NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Benteng Di Atas Rawa

Asap hitam dari kincir angin yang terbakar masih membumbung di cakrawala saat Jatmika mendayung sampan kecilnya menembus labirin hutan bakau. Di dalam sampan, Pak Sahid terduduk lemas dengan napas tersengal, sementara Darman memegang parang dengan tangan yang masih gemetar hebat.

"Kita mau ke mana, Jatmika? Semua jalan keluar dijaga Marsose. Kalau kita ke laut lepas, kapal uap Belanda akan mencegat kita," bisik Darman. Matanya terus melirik ke belakang, takut melihat bayangan seragam biru muncul dari balik pepohonan bakau yang rimbun.

Jatmika tidak menoleh. Matanya tertuju pada sebuah celah sempit di antara akar-akar bakau raksasa yang menonjol keluar seperti jemari raksasa. "Ke tempat di mana mesin mereka tidak bisa masuk, Darman. Ke tempat di mana hukum mereka tenggelam dalam lumpur."

Jatmika mengarahkan sampan ke wilayah yang dikenal penduduk lokal sebagai Segoro Wedhi—sebuah rawa payau yang labirinnya berubah setiap kali pasang surut terjadi. Bagi orang awam, ini adalah tempat bunuh diri karena buaya dan nyamuk demam berdarah. Tapi bagi seorang insinyur, ini adalah benteng alami.

Setelah satu jam mendayung dalam kesunyian yang mencekam, mereka sampai di sebuah gundukan tanah yang cukup luas di tengah rawa, tersembunyi oleh tirai tanaman rambat yang lebat. Di sana, sudah menunggu Suro dan beberapa anak buahnya.

"Kamu selamat, Bocah Garam," sapa Suro dengan nada lega yang tertutup ketegasan. "Kilatan cahaya di desa tadi... itu perbuatanmu?"

Jatmika melompat ke darat, membantu ayahnya turun. "Hanya pengalih perhatian, Kang Suro. Tapi sekarang aku kehilangan segalanya. Rumahku, tambakku, dan kincirku."

Suro terkekeh, suara parau yang terdengar seperti gesekan batu. "Kamu kehilangan gubuk bambu, tapi kamu mendapatkan kepercayaan kami. Orang-orangku melihat apa yang kamu lakukan. Mereka bilang kamu bisa membuat petir di telapak tanganmu. Itu lebih berharga daripada seribu tambak."

Jatmika menatap sekeliling. Tempat ini berantakan. Hanya ada beberapa gubuk reyot dan tumpukan barang selundupan yang tidak terorganisir. Logistiknya buruk, sanitasinya mengerikan.

"Kang Suro, kalau kita ingin bertahan dari pengepungan Belanda yang akan datang, tempat ini harus berubah," ucap Jatmika tegas.

"Berubah bagaimana? Kita ini pelarian, bukan bupati," sahut salah satu anak buah Suro dengan nada meremehkan.

Jatmika mengambil sebatang kayu, lalu mulai menggambar di atas tanah yang lembap. "Belanda menang karena mereka punya organisasi. Mereka punya rantai pasokan. Mereka punya senjata yang terstandarisasi. Kita? Kita hanya sekumpulan orang marah yang bersembunyi."

Ia menggambar denah sederhana. "Langkah pertama: Air Bersih. Kita tidak bisa berperang kalau semua orang mati karena kolera. Kita akan buat sistem penyaringan air bertingkat seperti yang kubuat untuk garam, tapi skalanya lebih besar."

"Langkah kedua: Produksi. Aku butuh bengkel. Kita tidak akan membeli senjata rusak dari pasar gelap lagi. Kita akan memodifikasi senapan kuno kalian dengan sistem pemicu yang lebih stabil dan bubuk mesiu yang lebih kuat."

"Langkah ketiga: Komunikasi. Kita akan pasang cermin-cermin kecil di puncak pohon bakau. Kita akan gunakan kode cahaya untuk memberi tahu posisi patroli Belanda dari jarak berkilo-kilometer sebelum mereka melihat kita."

Suro mendekat, memperhatikan gambar Jatmika. "Cermin? Kode cahaya? Kamu bicara seolah-olah kita ini tentara beneran."

"Di mata Belanda, kita adalah pemberontak. Maka jadilah pemberontak yang profesional," balas Jatmika.

