Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
[Mas, jangan lupa antarkan aku dan Ara ke Timezone]
Kirana membeku membaca pesan yang terlihat sekilas, tetapi sebaris kalimat berhasil dibaca.
Ponsel itu masih berada di tangannya terasa hangat, seolah baru saja berpindah dari genggaman pemiliknya. Nama pengirimnya terpampang jelas di layar tertulis Kinanti. Kakaknya sendiri.
Namun, bukan nama itu yang membuat jantung Kirana mendadak berdegup lebih cepat. Melainkan satu kata di awal pesan itu.
Mas.
Kirana mengerutkan kening. Alisnya saling bertaut, menciptakan garis kecil di dahi yang jarang muncul. Ia membaca ulang pesan itu, memastikan matanya tidak salah menangkap huruf demi huruf.
Mas, jangan lupa antarkan aku dan Ara ke Timezone.
“Sejak kapan Kinanti memanggil seseorang dengan sebutan itu?”
Sejak Dipta—suami Kinanti—meninggal tiga tahun lalu karena kecelakaan kerja, kakaknya itu menutup diri rapat-rapat. Ia menolak semua upaya orang tua yang ingin menjodohkannya kembali. Bahkan ketika keluarga besar mulai khawatir karena Kinanti terlalu larut dalam duka, perempuan itu hanya tersenyum tipis dan berkata, “Aku masih punya Ara. Itu cukup.”
Kinanti tidak pernah terlihat dekat dengan pria mana pun.
“Lalu, Mas itu ditujukan kepada siapa?”
Kirana menelan ludah. Matanya turun ke ponsel yang masih terbuka di tangannya. Sebuah dorongan kecil muncul yang membuatnya ingin mengetuk layar dan membuka pesan itu lebih jauh.
Sebelum sempat ia lakukan, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu kamar.
“Yang.”
Kirana terperanjat kecil. Ia refleks mematikan layar ponsel dan meletakkannya kembali di atas meja rias.
Rafka masuk ke dalam kamar dengan rambut masih sedikit basah, kaus rumah berwarna abu-abu menempel di tubuhnya. Wajah pria itu masih sama dengan yang selalu ia tatap setiap hari selama enam tahun terakhir. Orang yang tersenyum santai, tanpa beban.
“Gita minta sarapan nasi goreng,” ucap Rafka.
“I-iya, Mas,” jawab Kirana, sedikit terlambat.
Rafka melangkah mendekat, meraih tangan Kirana yang masih dingin. “Sayang, kamu kenapa? Mukamu pucat.”
“Enggak apa-apa,” Kirana tersenyum tipis. “Cuma kurang tidur saja semalam.”
Rafka mengangguk, tampak menerima jawaban itu tanpa curiga. “Oh iya, nanti jangan lupa. Siang kita ke rumah Ibu.”
“Iya. Aku ingat,” jawab Kirana cepat.
Rafka lalu mengecup kening istrinya, lembut dan singkat. Kebiasaan kecil yang selalu membuat hati Kirana terasa hangat.
“Segera mandi, Mas,” ucap Kirana, berusaha terdengar normal.
“Kita mandi bareng, nih?” Rafka menaik-turunkan alisnya, senyum nakal tersungging di bibir.
Kirana menepuk dadanya pelan, gemas. “Aku harus masak, Mas.”
Belum sempat Rafka membalas, suara kecil terdengar dari ambang pintu.
“Papa… Mama… jangan pacaran terus. Aku lapar!”
Gita berdiri di sana dengan tangan bersedekap dan wajah cemberut. Gadis kecil itu mewarisi mata tajam ayahnya dan rambut bergelombang milik Kirana. Setiap kali melihat orang tuanya bermesraan, kecemburuan polos itu selalu muncul.
Kirana dan Rafka saling berpandangan, lalu tertawa kecil.
“Ya ampun, kamu cemburu lagi?” Kirana mendekati putrinya, menggendong tubuh kecil itu.
“Aku mau nasi goreng,” rengek Gita.
“Ayo, kita buat bareng,” ajak Kirana.
“Boleh, Ma?” mata Gita berbinar.
“Iya.”
“Asyik!”
Rafka tertawa melihat interaksi itu. Pemandangan yang selalu membuatnya merasa cukup. Sebuah keluarga kecil yang hangat, sederhana, dan penuh tawa.
Pagi itu berjalan seperti biasa. Nasi goreng spesial buatan Kirana tersaji di meja makan. Irisan mentimun, tomat, dan telur mata sapi menghias piring Gita dan Rafka. Tidak ada yang terasa janggal, kecuali satu hal yang terus mengendap di benak Kirana.
