Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Hukuman untuk Nora
Semua mata tertuju pada Nora. Gadis itu berdiri mematung dengan wajah yang kian memucat. Bibirnya bergetar, namun tak ada satu kata pun yang keluar. Keheningan itu bagi orang-orang di sana adalah sebuah pengakuan dosa. Mereka menjadi semakin yakin, Nora adalah dalang di balik semua kekacauan ini.
Mrs Kartein bisa melihat ada emosi ketidakpercayaan berubah menjadi kemarahan di mata Nora saat melihat bukti kejahatannya disodorkan. Mrs Kartein yang sejak awal sudah tersulut emosi, menjadi semakin marah saat melihat Nora tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan ataupun mengucapkan permintaan maaf.
"Anak ini... Apa dia benar-benar ingin menghancurkan Sierra sekaligus Eugene?! Dia tampak tidak menyesal sama sekali melainkan seperti marah karena rencananya gagal! Padahal wajahnya tampak begitu polos tapi di hatinya siapa yang tahu sebusuk apa... Tapi aku tidak akan membiarkan dia begitu saja setelah berani menargetkan Eugene!", batin Mrs Kartein.
Sebenarnya, dugaan Kelly tidak salah. Nora memang sedang marah besar. Di balik kepalanya yang tertunduk, ia merutuki nasibnya. Rencananya untuk menjatuhkan Sierra gagal. Sedangkan untuk Eugene sebenarnya Nora hanya ingin memberinya pelajaran karena selalu dingin padanya tapi selalu mengikuti Sierra seperti anak anjing. Alih-alih melihat Sierra didepak dari sekolah, justru perbuatannya sendiri yang kini diperlihatkan di publik. Citra "anak baik" dan "siswi teladan" yang ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun kini menjadi hancur.
"Kenapa kau diam saja?! Ini benar kerjaanmu kan?! Anak sialan!! Kau pasti berniat menjatuhkan Sierra dan Eugene agar kau yang hanya berada di peringkat lima, bisa mengamankan kursi di olimpiade matematika, kan?! Aku tidak peduli dengan ambisimu, tapi beraninya kau menyentuh anakku!!! Aku akan memberimu pelajaran!!", teriak Mrs Kartein.
Plak! Plak!
Suara tamparan keras kembali menggema di ruangan itu. Kepala Nora terlempar ke samping.
"Kau sepertinya tidak merasa bersalah sama sekali, hah?!" teriak Kelly dengan suara melengking. "Kau bahkan tidak meminta maaf! Dasar jalang kecil! Kalau orang tuamu tidak bisa mendidikmu, aku yang akan mendidikmu!"
Tepat saat itu, pintu ruang kepala sekolah terbuka dengan kasar. Samantha masuk dengan napas memburu. Matanya liar mencari keberadaan Sierra, siap untuk menumpahkan amarahnya pada anak itu. Namun, pemandangan yang menyambutnya justru di luar ekspektasi.
Bukan Sierra yang ia temukan, melainkan Nora, yang sedang memegangi pipi yang memerah akibat tamparan seorang wanita asing. Tanpa berpikir panjang, Samantha berlari maju dan mendorong Mrs Kartein hingga wanita itu mundur beberapa langkah.
"Apa yang terjadi di sini?!" teriak Samantha histeris. "Kenapa Anda memukul anak saya?! Siapa Anda?! Berani-beraninya menampar Nora!"
Kelly hanya memutar matanya malas, tidak merasa terintimidasi sedikit pun oleh kehadiran Samantha. Ia justru menatap Samantha dengan pandangan meremehkan.
Samantha segera beralih pada putrinya, memegang bahu Nora dengan cemas. "Nora?! Apa yang sebenarnya terjadi di sini?! Di mana Sierra?!"
Mrs Kartein menyambar ucapan itu dengan nada sinis. "Oh, apa Anda Mrs. Moore? Orang tua dari anak ini? Pendidikan macam apa yang Anda berikan di rumah?! Beraninya dia berusaha mencemarkan nama baik orang lain dan merusak masa depan orang lain! Masih kecil sudah berani menyebarkan fitnah! Membuat foto palsu dan menyebarkannya, membuat korban dirundung di sekolah, ini sudah perbuatan kriminal!"
