NovelToon NovelToon
"Rahasia Laut Pasuruan"

"Rahasia Laut Pasuruan"

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Istana/Kuno / Penyelamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kristinawati Wati

Berlatarkan masa kejayaan Kerajaan Panjalu (Singhasari) di wilayah Pasuruan, sebuah prasasti kuno yang ditemukan oleh Gadis nelayan, Mira, mengungkap rahasia pelabuhan perdagangan rempah-rempah yang hilang selama berabad-abad. Bersama dengan Jaka, seorang budak kerajaan yang ahli membaca naskah kuno, keduanya harus mengurai misteri di balik prasasti tersebut sebelum kekayaan dan sejarah kerajaan jatuh ke tangan yang salah. Di tengah ombak laut dan rahasia yang terpendam, apakah mereka berhasil menyelamatkan warisan leluhur?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristinawati Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27: "Perangkap di Dasar Laut dan Rahasia Bunga Bakung"

Hari berikutnya, sebelum matahari mulai muncul dari balik cakrawala, ketiganya sudah siap berangkat ke lokasi bunga bakung laut yang tertera di peta kuno. Pak Darmo telah menyiapkan perahu khusus yang dilengkapi dengan alat penyelaman dasar laut sederhana namun kokoh—terbuat dari anyaman rotan yang diperkuat dengan kulit ikan besar, yang bisa melindungi mereka dari tekanan air dan hewan laut yang mungkin membahayakan.

“Kita harus turun tepat pukul 06.00 pagi—saat energi laut paling seimbang dan arus tidak terlalu kuat,” ucap Pak Darmo sambil memeriksa tali pengaman yang akan menghubungkan mereka dengan perahu. Laras telah mengenakan kalung perak kuno yang kini terasa lebih hangat dari biasanya, seolah sudah siap menghadapi apa yang ada di bawah permukaan laut. Jaka membawa sebuah ember anyaman yang telah diolesi lapisan lilin agar tidak bocor, untuk menyimpan bunga bakung laut yang akan mereka cari.

Setelah perahu mencapai titik yang ditandai pada peta, matahari mulai memancarkan sinar emas ke permukaan laut yang masih tenang. Tanpa banyak bicara, mereka memasang alat penyelaman dan secara bertahap menyelam ke bawah. Saat kedalaman semakin meningkat, cahaya matahari perlahan menghilang dan digantikan oleh cahaya biru keperakan yang berasal dari lumut laut bersinar dan tubuh beberapa jenis ikan yang memiliki bioluminesensi.

Laras yang berada di depan merasakan kalungnya mulai bersinar lebih terang, menunjukkan bahwa mereka sudah semakin dekat dengan lokasi tujuan. Tak lama kemudian, sebuah hamparan padang rumput laut yang berwarna hijau keemasan muncul di hadapan mereka—dan di tengah padang itu, tumbuh beberapa batang bunga bakung laut dengan kelopak berwarna putih keemasan yang bersinar lembut seperti mutiara. Namun di sekitar hamparan bunga itu, terdapat beberapa batu besar yang disusun membentuk pola lingkaran raksasa, dengan tali-tali tipis yang terbuat dari serat laut yang hampir tidak terlihat oleh mata telanjang.

“Perhatian! Itu perangkap buatan manusia yang dimodifikasi oleh kekuatan laut!” teriak Pak Darmo melalui isyarat tangan, karena suara tidak bisa merambat dengan jelas di dalam air. Namun sudah terlambat—Jaka yang sedang mencoba mendekat ke salah satu batang bunga tidak menyadari tali yang mengelilinginya, dan saat dia menyentuh kelopak bunga, tali tersebut dengan cepat mengikat kedua kakinya dan mulai menariknya ke arah celah antara batu besar.

Laras segera bergerak cepat, menggunakan kalungnya yang bersinar untuk memotong tali tersebut. Cahaya dari kalung ternyata mampu menghancurkan serat laut yang kuat seperti baja, dan dalam sekejap tali tersebut putus. Jaka segera bisa bergerak bebas lagi, dan mereka berdua kemudian bergabung dengan Pak Darmo yang sedang mengamati gerakan beberapa ekor arwana laut berukuran besar yang sedang mengelilingi hamparan bunga.

Arwana-arwana itu bukan saja berwarna merah keemasan yang mencolok, namun setiap sisik tubuhnya juga bersinar dengan pola aksara kuno yang sama dengan yang ada di pilar batu di Pulau Cemara Kecil. Mereka tidak menyerang, melainkan seolah sedang menjaga bunga bakung laut tersebut. Laras memahami bahwa ini adalah penjaga yang disebutkan dalam tulisan di pilar batu, jadi dia menghampiri mereka dengan hati-hati sambil mengangkat kalungnya sebagai tanda rasa hormat.

