Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.
Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.
Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan di Balik Papan Catur
Investigasi berjalan lebih cepat dari yang diperkirakan.
Seminggu setelah konferensi pers, tim auditor independen resmi tiba di kantor pusat. Mereka tidak membawa emosi, tidak membawa opini hanya daftar pertanyaan dan tumpukan dokumen yang harus diverifikasi.
Alina menyambut mereka sendiri di ruang rapat utama.
Ia mengenakan setelan abu-abu sederhana, rambutnya diikat rapi. Tidak ada perhiasan mencolok. Tidak ada gestur berlebihan. Hanya ketenangan yang sengaja ia pilih sebagai senjata.
“Kami siap membantu sepenuhnya,” katanya singkat.
Hari-hari berikutnya terasa seperti maraton tanpa garis akhir.
Dokumen proyek Vietnam dibedah. Email lama diperiksa. Kontrak-kontrak diperiksa ulang, bahkan yang dibuat sebelum Aurora resmi diakuisisi.
Arsen hampir tidak pernah pulang sebelum tengah malam.
“Aku merasa seperti sedang mengulang ujian yang sebenarnya sudah kita lulus,” gumamnya suatu malam, saat mereka duduk berdampingan di ruang kerja rumah.
Alina tidak menjawab. Ia masih membaca laporan internal yang baru saja dikirim tim hukum.
“Kalau ini bersih, mereka akan mencari celah lain,” lanjut Arsen pelan.
Alina akhirnya menatapnya.
“Ya.”
“Kau sudah menduganya?”
“Aku menduga mereka tidak akan berhenti di satu titik.”
Arsen menghela napas panjang. “Daniel benar. Ini bukan tentang proyek. Ini tentang tekanan.”
Alina mematikan tablet dan menyandarkan tubuhnya.
“Tekanan untuk membuat kita membuat kesalahan.”
“Dan kau?”
“Aku tidak berniat memberi mereka itu.”
Namun tekanan bukan hanya datang dari luar.
Dua direktur lama mulai menunjukkan sikap berbeda dalam rapat.
Pertanyaan-pertanyaan mereka lebih tajam. Nada bicara mereka lebih hati-hati terlalu hati-hati, seolah menjaga jarak.
Pada rapat dewan minggu itu, salah satu dari mereka, Bima, membuka suara.
“Kita perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap valuasi,” katanya. “Jika investigasi ini berlarut-larut, merger bisa dipertanyakan kembali.”
“Merger sudah final,” jawab Alina tenang.
“Secara hukum, ya. Tapi persepsi pasar berbeda.”
Arsen menatap Bima tanpa berkedip.
“Apakah Anda menyarankan kita membatalkan integrasi proyek?” tanyanya dingin.
Bima tersenyum samar. “Saya hanya menyarankan kehati-hatian.”
Alina memerhatikan pertukaran itu dengan saksama.
Retakan kecil.
Belum berbahaya.
Tapi cukup untuk diperhatikan.
Sore itu, Alina memanggil Daniel ke ruangannya.
Ia tidak lagi menjabat, tapi pengaruhnya masih terasa.
Daniel duduk dengan wajah serius setelah mendengar perkembangan terbaru.
“Aku bilang mereka tidak akan diam,” katanya pelan.
“Kau pikir Bima terlibat?” tanya Alina langsung.
Daniel tidak menjawab cepat.
“Bima ambisius,” katanya akhirnya. “Dan dia punya koneksi lama dengan salah satu anggota dewan Aurora yang kau keluarkan.”
Alina menyilangkan tangan.
“Jadi ini balas dendam kolektif?”
“Bisa jadi. Atau permainan kekuasaan baru.”
Alina menatap meja kayunya, berpikir.
Jika serangan ini bertujuan melemahkannya dari dalam, maka memecah konsentrasi dewan adalah langkah logis.
“Mereka ingin membuatku terlihat sebagai risiko,” gumamnya.
Daniel mengangguk pelan.
“Dan jika kepercayaan dewan goyah, mereka bisa memaksakan voting ulang untuk posisi CEO.”
Ruangan terasa lebih dingin.
Malamnya, Arsen menemukan Alina berdiri di balkon kamar mereka.
Angin malam menerbangkan beberapa helai rambutnya.
“Kau memikirkan sesuatu,” katanya.
“Jika dewan memaksakan voting ulang, aku harus siap.”
Arsen terdiam sejenak.
“Kau pikir mereka sejauh itu?”
“Kalau tujuannya menjatuhkanku, ya.”
Arsen melangkah mendekat.
“Kita masih punya mayoritas saham keluarga.”
