NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Akrom Kafa Bihi

Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akrom Kafa Bihi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan Tanpa Cinta

Dua hari berlalu terlalu cepat.

Aluna hampir tidak punya waktu untuk benar-benar mencerna keputusan yang telah ia buat. Sejak malam penandatanganan kontrak itu, hidupnya seperti bergerak dalam mode cepat. Gaun pengantin dipilih dalam waktu kurang dari satu jam. Jadwal pernikahan disusun secara tertutup. Undangan hanya dikirim kepada keluarga inti dan beberapa jajaran direksi perusahaan.

Tidak ada pesta mewah.

Tidak ada resepsi besar.

Tidak ada senyum bahagia yang tulus.

Semua terasa seperti rapat bisnis.

Pagi itu, Aluna duduk di depan meja rias di sebuah kamar hotel bintang lima yang disiapkan khusus untuknya. Gaun putih sederhana dengan potongan elegan membungkus tubuhnya dengan anggun. Rambut panjangnya ditata lembut oleh penata rambut, sementara riasan tipis membuat wajahnya terlihat lebih dewasa.

Ia tampak cantik.

Terlalu cantik untuk sebuah pernikahan yang tidak berlandaskan cinta.

Ibunya berdiri di belakangnya, menatap pantulan mereka di cermin dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu yakin, Nak?” suara wanita itu lirih.

Aluna tersenyum kecil, meskipun hatinya dipenuhi kegelisahan.

“Ini yang terbaik, Bu.”

Ibunya menghela napas pelan.

“Seharusnya ayahmu ada di sini…”

Nama itu membuat hati Aluna terasa berat.

Ayahnya memang tidak bisa hadir. Beberapa minggu terakhir kesehatannya memburuk. Ia sering mengeluh sakit di dada, dan dokter menyarankan agar ia beristirahat total.

Namun pagi tadi, sebelum Aluna berangkat, ayahnya justru bersikeras bangun dari tempat tidur.

“Ayah harus ke proyek sebentar,” katanya dengan suara lemah.

Aluna langsung menggeleng.

“Tidak perlu, Yah. Ayah harus istirahat.”

Namun pria itu hanya tersenyum, mencoba terlihat kuat meski wajahnya pucat.

“Ayah hanya ingin memastikan semuanya selesai. Setelah itu Ayah janji akan benar-benar istirahat.”

Aluna tahu ayahnya keras kepala. Sejak bisnis keluarga runtuh dan hutang menumpuk, pria itu merasa bertanggung jawab menyelesaikan semuanya sendiri.

Ia tidak ingin membebani anak-anaknya.

Pada akhirnya Aluna hanya bisa menggenggam tangan ayahnya sebelum pergi.

“Maafkan Ayah…” bisik pria itu pelan.

Aluna menggeleng sambil menahan air mata.

Bukan salah siapa-siapa.

Hidup memang tidak selalu memberi pilihan yang mudah.

Acara pernikahan diadakan di sebuah ballroom privat hotel yang sama. Ruangan itu dihias sederhana namun elegan. Bunga putih menghiasi altar kecil di depan.

Hanya sekitar tiga puluh orang hadir.

Beberapa wajah terlihat penasaran.

Beberapa terlihat terkejut.

Dan di barisan depan, berdiri seorang wanita dengan gaun merah anggur yang mencolok.

Cemalia Pratama.

Tatapannya tajam mengarah pada Aluna sejak ia melangkah masuk ke ruangan.

Jantung Aluna berdegup lebih cepat.

Ia tahu wanita itu.

Mantan tunangan Arkan.

Pertunangan mereka pernah menjadi berita besar dua tahun lalu sebelum tiba-tiba dibatalkan tanpa penjelasan jelas.

Kini wanita itu berdiri di sana, menyaksikan pernikahan pria yang pernah hampir menjadi suaminya.

Dan tatapannya jelas tidak bersahabat.

Di altar sederhana itu, Arkan sudah berdiri.

Setelan tuxedo hitam membuatnya terlihat hampir sempurna. Posturnya tegap, wajahnya tenang, seperti seseorang yang sedang menghadiri rapat penting.

Tatapan mereka bertemu sesaat.

Tidak ada kelembutan.

