Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Tanda Tangan di Atas Kertas
Aku menelepon Revano pukul empat lewat dua puluh menit.
Bukan karena aku sudah memutuskan sejak siang — aku sudah memutuskan sejak siang, tapi ada satu hal kecil yang ingin aku selesaikan dulu sebelum mengangkat telepon itu. Aku pergi ke minimarket di dekat kosan, membeli sebotol air mineral dan satu bungkus cokelat batang yang harganya tidak masuk akal untuk ukurannya, lalu duduk di bangku plastik depan minimarket sambil menonton orang-orang pulang kerja yang wajahnya menyimpan versi mereka sendiri dari hari yang panjang.
Ada sesuatu yang menenangkan dari pemandangan itu. Semua orang membawa sesuatu — tas, kantong belanjaan, beban yang tidak terlihat tapi ada di cara mereka berjalan. Semua orang punya situasinya masing-masing yang dari luar tidak kelihatan sepenuhnya.
Dan aku akan menambahkan satu lagi ke dalam daftarku.
Aku membuka cokelatnya, makan dua kotak kecil, lalu menelepon.
Dia mengangkat di nada pertama.
"Aku mau bicara soal beberapa hal sebelum jawaban finalku," kataku langsung.
"Aku mendengarkan."
"Syarat tambahan. Di luar yang sudah ada di kontrak."
Jeda singkat. "Lanjutkan."
Aku sudah memikirkan ini sejak tadi siang — duduk di kasur kamar kos dengan notes terbuka dan pena di tangan, menuliskan poin-poin yang terasa penting bukan sebagai tuntutan, tapi sebagai garis yang perlu ada supaya aku bisa berjalan di dalamnya tanpa kehilangan diri sendiri.
"Pertama," kataku, "aku tidak mau diperlakukan seperti properti atau aksesori. Di depan publik kita akan melakukan apa yang perlu dilakukan, tapi di luar itu aku ingin diperlakukan seperti orang dewasa yang punya akal dan pendapat sendiri."
"Sudah implisit dalam pasal empat koma empat."
"Aku tahu sudah implisit. Aku minta itu dikatakan eksplisit."
Satu detik. "Setuju."
"Kedua — kalau ada situasi di mana kamu perlu aku tampil atau hadir di suatu acara yang tidak ada di jadwal yang sudah disepakati, aku ingin pemberitahuan yang manusiawi. Bukan sejam sebelumnya, bukan tiba-tiba. Minimal dua puluh empat jam."
"Kontrak sudah menyebutkan empat puluh delapan jam."
"Aku tahu. Tapi aku minta itu dijaga, bukan hanya tertulis."
"Setuju."
Aku menarik napas. "Ketiga—" ini yang paling lama aku formulasikan sejak tadi siang, "—aku tidak mau kamu berbohong kepadaku tentang hal-hal yang berdampak langsung ke posisiku. Bukan semua informasi harus dibagi, aku mengerti itu — kamu sudah bilang tadi dan itu wajar. Tapi kalau ada sesuatu yang berubah, ada ancaman baru, ada situasi yang perlu aku tahu supaya aku tidak salah langkah — aku minta diberitahu."
Hening yang sedikit lebih panjang dari dua sebelumnya.
"Itu tidak selalu mudah," katanya akhirnya. Bukan penolakan — lebih seperti pengakuan jujur atas keterbatasan.
"Aku tidak bilang mudah. Aku bilang aku minta itu."
Hening lagi. Lalu: "Setuju. Dalam batas yang sudah kita diskusikan tadi."
"Dalam batas itu," konfirmasiku. "Dan terakhir — ini yang paling sederhana tapi entah kenapa yang paling penting buat aku." Aku menatap orang-orang yang masih lalu-lalang di depanku. "Di dalam penthouse, di ruang privat kita, aku ingin diperlakukan seperti manusia biasa. Bukan mitra bisnis, bukan istri kontrak, bukan variabel dalam strategimu. Manusia biasa yang tinggal di tempat yang sama denganmu."
Kali ini jeda yang paling panjang.
Aku menunggu, memakan satu kotak cokelat lagi.
"Aku tidak yakin aku tahu caranya," katanya — dan ada sesuatu di kalimat itu yang berbeda dari semua yang dia ucapkan sejak pertama kali kami bertemu. Tidak terkontrol sepenuhnya. Tidak diproses sampai sempurna sebelum keluar.
"Aku juga tidak," jawabku jujur. "Kita tidak tahu dulu. Tapi setidaknya kita bisa setuju untuk mencoba."
Hening yang terakhir kalinya.
"Setuju," katanya pelan.
Aku menghembuskan napas yang tidak aku sadari sudah aku tahan. "Baik. Jawaban finalku — iya."
Penandatanganan dijadwalkan keesokan paginya.
