NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ITEM SURGAWI

PEMBALASAN ITEM SURGAWI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LIKUIDASI BERDARAH

Udara di depan Gudang Pusat bergetar hebat, bukan karena angin, melainkan karena tabrakan frekuensi energi yang saling bertolak belakang. Tiga Raja Penagih melayang statis di udara, jubah abu-abu mereka berkibar pelan meski gravitasi di bawah mereka telah disita oleh Feng. Kalung tengkorak kristal di leher mereka berpendar merah darah, berdenyut seperti jantung yang sedang mengalami aritmia.

Feng berdiri tegak, Pedang Keseimbangan Agung tertancap di tanah, kedua tangannya bertumpu pada gagangnya. Cahaya ungu dari ribuan Koin Karma yang berputar di sekelilingnya menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di dinding granit. Di belakangnya, Xuelan telah menjadi pusat dari badai es; embun beku merambat dari kakinya, mengubah genangan air menjadi belati-belati es yang siap melesat.

"Kalian bicara soal pemalsuan?" Feng meludah ke samping, darah emasnya menguap sebelum menyentuh tanah. "Kalianlah pemalsu yang sebenarnya. Kalian mencetak takdir dari kekosongan dan memaksa dunia membelinya dengan nyawa. Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milik mereka."

"Lancang!" Raja Penagih pertama, yang dikenal sebagai Hakim Pailit, mengangkat tangannya. Telapak tangannya terbuka, dan sebuah gulungan hitam besar muncul, terbentang di udara. "Atas nama Perserikatan, kami menyatakan Lembah Sunyi mengalami Default! Seluruh energi di tempat ini disita untuk membayar hutang keberadaan kalian!"

Hakim Pailit menghentakkan kakinya di udara. Sebuah gelombang kejut berwarna abu-abu melesat dari gulungan itu, menghantam jaring energi ungu yang dibentuk oleh dua ribu murid.

DUAARRR!

Dampaknya terasa hingga ke tulang. Di atap-atap barak, ratusan murid jatuh berlutut. Koin Karma di tangan mereka memanas, membakar kulit mereka. Beberapa dari mereka mulai berteriak saat energi ungu di tangan mereka mulai tersedot balik oleh gelombang abu-abu sang Raja Penagih.

"Lihat!" Raja Penagih kedua tertawa, suaranya parau. "Mata uangmu runtuh, Tian Feng! Kepercayaan mereka mulai goyah, dan saat mereka takut, koin itu menjadi racun!"

Feng melihat ke sekeliling. Ia melihat keraguan di mata para murid. Zhao, yang berdiri di barisan depan, menggigil hebat; koinnya meredup, berubah dari ungu menjadi kelabu kusam. Saat nilai kepercayaan turun, pertahanan mereka retak.

“Feng! Mereka melakukan 'Panic Selling' pada takdir mereka sendiri!” suara Yue Er menjerit di dalam batinnya. “Jika kau tidak menstabilkan nilainya sekarang, seluruh energi kolektif ini akan berbalik menghancurkanmu!”

Feng menggertakkan gigi hingga gusi-gusinya berdarah. Ia menatap ke arah Mei yang berdiri di kejauhan, masih dengan Guqin-nya. Gadis itu tidak memetik senar, ia hanya menatap Feng dengan mata putihnya yang kosong.

"Xuelan, jaga garis depan!" Feng memerintah. "Aku akan melakukan 'Injeksi Modal' langsung ke pusat sistem!"

Feng mencabut pedangnya dan menusukkannya ke jantung Gudang Pusat—ke arah tumpukan jutaan koin yang belum didistribusikan.

"Transmutasi Terlarang: Pembakaran Cadangan Jiwa!"

Tubuh Feng mendadak menjadi transparan. Tato teratai di dadanya berpendar begitu terang hingga menembus zirah es Xuelan. Ia menyalurkan essensi hidupnya sendiri ke dalam sistem. Ini adalah langkah bunuh diri ekonomi; jika ia gagal, ia tidak akan punya sisa nyawa untuk bereinkarnasi.