Tidak ada kebahagiaan.

Hanya kesepakatan diam.

Upacara berlangsung cepat.

Pendeta membacakan janji pernikahan dengan suara formal. Kata-kata tentang cinta dan kesetiaan terdengar indah, namun terasa aneh dalam situasi ini.

“Apakah Anda, Arkan Wijaya, bersedia mengambil Aluna Maheswari sebagai istri Anda?”

“Ya.”

Jawaban Arkan tegas.

Tanpa ragu.

“Dan Anda, Aluna Maheswari…”

Aluna menarik napas dalam.

“Ya.”

Cincin disematkan.

Tepuk tangan terdengar, sopan namun tidak hangat.

“Dengan ini kalian resmi menjadi suami istri.”

Beberapa kilatan kamera terdengar. Dokumentasi internal perusahaan. Tidak akan ada pesta besar, namun berita ini pasti tetap menyebar.

Arkan menoleh pada Aluna.

“Formalitas terakhir,” katanya pelan.

Ia mendekat dan menyentuh bibir Aluna dengan ciuman singkat.

Sangat singkat.

Hanya cukup untuk memenuhi kewajiban publik.

Namun sentuhan itu tetap membuat jantung Aluna berdetak tidak teratur.

Ketika bibir mereka terpisah, Aluna sempat melihat sesuatu di mata Arkan.

Keraguan.

Atau mungkin hanya bayangan lampu.

Setelah acara selesai, para tamu mulai meninggalkan ruangan.

Beberapa direktur memberi ucapan selamat dengan senyum penuh kepentingan. Beberapa sosialita berbisik di sudut ruangan.

Aluna bisa merasakan tatapan mereka.

Siapa dia?

Dari mana asalnya?

Kenapa bukan Cemalia?

Langkah sepatu hak tinggi mendekat.

“Aku tidak menyangka kamu berani datang,” suara lembut namun tajam terdengar di sampingnya.

Aluna menoleh.

Cemalia berdiri sangat dekat.

Senyumnya sempurna, tetapi matanya dingin.

“Selamat ya,” katanya. “Menjadi pengganti pasti terasa… aneh.”

Aluna menahan napas.

“Saya bukan pengganti siapa pun,” jawabnya tenang.

Cemalia terkekeh pelan.

“Kamu pikir kamu mengenalnya?” bisiknya. “Arkan tidak pernah mencintai siapa pun setelah aku.”

Kalimat itu terasa seperti pisau yang sengaja ditusukkan perlahan.

Namun sebelum Aluna bisa menjawab, sebuah tangan melingkar di pinggangnya.

Arkan.

“Istriku terlihat lelah,” ucapnya dingin. “Jika tidak ada urusan penting, sebaiknya kamu pulang, Cemalia.”

Wanita itu tersenyum tipis.

“Kita lihat saja berapa lama ini bertahan.”

Ia berjalan pergi dengan langkah anggun.

Hening sesaat.

Arkan segera melepaskan tangannya dari pinggang Aluna.

“Biasakan diri,” katanya singkat. “Dunia ini tidak ramah.”

“Terima kasih sudah membela saya tadi,” ucap Aluna pelan.

“Itu bukan pembelaan,” jawab Arkan. “Itu menjaga citra.”

Malam itu mereka tiba di rumah utama keluarga Wijaya.

Rumah itu lebih mirip mansion.

Gerbang besi besar terbuka otomatis. Taman luas terbentang dengan air mancur di tengahnya. Lampu-lampu taman menyala lembut.

Aluna menatap bangunan megah itu dengan campuran kagum dan canggung.

“Mulai malam ini, ini rumahmu,” ucap Arkan singkat.

Beberapa pelayan sudah berjejer menyambut.

“Selamat datang, Nyonya.”

Kata itu kembali terasa asing.

Seorang wanita paruh baya mendekat.

“Saya Bi Sari, kepala pelayan. Jika Nyonya membutuhkan apa pun—”

“Terima kasih,” jawab Aluna sopan.

Arkan berjalan lebih dulu masuk.

Ia membawa Aluna ke lantai dua, menuju sebuah kamar besar dengan balkon menghadap taman.

“Kamar ini milikmu.”

Aluna terdiam.

