Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.
Pernikahan Tanpa Cinta
Dua hari berlalu terlalu cepat.
Aluna hampir tidak punya waktu untuk benar-benar mencerna keputusan yang telah ia buat. Sejak malam penandatanganan kontrak itu, hidupnya seperti bergerak dalam mode cepat. Gaun pengantin dipilih dalam waktu kurang dari satu jam. Jadwal pernikahan disusun secara tertutup. Undangan hanya dikirim kepada pihak keluarga inti dan beberapa jajaran direksi perusahaan.
Tidak ada pesta mewah.
Tidak ada resepsi besar.
Tidak ada senyum bahagia yang tulus.
Semua terasa seperti rapat bisnis.
Pagi itu, Aluna duduk di depan meja rias di sebuah kamar hotel bintang lima yang disiapkan khusus untuknya. Gaun putih sederhana dengan potongan elegan membungkus tubuhnya dengan anggun. Rambutnya ditata lembut, wajahnya dirias tipis. Ia tampak cantik—terlalu cantik untuk sebuah pernikahan yang tidak berlandaskan cinta.
Ibunya berdiri di belakangnya, menatap pantulan mereka di cermin.
“Kamu yakin, Nak?” suara sang ibu lirih.
Aluna tersenyum kecil, walau matanya menyimpan kegelisahan.
“Ini yang terbaik, Bu.”
Ayahnya tidak bisa hadir karena kondisi kesehatan yang belum stabil. Namun pagi tadi, sebelum berangkat, Aluna sempat menggenggam tangannya.
“Maafkan Ayah…” bisik pria itu lemah.
Aluna hanya menggeleng sambil menahan air mata.
Bukan salah siapa-siapa. Hidup memang tidak selalu memberi pilihan yang mudah.
—
Acara pernikahan diadakan di sebuah ballroom privat. Hanya sekitar tiga puluh orang hadir. Beberapa wajah terlihat menilai, beberapa terlihat terkejut.
Dan di barisan depan, berdiri seorang wanita dengan gaun merah anggur yang mencolok.
Cemalia Pratama.
Tatapannya tajam menusuk ke arah Aluna sejak pertama kali ia melangkah masuk ruangan.
Jantung Aluna bergetar.
Ia tahu wanita itu adalah mantan tunangan Arkan. Ia juga tahu, pertunangan mereka berakhir secara tiba-tiba tanpa penjelasan publik.
Namun melihatnya berdiri di sana, dengan senyum tipis yang terasa seperti ancaman, membuat suasana semakin menekan.
Di altar sederhana, Arkan sudah berdiri.
Setelan tuxedo hitam membuatnya tampak nyaris sempurna. Wajahnya tetap datar, seolah ini hanya satu dari sekian banyak agenda dalam hidupnya.
Tatapan mereka bertemu sesaat.
Tidak ada kelembutan.
Tidak ada kebahagiaan.
Hanya kesepakatan diam.
Upacara berlangsung cepat. Pendeta membacakan janji pernikahan dengan suara formal. Kata-kata tentang cinta, kesetiaan, dan pengorbanan terdengar indah—dan ironis.
“Apakah Anda, Arkan Wijaya, bersedia mengambil Aluna Maheswari sebagai istri Anda…”
“Ya.”
Jawabannya tegas, tanpa ragu.
“Dan Anda, Aluna Maheswari…”
Aluna menarik napas dalam.
“Ya.”
Cincin disematkan. Tepuk tangan terdengar, sopan namun tidak hangat.
“Dengan ini, kalian resmi menjadi suami istri.”
Beberapa kilatan kamera berbunyi. Dokumentasi internal perusahaan. Tidak akan ada siaran pers besar, namun berita ini pasti tetap menyebar.
Arkan menoleh padanya.
“Formalitas terakhir,” ucapnya pelan.
Ia mendekat dan menyentuh bibir Aluna dengan ciuman singkat—sangat singkat—hanya cukup untuk memenuhi kewajiban publik.
Namun sentuhan itu tetap membuat jantung Aluna berdetak tidak teratur.
Begitu bibir mereka terpisah, ia sempat melihat sesuatu di mata Arkan.
Keraguan?
Atau hanya pantulan lampu?
—
Setelah acara selesai, tamu-tamu mulai meninggalkan ruangan. Beberapa direktur memberi ucapan selamat dengan senyum penuh kepentingan. Beberapa wanita sosialita berbisik di sudut ruangan.
Aluna bisa merasakan tatapan mereka.
Siapa dia?
Dari mana asalnya?
Kenapa bukan Cemalia?
Langkah sepatu hak tinggi mendekat.
“Aku tidak menyangka kamu berani datang,” suara lembut namun tajam itu terdengar di sampingnya.
Aluna menoleh.
Cemalia berdiri sangat dekat, senyumnya sempurna namun matanya dingin.
“Selamat ya,” lanjutnya. “Menjadi pengganti itu pasti terasa… aneh.”
Aluna menahan napas.
“Saya bukan pengganti siapa pun,” jawabnya tenang.
Cemalia terkekeh pelan.
“Kamu pikir kamu mengenalnya?” bisiknya. “Arkan tidak pernah mencintai siapa pun setelah aku.”
Kalimat itu seperti sengaja ditanam untuk melukai.
Namun sebelum Aluna bisa menjawab, sebuah tangan melingkar di pinggangnya.
Arkan.
“Istriku terlihat lelah,” ucapnya dingin. “Jika tidak ada urusan penting, sebaiknya kamu pulang, Cemalia.”
Wanita itu tersenyum tipis.
“Kita lihat saja berapa lama ini bertahan.”
Ia melangkah pergi dengan anggun.
Hening sesaat.
Arkan melepaskan tangannya dari pinggang Aluna secepat mungkin, seolah sentuhan itu hanya bagian dari sandiwara.
