Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
Keesokan harinya, langit California yang terik seolah mendukung gejolak di dada Luna. Ia tidak mengenakan gaun pastel hari ini. Ia memilih celana bahan yang pas di tubuh dan kemeja sutra putih yang sedikit lebih santai, meski tetap terlihat mahal. Tekadnya sudah bulat. Masa bodoh dengan citra keluarga Storm.
Di parkiran Blok C, pemandangan itu kembali menyapa: motor-motor besar yang berjajar rapi seperti monster besi. Arlo sedang duduk di atas kap jipnya, tertawa lebar sambil melempar bola kasti ke arah Ben, sementara Clark bersandar tenang di pilar beton, menyesap kopi hitamnya.
Dan di tengah-tengah mereka, Zayn duduk di atas motor hitamnya. Ia mengenakan jaket kulit tipis dengan lengan yang digulung, memperlihatkan pola hitam rumit yang melilit kulit putihnya, tato yang masih menjadi misteri bagi Luna.
Langkah kaki Luna yang biasanya anggun kini terdengar tegas saat membelah kerumunan mahasiswa. Sepatu hak tingginya berbunyi tuk, tuk, tuk di atas aspal, membuat Arlo dan Ben menghentikan tawa mereka.
"Zayn... Boleh aku bicara?" suara Luna memecah keheningan yang mendadak canggung.
Arlo tersedak ludahnya sendiri, matanya membelalak. "Wah, wah... Tuan Putri benar-benar turun dari menaranya, ya?"
Ben dan Clark saling lirik, terkejut melihat keberanian gadis yang biasanya selalu dikawal ketat ini. Namun, Zayn tetap tidak bergeming. Wajahnya sedingin batu pahat. Ia hanya menatap Luna melalui sela-sela rambut hitamnya yang berantakan, lalu tanpa sepatah kata pun, ia berdiri.
Zayn melangkah pergi menuju area taman yang lebih sepi di belakang gedung olahraga. Tanpa perlu diperintah, Luna mengikuti langkah lebarnya dari belakang.
Zayn berhenti mendadak di bawah bayangan pohon ek besar. Ia berbalik, memasukkan kedua tangannya ke saku jaket, dan menatap Luna dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Zayn... Aku... Aku apa boleh aku..." Luna mendadak gugup. Keberaniannya yang tadi menggebu seolah menguap saat ia harus berhadapan langsung dengan aura pria ini.
Zayn mengernyit, rahangnya mengeras. "Ada apa, Nona?"
Panggilan itu lagi. Nona. Kata itu seperti tamparan bagi Luna.
Luna menarik napas dalam, ia mendongak. Perbedaan tinggi badan mereka yang mencolok, Zayn dengan tinggi 188 cm dan Luna yang hanya 160 cm membuat Luna harus benar-benar menengadah untuk bisa mengunci mata kelabu itu. Di hadapan Zayn, Luna merasa sangat mungil, namun ia menolak untuk terlihat lemah.
"Apa benar kau sudah melupakanku, Zayn?" tanya Luna, suaranya bergetar namun tajam. "Apa sekarang mengenalku saja kau tidak bisa? Sampai kau harus memanggilku dengan sebutan kaku seperti itu di depan teman-temanmu?"
Zayn hanya diam, wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun, namun otot di lehernya tampak menegang.
"Kamu yang memutuskan ku, Zayn! Jangan lupa itu!" Luna sedikit berteriak, air mata yang ia tahan sejak semalam mulai mendesak keluar. "Kau yang pergi, kau yang menghilang, dan sekarang kau kembali seolah aku ini orang asing yang tidak sengaja menabrakmu di jalan. Tiga tahun kita bersama... apa itu tidak ada artinya lagi?"
Zayn melangkah maju satu langkah, memperpendek jarak di antara mereka hingga Luna bisa mencium aroma familiar dari parfum maskulin dan aroma tembakau tipis dari tubuh Zayn. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Luna, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
"Aku memutuskanmu karena kau lebih memilih menjadi boneka ayahmu daripada menjadi milikku, Luna," bisik Zayn, suaranya rendah dan penuh luka yang disamarkan. "Kau yang membuatku tidak punya pilihan selain pergi. Dan sekarang kau bertanya apa aku melupakanmu?"
Zayn menarik diri, menatap Luna dengan sorot mata yang tiba-tiba berkilat marah. "Mengenalmu hanya akan membuatku ingat betapa bodohnya aku dulu. Jadi, ya... bagiku, kau hanyalah Nona Storm yang manis dan membosankan. Itu yang kau inginkan, kan? Menjadi sempurna?"
Zayn berbalik, hendak pergi, namun pandangan Luna tertuju pada tangan Zayn yang mengepal kuat. Di sela-sela jahitan jaketnya, Luna melihat kilatan tinta itu lagi. Sesuatu di dalam dirinya mendesak untuk menarik tangan itu dan melihat rahasia apa yang disembunyikan Zayn di balik tato abstrak tersebut.
"Zayn, tunggu!"
🌷🌷🌷🌷🌷🌷