NovelToon NovelToon
Membawa Lari Benih Sang Mafia

Membawa Lari Benih Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Anak Genius / Romansa / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:6.8M
Nilai: 5
Nama Author: Senja

🏆 JUARA YAAW PERIODE 3 2025 🏆

Elise, seorang gadis keturunan bangsawan kaya, hidupnya terikat pada aturan keluarga. Untuk mendapatkan harta warisan, ia diwajibkan menikah dan segera melahirkan keturunan. Namun Elise menolak. Baginya, pernikahan hanyalah belenggu, dan ia ingin memiliki seorang anak tanpa harus menyerahkan diri pada suami yang dipaksakan.
Keputusan nekat membawanya ke luar negeri, ke sebuah laboratorium ternama yang menawarkan program bayi tabung. Ia pikir segalanya akan berjalan sesuai rencana—hingga sebuah kesalahan fatal terjadi. Benih yang dimasukkan ke rahimnya ternyata bukan milik donor anonim, melainkan milik Diego Frederick, mafia paling berkuasa dan kejam di Italia.
Ketika Diego mengetahui benihnya dicuri dan kini tengah berkembang dalam tubuh seorang wanita misterius, murka pun meledak. Baginya, tak ada yang boleh menyentuh atau memiliki warisannya.

Apakah Elise berhasil melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

Mobil hitam mewah itu melaju mulus di jalanan utama, meninggalkan gedung rumah sakit.

Di kursi belakang, Elise duduk diam, sesekali menatap putranya yang sedang bersandar ke kaca jendela mobil.

Sementara di kursi depan, dua pengawal Diego mengemudi tanpa suara, aura dingin mereka seolah menegaskan siapa majikan yang tengah mereka antar.

Alex tampak tenang, meski matanya terus memperhatikan jalan yang mereka lewati

“Mama,” katanya tiba-tiba, tanpa menoleh, “kenapa kita harus tinggal di rumahnya pria itu? Apa sekarang mama naik derajat?”

Elise menoleh cepat dengan dahi berkerut. “Naik derajat? Maksudmu apa, Alex?”

“Dari tukang bersih-bersih jadi simpanan om-om,” jawab Alex santai, tapi kalimatnya membuat udara di dalam mobil langsung terasa menegang.

“Alex!” seru Elise menatap putranya dengan tajam. Bocah itu refleks menutup mulutnya, sadar ia baru saja mengucapkan sesuatu yang tidak sepantasnya.

“Maaf, Mama,” gumam Alex lirih. Ia menunduk dan merasa bersalah. “Alex janji tidak akan bicara seenaknya lagi.”

Wajah Elise melunak. Ia menghela napas dan meraih tangan kecil putranya, lalu menciumnya lembut.

“Tidak apa-apa, Sayang. Mama tahu kamu hanya khawatir. Tapi percayalah, Mama baik-baik saja.”

Alex mengangguk. Di balik wajah polosnya, bocah itu sebenarnya sudah menaruh curiga pada Diego. Ia tidak bodoh. Ada sesuatu yang disembunyikan pria itu dari ibunya.

Tapi Alex tahu kapan harus diam, dan kapan harus bertindak. Untuk saat ini, ia hanya akan mengawasi.

Sementara itu, Elise menatap keluar jendela. Di balik senyum yang ia tunjukkan pada putranya, hatinya kacau.

Elise tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya, bahwa pria bernama Diego itu telah melunasi semua biaya rumah sakit dan bahkan mengancam akan melukai Alex jika ia menolak tinggal bersamanya.

“Mama akan melindungimu, apapun yang terjadi Alex. Bahkan jika nyawa mama taruhannya,” tekad Elise dalam hati dengan tangan terkepal.

Beberapa meter di belakang mobil mereka, sebuah sedan hitam lain mengikuti. Di dalamnya, Diego duduk bersandar dengan ekspresi dingin khasnya, sementara Jimmy yang menyetir sesekali melirik ke kaca spion.

Namun, yang membuat Jimmy heran adalah, untuk pertama kalinya sejak ia bekerja dengan pria itu, Diego tersenyum.

Jimmy melirik lagi, memastikan pandangannya tidak salah. “Sir, apakah anda baik-baik saja?” tanyanya hati-hati.

Diego menatap lurus ke depan, senyum samar masih menghiasi wajahnya.

“Baik? Tentu saja aku menjadi lebih dari baik. Sudah lama aku tidak merasa tertarik pada sesuatu.”

Tertarik? Jimmy hampir tersedak ludahnya sendiri. Ia tahu betul, Diego bukan tipe pria yang mudah tertarik, apalagi pada manusia.

