NovelToon NovelToon
Batas Obsesi Sang Konglomerat

Batas Obsesi Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Percintaan Konglomerat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.

Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.

Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.

Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Rantai Baru dan Penandaan Wilayah

Nadin membuka matanya perlahan. Hal pertama yang menyapa indra penciumannya adalah aroma khas parfum vetiver yang bercampur dengan wangi seprai sutra yang baru dicuci. Butuh beberapa detik bagi otaknya untuk mengumpulkan kesadaran penuh dan menyadari bahwa dia sudah berada kembali di atas ranjang raksasa di kamar utama penthouse.

Ingatan tentang sore kemarin langsung membanjiri kepalanya. Ruang kerja Gilang. Meja gambar arsitektur. Dan bagaimana Gilang menghancurkan seluruh sisa kewarasan yang baru saja dia temukan, menaklukkannya dengan brutal namun penuh perhitungan tepat di atas meja kayu tersebut. Nadin ingat dia kehilangan suaranya karena terlalu banyak mengerang, sebelum akhirnya kesadarannya menggelap karena kelelahan yang luar biasa. Gilang pasti menggendongnya kembali ke kamar ini saat dia tertidur.

Nadin mencoba bergerak, namun seluruh otot di tubuhnya menjerit memprotes. Pangkal pahanya terasa ngilu dan punggungnya pegal akibat bergesekan dengan permukaan meja gambar yang keras. Sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan ringisan, Nadin memaksakan diri untuk duduk.

Dia menoleh ke arah meja nakas di samping ranjang. Jam digital menunjukkan pukul sembilan pagi. Sisi ranjang Gilang sudah rapi dan dingin, menandakan bahwa pria itu sudah berangkat ke kantor sejak beberapa jam yang lalu.

Terdengar ketukan pelan di pintu kamar. Suara Dimas menyusul dari balik pintu.

"Permisi, Nona Kirana. Apakah Anda sudah bangun? Saya membawakan sarapan Anda."

Nadin buru-buru menarik selimut hingga menutupi dada telanjangnya. "Masuklah, Dimas. Saya sudah bangun."

Pintu terbuka. Dimas melangkah masuk sambil mendorong sebuah troli makanan berbahan baja tahan karat. Aroma roti panggang, telur, dan kopi hitam yang pekat langsung memenuhi ruangan. Namun, mata Nadin tidak tertuju pada makanan mewah tersebut. Pandangannya langsung terkunci pada sebuah tabung plastik hitam panjang yang diletakkan Dimas di rak paling bawah troli. Sebagai seorang arsitek, Nadin tahu persis apa isi tabung tersebut. Itu adalah tempat penyimpanan kertas cetak biru ukuran besar.

Dimas meletakkan nampan sarapan di atas meja kecil di dekat jendela, lalu mengambil tabung hitam itu dan meletakkannya dengan hati-hati di kaki ranjang Nadin. Pria berjas hitam itu juga mengeluarkan sebuah kotak kayu pipih dari saku jasnya dan menaruhnya di sebelah tabung tersebut.

"Tuan Mahendra berpesan agar Anda menghabiskan sarapan Anda, Nona," ucap Dimas dengan nada datar dan profesional seperti biasa. "Beliau juga memerintahkan saya untuk menyerahkan barang-barang ini kepada Anda. Di dalam kotak kayu itu terdapat set pensil mekanik, penggaris presisi, dan beberapa alat gambar teknis keluaran terbaru."

Jantung Nadin berdetak sedikit lebih cepat. "Untuk apa semua ini, Dimas?"

"Tuan Mahendra mengatakan bahwa ada perhitungan sudut fasad pada proyek Menara Selatan yang belum Anda selesaikan kemarin sore. Beliau ingin Anda menyelesaikan revisi cetak biru tersebut sebelum beliau pulang malam ini." Dimas menundukkan kepalanya sedikit. "Jika Anda membutuhkan meja gambar, Tuan Mahendra telah mengizinkan Anda untuk menggunakan ruang kerjanya secara bebas mulai hari ini. Permisi."

