NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ITEM SURGAWI

PEMBALASAN ITEM SURGAWI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERANG MATA UANG

Lembah Sunyi tidak lagi berbau kematian; ia kini berbau tembaga, keringat, dan aroma tajam dari merkuri yang mendidih. Di jantung pemukiman, sebuah bangunan raksasa tanpa jendela telah berdiri, dibangun dari leburan zirah emas para prajurit Kekaisaran yang tewas. Di atas pintunya, terukir satu kata yang membuat para pengelana dan mata-mata yang mengintai dari tebing merasa ngeri: Gudang Pusat.

Di dalam ruangan yang remang-remang itu, Tian Feng berdiri di depan sebuah meja granit besar. Rambut peraknya yang panjang diikat longgar, berkilau di bawah cahaya lampu minyak. Di tangannya, ia memegang sebutir permata kecil berbentuk koin yang memancarkan cahaya ungu redup.

"Ini bukan sekadar energi, Guru," bisik Feng. Suaranya bergema di ruangan yang kedap suara itu.

Guru Lin, yang berdiri di sampingnya dengan kacamata pembesar yang retak, menggelengkan kepala. "Kau benar-benar gila, Feng. Kau mengambil esensi dari transmutasi kolektif mereka dan membekukannya menjadi benda padat? Ini adalah penghinaan terhadap hukum alam."

"Alam tidak punya hukum, Guru. Alam hanya punya keseimbangan," Feng menjatuhkan koin itu ke atas meja. Ting. Bunyinya tidak seperti logam menabrak batu, melainkan seperti dentuman lonceng yang jauh di dalam jiwa. "Selama ini, Kekaisaran dan Perserikatan Bankir Langit memaksa kita menggunakan 'Batu Roh' yang nilainya mereka tentukan sendiri. Mereka bisa mencetak lebih banyak, mereka bisa menimbunnya, dan mereka bisa membuat kita bangkrut dalam semalam. Tapi koin ini..."

Feng menyentuh koin itu. Sebuah proyeksi angka muncul di udara: [Nilai: 10 Jam Kerja – 1 Liter Keringat – 10% Harapan].

"Koin ini tidak bisa dipalsukan," lanjut Feng, matanya berkilat tajam. "Nilainya berasal langsung dari kehidupan orang-orang di lembah ini. Ini adalah Koin Karma. Dan mulai besok, ini adalah satu-satunya alat tukar yang berlaku di wilayahku."

Di luar, matahari mulai naik, menyinari kesibukan yang luar biasa. Dua ribu murid tidak lagi berlatih pedang dengan cara konvensional. Mereka dibagi menjadi unit-unit produksi. Ada yang menambang mineral, ada yang mengolah lahan dengan teknik Chi yang sinkron, dan ada yang menjaga perbatasan.

Setiap malam, mereka tidak lagi menerima jatah makanan sebagai sedekah. Mereka mengantre di depan papan pengumuman besar.

Xuelan berdiri di depan barisan murid yang panjang. Di sampingnya, sebuah timbangan besar dari perak murni—pusaka yang ia modifikasi dari sisa-sisa alat Hakim Agung—berdiri tegak.

"Zhao," panggil Xuelan dingin.

Zhao, yang kini bertubuh lebih kurus dan mengenakan pakaian pelayan kasar, melangkah maju dengan kepala tertunduk. Ia baru saja menyelesaikan shift dua belas jam mengangkut batu granit untuk tembok kota.

"Kerja fisik: dua belas jam. Kontribusi material: stabil. Niat: masih ada sisa kedengkian," Xuelan membaca catatan dari sebuah buku besar yang melayang di sampingnya. Ia kemudian menjatuhkan sebuah Koin Karma ke telapak tangan Zhao.

Begitu koin itu menyentuh kulit Zhao, cahaya ungu meresap ke dalam pori-porinya. Zhao menghela napas panjang; rasa lelah di ototnya mendadak menguap, dan ia merasa meridiannya yang kosong kembali terisi oleh energi yang murni dan menenangkan.

"Ini... ini lebih baik daripada Batu Roh mana pun," gumam Zhao, matanya membelalak. "Energi ini tidak terasa asing. Ia terasa seperti... milikku sendiri yang dikembalikan."

"Karena memang itu milikmu, Zhao," suara Feng terdengar dari arah balkon. Ia mengawasi distribusi itu dengan tatapan predator yang tenang. "Aku hanya menyimpannya, memurnikannya, dan mengembalikannya padamu saat kau membutuhkannya. Tapi ingat, jika kau berkhianat, nilai koin di tanganmu akan menjadi nol. Ia akan menjadi pemberat yang menyeret jiwamu ke dasar neraka."

Kabar tentang Koin Karma menyebar seperti api di padang rumput kering. Para pedagang pasar gelap dan tentara bayaran yang bersembunyi di Hutan Kematian mulai berdatangan ke perbatasan lembah. Mereka membawa emas, senjata, dan informasi, berharap bisa menukarnya dengan mata uang baru yang ajaib itu.

Namun, di sebuah kapal terbang kecil yang tersembunyi di balik awan tebal, Qian Fu, sang utusan Bankir Langit, sedang menyaksikan segalanya melalui cermin ajaib. Wajahnya yang biasanya tenang kini distorsi oleh kemarahan dan ketakutan.

"Dia menyerang fondasi kita," geram Qian Fu. "Dia tidak menyerang dengan pedang, tapi dengan kepercayaan. Jika orang-orang mulai percaya bahwa keringat mereka lebih berharga daripada emas kita, maka seluruh sistem Kekaisaran akan runtuh dalam hitungan bulan."