Dunia mereka terlalu kelam untuk urusan hati.

Jimmy berdeham. “Apa saya perlu memanggilkan dokter rumah sakit lagi, Sir? Takutnya efek obat anda sudah habis dan—”

“Tutup mulutmu!” potong Diego datar, tapi cukup untuk membuat Jimmy kembali fokus ke jalan.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan canggung sebelum Diego berbicara lagi.

“Sudah kau siapkan kamar kami dan bocah itu?”

Jimmy mengangguk. “Sudah, Sir. Tapi... maaf, anda barusan bilang kamar kami? Anda tidak serius ingin tidur satu kamar dengan wanita itu, kan?” Ia menatap Diego dengan heran.

Diego menoleh menatap asistennya dengan tatapan tajam yang cukup membuat jantung Jimmy nyaris berhenti berdetak.

“Kenapa tidak?” katanya tenang. “Menurutmu, apakah wanita itu cocok menjadi kandidat penerima benihku berikutnya, Jim?”

“Apa?!” teriak Jimmy spontan, dan saking kagetnya ia langsung menginjak rem.

Mobil berhenti mendadak di tengah jalan, dan kepala Diego terhantam kursi depan.

“Jimmy!” suara Diego menggelegar, tajam seperti cambuk.

“Maaf, Sir!” Jimmy panik. “Tapi... soal benih? Maksud anda, anda mau—mau...?” Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

“Kau pikir aku akan membiarkan penawarku hidup di luar pengawasanku? Dia harus tetap dekat denganku. Aku tidak peduli pada suaminya yang pengecut itu. Lagi pula, wanita itu cukup menarik. Berani dan keras kepala. Meski penampilannya sedikit aneh.”

Jimmy menatap bosnya dengan ekspresi tak percaya. “Sir, anda sadar dengan apa yang anda katakan baru saja?”

Diego menyandarkan diri di kursi, satu tangan terangkat menyentuh dagunya yang kokoh.

“Aku sadar sepenuhnya. Dan jika wanita itu memang penawarku satu-satunya, maka aku tidak akan melepaskannya. Tidak sekarang bahkan selamanya.”

Jimmy hanya bisa menggeleng pelan. Ia benar-benar tak paham jalan pikiran bosnya.

Biasanya, Diego hanya bicara soal uang, kekuasaan, atau nyawa orang lain. Tapi kali ini, ada nada berbeda dalam suaranya.

Seolah Elise bukan sekadar bawahan melainkan wanita tulen di matanya.

***

Mobil pertama akhirnya memasuki gerbang besar sebuah mansion bergaya Eropa.

Pilar-pilar marmer menjulang tinggi, taman luas terbentang dengan air mancur di tengahnya.

Alex terpana melihat pemandangan itu. “Besar sekali. Apa ini istana?”

Elise terkekeh. Alex belum tahu saja jika rumah milik kakek dan nenek Alex lebih besar dua kali lipat dari mansion ini.

“Ya, istana tempat dimana kita akan tinggal,” balas Elise.

Sementara itu, para pelayan dan pengawal yang menyambut terkejut melihat Alex. Mata biru berkilau, wajah dingin nan datar itu, benar-benar mirip sekali dengan Diego.

Mereka gemetaran lalu membungkuk hormat dan dengan serentak lalu menyapa, “Selamat datang tuan muda kecil.”

“Tuan muda kecil? Apa yang mereka katakan?” gumam Elise.

1
adisty aulia
Alur ceritanya selalu bagus..🌺🌺🌺🌺
adisty aulia
Alur ceritanya selalu bagus..🌺🌺🌺🌺
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
bagus ceritanya 👍👍👍👏👏👏😘😘😘
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
happy ending 🤗🤗
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ngakak bet ah 😂😂😂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Leana jd putri kesayangan Alex dan Leonard 🤗🤗
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
hrsnya Kaylin umurnya lbh muda dr si kembar kok ini malah sama umurnya sama si kembar
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
randomnya kalian 😂😂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
jngn lebay deh Diego 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ortunya Theo keterlaluan
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
apa ada kongkang likong keluarga Theo
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
pd rebutan
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kasihan Jennifer dn Theo bayinya meninggal
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kejutan buat Diego
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Diego ngidamnya lama sampai mau lahiran msh ngidam 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
terlalu lebay deh kl lakuin hubungan suami istri di setiap tempat dan tak kenal waktu dan gak th malu walau sdh bnyk yg liat mereka gituan 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kasihan Alex matanya sdh ternoda😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
nyesel pun gak guna Jonathan
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Diego jd berhati hello Kitty 😂😂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Alex nasehatinnya damage banget 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!