Arabelle, seorang barista, tak menyangka hidupnya akan berubah ketika Lorenzo Devereaux, pemimpin dunia bawah yang dikenal sebagai Damon, datang menagih utang ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Lorenzo masuk dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya. Matanya langsung menemukan Arabelle yang tertidur di kasur ponsel masih menggenggam di tangannya, bekas air mata kering di pipinya.
Ia berdiri di sana sebentar, hanya memandang.
Kemudian ia berjalan ke lemari pakaian, mengganti pakaiannya dengan celana pendek hitam yang longgar, dan keluar tanpa baju. Beberapa goresan merah panjang terlihat jelas di dadanya.
**
Arabelle terbangun oleh suara-suara kecil langkah, gesekan kain. Matanya terbuka perlahan dan langsung menemukan Lorenzo.
Ia langsung duduk. "Lorenzo."
Sebelum Lorenzo sempat berkata apa pun, Arabelle sudah bangkit dan meloncat ke arahnya, kakinya melingkari pinggangnya, tangannya menggenggam bahunya erat.
"Kenapa kamu tidak angkat teleponku? Aku sangat khawatir," katanya, suaranya sedikit bergetar.
Lorenzo menahannya dengan kedua tangannya. "Tapi aku di sini sekarang."
Arabelle menyandarkan kepalanya di bahunya dan tidak berkata apa-apa untuk beberapa saat.
"Jangan pergi lagi tanpa bilang dulu," gumamnya.
"Maaf," kata Lorenzo. Ia melepaskan satu tangannya untuk mengusap punggung Arabelle. "Tadi aku emosi berlebihan dan melampiaskannya ke kamu. Itu tidak sengaja tapi itu juga tidak benar. Kamu harus tahu bahwa aku mencintaimu lebih dari apa pun."
Arabelle mengangkat kepalanya. "Aku memaafkanmu."
"Ucapkan."
"Aku memaafkanmu, Lorenzo."
Ia memeluknya sekali lagi, kali ini lebih erat, seperti anak kecil yang tidak mau melepaskan. Lorenzo membiarkannya.
Ketika Arabelle akhirnya turun dan berdiri di hadapannya, pandangannya langsung jatuh ke dada Lorenzo. Goresan-goresan panjang berwarna merah gelap membekas di sana beberapa di antaranya terlihat cukup dalam.
"Itu apa?" tanya Arabelle, menunjuk.
"Tidak apa-apa. Besok aku urus sendiri."
"Tidak. Sekarang." Arabelle sudah berbalik menuju lemari obat di kamar mandi.
"Arabelle--"
"Lorenzo." Ia memotong tanpa menoleh. "Tolong."
Keheningan sebentar. Lalu suara langkah Lorenzo mengikutinya.
Arabelle kembali dengan cairan antiseptik, kapas, dan plester besar berwarna putih. Lorenzo sudah duduk di sofa kecil di sudut kamar, siku bertumpu di lutut.
"Kalau perih, bilang," kata Arabelle.
"Tidak akan perih."
Arabelle mencelupkan kapas ke cairan antiseptik dan mulai menyentuh goresan pertama dengan hati-hati. Lorenzo tidak bergerak.
"Tidak perih?"
Lorenzo menggeleng.
Arabelle melanjutkan, membersihkan satu per satu dengan teliti, lalu menutupnya dengan plester putih besar.
"Selesai," katanya.
Lorenzo sedikit membungkuk untuk mencium bibirnya. Arabelle tersenyum tipis, Lorenzo jauh lebih tinggi dari dirinya bahkan ketika ia membungkuk, dan itu selalu terasa sedikit lucu.
Ketukan di pintu memecah keheningan.
Lorenzo membuka pintu. Rebeka berdiri di sana dengan senyum sopan. "Maaf mengganggu. Saya hanya ingin memberitahu bahwa saya sudah membuat janji periksa kandungan untuk Arabelle, besok pagi."
"Terima kasih banyak, Rebeka," kata Arabelle dari belakang Lorenzo.