“Lalu kamar Anda?” tanyanya.

“Di seberang lorong.”

Ia mengingat isi kontrak.

Tidak ada kewajiban berbagi kamar.

“Aku tidak ingin gosip dari pelayan,” lanjut Arkan. “Di depan mereka kita pasangan normal. Di balik pintu, kita tetap sesuai perjanjian.”

Aluna mengangguk.

“Baik.”

Arkan berhenti di ambang pintu.

“Besok pagi kita sarapan bersama Ayah.”

Aluna sedikit terkejut.

“Ayah Anda?”

“Iya. Dan dia bukan tipe orang yang mudah percaya.”

Pintu tertutup.

Aluna berdiri sendirian di kamar luas itu.

Ia berjalan ke balkon.

Udara malam terasa dingin.

Ia kini resmi menjadi istri seorang CEO.

Namun kenapa hatinya terasa begitu sepi?

Di seberang lorong, Arkan berdiri di depan jendela kamarnya sendiri.

Ia membuka kancing jasnya.

Pernikahan itu sudah selesai.

Harusnya semuanya terasa lebih mudah sekarang.

Namun bayangan wajah Aluna saat mengucapkan “Ya” terus terlintas di pikirannya.

Bukan wajah wanita yang terpaksa.

Melainkan wajah yang berani.

Ia menghela napas panjang.

Ini hanya satu tahun.

Satu tahun untuk meredam tekanan keluarga.

Satu tahun untuk menjaga posisi perusahaan.

Tidak lebih.

Ia tidak akan mengulangi kesalahan masa lalu.

Cinta hanya membuat segalanya kacau.

Pagi datang terlalu cepat.

Saat Aluna turun ke ruang makan, seorang pria paruh baya sudah duduk di kursi utama.

Wajahnya mirip Arkan, namun lebih keras.

Tuan Wijaya.

Tatapannya menilai ketika melihat Aluna.

“Jadi ini istri pilihanmu?” suaranya berat.

Arkan duduk di samping Aluna.

“Ya.”

Pria itu menatap Aluna dari atas ke bawah.

“Kau tahu dunia seperti apa yang kau masuki?”

Aluna menegakkan punggung.

“Saya akan berusaha belajar, Pak.”

Pria itu tertawa kecil.

“Berusaha saja tidak cukup di keluarga ini.”

Sarapan berlangsung tegang.

Setiap kata terasa seperti ujian.

Namun Aluna tidak menunduk.

Di bawah meja, tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan.

Refleks Aluna menarik tangannya.

Namun Arkan justru menahannya sebentar.

Hanya beberapa detik.

Namun cukup membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Tuan Wijaya memperhatikan, lalu mengangguk tipis.

“Mungkin keputusanmu tidak sepenuhnya bodoh,” gumamnya.

Siang itu berita pernikahan mulai menyebar.

Judul-judul media muncul di internet.

“CEO Muda Arkan Wijaya Menikah Diam-Diam!”

“Siapakah Aluna Maheswari?”

Ponsel Aluna terus berbunyi.

Ini baru hari pertama.

Di luar rumah, wartawan mulai berkumpul.

Di dalam rumah, tekanan keluarga masih terasa.

Dan tanpa disadari, sesuatu yang lebih berbahaya mulai tumbuh.

Perasaan.

Perasaan yang seharusnya tidak ada dalam pernikahan kontrak ini.

Di lorong lantai dua, Arkan berdiri memandangi pintu kamar Aluna.

Untuk sesaat, ia hampir mengetuk.

Namun ia berhenti.

Satu tahun.

Ia harus mengingat itu.

Karena jika ia lengah—

Kontrak ini bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar pernikahan tanpa cinta.

1
jenny
aku bingung Thor...
di bab 2 dijelaskan klo ayah Aluna tidak bisa hadir di pernikahan Aluna karena kesehatan yang belum stabil, tapi di bab ini menjelaskan klo ayah Aluna meninggal di tempat proyek? yang benar mana nih?
𝔅𝔩𝔞𝔠𝔨 𝔐𝔞𝔪𝔟𝔞☬♆: Coba dibaca ulang deh kak🤭
total 1 replies
Veline
Semangat Author untuk Karya nya 🔥🔥💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!