Setelah Dimas keluar dan menutup pintu, Nadin menatap tabung hitam dan kotak kayu itu dalam diam. Perasaannya campur aduk. Di satu sisi, bagian dari dirinya yang merupakan seorang arsitek merasa sangat gembira. Dia merindukan pekerjaannya. Dia merindukan aroma kertas kalkir dan sensasi memecahkan masalah struktural.

Namun di sisi lain, alarm tanda bahaya di kepalanya berdering nyaring. Gilang Mahendra adalah pria yang sangat penuh perhitungan. Pria itu tidak melakukan sesuatu tanpa alasan. Memberikan akses ke ruang kerja pribadi dan membiarkannya menyentuh proyek raksasa perusahaan bukanlah sebuah kebaikan hati. Itu adalah rantai jenis baru. Gilang tahu bahwa mengurung Nadin hanya untuk urusan ranjang akan membuat Nadin mati rasa secara perlahan. Dengan memberikan Nadin pekerjaan yang dia cintai, Gilang sedang membuat Nadin merasa bernilai dan berguna di dalam sangkar ini. Gilang sedang mengikat pikiran Nadin, bukan hanya tubuhnya.

Meskipun Nadin menyadari jebakan psikologis itu, dia tidak memiliki kekuatan untuk menolaknya. Kebutuhannya untuk menjaga kewarasannya jauh lebih besar.

Nadin bangkit dari ranjang, membersihkan diri dengan cepat di kamar mandi, dan memakai pakaian yang paling nyaman. Sebuah celana bahan kain yang longgar dan kemeja katun berlengan pendek. Setelah memaksakan diri menelan beberapa suap sarapan, Nadin meraih tabung hitam dan kotak alat gambar itu, lalu berjalan menuju ruang kerja Gilang.

Ruangan itu masih sama seperti kemarin. Meja gambar kayu di sudut ruangan sudah dirapikan. Nadin mengeluarkan cetak biru dari dalam tabung dan membentangkannya di atas meja. Dia menyalakan lampu sorot khusus dan mulai bekerja.

Waktu berlalu tanpa terasa. Nadin sepenuhnya tenggelam dalam perhitungannya. Dia memperbaiki sistem sirkulasi udara di sisi utara gedung, mengubah sudut kemiringan panel kaca, dan menambahkan struktur peneduh dari logam ringan yang tidak akan merusak estetika futuristik bangunan tersebut. Goresan pensilnya sangat tegas dan penuh keyakinan.

Tepat pukul satu siang, suara pintu ruang kerja yang terbuka membuyarkan konsentrasi Nadin.

Nadin memutar tubuhnya dan menahan napas saat melihat Gilang melangkah masuk. Pria itu memakai setelan jas hitam yang sangat rapi. Wajahnya terlihat keras dan dingin, memancarkan aura dominasi yang langsung menyerap seluruh oksigen di dalam ruangan. Gilang pulang tepat pada jam makan siang, sesuatu yang menurut Dimas sangat jarang terjadi.

"Tuan Mahendra," sapa Nadin pelan. Dia segera meletakkan pensilnya dan berdiri dari kursi, memposisikan dirinya dengan sikap patuh yang sudah terlatih selama seminggu terakhir.

Gilang tidak membalas sapaan itu. Pria itu berjalan mendekati Nadin, matanya menatap tajam ke arah wajah Nadin sebelum beralih menatap kertas kalkir yang dipenuhi coretan rapi di atas meja. Gilang mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang berat badannya dengan kedua tangan di tepi meja gambar. Matanya yang gelap membaca setiap detail perubahan struktural yang dibuat Nadin dengan sangat cepat.

Suasana di dalam ruang kerja itu terasa sangat hening dan tegang. Nadin meremas ujung kemejanya dengan gelisah. Dia merasa seperti seorang mahasiswa yang sedang menunggu vonis dari dosen penguji paling kejam di kampus.

