Dua jiwa yang terjepit di antara tuntutan menjadi "Pria Baja" dan "Wanita Porselen" bertemu dalam sebuah kepura-puraan yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan Singa
Setelah kesepakatan di bawah pohon kamboja malam itu, dunia seolah berputar dua kali lebih cepat. Berita pertunangan antara putra Jenderal Baskoro dan putri pengusaha properti ternama langsung menjadi tajuk utama di lingkaran sosial kelas atas. Bagi publik, ini adalah fairytale. Bagi Arka dan Laras, ini adalah hitung mundur menuju penjara yang lebih besar.
Malam ini, mereka dipaksa hadir di sebuah makan malam eksklusif di kediaman keluarga Baskoro. Rumah itu lebih mirip museum daripada tempat tinggal dingin luas, dan setiap sudutnya seolah berbisik tentang kekuasaan.
Laras turun dari mobil, mengenakan gaun sutra berwarna hitam yang elegan namun sangat tertutup pesanan khusus dari ibunya agar ia terlihat "berwibawa". Arka sudah menunggu di depan pintu besar berbahan kayu jati tersebut.
"Siap untuk babak selanjutnya?" bisik Arka saat Laras berdiri di sampingnya. Arka menawarkan lengannya untuk digandeng.
Laras menyambut lengan itu. Otot lengan Arka terasa tegang. "Selama nggak ada guci yang pecah malam ini, kurasa aku aman."
Mereka masuk ke ruang makan. Di sana, sudah duduk Baskoro dan beberapa orang kepercayaannya, termasuk Laras hampir saja mengumpat Doni. Ternyata Doni adalah kerabat jauh keluarga Baskoro, sesuatu yang baru Laras ketahui malam ini.
"Ah, ini dia pasangan emas kita!" seru Baskoro dengan suara menggelegar. "Duduk, duduk. Kita sedang merayakan kemenangan kecil. Bisnis baru saja memuncak, dan anak-anakku sebentar lagi akan bersatu."
Makan malam dimulai dengan denting alat makan yang kaku. Laras merasa setiap suapannya diawasi.
"Jadi, Arka," Doni membuka suara, matanya berkilat licik. "Kabarnya kalian sudah mulai sering jalan berdua. Tapi kudengar dari staf hotel tempo hari, kalian sempat menghilang cukup lama di belakang panggung saat pesta kemarin. Ada kejadian menarik di sana?"
Meja makan mendadak sunyi. Arka meletakkan pisaunya perlahan. Laras bisa merasakan suhu di ruangan itu turun beberapa derajat.
"Kami hanya mencari udara segar, Don. Kenapa? Kamu kurang kerjaan sampai harus mengecek CCTV hotel?" Arka menjawab dengan nada santai, namun matanya menatap Doni dengan tajam.
"Bukan begitu, Ka. Cuma aneh saja. Soalnya, pelayan gudang bilang dia menemukan pecahan guci antik yang harganya miliaran di lantai. Dan di dekatnya, ada sepatu hak tinggi wanita yang patah," Doni tersenyum lebar, menatap Laras. "Sayang sekali ya, sepatu semahal itu harus rusak di gudang yang kotor."
Ibu Laras yang juga hadir di sana langsung menoleh ke arah anaknya, wajahnya memucat. "Sepatu patah? Laras, apa itu sepatumu?"
Laras merasakan jantungnya berhenti berdetak sejenak. Ia sudah akan membuka mulut untuk membela diri, namun ia merasa tangan Arka di bawah meja menggenggam jemarinya. Genggaman itu kuat, menenangkan, seolah menyalurkan kekuatan baja yang selama ini pria itu banggakan.
"Itu guci yang aku pecahkan, Pa," potong Arka tiba-tiba, suaranya tenang namun berat.
Semua orang di meja itu terperangah. Baskoro meletakkan gelasnya dengan dentuman keras. "Apa katamu, Arka?"
"Aku yang memecahkannya. Aku tidak sengaja menyenggolnya saat sedang saat sedang berargumen dengan Laras soal tanggal pernikahan. Aku sedikit emosional," Arka berbohong tanpa berkedip. "Soal sepatu patah? Laras terjatuh karena pecahan itu, jadi aku menyuruhnya melepas sepatunya agar tidak terluka. Itu sebabnya kami agak lama di belakang, aku harus memastikan kakinya aman."
Arka kemudian melirik Doni dengan tatapan meremehkan. "Kenapa, Don? Kamu kecewa karena tidak ada drama skandal yang bisa kamu goreng?" Baskoro terdiam sejenak, menatap putranya dengan selidik. Memecahkan barang mahal karena "emosional" adalah tanda kelemahan bagi Baskoro, tapi membela wanita di depan umum adalah tanda kejantanan.
"Hati-hati lain kali, Arka. Barang antik itu tidak ternilai," ujar Baskoro akhirnya, meredakan ketegangan.
Makan malam berlanjut, namun Doni tampak tidak puas. Ia terus memperhatikan interaksi Arka dan Laras. Setelah makan malam usai, di area parkir yang remang-remang, Laras menarik napas panjang. Ia menatap Arka yang sedang menyandarkan tubuhnya di mobil.
"Kenapa kamu ngaku soal guci itu? Ayahmu bisa marah besar nanti," tanya Laras pelan.
Arka menoleh, ia melonggarkan dasinya. "Karena kalau aku bilang itu perbuatanmu, kamu akan habis di tangan ibumu dan dihina oleh Doni. Biar aku yang jadi 'tersangka' tunggal. Ayahku memang keras, tapi dia nggak akan menghancurkan aku di depan orang lain." Laras terdiam. Ia melihat Arka bukan lagi sebagai robot baja, tapi sebagai seseorang yang baru saja melompat ke depan peluru demi dirinya.
"Terima kasih, Arka," gumam Laras.
"Jangan berterima kasih. Ini aliansi, kan?" Arka membuka pintu mobil untuk Laras. "Dan satu hal lagi, Laras. Gaun ini... jangan biarkan ibumu mengaturmu lagi soal warna. Kamu terlihat lebih hidup saat memakai merah marun tempo hari, meski semua orang bilang itu warna yang salah." Laras tersenyum tipis kali ini senyum itu nyata, bukan topeng. "Ternyata pria baja punya selera fashion juga."
"Aku cuma nggak suka melihat orang dipaksa menjadi sesuatu yang bukan dirinya," jawab Arka singkat sebelum ia masuk ke kursi kemudi.
Malam itu, di dalam mobil yang sunyi, mereka berdua menyadari bahwa tembok di antara mereka mulai retak. Bukan karena guncangan emosi, tapi karena perlindungan yang tulus. Di tengah dunia yang penuh kepalsuan, mereka baru saja menemukan satu hal yang asli satu sama lain.