Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.
bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10 Retakan di balik kontrak
Pagi itu terasa berbeda bagi Sakira.
Bukan karena matahari yang bersinar lebih terang, atau udara yang lebih segar, melainkan karena perasaan ganjil yang menekan dadanya sejak bangun tidur. Ada sesuatu yang mengganjal, seolah-olah hari ini akan membawa perubahan yang tak bisa ia hindari.
Sakira berdiri di depan cermin kamar tamu rumah megah itu. Rumah yang secara hukum belum bisa ia sebut sebagai rumahnya, meski namanya tercantum sebagai istri sah seorang CEO ternama—Rafael Mahendra.
Ia menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya terlihat tenang, namun matanya menyimpan kegelisahan yang sulit disembunyikan.
“Ini hanya kontrak,” gumamnya lirih, berusaha meyakinkan diri.
“Jangan terlalu terbawa perasaan.”
Namun hatinya tidak sepenuhnya setuju.
Sejak kejadian malam itu—saat Rafael tanpa sengaja memeluknya terlalu lama—jarak di antara mereka terasa aneh. Tidak sepenuhnya dekat, tapi juga tidak lagi dingin seperti sebelumnya.
Sakira menghela napas, lalu melangkah keluar kamar.
Di ruang makan, Rafael sudah duduk rapi dengan setelan kerja berwarna abu-abu gelap. Aura dingin dan berwibawanya langsung terasa memenuhi ruangan. Namun pagi ini, ada sesuatu yang berbeda di sorot matanya—lelah.
“Selamat pagi,” ucap Sakira pelan.
Rafael mendongak. Tatapan mereka bertemu sesaat sebelum pria itu mengangguk singkat.
“Pagi.”
Tak ada percakapan lanjutan. Hanya suara sendok dan piring yang saling beradu.
Keheningan itu membuat Sakira merasa sesak.
“Aku akan keluar hari ini,” ujar Rafael akhirnya. “Ada rapat penting.”
Sakira mengangguk. “Baik.”
“Dan malam ini… mungkin aku pulang agak larut.”
Kata mungkin itu entah mengapa membuat hati Sakira terasa nyeri.
“Tidak apa-apa,” jawabnya cepat.
Rafael menatapnya lebih lama dari biasanya, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya berdiri dan mengambil jasnya.
“Jaga diri,” ucapnya singkat sebelum pergi.
Pintu tertutup, meninggalkan Sakira sendirian dengan pikirannya sendiri.
Hari itu, Sakira memutuskan keluar rumah. Ia ingin menghirup udara bebas, menjauh sejenak dari perasaan yang semakin sulit ia pahami.
Ia duduk di sebuah kafe kecil yang tidak terlalu ramai. Tangannya memegang cangkir kopi, namun pikirannya melayang ke satu sosok.
Rafael.
Pria itu bukan sekadar CEO dingin yang ia kenal di awal pernikahan kontrak mereka. Ada sisi lain yang perlahan terlihat—kepedulian yang tersembunyi, kesepian yang ia simpan rapat-rapat.
“Kenapa aku mulai peduli?” gumam Sakira.
Ponselnya bergetar.
Nama Rafael muncul di layar.
Jantung Sakira berdegup kencang sebelum ia mengangkat panggilan itu.
“Halo?”
“Kamu di mana?” suara Rafael terdengar tegang.
“Aku di luar. Ada apa?”
“Kamu seharusnya tidak sendirian di tempat umum.”
Sakira terdiam. “Aku cuma ingin keluar sebentar.”
“Aku akan menjemputmu.”
“Tidak perlu—”
“Ini bukan permintaan,” potong Rafael tegas. “Ini perintah.”
Panggilan terputus.
Sakira menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk. Kesal, tapi… entah kenapa juga merasa diperhatikan.
Tak sampai lima belas menit, mobil hitam Rafael berhenti di depan kafe.
Rafael turun, wajahnya tampak serius. Tatapannya menyapu sekitar sebelum akhirnya tertuju pada Sakira.
“Kamu ceroboh,” katanya begitu Sakira masuk ke mobil.
“Aku bukan tahanan,” balas Sakira, nadanya sedikit meninggi.
Rafael terdiam sejenak, lalu berkata lebih pelan, “Aku hanya khawatir.”
Kata itu membuat Sakira terdiam.
Khawatir?
Untuk pertama kalinya, Rafael mengucapkan kata itu tanpa nada dingin. Perjalanan pulang dipenuhi keheningan yang berbeda—bukan canggung, melainkan penuh makna yang tak terucap.
Malam harinya, Rafael pulang lebih larut dari biasanya.
Sakira masih terjaga, duduk di ruang keluarga dengan lampu temaram. Ia menoleh saat mendengar suara pintu terbuka.
Rafael masuk dengan wajah lelah. Jasnya ia lepaskan asal, dasi longgar, dan matanya tampak kosong.
“Kamu belum tidur?” tanyanya.
Sakira menggeleng. “Menunggumu.”
Rafael terdiam. Ada getaran halus di dadanya yang sulit ia jelaskan.
“Kamu tidak perlu melakukan itu.”
“Aku istrimu,” jawab Sakira spontan.
Kata itu menggantung di udara.
Istri.
Meski kontrak, kata itu tetap memiliki makna yang berat.
Rafael berjalan mendekat dan duduk di seberangnya. Untuk pertama kalinya, jarak di antara mereka begitu dekat tanpa tembok pertahanan.
“Sakira,” ucap Rafael pelan. “Apa kamu pernah menyesal menikah denganku?”
Pertanyaan itu membuat Sakira terkejut.
Ia menatap Rafael lama sebelum menjawab jujur, “Aku menyesal dengan keadaannya. Tapi… bukan dengan orangnya.”