Bukan di Aldrich Tower — di kantor pengacara yang berbeda, gedung yang lebih kecil di kawasan Kuningan, dengan nama firma hukum yang tidak terkenal secara publik tapi jelas sangat mahal secara privat. Mungkin dipilih karena tidak ada kaitan langsung dengan Aldrich Group yang mudah dilacak, atau mungkin memang pengacara pribadi Revano yang tidak berafiliasi resmi — aku tidak bertanya dan tidak merasa perlu.
Aku tiba dengan transportasi online. Revano sudah ada di lobi ketika aku masuk — berdiri di dekat jendela dengan ponsel di tangan, jas hitam, ekspresi yang sama seperti selalu. Kenzo ada di sampingnya.
Dan ada seorang perempuan di sofa — usia empat puluhan, rambut pendek, kacamata tipis, dengan laptop terbuka di pangkuannya dan tumpukan dokumen di sebelahnya. Dia berdiri ketika aku mendekat.
"Ibu Ariana? Saya Tania, pengacara yang menangani perjanjian ini." Jabat tangan yang singkat dan profesional. "Silakan, kita bisa langsung mulai."
Ruangan pertemuan di lantai dua — kecil, fungsional, tidak ada yang dramatis tentang tampilannya. Meja persegi panjang untuk enam orang, tapi hanya kami berempat yang duduk. Tania meletakkan dokumen di depan kami masing-masing — salinan yang sudah diperbarui berdasarkan semua yang didiskusikan kemarin dan tadi malam, termasuk klausul terminasi dini yang simetris dan syarat tambahan yang aku sampaikan lewat telepon.
"Aku rekomendasikan Ibu membaca keseluruhan dokumen sebelum menandatangani," kata Tania. "Meski mungkin sudah familiar dengan kontennya."
"Aku akan membacanya," kataku.
Dan aku membacanya. Seluruhnya — empat puluh tujuh halaman sekarang, lima lebih banyak dari versi pertama karena ada penambahan klausul. Tania dan Kenzo menunggu dengan sabar. Revano membuka laptopnya dan bekerja dalam diam, hanya sesekali melirik ke arahku dengan cara yang tidak mendesak tapi ada.
Tiga puluh tujuh menit. Aku tahu karena aku melihat jam di dinding ketika mulai dan ketika selesai.
"Ada yang ingin ditanyakan atau diklarifikasi?" tanya Tania.
"Pasal tujuh koma tiga," kataku. "Tentang representasi aset selama periode kontrak. Ini perlu penjelasan lebih lanjut — apakah ini berarti asetku secara hukum—"
"Tidak," potong Revano dari balik laptopnya, tanpa mengangkat mata dulu. Lalu dia menutup laptop dan menatapku. "Asetmu tetap milikmu sepenuhnya. Pasal itu hanya mengatur representasi publik dalam konteks acara keluarga Aldrich — bukan kepemilikan legal."
"Tania?"
"Benar," konfirmasi Tania. "Saya bisa tambahkan keterangan eksplisit di pasal itu kalau Ibu merasa perlu."
"Tolong ditambahkan."
Tania mencatat. Lima menit kemudian dia mencetak ulang halaman yang relevan dan menyisipkannya ke dalam dokumen.
Baru setelah itu aku mengambil pena.
Ada momen aneh tepat sebelum aku meletakkan pena di kertas.
Bukan keraguan — aku sudah melewati itu. Lebih seperti kesadaran mendadak bahwa ini adalah salah satu dari sedikit momen dalam hidup yang bisa dibagi jelas antara sebelum dan sesudah. Seperti tanda tangan di akta kelulusan, seperti kali pertama menandatangani kontrak kerja, seperti menandatangani surat persetujuan operasi almarhum Bapak di rumah sakit dua tahun lalu — momen-momen di mana tinta di atas kertas mengubah sesuatu secara permanen.
Aku menandatangani.
Revano menandatangani setelah aku — tanpa jeda dramatis, dengan cara yang sama praktisnya dengan semua yang dia lakukan. Tania dan Kenzo menandatangani sebagai saksi. Stempel firma hukum ditekan di atas setiap halaman.
Selesai.
Empat puluh tujuh halaman yang mengubah status hukumku dalam tiga puluh menit.
Di lobi gedung setelah semuanya selesai, Kenzo pamit untuk mengurus sesuatu dan Tania kembali ke kantornya. Aku dan Revano berdiri di trotoar — pertama kalinya kami berada di luar ruangan tanpa agenda yang terstruktur di sekelilingnya.
"Pernikahan sipilnya minggu depan," katanya. "Hari Rabu. Kenzo akan mengirimkan detailnya hari ini."
"Baik."
"Pindahan—"
"Aku tidak punya banyak barang," kataku. "Beberapa koper dan beberapa kotak. Tidak perlu operasi besar."
