NovelToon NovelToon
Academy Of Fallen Marks

Academy Of Fallen Marks

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:218
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Simbol Penebusan dan Pertemuan Tak Terduga

Lucien memilih latihan fisik mandiri sebagai bentuk penebusan dosanya. Baginya, menyapu perpustakaan atau menyusun buku adalah pemborosan waktu yang bisa digunakan untuk mengasah kontrol energinya. Sepanjang sisa hari itu, ia berada di sudut lapangan latihan yang paling terisolasi, mengayunkan pedangnya ribuan kali hingga otot-ototnya menjerit. Namun, ada satu hal yang terus mengganggunya: simbol daun hijau yang melayang tenang di atas bahu kirinya. Cahaya zamrudnya yang redup seolah menjadi suar yang meneriakkan bahwa Sang Pewaris Vlad sedang dalam masa hukuman.

Malam harinya, saat ia menyeka keringat di asrama, Lucien baru teringat akan agenda rutin akademi. Besok adalah hari Pertemuan Konsolidasi Dua Akademi, sebuah tradisi mingguan di mana Dewan Kedisiplinan Crimson Crest dan Arcanova bertemu untuk membahas keamanan perbatasan dan koordinasi sihir. Biasanya, Lucien adalah siswa teladan yang selalu berdiri di samping Master Alaric sebagai representasi kekuatan Crimson Crest.

"Sial," gumam Lucien sembari menatap pantulan dirinya di cermin. "Dengan tanda ini, aku dilarang mengikuti delegasi resmi."

Peraturan akademi sangat ketat; siswa dengan simbol pelanggaran tidak diizinkan mewakili sekolah dalam acara formal apa pun. Namun, yang tidak ia duga adalah pertemuan itu akan dilaksanakan di lapangan utama Crimson Crest, tempat ia menjalankan hukuman latihannya.

Keesokan paginya, matahari naik dengan angkuh, menyinari lapangan luas yang kini dipenuhi dengan pengawalan resmi. Dari kejauhan, Lucien yang sedang melakukan rangkaian teknik pedang dasar melihat rombongan berjubah ungu mewah mendekat. Itu adalah delegasi dari Arcanova.

Di depan rombongan, berjalanlah Grand Mistress Eleanor, Dewan Kedisiplinan Arcanova. Wanita berusia 47 tahun itu tampak anggun dengan rambut yang disanggul rapi dan tatapan yang tajam namun teduh. Eleanor dikenal karena ketegasannya dalam menegakkan aturan, tetapi ia memiliki empati yang dalam terhadap beban mental para siswanya—sebuah kontras yang jelas jika dibandingkan dengan kemarahan buta Master Silas.

Namun, perhatian Lucien teralihkan oleh dua sosok yang berjalan di belakang Eleanor. Vivienne tampak berjalan dengan dagu terangkat dan langkah yang elegan, sementara Daefiel... pria itu tampak tidak bisa diam, matanya liar mencari sesuatu hingga ia menangkap sosok Lucien yang sedang berdiri di tengah lapangan dengan daun hijau di bahunya.

Seketika, seringai lebar muncul di wajah Daefiel. Tanpa mempedulikan protokol, ia memisahkan diri dari barisan dan berlari kecil menghampiri Lucien.

"Wah, wah! Lihat siapa yang kita temukan di sini!" seru Daefiel dengan nada provokatif yang sangat keras. Ia memutari Lucien, menatap simbol daun hijau itu dengan mata berbinar-binar penuh kemenangan. "Lucien Vlad yang agung, Sang Jenius berdarah dingin... ternyata tertangkap basah sedang menjadi 'anak nakal'? Apa kau lupa mencuci piring di asrama, hah?"

Vivienne yang menyusul di belakangnya hanya bisa menepuk dahinya sendiri, merasa malu dengan tingkah rekan setimnya. "Daefiel, jaga bicaramu. Kita sedang dalam kunjungan resmi," bisik Vivienne tajam, meski matanya sendiri menunjukkan rasa penasaran yang besar terhadap apa yang menimpa Lucien.

"Oh ayolah, Vivienne! Ini adalah pemandangan langka!" Daefiel tertawa, hampir saja ia menyentuh simbol daun itu sebelum sebuah suara dingin menginterupsi.

"Cukup, Daefiel."

Grand Mistress Eleanor sudah berdiri di dekat mereka. Ia menatap Daefiel dengan pandangan yang membuat pria berambut api itu langsung terdiam dan menegakkan punggungnya.

"Kau memalukan nama Arcanova dengan bertingkah seperti anak kecil di wilayah tetangga," ucap Eleanor tenang, namun ada tekanan sihir yang cukup kuat dalam suaranya. Ia kemudian beralih menatap Lucien. Matanya yang jeli menyadari kelelahan yang tersembunyi di balik wajah datar pemuda itu.

"Tuan Muda Vlad," sapa Eleanor dengan nada yang jauh lebih lembut. "Master Alaric memberitahuku tentang insiden kemarin. Jangan terlalu berkecil hati. Terkadang, daun hijau adalah cara alam mengingatkan kita untuk berhenti sejenak dan melihat sekeliling. Penebusanmu adalah tanda bahwa kau masih memiliki ruang untuk tumbuh."

Lucien menundukkan kepalanya dalam hormat. "Terima kasih atas nasihatnya, Grand Mistress."