Saat kalung bersinar menghadap arwana-arwana, salah satu yang terbesar mendekat ke Laras dan secara perlahan membuka mulutnya—di dalamnya terdapat sebuah permata kecil berwarna biru yang bersinar. Laras mengerti bahwa ini adalah sesuatu yang harus dia terima, jadi dia dengan lembut mengambil permata tersebut dan memasangnya di kalungnya. Sejak saat itu, arwana-arwana mulai bergerak menyebar dan membuka jalan bagi mereka untuk mengambil bunga bakung laut.

Namun ketika Laras menyentuh salah satu batang bunga, seluruh dasar laut tiba-tiba bergoyang hebat. Dari balik batu besar di kejauhan, muncul sosok makhluk laut raksasa yang tubuhnya seperti gabungan antara ular dan cumi-cumi, dengan mata besar yang menyala merah menyala. Makhluk itu adalah penjaga kedua yang tidak tercatat dalam peta atau tulisan kuno—hasil dari kutukan yang belum sepenuhnya terkendali.

Pak Darmo segera mengambil dupa laut yang dia bawa dan membakarnya di dalam alat penyelaman, menghasilkan asap tebal yang berwarna kuning keemasan. Asap tersebut membuat makhluk itu sedikit terpana, memberi kesempatan bagi Laras untuk mencabut tiga batang bunga bakung laut sekaligus dan menyimpannya ke dalam ember anyaman. Jaka kemudian menarik tali pengaman untuk memberi sinyal ke atas agar mereka segera dinaikkan ke permukaan.

Saat mereka mulai naik, makhluk itu kembali mengejar dengan cepat. Namun arwana-arwana laut yang sebelumnya menjaga bunga itu muncul kembali dan membentuk lingkaran pelindung di sekitar mereka, bertempur dengan makhluk raksasa agar mereka bisa mencapai perahu dengan selamat. Setelah mereka berhasil naik ke atas dan menutup lubang penyelaman, mereka melihat bahwa permukaan laut mulai bergelombang besar lagi, namun kali ini ada cahaya biru keperakan yang membungkus perahu mereka dan membawanya kembali ke arah pantai Pasuruan dengan cepat.

Setelah sampai di pantai dan turun dari perahu, Laras segera memeriksa bunga bakung laut yang mereka bawa. Kelopak bunga tersebut masih segar dan terus bersinar lembut, sementara permata biru di kalungnya kini menyatu dengan kalung perak aslinya. Pak Darmo yang sedang menangkap napas setelah perjalanan yang penuh bahaya mengatakan bahwa bunga tersebut harus segera dibawa ke makam karam di Pulau Cemara Kecil sebelum matahari terbenam, karena setelah itu kekuatan bunga akan menghilang dan mereka harus menunggu waktu yang tepat selama satu tahun lagi.

Sementara itu, Jaka yang sedang membersihkan alat penyelaman menemukan bahwa pada salah satu batu yang ikut terbawa dari dasar laut terdapat tulisan baru yang muncul setelah terkena sinar matahari—“Bunga adalah kunci, namun cinta adalah pelarut kutukan yang sesungguhnya. Cari tahu siapa yang menjadi sandaran terakhir penyihir laut sebelum dia meninggal.”

Mereka segera menyusun rencana untuk kembali ke Pulau Cemara Kecil sebelum hari gelap. Laras merasa bahwa cerita yang akan terbongkar selanjutnya akan lebih mengejutkan dari yang mereka bayangkan, dan mungkin akan menghubungkan masa lalunya sendiri dengan sejarah panjang keluarga nelayan Pasuruan. Saat mereka menyiapkan perahu untuk perjalanan kedua hari itu, segerombolan burung laut putih datang dan hinggap di sekitar mereka—seolah memberi isyarat bahwa mereka berada di jalur yang benar, meskipun tantangan yang akan datang akan lebih berat dari sebelumnya…

1
falea sezi
ne cerita nyata kah Thor
Anna
Thor maaf sekali, tapi ini cerita kamu sebener ee mau novel apa cerpen kok tiap bab beda. bukan beda alur tapi beda isi cerita. padahal tema judul kamu bagus lho. 🙏🙏
Anna
kok agak bingung ya, kan di bab 2 mira sudah kabur sama jaka, kenapa di bab 3 baru ketemu? tapi di awal ada mereka ketemu, eh ketemu atau belum ketemu 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!