"Terima kasih," tambah Lorenzo, dan menutup pintu.
Ia berbalik ke Arabelle dengan ekspresi yang antara serius dan tidak bisa menyembunyikan sesuatu. "Jadi aku akan jadi ayah."
"Masalah?" tanya Arabelle.
"Tidak." Ia berjalan mendekat. "Sama sekali tidak. Kamu adalah satu-satunya perempuan yang aku inginkan untuk menjadi ibu dari anak-anakku." Tangannya menyentuh pipi Arabelle. "Tidak ada yang lain."
Pipi Arabelle memanas meski ia tidak mengatakannya.
"Besok setelah periksa, kita ke bioskop?" tanya Arabelle.
"Kapan?"
"Besok siang. Kamu janji tadi."
Lorenzo mengangguk. "Boleh."
"Oke." Arabelle naik ke kasur dan menarik selimut. "Sekarang tidur, kamu kelihatan lelah."
Lorenzo berbaring di sebelahnya, dan tidak butuh waktu lama sebelum ia menarik Arabelle lebih dekat ke arahnya. Arabelle membiarkannya. Tangan Lorenzo memainkan ujung rambutnya dengan gerakan yang lambat dan pelan, dan tanpa sadar keduanya terlelap dalam posisi yang sama.
**
Pagi berikutnya, Arabelle bangun lebih dulu. Lorenzo masih tidur di sebelahnya, wajahnya tenang, ekspresi keras yang biasa ia kenakan siang hari menghilang sepenuhnya.
Arabelle mengusap pipinya pelan, lalu turun dari kasur.
Di kamar mandi, ia menggosok gigi, mencuci muka, lalu menyalakan shower. Air hangat mengalir dan ia berdiri di bawahnya lebih lama dari biasanya, pagi ini terasa lebih dingin dari kemarin.
Setelah selesai, ia mengenakan jubah mandinya dan masuk ke lemari pakaian untuk memilih pakaian. Ketika ia keluar, Lorenzo sudah berdiri di ambang pintu lemari, rambutnya sedikit berantakan karena tidur.
"Selamat pagi," katanya, lalu mencium bibirnya tanpa basa-basi.
"Selamat pagi," balas Arabelle. "Sarapan dulu atau langsung berangkat?"
"Kamu tidak lapar?"
"Tidak terlalu. Kita makan di sana saja sehabis periksa kita langsung ke bioskop."
Lorenzo mengangguk. "Oke. Bersiaplah."
Arabelle kembali ke kamar mandi untuk menyisir rambut dan merapikannya, lalu mengerjakan riasan ringan, maskara, blush on tipis, lip gloss bening. Lorenzo keluar dari lemari pakaian, siap lebih cepat dari Arabelle seperti biasa.
Ia menghampiri Arabelle dari belakang di depan cermin dan melingkarkan tangannya di pinggangnya. "Cantik sekali."
"Kamu mau apa?" tanya Arabelle, setengah tertawa.
"Tidak mau apa-apa." Ia mencium lehernya sebentar. "Ayo."
Arabelle mengambil tas kecilnya, ponsel, charger, dompet dan mereka keluar dari kamar bersama.
**
Di dalam mobil, Lorenzo menyatukan jari-jarinya dengan jari Arabelle begitu mobil mulai bergerak.
"Kamu benar-benar mau nonton film hari ini?" tanyanya.
"Iya. Terakhir kali aku ke bioskop dua tahun lalu, sama teman-teman."
Lorenzo terkikik kecil. "Dua tahun."
"Jangan tertawa. Tidak semua orang hidupnya seheboh kamu." Arabelle menggeser pandangannya ke jendela. "Di sini ada bioskop kan?"
"Ada. Film apa yang kamu mau?"
"Kita lihat saja nanti yang ada apa. Yang penting nontonnya."
Lorenzo mengangguk, dan perjalanan berlanjut dengan obrolan ringan.