"Kau memangkas penggunaan kaca hingga dua puluh persen di sisi utara," ucap Gilang, suaranya yang berat memecah keheningan. Pria itu menegakkan tubuhnya dan menoleh ke arah Nadin. "Tapi kau menambahkan struktur kisi-kisi logam. Apakah itu tidak akan membebani anggaran pondasi?"

"Tidak, Tuan," jawab Nadin cepat, insting arsiteknya mengambil alih rasa takutnya. "Logam yang saya sarankan adalah paduan aluminium ringan. Bebannya jauh lebih kecil daripada kaca ganda setebal tiga sentimeter. Selain itu, kisi-kisi ini akan menghemat biaya pendingin ruangan gedung hingga tiga puluh persen setiap bulannya dalam jangka panjang."

Gilang menatap Nadin lekat-lekat. Mata pria itu tidak berkedip. Ada kilau kebanggaan yang sangat gelap dan posesif di dalam sepasang mata hitam tersebut. Gilang mengangkat tangan kanannya dan menyentuh pipi Nadin. Ibu jari pria itu mengusap lembut kulit wajah Nadin yang terasa sedikit hangat.

"Kau melakukan pekerjaan yang sangat luar biasa, Nadin," puji Gilang dengan suara parau.

Pujian itu terdengar sederhana, namun efeknya bagi Nadin sangat mematikan. Hati Nadin berdesir aneh. Selama ini dia selalu diremehkan oleh atasan di firma lamanya karena dia seorang wanita muda. Mendapatkan pengakuan langsung dari seorang raksasa bisnis seperti Gilang Mahendra adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Dan Nadin sangat membenci dirinya sendiri karena merasa tersanjung oleh pujian iblis ini.

"Bersiaplah," perintah Gilang tiba-tiba, menarik tangannya dari wajah Nadin dan melangkah mundur. "Ganti bajumu dengan sesuatu yang lebih pantas. Kita pergi sekarang."

Nadin mengerutkan kening karena bingung. "Pergi ke mana? Ini baru jam satu siang. Jadwal saya mengunjungi rumah sakit..."

"Kita akan pergi ke rumah sakit bersama," potong Gilang dingin. Nada suaranya tidak menerima bantahan apa pun. "Aku ingin melihat secara langsung perkembangan investasi bernilai sepuluh miliar milikku."

Darah Nadin seolah membeku. Gilang tidak pernah peduli dengan kondisi Arya. Pria ini hanya peduli pada hasil akhirnya. Jika Gilang mendadak ingin pergi ke rumah sakit bersama Nadin, itu bukan karena simpati. Nadin segera teringat pada kejadian dengan Dokter Adrian beberapa hari yang lalu. Gilang pasti sedang merencanakan sesuatu untuk menegaskan dominasinya.

Dua puluh menit kemudian, Nadin sudah duduk di dalam mobil Maybach hitam yang melaju mulus membelah jalanan ibu kota. Nadin memakai sebuah gaun selutut berwarna biru tua yang tertutup namun memiliki potongan yang sangat pas di badan, memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan elegan. Gilang duduk di sebelahnya, sibuk memeriksa email di tabletnya seolah perjalanan ini hanyalah rutinitas biasa.

Setibanya di rumah sakit, kehadiran Gilang langsung menciptakan gelombang kepanikan dan rasa hormat yang luar biasa di kalangan staf. Direktur rumah sakit bahkan berlari menyambut mereka di lobi, namun Gilang mengabaikannya dan terus melangkah menuju lift khusus dengan Nadin berjalan di sisinya. Dua pengawal berbadan besar mengekor di belakang mereka.

Saat pintu lift terbuka di lantai sepuluh, Nadin merasa kakinya seberat timah. Dia berdoa dalam hati agar Dokter Adrian sedang tidak ada jadwal jaga hari ini. Namun, takdir sepertinya sedang ingin mempermainkan Nadin.

Begitu mereka berbelok di lorong menuju kamar VVIP 1001, Nadin melihat sosok Dokter Adrian baru saja keluar dari kamar tersebut sambil memegang papan rekam medis. Adrian sedang berbicara dengan seorang perawat.

