Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Malam kian larut, menyisakan keheningan yang nyaman di dalam kamar utama yang luas itu. Fharell masih terduduk di tepi ranjang, jari-jarinya bertautan, tampak sedang memproses gejolak emosi yang ia rasakan setelah pertemuan dengan Danesha tadi sore. Paroline mendekat, duduk di samping suaminya dan menyandarkan kepalanya di bahu tegap Fharell.
Fharell mengembuskan napas panjang, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Paro... aku bersumpah, aku tidak akan pernah membiarkan Danesha tahu kalau Andreas, anak kita, sebenarnya adalah miliknya secara biologis. Aku tidak bisa membayangkan pria brengsek itu mencoba mengklaim hak atas jagoan kecil kita."
Paroline meraih tangan Fharell, menggenggamnya erat untuk memberikan kekuatan. Ia menatap mata suaminya dengan tatapan yang sangat tenang dan meyakinkan.
"Tidak usah khawatir, Rell," jawab Paroline lembut namun tegas. "Danesha tidak akan pernah sadar. Dia terlalu narsis untuk melihat kebenaran yang ada di depannya. Baginya, dunia hanya berputar di sekeliling egonya sendiri."
Paroline terdiam sejenak, membayangkan wajah Andreas yang sedang tertidur lelap di kamar sebelah. "Lagipula, di wajah Andreas Sunny sama sekali tidak ada jejak wajah Danesha. Tidak sedikit pun. Mata itu... itu adalah mata milik Sania. Mata yang tulus dan penuh binar, sangat jauh dari tatapan dingin dan licik milik Danesha."
Ia tersenyum tipis, mengingat bagaimana Andreas tumbuh begitu pesat. "Dan kau tahu apa yang membuatku paling bahagia? Sekarang, saat Andreas sudah hampir berumur tiga tahun, dia justru terlihat makin mirip denganmu, Fharell. Garis senyumnya, caranya menatapku, bahkan cara dia berjalan... itu benar-benar fotokopi dirimu."
Fharell menoleh, menatap istrinya dengan sedikit rasa tidak percaya. "Kau sungguh berpikir begitu? Tapi tadi aku sempat merasa..."
"Itu hanya ketakutanmu, Sayang," potong Paro cepat. "Andreas sudah menghabiskan seluruh hidupnya bersamamu. Dia melihatmu sebagai dunianya. Mungkin karena dia sudah terlalu terbiasa denganmu, secara alami auranya mengikuti auramu. Orang-orang di luar sana pun tidak ada yang ragu kalau dia adalah anak kandungmu. Genetik mungkin memberikan garis rahang, tapi cinta dan kebiasaanlah yang membentuk wajahnya sekarang."
Fharell tertegun. Kata-kata Paroline seolah menjadi air sejuk yang menyiram api kecemasannya. Ia teringat bagaimana Andreas selalu meniru cara Fharell memakai jam tangan, atau bagaimana bocah itu mencoba bicara dengan nada bariton yang lucu mengikuti suara Fharell.
"Kau benar," bisik Fharell akhirnya. "Dia adalah anakku dalam segala hal yang berarti. Dia tidak punya tempat untuk seorang Smith di dalam hidupnya."
"Tepat sekali," sahut Paro. "Biarkan Danesha dengan delusinya. Biarkan dia mengira Andreas adalah anak kita berdua karena malam imajinasinya itu. Itu justru bagus, karena dia tidak akan pernah curiga tentang keterlibatan Sania. Dia akan tetap terjebak dalam rasa bersalah dan rasa penasarannya sendiri, sementara kita... kita hidup bahagia sebagai keluarga utuh."
Fharell menarik Paroline ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala istrinya dengan penuh rasa syukur. "Terima kasih, Paro. Terima kasih sudah mengingatkanku bahwa ikatan kita jauh lebih kuat daripada sekadar tes DNA."
Di dalam kamar yang temaram itu, Fharell akhirnya bisa melepaskan beban di pundaknya. Ia menyadari bahwa Andreas Sunny bukan hanya sekadar anak yang ia selamatkan, melainkan bagian dari jiwanya yang telah tumbuh menyerupai dirinya karena besarnya kasih sayang yang ia berikan.
Esok hari, Andreas akan bangun dan memanggil Papa padanya, dan bagi Fharell, itulah satu-satunya kebenaran yang mutlak. Danesha Smith mungkin memiliki masa lalu, tapi Fharell Desmon-lah yang memiliki masa depan bersama anak itu.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