Namun ketika mobil berhenti di depan Ospedale Hospital, suasana di luar langsung berubah. Belum sempat pintu dibuka, kamera-kamera sudah terarahkan ke arah mereka. Para pengawal bergerak cepat membentuk jalur.
"Apakah benar Anda sedang hamil?" teriak seorang jurnalis, mendorong mikrofon ke arah Arabelle.
"Sudah berapa lama pertunangan kalian? Ada rencana pernikahan?" teriak yang lain, kameranya menyorot wajah Arabelle dari jarak dekat.
Lorenzo langsung menarik tangan Arabelle dan berjalan cepat ke dalam. Pintu kaca rumah sakit tertutup di belakang mereka, dan kebisingan itu menghilang.
Arabelle berdiri sebentar di dekat kursi ruang tunggu, menarik napas.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Lorenzo.
"Kapan ini berhenti?" tanya Arabelle balik, suaranya lelah.
"Aku tidak tahu."
"Lorenzo--"
"Aku tahu itu melelahkan." Suaranya lebih pelan dari biasanya. "Tapi jangan ladeni mereka. Senyum, jalan terus."
Arabelle mengangguk pelan.
"Ayo ke dokternya." Lorenzo berdiri dan Arabelle mengikutinya ke resepsionis.
"Se-selamat datang, ada yang bisa dibantu?" tanya resepsionis, suaranya tiba-tiba sedikit patah ketika matanya bertemu dengan wajah Lorenzo.
Arabelle sudah terbiasa dengan ekspresi itu, tapi tetap saja tidak pernah sepenuhnya ia mengerti. "Kami ke dokter kandungan, kamar 119," jawab Arabelle dengan tenang.
"L-lantai empat, lift di sebelah kiri. Pintu pertama dari kiri setelah keluar lift." Resepsionis tersenyum ke Arabelle. "Selamat ya."
"Terima kasih." Arabelle tersenyum balik.
Mereka masuk ke lift. Ketika pintunya tertutup dan mereka berdua saja di dalamnya, Arabelle melirik Lorenzo.
"Kamu tidak pernah bingung kenapa semua orang ketakutan melihatmu?"
"Sudah biasa."
"Aku tidak pernah takut padamu."
"Karena kamu tahu siapa aku sebenarnya. Orang lain tidak." Lorenzo menatap lurus ke pintu lift. "Dan aku tidak membunuh seseorang karena ingin, tapi karena memang harus."
Lift terbuka. Mereka berjalan keluar berdampingan, tangan masih saling menggenggam.
Di depan kamar 119, Lorenzo mencium pipi Arabelle sebelum membuka pintu. Dokter kandungan itu sedang menunduk ke berkas di mejanya. Ketika mengangkat kepala, ekspresinya berubah seketika, sedikit menegang, matanya berpindah cepat antara Arabelle dan Lorenzo.
"Se-selamat datang. Untuk pemeriksaan ini, saya mohon hanya pasiennya yang masuk, kalau tidak keberatan."
"Tidak masalah. Aku di luar," kata Lorenzo kepada Arabelle, menciumnya sebentar, lalu keluar dan menutup pintu.
Arabelle duduk di kursi pasien di hadapan dokter yang mulai menyiapkan peralatan USG dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
Pemeriksaan berlangsung tenang. Dokter menjelaskan perkembangan kehamilan, memberikan beberapa resep untuk mual dan sakit kepala, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan kecil Arabelle dengan profesional, meski senyumnya baru benar-benar santai ketika ia yakin fokus sepenuhnya pada Arabelle saja.
"Terima kasih banyak, Dok," kata Arabelle ketika selesai, berdiri dari tempat tidur pemeriksaan.
Pintu terbuka sebelum ia sempat melangkah Lorenzo sudah masuk. "Selesai?"
"Baru saja." Arabelle mengambil resepnya. "Bye, Dokter."
Dokter itu tersenyum dan mengangguk. Arabelle keluar, Lorenzo mengikuti, dan pintu kamar 119 pun tertutup kembali.