Melihat kedatangan Nadin, senyum ramah otomatis mengembang di wajah dokter muda itu. Namun senyum itu seketika lenyap tak bersisa saat matanya menangkap sosok pria tinggi berjas hitam yang berjalan tepat di samping Nadin. Aura Gilang Mahendra terlalu mengintimidasi untuk diabaikan oleh siapa pun.

Gilang menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan Adrian. Nadin terpaksa ikut berhenti. Gilang menatap Adrian dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan yang sangat dingin, seolah dokter muda itu hanyalah serangga yang mengganggu pemandangannya.

"Anda pasti Dokter Adrian," ucap Gilang memecah keheningan yang mencekik. Suaranya terdengar sangat tenang, namun dipenuhi racun ancaman yang mematikan. "Saya Gilang Mahendra. Pemilik rumah sakit ini, dan orang yang membiayai seluruh fasilitas mewah yang sedang dinikmati oleh pasien di dalam kamar itu."

Adrian menelan ludah. Dia melirik sekilas ke arah Nadin yang hanya bisa menundukkan kepala. Dokter muda itu segera menyadari situasi yang sebenarnya. Pria di hadapannya inilah atasan yang dimaksud oleh Nadin. Dan melihat cara Gilang menatap Nadin, Adrian tahu bahwa hubungan mereka sama sekali bukan sekadar atasan dan asisten pribadi.

"Selamat siang, Tuan Mahendra," balas Adrian, berusaha menjaga nada suaranya tetap profesional meskipun wajahnya memucat. "Kondisi pasien Arya sangat stabil. Kami sedang menunggu hasil pencocokan donor dari bank organ internasional."

"Bagus," sahut Gilang pendek.

Tanpa diduga, Gilang mengangkat lengan kanannya dan melingkarkannya dengan posesif di pinggang Nadin. Pria itu menarik tubuh Nadin hingga menempel rapat pada sisi tubuhnya. Nadin tersentak kaget, namun dia tidak berani melawan sedikit pun. Cengkeraman jari-jari Gilang di pinggangnya sangat kuat, menembus kain gaunnya, memberikan peringatan fisik yang sangat jelas.

Gilang menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan bibirnya ke pelipis Nadin, lalu mengecup kulit Nadin di sana dengan gerakan yang sangat lambat dan intim. Mata hitam Gilang tidak pernah lepas menatap lurus ke arah mata Adrian saat dia melakukan hal tersebut.

Itu adalah sebuah deklarasi perang tanpa kata. Sebuah penandaan wilayah yang sangat brutal dan merendahkan di depan umum. Gilang sedang menunjukkan kepada Adrian bahwa Nadin adalah properti pribadinya, mainannya, dan tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh atau bahkan menatap wanita ini dengan tatapan simpati.

Adrian mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi tubuh. Rahangnya mengeras. Sebagai seorang pria, instingnya berteriak untuk meninju wajah arogan Gilang. Namun sebagai seorang dokter di rumah sakit milik pria ini, Adrian tahu bahwa satu kesalahan kecil akan menghancurkan karirnya dan mungkin saja mencelakai Nadin lebih jauh.

"Pastikan kau melakukan tugasmu dengan baik, Dokter," desis Gilang dengan nada suara yang kini terdengar lebih rendah. "Fokuslah pada pekerjaan medismu. Jangan pernah melewati batas untuk mencampuri urusan pribadi orang lain yang bukan menjadi hakmu. Karena aku sangat tidak suka jika ada orang asing yang mencoba mencari tahu tentang apa yang menjadi milikku."

Kata-kata itu diucapkan dengan sangat sopan, namun maknanya adalah sebuah ancaman pembunuhan karakter. Adrian hanya bisa mengangguk kaku, mengalah di bawah tekanan kekuasaan yang absolut.

"Saya mengerti, Tuan Mahendra. Permisi," ucap Adrian dengan suara tertahan. Dokter muda itu membalikkan badan dan berjalan menjauh dengan langkah cepat, tidak berani menoleh lagi ke arah Nadin.

