik keganasannya, tersimpan luka yang tak pernah sembuh. Cintanya pada Lianxue, gadis yang setia menanti ribuan tahun, menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Dan saat cahaya itu padam, Xu Hao kehilangan segalanya. Enam ribu tahun ia terpuruk dalam kegilaan, hanya mampu menyebut satu nama: Xue'er.
"Ayah ibuku dibunuh. Cintaku mati di pelukanku. Takdir telah mempermainkanku! Kini giliranku mempermainkan takdir."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perburuan dan Pengintaian
Dua belas Dewa Langit bergerak serempak. Energi ilahi berkumpul di tangan mereka, berbagai teknik dikeluarkan. Pedang terbang, telapak tangan raksasa, segel api, semuanya melesat ke arah Xu Hao.
Kerumunan menjerit. Beberapa menutup mata, tidak tega melihat Dewa Langit bintang satu dihancurkan oleh dua belas Dewa langit sekaligus.
Tapi sebelum serangan itu menyentuh Xu Hao, dari atas langit sesuatu melesat turun dengan kecepatan luar biasa.
Seekor naga spiritual putih.
Naga itu besar, sekitar lima puluh meter, terbuat dari energi ilahi murni. Sisiknya berkilauan, matanya menyala biru. Ia melesat turun seperti meteor, langsung menghantam area di sekitar Xu Hao.
BUMMM!!!!
Ledakan dahsyat terjadi. Gelombang kejut menghantam ke segala arah. Kios-kios di dekatnya hancur berantakan. Jalan batu retak-retak membentuk jaring laba-laba. Debu dan asap mengepul membumbung tinggi.
Murid-murid Sekte Semanggi terlempar ke belakang. Tubuh mereka membentur tembok, membentur tanah, membentur kios-kios yang hancur. Beberapa muntah darah.
Debu perlahan reda.
Di tengah area yang hancur, Xu Hao masih berdiri. Pakaiannya sedikit berdebu, tapi tidak ada luka. Tidak ada goresan. Ia berdiri tegak di tempatnya, seolah ledakan tadi hanya angin lalu.
Kerumunan terdiam. Mulut mereka terbuka lebar.
Xu Hao menatap ke langit. Matanya menyipit.
"Munculah. Jangan bersembunyi."
Sunyi. Tidak ada jawaban.
Xu Hao menunggu beberapa detik. Masih tidak ada yang muncul.
Ia menghela nafas. "Tidak muncul kah?"
Kemudian berbalik dan melanjutkan perjalanannya, meninggalkan kekacauan di belakang.
Namun saat ia baru melangkah beberapa meter, sesuatu melesat dari kegelapan lorong di sampingnya.
Sebuah pisau energi. Kecil, cepat, dan yang paling penting, beracun. Racun Dewa, yang bisa melumpuhkan bahkan membunuh Dewa Langit dalam hitungan detik.
Pisau itu melesat ke arah leher Xu Hao.
Xu Hao bergerak sedikit. Hanya sedikit. Kepalanya menoleh, tubuhnya bergeser beberapa sentimeter. Pisau itu melesat melewati telinganya, nyaris mengenai kulit, lalu menancap di lantai batu di depannya.
Cring!
Pisau energi itu menancap dalam. Dan seketika, lantai di sekelilingnya mulai bersinar. Rune-rune muncul, menyala terang. Sebuah formasi pembunuhan teraktivasi.
Lingkaran cahaya merah membentuk kurungan di sekeliling Xu Hao. Dinding-dinding energi muncul, memenjarakannya di dalam. Di dalam kurungan itu, pedang-pedang energi mulai terbentuk, ribuan pedang kecil mengarah ke Xu Hao dari segala arah.
Formasi ini sangat mengerikan. Bahkan Dewa Langit bintang lima akan kesulitan bertahan. Dewa Langit bintang satu? Pasti mati dalam hitungan detik.
Di kejauhan, murid-murid Sekte Semanggi yang masih sadar menelan ludah. Mereka melihat formasi itu dengan mata terbelalak.
"Itu... itu Formasi Seribu Pembunuh!"
"Siapa yang memasangnya?"
"Tidak tahu, tapi orang itu pasti kuat!"
Xu Hao diam di dalam formasi. Ia menatap dinding-dinding energi di sekelilingnya, lalu menatap ribuan pedang yang siap menyerang.
Lalu ia mulai berjalan.
Langkah pertama. Tekanan dari tubuhnya keluar. Bukan serangan, hanya tekanan biasa. Tapi tekanan itu cukup untuk membuat pedang-pedang energi di dekatnya bergetar.
Langkah kedua. Pedang-pedang yang bergetar mulai retak.
Langkah ketiga. Dinding formasi mulai menunjukkan celah-celah halus.
Langkah keempat. Seluruh formasi hancur.
BRAKKK!!!
Energi formasi meledak, hancur berkeping-keping. Rune-rune padam. Pedang-pedang energi menghilang. Xu Hao berjalan keluar dari sisa-sisa formasi itu tanpa melihat ke belakang.