Samantha tertegun. Kepalanya berdenyut mendengar tuduhan bertubi-tubi itu. Ia menatap Nora, meminta penjelasan, namun Nora hanya bisa menangis sesenggukan dengan kepala tetap menunduk. Samantha memang tidak mengenal siapa Kelly Kartein, tetapi matanya menangkap sosok Eugene yang berdiri tak jauh dari sana. Ia mengenali wajah itu dari foto yang sempat dikirimkan Nora melalui pesan singkat beberapa waktu lalu.
Sebuah kesimpulan muncul di benak Samantha, "Wanita galak ini pastilah ibu Eugene, Kelly Kartein. Aku dengar dia berasal dari keluarga mafia. Tapi mengapa dia bisa semarah ini pada Nora? Bukankah seharusnya target kemarahannya adalah Sierra?"
"Apa Anda Mrs. Kartein?" tanya Samantha mencoba mengatur napas. "Kenapa Anda menampar Nora? Apa Anda tidak sadar telah melampiaskan kemarahan pada orang yang salah? Bukankah seharusnya Sierra yang bertanggung jawab? Saya akan memastikan Sierra minta maaf dan menerima hukuman."
Mr. Jonas, sang Kepala Sekolah, segera menengahi sebelum perdebatan fisik kembali terjadi. Bersama Mr. Lawson dan Mrs. Lauren, mereka berusaha menenangkan keadaan dan meminta semua pihak untuk duduk.
Dengan nada berat, Mr. Jonas mulai menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya kepada Samantha. Ia memaparkan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Noralah yang merekayasa foto dan menyebarkan fitnah tersebut di lingkungan sekolah. Dunia Samantha seolah runtuh saat itu juga. Mr. Jonas menegaskan bahwa sekolah akan memberikan hukuman berat dan menuntut Nora untuk segera meminta maaf kepada pihak-pihak yang dirugikan, yaitu Eugene dan Sierra.
"Apa?? Tidak mungkin!!" bantah Samantha dengan suara bergetar. "Tidak mungkin Nora melakukan hal seperti itu! Dia anak yang baik dan tidak pernah membuat masalah! Pasti ada kesalahpahaman!"
Mrs Kartein tertawa mengejek. "Kesalahpahaman?! Buktinya sudah terpampang nyata di depan mata! Anda masih saja tidak percaya? Apa Anda buta atau memang sengaja menutup mata?!"
"Bisa saja kan bukti ini juga dipalsukan?!" balas Samantha membela diri meski suaranya mulai melemah. "Apa salahnya jika aku meragukannya? Saya lebih mengenal putri saya daripada Anda!"
"Oh ya... Dari yang saya lihat anda sama sekali tidak mengenal anak-anak Anda. Kenapa anda langsung berkesimpulan Sierra yang bersalah dan tidak meragukan kebenaran fotonya? Tapi giliran Nora, anda membela mati-matian walau bukti sudah ada. Orang tua macam apa anda?!", ucap Mrs Kartein.
Samantha terus berdebat dengan Kelly dan tidak mau mengakui kesalahan Nora. Samantha selalu percaya Sierra adalah anak pembuat onar sedangkan Nora adalah anak yang bisa dibanggakan dan selalu memenuhi ekspektasinya.
"Sudah cukup semuanya!" bentak Mr. Jonas sambil memukul meja. "Semuanya sudah jelas. Bukti ini tidak bisa berbohong. Nora harus meminta maaf pada Sierra dan Eugene. Ia juga harus mengunggah pernyataan maaf secara resmi di forum sekolah. Setelah ini, saya akan berdiskusi dengan dewan guru mengenai hukuman apa yang akan dijatuhkan pada Nora."
Samantha tampak pucat. "Bukankah permintaan maaf saja sudah cukup? Kenapa Nora masih harus menerima hukuman? Lagipula tidak ada yang dirugikan. Nama Sierra dan Eugene sudah dibersihkan."
Kelly berdiri dari kursinya, menatap Samantha dengan pandangan tajam yang mengancam. "Anda pikir Anda siapa berani mengatur soal ini? Keluarga Moore bukan apa-apa di mata keluarga Kartein! Dan kami bersikeras Nora harus dihukum! Perbuatan anak Anda bisa saja mencoreng nama baik keluarga kami! Nora harus dikeluarkan dari sekolah supaya tidak memberikan pengaruh buruk pada siswa lain!"