Seketika, koin-koin di tangan dua ribu murid kembali bersinar. Warna ungunya kini bercampur dengan urat-urat emas—darah Feng. Rasa takut di hati mereka tergantikan oleh keberanian yang dipaksakan oleh otoritas Feng.

"Jangan lepaskan!" teriak Zhao, entah dari mana ia mendapatkan kembali suaranya. "Tuan Feng memberikan nyawanya untuk kita! TAHAN!"

Jaring energi itu mengencang kembali. Kali ini, ia tidak hanya menangkis; ia mulai menjerat ketiga Raja Penagih.

"Apa?!" Hakim Pailit terbelalak. "Dia menggunakan essensi primordis sebagai jaminan likuiditas? Dia gila! Dia akan habis dalam hitungan menit!"

"Menit itu sudah cukup untuk membunuh kalian," desis Feng.

Feng melesat. Gerakannya tidak lagi bisa ditangkap oleh mata. Ia muncul di depan Hakim Pailit, Pedang Keseimbangan Agung mengayun secara horizontal.

CLANG!

Rantai besi hitam milik Raja Penagih menahan tebasan itu, namun berat yang dibawa Feng kali ini bukan lagi berat gunung, melainkan berat dari harapan dua ribu nyawa yang sedang dipertaruhkan. Rantai itu retak.

Xuelan tidak tinggal diam. Ia melompat ke udara, pedang esnya terpecah menjadi sepuluh ribu jarum es yang masing-masing membawa segel pembeku karma. "Jangan lupakan aku!"

Jarum-jarum itu menghujani dua Raja Penagih lainnya. Di tengah kekacauan itu, Qian Fu yang masih mengintai dari kejauhan menyadari bahwa taktik fisiknya gagal. Ia mengeluarkan sebuah kompas kecil dari saku jubahnya—Kompas Inflasi.

"Jika kau ingin membakar nyawamu, silakan," Qian Fu menyeringai. Ia memutar jarum kompas itu ke arah berlawanan jarum jam.

Di lapangan, mendadak nilai Koin Karma melonjak secara liar. Murid-murid yang memegangnya merasa aliran energi yang masuk ke tubuh mereka terlalu besar. Tubuh mereka mulai membengkak, meridian mereka tidak sanggup menahan beban energi yang dipompakan secara paksa oleh kompas Qian Fu.

"Kelebihan pasokan!" teriak Guru Lin panik. "Feng! Mereka membanjiri sistem dengan energi palsu! Orang-orang kita akan meledak!"

Ini adalah taktik Hyperinflation. Memberikan terlalu banyak kekuatan hingga penerimanya hancur oleh beban tersebut.

Feng terhenti di udara. Ia melihat murid-muridnya mulai bertumbangan, tubuh mereka memancarkan cahaya ungu yang tidak stabil. Jika ini terus berlanjut, Lembah Sunyi akan hancur oleh ledakan energi kolektifnya sendiri.

"Mei... sekarang!" Feng berteriak.

Mei akhirnya bergerak. Ia memetik senar Guqin-nya dengan kecepatan yang memercikkan api. Nada yang keluar bukan lagi nada kesedihan, melainkan nada Penyitaan Aset.

Suara musik itu merambat ke setiap Koin Karma di lembah. Seketika, kelebihan energi yang membebani para murid tersedot keluar, namun tidak hilang. Energi itu mengalir menuju satu titik: Pedang Keseimbangan Agung milik Feng.

Bilah pedang itu membesar, memanjang hingga mencapai tiga puluh meter, diselimuti oleh api ungu dan emas yang menderu.

"Terima kasih atas 'sumbangannya', Qian Fu," Feng menoleh ke arah kapal tersembunyi di awan, matanya berkilat penuh kemenangan.

Feng berbalik ke arah Tiga Raja Penagih. Ia mengangkat pedang raksasa itu dengan kedua tangannya. Seluruh lembah mendadak menjadi gelap, semua cahaya terserap ke dalam bilah pedang tersebut.