Di sampingnya, Mei—gadis kecil yang entah bagaimana bisa berada di sana lagi—duduk di atas peti kayu, kakinya berayun pelan. Ia sedang memetik Guqin-nya yang kini memiliki senar-senar dari benang perak murni.

"Tuan Bendahara sedang melakukan short-selling terhadap takdir dunia, Tuan Qian," ucap Mei, suaranya datar dan dingin. "Dan kalian adalah pihak yang akan menanggung kerugiannya."

"Tutup mulutmu, Gadis Sialan!" Qian Fu menghantam meja. "Kirim pesan ke Tiga Raja Penagih. Beritahu mereka bahwa ada inflasi takdir di Lembah Sunyi. Kita harus menghancurkan Gudang Pusat mereka sebelum Koin Karma menyentuh pasar luar."

Malam itu, saat seluruh lembah tertidur, Feng duduk sendirian di dalam Gudang Pusat. Ia sedang bermeditasi di atas tumpukan ribuan Koin Karma yang baru dicetak. Aura ungu di ruangan itu begitu pekat hingga membentuk pusaran yang hampir menelan cahaya lampu.

“Kau bermain dengan api, Feng,” Yue Er bermanifestasi di hadapannya. Kali ini, ia mengenakan jubah hitam yang sangat panjang, dan matanya memancarkan kesedihan. “Mata uang ini... ia memiliki nyawa. Jika kau gagal menjaganya, kau tidak hanya akan bangkrut. Kau akan memakan semua nyawa yang terikat pada koin-koin ini.”

"Aku tahu harganya, Yue Er," Feng membuka matanya. Pupil vertikalnya bersinar di kegelapan. "Tapi lihatlah mereka. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun, para pelayan ini tidak lagi merasa berhutang pada langit. Mereka merasa berkuasa atas hidup mereka sendiri. Itulah profit yang tidak bisa kau hitung dengan angka."

Tiba-tiba, alarm formasi es milik Xuelan berbunyi—sebuah jeritan melengking yang merobek malam.

BOOOMM!

Dinding utara lembah meledak. Bukan oleh meriam cahaya, melainkan oleh kekuatan fisik yang begitu besar hingga batu granit setebal lima meter hancur menjadi debu.

Tiga sosok melayang masuk melalui celah yang menganga. Mereka tidak mengenakan zirah emas. Mereka mengenakan jubah abu-abu sederhana, namun di leher mereka tergantung kalung dari tengkorak bayi yang terbuat dari kristal.

Tiga Raja Penagih.

Mereka bukan tentara. Mereka adalah algojo finansial dari dunia atas, makhluk yang tugasnya menghapus siapa pun yang mencoba "mencetak" takdir tanpa izin.

"Tian Feng!" salah satu dari mereka, yang memiliki suara seperti gesekan logam, berteriak. "Kau telah melakukan pemalsuan takdir secara masal. Kami di sini untuk menyita seluruh asetmu, termasuk napasmu!"

Feng berdiri perlahan. Ia mengambil Pedang Keseimbangan Agung yang tertancap di sampingnya. Pedang itu kini tidak lagi berwarna emas murni; ada garis-garis ungu yang merambat di bilahnya, bereaksi terhadap Koin Karma di dalam gudang.

"Penyitaan?" Feng melangkah keluar dari gudang, menatap ketiga sosok itu dengan tatapan malas. "Maaf, kantor kami sudah tutup untuk hari ini. Tapi jika kalian ingin melakukan klaim..."

Feng mengacungkan pedangnya ke arah mereka. Ribuan Koin Karma di dalam gudang mendadak terbang keluar, berputar di sekeliling Feng seperti galaksi ungu yang mematikan.

"Mari kita lihat seberapa besar nilai tukar nyawa kalian di pasar malam ini."

Xuelan muncul di samping Feng, pedang esnya memancarkan uap dingin yang membekukan tanah di sekitarnya. "Tiga lawan dua? Sepertinya ini investasi yang adil, Feng."

"Tiga lawan dua ribu, Xuelan," ralat Feng.

Ia mengangkat tangannya, dan tiba-tiba, dari arah barak, dua ribu murid terbangun dan berdiri di atap-atap bangunan. Mereka tidak membawa senjata berat, namun mereka semua menggenggam Koin Karma di tangan mereka.

Cahaya ungu dari tangan dua ribu orang itu menyatu, membentuk jaring energi raksasa yang menutupi seluruh lembah.

"Kalian pikir kalian bisa melawan kami dengan sekumpulan sampah ini?" Raja Penagih kedua tertawa, melepaskan aura tingkat Void yang menghancurkan bangunan di dekatnya.

"Mereka bukan sampah," Feng menatap Raja Penagih itu, matanya berkilat penuh kemenangan. "Mereka adalah Pemegang Saham dari kematianmu."

Feng menghantamkan pedangnya ke tanah, dan jaring energi dari dua ribu orang itu mendadak mengencang, menarik ketiga Raja Penagih jatuh dari langit.

Perang mata uang baru saja berubah menjadi pertumpahan darah yang nyata.Tiga Raja Penagih menghadapi kekuatan kolektif dari Sekte Tanpa Hutang yang didorong oleh mata uang baru Feng. Namun, di balik serangan ini, Qian Fu telah menyiapkan jebakan terakhir yang akan membuat Koin Karma menjadi senjata makan tuan. Bisakah Feng menjaga stabilitas nilai "nyawa" murid-muridnya, ataukah ia akan melihat mereka semua mati karena inflasi energi yang tak terkendali?

1
Raden Saleh
Bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!