Pesan dari kakaknya tadi.
Ketika mereka bersiap pergi ke rumah orang tua Rafka, Kirana sempat melirik ponsel suaminya yang terselip di saku celana. Namun, ia segera mengalihkan pandangan. Ia tidak ingin menjadi istri yang mencurigai tanpa alasan.
Perjalanan ke rumah Pak Andi hanya memakan waktu beberapa menit. Karena desa mereka bersebelahan, membuat hubungan keluarga mereka terasa dekat, secara jarak, maupun ikatan.
“Kakek!” teriak Gita begitu motor berhenti.
Gadis kecil itu berlari kecil menghampiri Pak Andi yang sedang duduk di teras, memperbaiki jala ikan.
“Wah, cucu kakek cantik sekali hari ini,” ujar Pak Andi sambil mengangkat tubuh Gita.
Kirana dan Rafka menyusul, mencium tangan ayah Rafka dengan sopan.
Dari dalam rumah, Bu Ratih keluar sambil mengelap tangan dengan kain.
“Kirana, kebetulan kamu datang. Bantu ibu masak, ya. Kita bikin pepes ikan dan piritan—jeroan ikan yang dicampur nasi, dibumbui banyak rempah, lalu dibungkus daun pisang. Masaknya di kukus,” ujar Bu Ratih.
“Tentu, Bu.”
Masakan Kirana memang enak dan sudah diakui banyak orang. Sering dia diminta memasak oleh mertuanya jika datang berkunjung.
“Gita mana, Mbak?” tanya Rembulan, atau lebih sering dipanggil Bulan, adiknya Rafka.
“Di depan sama Ayah,” balas Kirana yang berpapasan dengan adik iparnya.
Kirana masuk ke dapur bersama mertuanya. Tangannya cekatan, terbiasa. Ia menikmati perannya sebagai istri, menantu, dan ibu.
Di luar, Rafka duduk di samping ayahnya. Angin berembus pelan. Suasana desa terasa damai.
Namun, ketika Rafka membuka ponselnya, dahi pria itu mengernyit.
Tujuh panggilan tak terjawab. Belasan pesan masuk. Semua dari nama yang sama. Yaitu, Kinanti.
Rafka menghela napas. Tangannya sedikit bergetar ketika membuka pesan-pesan itu.
[Mas, kenapa nggak dibalas?]
[Ara nunggu dari tadi.]
[Mas, kamu janji, kan?]
Rafka menutup ponsel itu kembali. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia menoleh ke arah dapur, tempat Kirana sedang tertawa kecil bersama ibunya. Rasa bersalah itu datang seperti gelombang.
“Gita,” ucap Rafka tiba-tiba.
“Iya, Pa?” Gita menoleh.
“Papa mau beli bensin sebentar.”
“Aku ikut!” Gita langsung berdiri.
“Enggak. Kamu di sini aja main sama Tante dan Kakek.”
Wajah Gita langsung berubah. Bibirnya mengerucut. Dia kesal karena papanya tidak mengajaknya jalan-jalan, belakangan ini.
“Papa bohong, kan,” gumam gadis kecil itu.
Rafka tidak mendengar atau memilih tidak mendengar. Ia berdiri, mengambil helm, lalu memacu motornya pergi. Dia yakin kakak iparnya pasti marah karena tidak membalas pesannya.
Tangisan Gita pecah beberapa menit kemudian. Rembulan dan Pak Andi berusaha memenangkannya, namun tetap tidak bisa.
Kirana berlari keluar dapur begitu mendengar suara itu.
“Kenapa, Gita?” Kirana berjongkok, mengusap pipi putrinya yang basah air mata.
"Mas Rafka mau beli bensin, Mbak," ucap Rembulan.
“Papa pergi, Ma,” isak Gita. “Dia bohong.”
“Bohong gimana?”
“Kemarin Ara bilang mau pergi ke Timezone sama Papa. Katanya aku nggak diajak.”
Kata-kata itu menghantam Kirana tepat di dada.
Timezone. Pesan pagi tadi.
[Mas, jangan lupa antarkan aku dan Ara ke Timezone.]
Kirana memeluk Gita erat-erat. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak kasatmata yang meremas jantungnya perlahan.
Di kepalanya, potongan-potongan kecil mulai tersusun. Sebuah bukti perselingkuhan? Belum pasti. Namun, cukup untuk menimbulkan retakan pertama.
Kirana tahu, retakan sekecil apa pun, jika dibiarkan, bisa menghancurkan segalanya.
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