Rafael terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Ini seharusnya sederhana,” katanya lirih. “Kontrak, batasan, dan tidak ada perasaan.”
“Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu, kan?” Sakira menatapnya lembut.
Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini terasa hangat sekaligus berbahaya.
Rafael berdiri tiba-tiba. “Kita harus ingat kesepakatan kita.”
Sakira mengangguk, meski hatinya terasa perih. “Aku tahu.”
Rafael melangkah pergi, meninggalkan Sakira dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Di kamarnya, Rafael bersandar di pintu, menutup mata.
“Ini salah,” gumamnya.
Ia tidak boleh jatuh cinta. Tidak pada perempuan yang masuk ke hidupnya hanya karena kontrak.
Namun bayangan Sakira—senyumnya, ketulusannya—terus menghantuinya.
Sementara itu, di kamar lain, Sakira memeluk bantalnya erat.
Kontrak itu mulai retak.
Dan mereka berdua tahu, cepat atau lambat, perasaan akan menuntut jawaban.
Malam semakin larut, namun Sakira tak juga terlelap.
Lampu kamar sengaja ia matikan, membiarkan kegelapan menyelimuti ruang dan pikirannya. Namun justru dalam gelap itulah bayangan Rafael semakin jelas. Cara pria itu menatapnya sore tadi, nada suaranya yang berubah ketika berkata khawatir, dan pertanyaan yang terus berputar di kepalanya
Apa kamu pernah menyesal menikah denganku?
Sakira memejamkan mata erat.
“Aku yang seharusnya tidak berharap,” bisiknya lirih.
Ia tahu batas itu ada. Kontrak itu nyata. Tanggal berakhirnya pun sudah tertulis jelas. Tapi perasaan… tidak pernah mau patuh pada logika.
Di kamar sebelah, Rafael juga terjaga.
Ia berdiri di depan jendela, menatap kota yang tak pernah tidur. Lampu-lampu gedung menjulang seperti pengingat akan dunia yang membentuknya—keras, dingin, penuh perhitungan.
Namun Sakira tidak termasuk dalam dunia itu.
Perempuan itu hadir dengan cara yang sederhana, terlalu jujur untuk permainan kontrak, terlalu tulus untuk sekadar peran istri sementara.
Rafael mengepalkan tangannya.
“Ini tidak boleh terjadi,” katanya tegas pada dirinya sendiri.
Ia mengambil ponsel, berniat mengalihkan pikirannya dengan pekerjaan. Namun jarinya berhenti ketika melihat satu pesan masuk—dari asistennya.
Tuan, pihak keluarga besar meminta kehadiran Anda akhir pekan ini. Mereka ingin bertemu Nyonya.
Rafael menutup mata.
Keluarga.
Hal yang paling ingin ia hindari untuk Sakira.
Keesokan paginya, suasana rumah terasa canggung namun tenang.
Sakira menyiapkan sarapan dengan gerakan pelan. Ketika Rafael muncul, ia terlihat lebih dingin dari biasanya—kembali memakai topeng CEO yang tak tersentuh.
“Kita akan menghadiri makan malam keluarga akhir pekan ini,” ucap Rafael tanpa basa-basi.
Sendok di tangan Sakira berhenti bergerak.
“Keluarga?” ulangnya.
“Ya. Mereka ingin bertemu istriku.”
Nada suara Rafael datar, profesional. Seolah-olah yang dibicarakan hanyalah jadwal rapat.
Sakira menelan ludah. “Aku harus bagaimana?”
“Jadilah seperti biasanya,” jawab Rafael singkat.
“Seperti istri kontrakmu?” tanya Sakira pelan, tanpa menatapnya.
Rafael terdiam.
“Aku akan melindungimu,” katanya akhirnya, lebih rendah. “Tapi jangan berharap lebih.”
Kata-kata itu seperti pisau kecil yang menusuk perlahan.
“Aku tidak berharap apa-apa,” jawab Sakira cepat, meski dadanya terasa sesak.
Mereka kembali diam.
Namun keheningan kali ini terasa lebih berat.
Sore harinya, Sakira duduk di taman belakang rumah. Angin sepoi-sepoi menggerakkan dedaunan, namun pikirannya dipenuhi kekhawatiran.
Ia tahu keluarga Rafael bukan orang biasa. Dunia mereka berbeda. Penuh aturan tak tertulis dan penilaian tanpa ampun.
Apa aku akan cukup?
Atau hanya akan menjadi kesalahan sementara yang ingin mereka hapus?
Tanpa ia sadari, Rafael berdiri tak jauh darinya.
“Kamu takut,” ujar Rafael pelan.
Sakira menoleh, terkejut. “Sedikit.”
Rafael duduk di bangku taman, menjaga jarak aman. “Keluargaku tidak mudah.”
“Aku tahu,” jawab Sakira jujur. “Tapi aku akan berusaha.”
Tatapan Rafael mengeras. “Aku tidak ingin kamu terluka.”
“Kadang luka tidak bisa dihindari,” Sakira menatapnya lembut. “Yang penting, aku tidak sendirian.”
Rafael menoleh cepat, menatap Sakira. Untuk sesaat, pertahanan di matanya runtuh.
Namun hanya sesaat.
“Kita hanya bekerja sama,” katanya dingin. “Ingat itu.”
Sakira tersenyum kecil. “Aku ingat Padahal hatinya berkata sebaliknya.
Malam kembali turun.
Dua orang berada di satu rumah, diikat oleh kontrak, namun dipisahkan oleh ketakutan yang sama—takut melanggar batas, takut jatuh terlalu dalam.
Dan tanpa mereka sadari, badai yang sesungguhnya baru akan dimulai saat dunia luar ikut campur.
Bersambung..