Nadin memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa malu dan penghinaan yang luar biasa membakar dadanya. Gilang baru saja meruntuhkan sedikit sisa harga dirinya di depan satu-satunya orang yang bersikap baik padanya. Gilang telah memastikan bahwa Nadin benar-benar terisolasi dari dunia luar.

Gilang melepaskan rangkulannya di pinggang Nadin. Pria itu membuka pintu kamar VVIP seolah tidak terjadi apa-apa.

"Masuklah," perintah Gilang santai. "Kita punya waktu sepuluh menit untuk melihat adikmu sebelum aku harus kembali ke kantor untuk rapat dewan direksi."

Nadin melangkah masuk ke dalam kamar dengan kaki yang terasa gemetar. Dia berdiri di samping ranjang Arya, sementara Gilang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Kehadiran Gilang di dalam ruangan itu membuat udara terasa sangat tipis. Nadin mengusap tangan adiknya yang sedang tertidur pulas karena pengaruh obat penenang. Air mata menggenang di pelupuk matanya, namun dia menolaknya untuk jatuh.

Sepuluh menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Gilang memeriksa arloji mahalnya.

"Waktu habis. Ayo kembali," ucap Gilang.

Perjalanan pulang di dalam mobil terasa ribuan kali lebih menegangkan. Nadin duduk sejauh mungkin dari Gilang, merapatkan tubuhnya ke pintu mobil. Dia menatap ke luar jendela, menolak untuk melihat wajah pria di sebelahnya.

"Kau marah padaku, Nadin?" tanya Gilang memecah keheningan di dalam mobil. Suaranya terdengar geli, seolah kemarahan Nadin adalah sebuah hiburan yang menyenangkan baginya.

"Saya tidak berhak marah pada pemilik saya, Tuan Mahendra," balas Nadin dengan nada suara yang sedingin es. "Anda sudah membuktikan poin Anda. Anda menguasai hidup saya. Anda menakut-nakuti satu-satunya dokter yang merawat adik saya. Apa lagi yang Anda inginkan?"

Gilang menutup tabletnya dan meletakkannya di atas kursi. Pria itu bergeser mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga bahu mereka bersentuhan. Tangan besar Gilang meraih dagu Nadin, memaksa wanita itu menoleh dan menatapnya.

"Aku menginginkan kesadaran penuh darimu," bisik Gilang dengan tatapan yang sangat tajam dan gelap. "Dokter itu menatapmu seolah kau adalah wanita malang yang perlu diselamatkan. Aku sangat membenci tatapan itu. Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu dariku, Nadin. Bahkan Tuhan sekalipun tidak akan berani mencampuriku jika itu menyangkut dirimu."

Jari-jari Gilang mengusap bibir bawah Nadin dengan kasar.

"Sebagai hadiah karena kau telah bekerja dengan sangat baik menyelesaikan cetak biru itu pagi ini, aku akan memberimu ruang kerja itu secara permanen," lanjut Gilang, nada suaranya berubah menjadi lebih rendah dan provokatif. "Tapi sebagai hukuman karena kau masih membiarkan pria lain menatapmu, malam ini kau harus melayaniku di ruang kerja itu lagi. Dan kali ini, aku pastikan kau tidak akan bisa berjalan besok pagi."

Nadin menelan ludahnya yang terasa kering kerontang. Tubuhnya bergetar pelan, bukan hanya karena ketakutan, tetapi juga karena dia menyadari bahwa obsesi Gilang Mahendra padanya semakin lama semakin gila dan tidak terkendali. Rantai yang mengikatnya di sangkar emas ini tidak hanya terbuat dari uang, tetapi juga terbuat dari gairah kelam yang perlahan-lahan mulai menarik Nadin jatuh ke dalam dasar jurang yang sama dengan pria itu.

1
Ida Aja
lah mana lanjutannya
juwita
serba salah di posisi nadin. tp klo di nikahi gpp. ini mah hny di jadikan budak nafsu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!