Sepanjang sisa hari itu, Jatmika tidak beristirahat. Ia membagi tugas dengan efisiensi seorang manajer proyek abad ke-21. Darman dan beberapa orang muda diminta mengumpulkan bambu-bambu besar untuk dijadikan pipa air darurat. Pak Sahid, yang mulai pulih dari syoknya, diminta mengawasi pembuatan tungku pembakaran bersuhu tinggi untuk mengolah belerang.

Jatmika sendiri mulai membongkar salah satu senapan matchlock tua milik Suro. Ia mengamati mekanisme pelatuknya yang lambat. Terlalu banyak jeda antara tarikan pelatuk dan ledakan mesiu, pikirnya.

Ia mulai mengikir bagian-bagian kecil besi menggunakan batu asah, mencoba menerapkan prinsip mekanika sear yang lebih modern agar tembakan bisa lebih responsif. Di sela-sela itu, ia mencampur potasium nitrat hasil murniannya dengan arang dan belerang dalam rasio yang tepat: 75:15:10. Ia menambahkan sedikit alkohol dari fermentasi nira untuk membuat butiran mesiu yang lebih padat dan tidak mudah lembap di udara rawa yang basah.

Malam kembali turun, namun suasana di Segoro Wedhi berbeda. Ada api harapan yang mulai menyala di mata para pelarian itu. Mereka bukan lagi sekadar orang kalah yang bersembunyi; mereka mulai merasa seperti bagian dari sesuatu yang lebih besar.

"Jatmika," panggil Pak Sahid pelan saat mereka duduk di depan api unggun kecil yang tertutup rimbunnya daun agar cahayanya tidak terlihat dari luar. "Bapak tidak tahu apa yang merasukimu di laut hari itu. Tapi melihatmu sekarang... kamu mengingatkan Bapak pada dongeng tentang Satria Piningit."

Jatmika tersenyum pahit. "Aku bukan ksatria, Pak. Aku hanya seorang insinyur yang ingin pulang ke dunia yang lebih adil. Dan karena duniaku yang dulu sudah hilang, aku harus membangunnya di sini."

Tiba-tiba, suara siulan burung kedasih terdengar tiga kali dari arah pintu masuk rawa. Itu adalah kode peringatan dari penjaga depan.

Suro berdiri, tangannya langsung memegang gagang golok. "Ada tamu. Tapi bukan Belanda. Mereka datang dari arah hutan jati."

Seorang pria muda dengan pakaian santri yang kumal muncul dari balik semak. Ia membawa pesan yang digulung rapi dalam tabung bambu kecil.

"Aku diutus oleh Kyai di pesantren wetan," ucap pemuda itu dengan napas terengah. "Belanda telah mengeluarkan maklumat. Hadiah seribu keping emas bagi siapa saja yang bisa membawa kepala 'Bocah Kincir' ke Batavia. Dan Mandor Kromo... dia baru saja membakar seluruh desa nelayan sebagai peringatan agar tidak ada yang membantumu."

Darman terduduk lemas. "Seluruh desa... habis?"

Jatmika mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya kini bukan lagi api yang berkobar, melainkan es yang membeku. Dingin dan terhitung.

"Bagus," ucap Jatmika pelan, suaranya membuat Suro sekalipun merasa ngeri. "Mereka baru saja memberi alasan kepada setiap nelayan di pesisir ini untuk bergabung denganku. Kang Suro, siapkan orang-orangmu. Kita tidak akan menunggu mereka di sini. Kita akan mulai menyerang logistik mereka."

Jatmika kembali ke sketsanya di tanah. Ia menghapus gambar kincir, dan menggambar sesuatu yang baru: Skema Sabotase Jalur Kereta Kuda Pemerintah.

"Malam ini kita mulai latihan," tegas Jatmika. "Besok, Belanda akan tahu bahwa garam yang mereka makan bisa berubah menjadi racun."

Inilah awal dari Serikat Bayangan. Sebuah organisasi yang tidak dipimpin oleh bangsawan, melainkan oleh seorang pemuda dengan otak masa depan dan rakyat yang tidak lagi memiliki apa pun untuk dikorbankan.

1
Nemi yaa
kereen😍
Sastra Gulo: Terimakasih ka :)
total 1 replies
anggita
terus berkarya tulis👌. moga novelnya lancar.
Sastra Gulo: Amin kak. support selalu ya🙏😍
total 1 replies
anggita
Jatmika.. 👍💣💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!