"Jumat atau Sabtu?"
"Sabtu."
Dia mengangguk. Mengeluarkan ponselnya — mungkin untuk mencatat, mungkin untuk mengirim pesan ke Kenzo, aku tidak bisa melihat layarnya dari sudut ini.
"Revano."
Dia mengangkat mata.
"Tadi di dalam," kataku, "waktu aku membaca dokumennya — kamu tidak memintaku untuk mempercepat."
Ekspresinya tidak berubah, tapi ada sesuatu di matanya. "Kamu berhak membacanya sampai selesai."
"Kebanyakan orang akan tidak sabar."
"Kebanyakan orang tidak sedang menandatangani perjanjian yang berdampak pada dua belas bulan hidupnya."
Aku menatapnya sebentar. Pria yang berbicara tentang hidup bersama seperti implementasi sistem, yang menyiapkan kontrak empat puluh tujuh halaman untuk pernikahan, yang menjawab pertanyaan nomor delapan tentang Lana dengan kalimat yang terlalu hati-hati untuk bukan menyimpan sesuatu — pria ini akan menjadi suamiku secara hukum mulai Rabu depan.
"Satu pertanyaan terakhir," kataku.
"Kamu bilang daftarnya sudah habis."
"Ini pertanyaan baru."
Sudut bibirnya bergerak hampir tidak terlihat. "Lanjutkan."
"Kamu sendiri — bukan sebagai CEO, bukan sebagai cucu yang perlu membuktikan sesuatu ke kakeknya — kamu sendiri, apakah kamu baik-baik saja dengan semua ini?"
Pertanyaan yang tidak ada di daftar sebelas itu. Pertanyaan yang aku formulasikan di bangku plastik minimarket kemarin sore sambil makan cokelat dan menonton orang-orang pulang kerja.
Revano menatapku dengan cara yang belum pernah dia gunakan sebelumnya — seperti pertanyaan itu datang dari arah yang tidak dia antisipasi meski dia sudah mengantisipasi hampir segalanya.
Lama sekali sebelum dia menjawab.
"Ini pilihan terbaik yang bisa aku buat dalam situasi yang ada," katanya akhirnya. "Baik-baik saja atau tidak — aku tidak yakin itu pertanyaan yang aku izinkan diri sendiri untuk dijawab."
Aku memproses itu. "Itu jawaban yang lebih jujur dari yang aku kira akan kamu berikan."
"Kamu bertanya dengan jujur."
Dan kami berdiri di trotoar Kuningan pada pagi hari yang cerah — dua orang asing yang baru saja menandatangani perjanjian untuk berpura-pura bukan orang asing selama dua belas bulan, dengan lalu lintas Jakarta bergerak acak di belakang kami dan dunia yang tidak tahu apapun tentang apa yang baru saja terjadi di dalam gedung tadi.
"Sampai Rabu," kataku.
"Sampai Rabu," jawabnya.
Mobilnya sudah menunggu. Dia masuk. Aku memanggil transportasi online sambil berdiri di trotoar, menunggu, dan menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam tiga hari ini aku tidak memikirkan Bagas atau Tiara atau surat penagihan atau angka di Lampiran B.
Yang aku pikirkan adalah kalimat terakhir Revano — baik-baik saja atau tidak, aku tidak yakin itu pertanyaan yang aku izinkan diri sendiri untuk dijawab — dan betapa kalimat itu terasa seperti pintu yang terkunci dari dalam, dengan cahaya tipis yang bocor dari bawahnya.
Mobilku tiba. Aku masuk.
Supirnya menyapa. Aku menjawab dengan senyum yang cukup. Di luar jendela, Jakarta berlalu dalam kecepatan yang tidak pernah berubah — tidak peduli apapun yang baru saja kamu tandatangani, kota ini tetap bergerak di ritmenya sendiri.
Aku menyandarkan kepala ke jendela dan memejamkan mata.
Rabu depan aku akan menikah.
Dengan seseorang yang belum aku kenal tiga hari lalu.
Di atas kertas — secara sangat literal, di atas kertas — hidupku sudah tidak sama lagi.
Dan yang paling menggangguku bukan itu. Yang paling menggangguku adalah fakta bahwa di antara semua rasa tidak nyaman dan ketidakpastian yang ada, ada sesuatu yang kecil dan diam di sudut dadaku yang terasa — bukan senang, terlalu berlebihan untuk situasi ini — tapi sesuatu yang mirip dengan rasa lega.
Bahwa ada jalan. Bahwa ada langkah yang bisa diambil.
Bahwa Rabu depan, meski dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan, ada sesuatu yang akan berubah dan bukan hanya bertambah buruk.
Aku membuka mata.
Menatap Jakarta yang terus bergerak.
Dan memutuskan bahwa itu — untuk sekarang — sudah cukup.
— Selesai Bab 5 —