Meskipun Daefiel masih terlihat ingin tertawa dan Vivienne tampak ingin menanyakan banyak hal, mereka terpaksa melanjutkan perjalanan menuju ruang pertemuan utama bersama Master Alaric yang baru saja keluar menyambut. Sebelum pergi, Vivienne sempat memberikan tatapan penuh arti kepada Lucien—sebuah tatapan yang seolah bertanya: Apakah "iblis" itu yang menyebabkan kau mendapatkan tanda ini?

Langkah kaki delegasi Arcanova bergema di atas koridor batu yang menuju ke aula pertemuan utama. Namun, Master Alaric tiba-tiba menghentikan langkahnya tepat di depan pintu besar berukir naga merah. Ia menoleh ke arah Grand Mistress Eleanor dengan senyum tipis yang penuh pertimbangan.

"Eleanor, pembahasan hari ini mengenai Kristalisasi Mana Perisai—teknik penciptaan kaca pelindung—memang secara teknis membutuhkan ruang yang luas untuk demonstrasi resonansi," ujar Alaric sembari mengelus janggut putihnya. "Idealnya, kita harus melakukannya di lapangan terbuka agar kita bisa menguji daya tahan kaca tersebut melawan serangan elemen tanpa merusak dinding akademi."

Eleanor mengangguk setuju. "Benar, Alaric. Teknik ini melibatkan pembekuan partikel mana menjadi struktur padat transparan yang menyerupai kaca. Tekanan energinya sangat tinggi. Jika dilakukan di dalam ruangan, risiko pantulan gelombang sihir bisa membahayakan perabotan atau bahkan struktur bangunan."

Mendengar itu, mata Daefiel langsung berbinar. Ia sudah membayangkan dirinya kembali ke lapangan, berdiri di tengah pusat perhatian sembari memberikan komentar-komentar pedas setiap kali Lucien mengayunkan pedangnya di kejauhan. Baginya, melihat sang "Pangeran Es" dari Crimson Crest berlatih dengan tanda hukuman di bahunya adalah hiburan terbaik tahun ini.

Namun, Master Alaric adalah pria yang sangat peka. Ia melirik ke arah lapangan, di mana Lucien masih berdiri tegak meski bahunya tampak sedikit tegang. Alaric tahu bahwa bagi seorang pemuda dengan harga diri setinggi Lucien, menjadi tontonan di saat sedang menjalani penebusan—terutama di hadapan rival dan teman sebaya dari akademi lain—adalah siksaan mental yang tidak perlu.

"Tetapi," lanjut Alaric dengan nada yang lebih tegas, "aku memutuskan agar kita tetap melakukan diskusi teori dan simulasi skala kecil di dalam aula ini terlebih dahulu. Aku tidak ingin fokus para siswa terpecah. Dan sebagai tuan rumah, aku ingin memberikan ketenangan bagi siswa yang sedang menjalani masa refleksi mandiri di luar sana."

Alaric memberikan tatapan peringatan yang halus kepada Daefiel, yang seketika membuat pemuda berambut api itu cemberut kecewa. Vivienne, di sisi lain, mengembuskan napas lega. Ia tahu Lucien butuh ruang untuk bergulat dengan emosinya sendiri tanpa gangguan dari ocehan Daefiel yang menyebalkan.

"Keputusan yang bijaksana, Alaric," puji Eleanor. "Empatimu terhadap siswa memang tidak pernah luntur. Mari kita mulai."

Di dalam aula yang tertutup, atmosfer berubah menjadi serius. Eleanor mulai memaparkan teknik Vitrum Custodia, sebuah sihir pertahanan tingkat lanjut yang mampu menciptakan kaca pelindung dengan struktur molekul mana yang sangat rapat.

"Kunci dari perisai ini bukan pada ketebalannya," jelas Eleanor sembari menciptakan sebuah piringan kaca transparan kecil di atas telapak tangannya. "Melainkan pada sudut kemiringan struktur mana saat menerima benturan. Jika kalian bisa mengatur frekuensi getaran mana di dalam kaca tersebut, serangan lawan justru akan terserap dan memperkuat dinding pelindung itu sendiri."

Vivienne memperhatikan dengan seksama, mencatat setiap detail tentang bagaimana memanipulasi cahaya di dalam kaca tersebut agar bisa membiaskan sihir ilusi.

Sementara itu, di luar lapangan yang sunyi, Lucien merasakan keheningan yang diciptakan Alaric untuknya. Ia menyadari bahwa aula pertemuan telah tertutup rapat, melindunginya dari tatapan-tatapan yang menghakimi.

Dengan napas yang lebih teratur, Lucien kembali mengangkat pedangnya. Tanpa gangguan, ia mulai menyelaraskan ritme napasnya dengan denyutan daun hijau di bahunya. Ia mulai memahami bahwa perisai yang sesungguhnya bukan hanya yang terbuat dari kaca mana di dalam aula itu, melainkan kendali diri yang ia bangun di bawah panas matahari hari ini.

1
gempi
h
Sean Sensei
/Shame/ Vivienne baru saja kena 'mental' dua kali: pertama karena tanda misterius di tulang selangkangannya, kedua karena disindir soal nilai ujian sama Daefiel. Suka banget sama dinamika karakternya, Daefiel kelihatan tipe cowok yang menyebalkan tapi bikin nagih. Semangat nulisnya!
REY ASMODEUS
aku suka 💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!