“Mayoritas tipis,” jawab Alina. “Dan beberapa investor institusi bisa berubah jika mereka mencium risiko.”
Arsen menatap kota yang berkilau di bawah.
“Jadi ini bukan lagi soal proyek Vietnam.”
“Tidak pernah.”
Ia menoleh padanya.
“Ini soal siapa yang memegang papan catur.”
Arsen tersenyum samar. “Dan kau tidak suka kehilangan bidak.”
Alina menggeleng.
“Aku tidak suka dipaksa bermain dengan aturan yang tidak jelas.”
Keesokan paginya, laporan awal dari auditor keluar.
Tidak ada pelanggaran besar ditemukan.
Beberapa rekomendasi perbaikan administratif hal yang wajar dalam proyek lintas negara.
Secara hukum, posisi mereka kuat.
Namun berita itu tidak langsung menghapus kecurigaan publik.
Media tetap mengangkatnya dengan judul yang ambigu.
“Belum Ditemukan Pelanggaran Signifikan, Investigasi Masih Berlanjut.”
Kata “masih” menjadi sorotan.
Bima kembali berbicara di rapat siang itu.
“Walau hasil awal positif, ketidakpastian tetap ada.”
Alina menatapnya lurus.
“Ketidakpastian selalu ada dalam bisnis. Pertanyaannya, apakah kita memimpin atau membiarkannya memimpin kita?”
Beberapa anggota dewan mengangguk pelan.
Arsen menyandarkan punggungnya, membiarkan Alina mengambil kendali.
“Aku mengusulkan kita mempercepat peluncuran proyek energi domestik,” lanjutnya. “Alih-alih defensif, kita menunjukkan momentum.”
“Bukankah itu terlalu agresif di tengah investigasi?” tanya Bima lagi.
“Justru itu pesan kita,” jawab Alina. “Kita tidak berhenti.”
Ruang rapat kembali hening.
Retakan kecil tadi terasa sedikit melebar namun bukan pada dirinya.
Malam itu, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Salah satu investor institusi terbesar mengirim permintaan pertemuan tertutup.
Topiknya: “Evaluasi Kepemimpinan Strategis.”
Alina membaca email itu berulang kali.
Ini bukan kebetulan.
Arsen berdiri di belakangnya.
“Mereka mulai bergerak.”
Alina menarik napas dalam.
“Baik. Kita temui.”
Ia menutup laptopnya dengan tenang.
Namun jauh di dalam dadanya, ada denyut yang berbeda.
Bukan takut.
Lebih seperti kesadaran bahwa permainan kini memasuki babak baru.
Beberapa jam kemudian, saat mereka hendak tidur, Arsen memegang tangannya.
“Jika mereka memaksakan voting ulang… dan situasinya tidak menguntungkan…”
Alina menatapnya.
“Aku tidak akan lari,” katanya pelan.
Arsen mengangguk.
“Aku tahu.”
Ia menyentuh wajahnya lembut.
“Apa pun yang terjadi, ini bukan lagi tentang membuktikan siapa dirimu. Kau sudah melakukannya.”
Alina tersenyum tipis.
“Tapi aku belum selesai.”
Arsen tertawa kecil. “Itu yang membuatku kadang takut padamu.”
Alina mengangkat alis.
“Takut?”
“Karena kau tidak pernah setengah-setengah.”
Ia terdiam sesaat, lalu berbisik, “Dan karena aku tahu, jika perlu, kau bisa menghancurkan siapa pun yang menghalangi.”
Alina tidak langsung menjawab.
Ia tahu Arsen tidak menuduh.
Ia hanya mengingatkannya.
Bahwa kekuatan selalu punya harga.
Dan garis antara bertahan dan menyerang bisa kabur.
“Kalau mereka ingin perang,” katanya akhirnya pelan, “aku akan memilih medan yang kupahami.”
Arsen mematikan lampu kamar.
Di kegelapan, hanya suara napas mereka yang terdengar.
Di luar sana, papan catur mulai dipenuhi gerakan-gerakan baru.
Investigasi belum selesai.
Dewan mulai retak.
Investor mulai mempertimbangkan.
Dan di balik semua itu, seseorang tersenyum dalam bayangan, yakin bahwa tekanan perlahan akan meruntuhkan fondasi.
Namun satu hal yang belum mereka pahami—
Alina tidak dibesarkan untuk menyerah pada tekanan.
Ia dibesarkan untuk menciptakan tekanan.
Dan jika mereka ingin menguji ketahanannya
Maka babak berikutnya tidak lagi akan berjalan sesuai rencana mereka.
(BERSAMBUNG)