Di kejauhan, seorang murid Sekte Semanggi berbisik dengan suara gemetar.
"Untung... untung saja dia tidak meladeni kita dengan serius tadi..."
Yang lain menimpali, air mata hampir jatuh. "Jika tidak, kita pasti mati. Kita pasti mati semua."
Wanita sinis sebelumnya menghela nafas. "Dia pasti dewa sesat. Hanya mereka yang sesat lah, yang memiliki kemampuan diluar batas kultivasi."
Xu Hao terus berjalan melewati lorong, meninggalkan kerumunan yang masih terpaku.
Di sepanjang jalan, ia tahu persis di mana posisi penyerangnya. Sosok bayangan yang melesatkan pisau energi itu. Sosok yang memasang formasi pembunuhan itu. Ia bisa merasakan keberadaannya, bersembunyi di atap bangunan, mengikuti gerakannya dari kejauhan.
Tapi Xu Hao tidak mengambil tindakan.
Bukan karena takut. Bukan karena tidak mampu.
Tapi karena ia tahu, penyerang itu bukan target utamanya. Hanya suruhan. Hanya umpan. Di baliknya, ada yang lebih besar mengamati. Ada yang ingin menguji kekuatannya, ingin melihat sejauh mana kemampuannya.
Xu Hao tersenyum tipis. Ia terus berjalan, pura-pura tidak tahu.
Biarkan mereka mengamati. Biarkan mereka mengira dirinya lemah. Saatnya tiba, ia akan menunjukkan pada mereka, apa arti sebenarnya dari kekuatan.
Ia berjalan menyusuri jalan utama Kota Changze, mencari tempat untuk beristirahat sejenak.
Di atap bangunan di seberang jalan, bayangan itu menghela nafas lega saat melihat Xu Hao pergi. Ia melaporkan pada tuannya melalui kontak jiwa.
"Target tidak menyadari keberadaanku. Formasi gagal, tapi target tidak mengejar."
Dari ujung lain, suara berat menjawab. "Terus awasi. Jangan lengah. Aku ingin tahu segalanya tentang orang ini."
"Baik, Tuan."
Bayangan itu terus mengikuti Xu Hao dari kejauhan, tidak menyadari bahwa dirinya sendiri yang sedang diawasi.
Xu Hao berhenti di depan sebuah bangunan kayu bertingkat dua. Papan nama di atas pintu bertuliskan "Penginapan Istirahat Abadi" dengan tinta emas yang mulai memudar. Bangunan ini sederhana, terbuat dari kayu tua yang kokoh, dengan ukiran-ukiran sederhana di tiang penyangganya. Lampu lentera di depan pintu memancarkan cahaya kuning hangat.
Ia mendorong pintu dan masuk. Seorang wanita paruh baya dengan jubah sederhana menyambutnya dari balik meja kayu.
"Selamat datang, Tuan. Ingin menginap?"
Xu Hao mengangguk. "Satu kamar."
Wanita itu tersenyum ramah. "Untuk satu malam, harganya seratus kristal ilahi tingkat tinggi. Termasuk makan malam dan sarapan."
Xu Hao tidak banyak bicara. Tangannya mengibas, dan seratus kristal ilahi tingkat tinggi melayang keluar dari cincin penyimpanannya. Kristal-kristal itu berkilauan indah di bawah cahaya lentera.
Wanita itu menerimanya dengan cepat, matanya berbinar. "Terima kasih, Tuan. Silakan ikut saya."
Ia memandu Xu Hao menaiki tangga kayu menuju lantai dua. Kamar yang ditunjuk ada di ujung lorong. Pintunya dari kayu polos dengan pegangan besi sederhana.
"Ini kamarnya, Tuan. Jika ada perlu, panggil saja. Nama saya Lanying."
Xu Hao mengangguk, lalu masuk ke kamar.
Kamar itu tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman. Ada satu ranjang kayu dengan tikar dan selimut tipis. Satu meja kecil dengan dua kursi di dekat jendela. Dan di sudut ruangan, sebuah bantalan meditasi dari jerami kering.
Xu Hao tidak menikmati pemandangan atau kemewahan. Ia langsung menuju bantalan meditasi dan duduk bersila. Matanya terpejam, napasnya perlahan teratur.
Ia bergumam pelan, "Pelaku penyerangan itu cukup kuat. Bahkan mampu melukai murid sekte di tingkat Dewa Langit tinggi. Tapi sayang, untuk melukaiku, itu tidak cukup kuat."
Pikirannya melayang sejenak pada bayangan yang mengikutinya tadi. Sosok itu pasti melapor pada seseorang. Mungkin ada kekuatan besar di baliknya. Tapi itu urusan nanti. Sekarang ia butuh istirahat dan memulihkan energi setelah seharian penuh.
Ia memejamkan mata dan mulai bermeditasi.
dan Tahta tertinggi untuk Cinta adalah Cinta kpd Tuhan
"...sepertinya pertarungan kita setahun yang lalu tidak memberikan efek jera padamu"