"Apa?! Dikeluarkan??" Samantha hampir jatuh dari kursinya. "Bukankah itu terlalu berat? Nora sudah di semester akhir dan sebentar lagi lulus... Jika sampai dikeluarkan sekarang, bagaimana dengan masa depannya?!"
"Itu bukan urusanku!" sahut Kelly dingin. "Seharusnya Anda mendidik anak itu dengan benar jika tidak mau mendapatkan masalah seperti ini!"
Putus asa, Samantha menoleh pada putrinya. Ia menyadari bahwa melawan Kelly Kartein hanya akan memperburuk situasi. "Nora! Minta maaflah sekarang juga pada Eugene! Buat juga postingan permintaan maaf untuk Eugene dan Sierra! Jika kau sampai dikeluarkan dari sekolah, tidak akan ada sekolah lain yang mau menerimamu dengan catatan buruk seperti ini."
Nora mengangguk lemah di tengah isak tangisnya. Pipinya masih terasa panas dan berdenyut nyeri. Ia membungkukkan badannya dalam-dalam di hadapan Eugene. "Maafkan aku, Eugene..." ucapnya pelan.
Saat menunduk, Nora berusaha sekuat tenaga menyembunyikan kilat amarah di matanya.
Nora juga berjanji akan meminta maaf pada Sierra nanti di kelas. Meskipun hatinya dipenuhi kebencian dan rasa tidak ikhlas, ia tidak punya pilihan. Tatapan tajam Kelly Kartein seolah siap menerkamnya kapan saja jika ia membuat satu kesalahan lagi. Ia tahu betul Kelly bukan wanita sembarangan, jelas Kelly punya kemampuan bela diri. Tamparannya sangat keras hingga telinga Nora masih berdengung. Pipinya juga masih terasa panas dan perih.
Kelly tetap mendesak agar Nora dijatuhi hukuman seberat mungkin. Ia bahkan mengancam akan membawa kasus ini ke ranah kepolisian jika sekolah bersikap lunak. Mendengar kata "polisi", pihak sekolah dan Samantha langsung memohon dengan sangat. Mr. Jonas memikirkan reputasi sekolah yang akan hancur jika ada kasus hukum, sementara Samantha memikirkan nasib Moore Company yang saat ini sedang goyah. Skandal publik hanya akan menghancurkan bisnis keluarga mereka.
Setelah negosiasi yang alot, pihak sekolah akhirnya mengambil keputusan. Nora dijatuhi sanksi skors selama dua minggu. Selama masa skors tersebut, ia diwajibkan menulis surat penyesalan dengan tulisan tangan dan menggandakannya secara manual sebanyak 500 lembar.
Sekolah memilih untuk tidak mengeluarkan Nora karena mempertimbangkan nilai akademisnya yang selama ini baik. Mereka menganggap tindakan Nora kali ini hanyalah sebuah "kekhilafan" sesaat dari seorang remaja yang ambisius. Samantha terus merunduk dan memohon, berjanji bahwa Nora tidak akan pernah mengulangi perbuatannya lagi. Ia menyenggol lengan Nora agar putrinya itu bereaksi.
Nora segera memasang wajah paling memelas yang ia bisa. Dengan suara serak, ia berjanji akan berubah dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.
Namun, drama di ruang kepala sekolah itu tidak berakhir begitu saja bagi Kelly. Saat ia melangkah keluar ruangan, rasa tidak puas masih mengganjal di hatinya. Baginya, skors dua minggu dan menulis surat adalah hukuman yang terlalu ringan untuk seseorang yang mencoba menghancurkan reputasi putranya.
Sambil berjalan menuju mobilnya, Kelly merogoh ponsel dari tas mewahnya. Ia mencari sebuah nama di daftar kontaknya, seorang saudara sepupu yang terbiasa menangani "urusan kotor" keluarga Kartein.
"Hei," ucap Kelly saat sambungan telepon terhubung. "Aku punya tugas kecil untukmu. Ada seorang gadis kecil bernama Nora Moore yang butuh sedikit pelajaran."
Kelly menjelaskan secara singkat apa yang terjadi pada sepupunya itu. Senyum tipis dan dingin tersungging di bibir Kelly saat ia menutup telepon.