Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Alya menerima tawaran menjadi istri kontrak Bima, CEO muda paling berpengaruh di kota itu. Pernikahan mereka hanya berlangsung satu tahun — tanpa cinta, tanpa perasaan, tanpa masa depan.
Namun tinggal serumah dengan pria sedingin es yang diam-diam menyimpan luka masa lalu membuat batas antara kontrak dan kenyataan perlahan memudar. Ketika hati mulai terlibat, fitnah dan pengkhianatan justru menghancurkan kepercayaan mereka.
Saat kontrak berakhir, Alya pergi membawa rahasia yang tak pernah Bima duga.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO muda harus belajar bahwa kehilangan jauh lebih menyakitkan daripada mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Status Baru
Pagi pertama Alya sebagai Nyonya Wijaya dimulai lebih cepat dari biasanya.
Bukan karena alarm.
Melainkan karena kesadaran.
Langit di luar jendela kamar masih berwarna abu kebiruan ketika matanya terbuka. Beberapa detik ia hanya berbaring diam, menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan lampu kristal minimalis menggantung di tengahnya.
Ini bukan kamar kosnya.
Bukan rumah kecilnya.
Ini kamar utama rumah keluarga Wijaya.
Ia memiringkan wajahnya sedikit.
Tempat tidur di sisi kanan kosong.
Rapi.
Bima sudah bangun.
Alya duduk perlahan. Gaun tidur satin yang semalam disiapkan asisten rumah tangga terasa asing di kulitnya. Segalanya terasa terlalu halus. Terlalu mewah.
Namun tidak ada waktu untuk beradaptasi secara emosional.
Ia kini punya peran.
Dan peran itu tidak bisa dijalankan dengan wajah bingung.
Setelah mandi dan mengenakan salah satu dress kerja yang sudah tersedia di lemari, Alya turun ke lantai bawah. Tumitnya menyentuh anak tangga marmer dengan langkah hati-hati, menjaga postur, menjaga ekspresi.
Di ruang makan, Bima sudah duduk.
Setelan abu-abu gelap. Rambut tertata rapi. Tablet di tangan kirinya. Kopi hitam di sisi kanan.
Seolah semalam bukan malam pertama pernikahan mereka.
Seolah hidupnya tidak berubah sama sekali.
Ia mengangkat pandangan ketika mendengar langkah Alya.
“Pagi.”
Nada suaranya tenang.
“Pagi,” jawab Alya.
Asisten rumah tangga langsung menarik kursi untuknya. Sarapan sudah tertata rapi di meja panjang itu.
Hening beberapa detik.
Bukan hening canggung.
Lebih seperti dua profesional yang sedang bersiap menghadapi hari kerja.
“Aku akan ke kantor seperti biasa,” ucap Bima. “Siang ini akan ada berita tentang pernikahan kita di beberapa media bisnis.”
Alya mengangguk. “Apa ada yang perlu saya lakukan?”
“Kamu ikut ke kantor.”
Jawaban itu membuatnya sedikit terdiam.
“Ikut?”
“Mulai hari ini, kamu bukan lagi staf biasa. Posisi lamamu sudah saya alihkan. Secara resmi kamu akan diperkenalkan sebagai anggota dewan kehormatan perusahaan.”
Alya menatapnya.
“Itu tidak ada di kontrak.”
“Ada di bagian tambahan yang kamu baca semalam sebelum tanda tangan final.”
Alya mengingatnya.
Tambahan klausul tentang penyesuaian peran publik.
Ia memang membaca, tapi tidak menyangka akan secepat ini.
“Aku tidak ingin istriku terlihat seperti pegawai yang menikah karena uang,” lanjut Bima datar. “Citra itu penting.”
Bukan tentang keinginannya.
Tentang citra.
Tentu saja.
“Saya mengerti.”
Bima menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.
“Gunakan panggilan yang lebih personal di luar rumah.”
Alya memahami maksudnya.
“Baik… Bima.”
Tidak ada reaksi berlebihan dari pria itu. Hanya anggukan kecil.
Setelah sarapan selesai, mobil membawa mereka menuju kantor pusat Wijaya Group. Kali ini berbeda.
Biasanya Alya masuk melalui pintu samping bersama karyawan lain.
Hari ini mobil berhenti tepat di depan lobi utama.
Karpet kecil sudah tergelar.
Beberapa staf berdiri rapi.
Pintu mobil dibuka.
Bima turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan.
Alya menyambutnya tanpa ragu.
Kamera media sudah menunggu.
Kilatan cahaya kembali menyambut mereka.
Tangannya berada di lengan Bima, posisi yang terlihat natural namun elegan.
Ia bisa merasakan tatapan karyawan yang mengenalnya.
Bisik-bisik halus terdengar.
Pegawai biasa.
Menjadi Nyonya Wijaya dalam semalam.
Spekulasi pasti bermunculan.
Namun wajah Alya tetap tenang.
Ia tidak akan membiarkan dirinya terlihat kecil.
Di ruang rapat utama, Bima memperkenalkannya secara resmi kepada jajaran direksi.
“Istri saya, Alya Wijaya.”
Bukan lagi Alya Pratama.
Namanya berubah.
Statusnya berubah.
Beberapa direktur senior menatapnya dengan ekspresi sulit dibaca. Ada yang sopan. Ada yang menilai.
Alya berdiri dengan postur tegak.
“Saya berharap bisa belajar dan memberikan kontribusi terbaik untuk perusahaan,” ucapnya jelas.
Tidak berlebihan.
Tidak merendah.
Bima memperhatikannya tanpa komentar.