“Biasakan diri,” katanya singkat. “Dunia ini tidak ramah.”
“Terima kasih sudah membela saya tadi,” ucap Aluna pelan.
“Itu bukan pembelaan. Itu menjaga citra.”
Jawaban itu dingin seperti biasa.
Namun entah kenapa, Aluna merasa ada sesuatu yang tidak sepenuhnya jujur di baliknya.
—
Malam itu, mereka tiba di rumah utama keluarga Wijaya.
Rumah itu lebih mirip mansion. Gerbang besi besar terbuka otomatis. Taman luas membentang dengan air mancur di tengahnya. Lampu-lampu taman menyala lembut.
Aluna menatap bangunan megah itu dengan campuran kagum dan canggung.
“Mulai malam ini, ini rumahmu,” ucap Arkan singkat.
Beberapa pelayan sudah berjejer menyambut.
“Selamat datang, Nyonya.”
Kata itu kembali terasa asing.
Seorang wanita paruh baya mendekat. “Saya Bi Sari, kepala pelayan. Jika Nyonya membutuhkan apa pun—”
“Terima kasih,” jawab Aluna sopan.
Arkan berjalan lebih dulu masuk, seolah mengisyaratkan agar ia mengikutinya.
Ia membawanya ke lantai dua, ke sebuah kamar besar dengan balkon menghadap taman.
“Kamar ini milikmu.”
Aluna terdiam.
“Lalu… kamar Anda?”
“Di seberang lorong.”
Ia mengingat isi kontrak. Tidak ada kewajiban berbagi kamar.
“Aku tidak ingin gosip dari pelayan,” lanjut Arkan. “Di depan mereka, kita pasangan normal. Di balik pintu, kita tetap sesuai perjanjian.”
Aluna mengangguk.
“Baik.”
Arkan berjalan menuju pintu, namun berhenti sejenak.
“Besok pagi kita sarapan bersama Ayah.”
Aluna terkejut. “Ayah Anda?”
“Iya. Dan dia bukan tipe orang yang mudah percaya.”
Setelah itu, pintu tertutup.
Aluna berdiri sendirian di kamar luas itu.
Ia berjalan perlahan ke balkon. Hujan sudah berhenti. Udara malam terasa dingin.
Ia kini resmi menjadi istri seorang CEO.
Namun kenapa hatinya terasa begitu sepi?
—
Di seberang lorong, Arkan berdiri di depan jendela kamarnya sendiri.
Ia membuka kancing jasnya, melepaskannya dengan gerakan lelah.
Pernikahan itu sudah selesai.
Harusnya semuanya terasa lebih mudah sekarang.
Namun entah kenapa, bayangan wajah Aluna saat menjawab “Ya” tadi terus terlintas di pikirannya.
Bukan wajah wanita yang terpaksa.
Melainkan wajah yang berani.
Ia menghela napas panjang.
Ini hanya satu tahun.
Satu tahun untuk meredam tekanan keluarga. Satu tahun untuk menjaga posisi perusahaan.
Tidak lebih.
Ia tidak akan mengulangi kesalahan masa lalu.
Cinta hanya membuat segalanya kacau.
—
Pagi datang terlalu cepat.
Aluna bangun lebih dulu, mencoba membiasakan diri dengan tempat baru. Ia memilih gaun sederhana untuk sarapan, tidak terlalu mencolok.
Saat turun ke ruang makan, ia melihat seorang pria paruh baya duduk di kursi utama.
Wajahnya mirip Arkan, namun lebih keras.
Tuan Wijaya.
Tatapannya menilai ketika melihat Aluna mendekat.
“Jadi ini istri pilihanmu?” suaranya berat.
Arkan duduk di samping Aluna.
“Ya.”
Tuan Wijaya menatap Aluna dari atas ke bawah.
“Kau tahu dunia seperti apa yang kau masuki?”
Aluna menegakkan punggung.
“Saya akan berusaha belajar, Pak.”
Pria itu tertawa kecil.
“Berusaha saja tidak cukup di keluarga ini.”
Sarapan berlangsung dalam suasana tegang. Setiap kata terasa seperti ujian.
Namun Aluna tidak menunduk. Ia menjawab dengan tenang, tidak berlebihan, tidak pula rendah diri.
Di bawah meja, tanpa sengaja, tangan mereka bersentuhan.
Refleks, Aluna menarik tangannya.
Namun kali ini, Arkan justru menahannya sebentar.
Hanya beberapa detik.
Namun cukup untuk membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Tuan Wijaya memperhatikan, lalu mengangguk tipis.
“Mungkin keputusanmu tidak sepenuhnya bodoh,” gumamnya pada Arkan.
—
Siang itu, berita pernikahan resmi diumumkan ke publik.
Judul-judul media online mulai bermunculan.
“CEO Muda Arkan Wijaya Menikah Diam-Diam!”
“Siapakah Aluna Maheswari?”
Ponsel Aluna dipenuhi notifikasi.
Ia menarik napas panjang.
Ini baru hari pertama.
Di luar rumah, kamera wartawan sudah mulai berkumpul.
Di dalam rumah, tekanan keluarga belum sepenuhnya reda.
Dan di antara semua itu, ada satu hal yang lebih berbahaya dari gosip dan tekanan bisnis.
Perasaan yang perlahan, tanpa izin, mulai tumbuh di tempat yang seharusnya kosong.
Di lorong lantai dua, Arkan berdiri memandangi pintu kamar Aluna yang tertutup.
Untuk sesaat, ia hampir mengetuk.
Namun ia mengurungkan niatnya.
Satu tahun.
Ia harus mengingat itu.
Karena jika ia lengah—
Kontrak ini mungkin berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar pernikahan tanpa cinta.