"Audit Final: Pemutusan Kontrak Keberadaan!"

Feng mengayunkan pedangnya dalam satu tebasan vertikal yang membelah ruang dan waktu.

SYUUUUTTT—BOOOOMMMM!

Sebuah garis cahaya ungu membelah langit, memutus awan, dan menghantam ketiga Raja Penagih tepat di pusat formasi mereka. Gulungan hitam Hakim Pailit hancur berkeping-keping. Kalung tengkorak mereka meledak. Tubuh ketiga algojo itu tidak hancur menjadi darah, melainkan terurai menjadi angka-angka dan simbol-simbol kuno yang kemudian lenyap ditelan kehampaan.

Gelombang kejutnya menghantam kapal terbang Qian Fu, membuatnya terpelanting jatuh dari langit dan meledak di hutan luar lembah.

Keheningan kembali meraja.

Feng mendarat perlahan di tanah yang kini hangus. Pedang besarnya kembali ke ukuran semula, retak di sana-sini. Ia terhuyung, dan kali ini, Xuelan tidak sempat menangkapnya. Feng jatuh berlutut, memuntahkan darah emas yang sangat banyak.

Rambut peraknya kini benar-benar memutih kusam. Wajahnya yang muda tampak menua dalam hitungan detik.

"Feng!" Xuelan berlutut di depannya, air mata mengalir deras. Ia mencoba menyalurkan energinya, namun tangan Feng menahannya.

"Sudah... selesai," bisik Feng. Suaranya hampir tidak terdengar. "Nilai koin kita... stabil sekarang."

Di sekeliling mereka, dua ribu murid berdiri dalam diam. Mereka tidak lagi merasa terbebani atau gila. Mereka merasa... utuh. Koin Karma di tangan mereka kini menjadi benda padat yang permanen, sebuah simbol bahwa mereka tidak lagi berhutang pada siapa pun di dunia bawah maupun atas.

Mei berjalan mendekati Feng. Ia meletakkan tangannya di dahi Feng. Cahaya lembut dari Guqin-nya meresap ke dalam kepala Feng, menghentikan penuaan dini tersebut.

"Tuan telah memenangkan pertempuran pasar pertama," ucap Mei pelan. "Tapi Perserikatan Bankir Langit akan menyatakan perang total. Mereka akan mengirim Sang Likuidator—entitas yang menghapus seluruh peradaban yang gagal membayar pajak takdir."

Feng menatap Mei dengan mata yang mulai sayu. "Biarkan mereka datang... tapi beritahu mereka... biaya untuk menghapus kami... akan membuat surga mereka bangkrut."

Guru Lin mendekat, memeriksa kondisi Feng. "Dia butuh tidur selama sebulan, Xuelan. Essensi hidupnya hampir habis. Kita harus menutup lembah ini sepenuhnya."

Xuelan mengangguk, ia mengangkat tubuh Feng yang ringan dengan bantuan beberapa murid. Saat mereka membawa Feng menuju barak, Zhao berdiri di depan gerbang, ia bersujud di tanah saat Feng lewat.

"Kami tidak akan pernah menjual koin ini, Tuan," bisik Zhao, air mata membasahi pipinya yang kotor. "Kami akan menjaganya dengan nyawa kami."

Di reruntuhan kapal yang jatuh di hutan, Qian Fu merangkak keluar dengan tubuh terbakar. Ia memegang satu keping Koin Karma yang berhasil ia curi selama pertempuran. Ia menatap koin itu dengan ngeri.

"Dia tidak hanya mencetak mata uang..." Qian Fu berbisik ketakutan. "Dia mencetak jenis jiwa yang baru. Surga... Surga sedang dalam bahaya."

1
Herry Soegiharto
mantaap
Raden Saleh: maaf ya, ceritanya terhenti sejenak karena lebaran 🙏 terimakasih atas partisipasinya 👍
total 1 replies
Herry Soegiharto
mantaap..👍😍
Raden Saleh
Bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!