Rapat berlangsung hampir dua jam. Alya duduk di sisi kanan Bima. Ia mendengarkan. Mencatat. Mengamati pola komunikasi.
Dunia ini berbeda dari meja administrasi tempatnya dulu bekerja.
Di sini, keputusan bernilai miliaran diputuskan dalam hitungan menit.
Ketika rapat selesai, sebagian direktur mendekatinya secara personal.
Ucapan selamat.
Basa-basi.
Pertanyaan tersirat tentang latar belakangnya.
Alya menjawab seperlunya.
Profesional.
Tidak defensif.
Saat ruangan mulai kosong, satu pria paruh baya mendekat.
“Cepat sekali perubahan hidup Anda, Bu Alya.”
Nada suaranya halus, tapi mengandung arti.
Alya tersenyum tipis.
“Perubahan selalu datang ketika kita siap menerimanya, Pak.”
Jawaban itu cukup untuk membuat pria itu terdiam.
Bima yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakangnya menangkap interaksi itu.
Ketika mereka kembali ke ruangannya, pintu tertutup rapat.
“Kamu tidak terlihat gugup,” ucapnya.
“Saya memang gugup,” jawab Alya jujur. “Tapi tidak ada gunanya menunjukkannya.”
Tatapan Bima sedikit berubah.
Bukan lembut.
Tapi… mengakui.
“Kamu belajar cepat.”
“Itu satu-satunya cara untuk bertahan.”
Hening sesaat.
Bima berjalan ke balik meja kerjanya.
“Minggu depan ada gala tahunan perusahaan. Investor luar negeri hadir. Kamu akan berdiri di sampingku sepanjang acara.”
“Saya akan mempersiapkan diri.”
“Kita mulai pelatihan etiket besok.”
Alya mengangguk.
Hari pertamanya sebagai Nyonya Wijaya belum selesai.
Sepanjang siang ia berada di ruang kerja khusus yang kini menjadi kantornya. Meja baru. Nameplate baru.
Alya Wijaya.
Ia menatap nameplate itu cukup lama.
Bukan rasa bangga yang muncul.
Melainkan tanggung jawab.
Ia tidak ingin menjadi sekadar pajangan.
Jika ia sudah masuk ke dunia ini, maka ia akan memahami cara kerjanya.
Menjelang sore, berita online tentang pernikahan mereka mulai menyebar. Foto-foto pernikahan terpampang di berbagai portal bisnis.
Judul besar.
“CEO Muda Wijaya Group Resmi Menikah.”
Nama Alya disebut berulang kali.
Beberapa komentar publik muncul.
Ada yang memuji kecantikannya.
Ada yang meragukan latar belakangnya.
Ia membaca sekilas, lalu menutup layar.
Ia tidak boleh terpengaruh opini luar.
Ketika matahari hampir tenggelam, mereka kembali ke rumah utama.
Hari terasa panjang.
Di ruang keluarga, Alya melepas sepatu heels-nya pelan. Kakinya sedikit pegal, tapi wajahnya tetap terjaga.
Bima berdiri di dekat jendela.
“Kamu tidak mengeluh,” katanya tiba-tiba.
“Itu bukan sifat saya.”
“Banyak orang akan kewalahan di hari pertama.”
Alya menatapnya.
“Saya sudah terbiasa menghadapi tekanan.”
Bima berjalan mendekat.
Tidak terlalu dekat.
Tapi cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa lebih personal.
“Kamu sadar, ini baru permulaan?”
“Saya sadar.”
“Gala minggu depan akan jauh lebih berat.”
Alya tidak mundur dari tatapannya.
“Saya tidak menikah untuk mundur di hari kelima.”
Kalimat itu membuat udara di antara mereka berubah tipis.
Bukan romantis.
Tapi penuh pengakuan.
Untuk pertama kalinya sejak kontrak itu ditandatangani, ada rasa setara yang muncul.
Bukan atasan dan bawahan.
Bukan CEO dan pegawai.
Melainkan dua orang yang sama-sama memegang kendali atas pilihan hidupnya.
Malam itu mereka makan malam tanpa banyak percakapan. Namun bukan lagi hening yang dingin.
Lebih seperti dua orang yang mulai memahami ritme masing-masing.
Sebelum masuk kamar, Bima berhenti sejenak.
“Besok jam sembilan pagi. Pelatih etiket akan datang.”
“Baik.”
Ia hampir masuk lebih dulu, lalu berhenti.
“Alya.”
Ia menoleh.
“Terima kasih sudah tidak mempermalukan namaku hari ini.”
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi Bima, itu bukan hal kecil.
Alya menjawab tenang.
“Saya juga tidak ingin mempermalukan nama saya sendiri.”
Bima menatapnya beberapa detik.
Lalu mengangguk.
Malam kembali turun.
Di kamar yang kini terasa sedikit kurang asing, Alya berdiri di depan cermin besar.
Ia melihat dirinya.
Masih dirinya.
Namun dengan lapisan tanggung jawab baru.
Hari pertamanya sebagai Nyonya Wijaya telah ia lalui tanpa celah.
Tanpa kesalahan.
Tanpa drama.
Ia menyentuh cincin di jarinya.
Bukan simbol cinta.
Tapi simbol keputusan.
Besok ia akan mulai belajar berdiri di dunia yang lebih tinggi.
Bukan sebagai tamu.
Melainkan sebagai bagian dari permainan itu sendiri.
Dan kali ini—
ia tidak akan hanya mengikuti alur.
Ia akan memastikan dirinya pantas berada di samping Bima Wijaya.