NovelToon NovelToon
Melati Diantara Lima Cinta

Melati Diantara Lima Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

Melati hanyalah gadis desa yang tak pernah bermimpi menjadi pusat dunia. Namun satu langkah ke istana menyeretnya ke dalam permainan cinta, kekuasaan, dan rahasia yang berbahaya.

Lima pria dari lima dunia berbeda datang dengan janji, ambisi, dan perasaan yang tak sederhana. Di balik gaun indah dan perjamuan megah, Melati belajar membaca kebohongan, membangun aliansi, dan melindungi harga dirinya.

Ketika gosip menjadi senjata dan cinta menjadi strategi, Melati harus memilih: bertahan sebagai pion… atau bangkit sebagai pemain yang mengubah sejarah.

Karena di tengah intrik dan perasaan yang rumit, satu kebenaran perlahan muncul — Melati bukan sekadar perempuan yang diperebutkan.
Ia adalah simbol masa depan yang belum ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: ANCAMAN KAISAR JEPANG

Malam turun tanpa suara.

Markas Kenpeitai berdiri seperti makhluk yang tidak pernah tidur—dindingnya dingin, lampunya pucat, dan udara di dalamnya selalu mengandung sesuatu yang tak terlihat tetapi terasa di kulit. Setelah luka Kenjiro, suasana berubah. Bukan lebih tenang. Justru lebih tegang, seperti napas yang ditahan terlalu lama.

Melati merasakannya sejak pagi.

Para perwira berjalan lebih kaku. Percakapan berbisik. Bahkan para penjaga tampak menghindari menatap paviliun tempat ia tinggal.

Sesuatu akan terjadi.

Ia tidak tahu apa. Tetapi tubuhnya mengenali firasat buruk seperti seseorang mengenali hujan sebelum awan datang.

Menjelang siang, suara kendaraan asing terdengar di halaman markas.

Tidak seperti kendaraan militer biasa.

Lebih resmi.

Lebih berat.

Langkah sepatu berhenti serempak. Perintah diberikan dalam bahasa Jepang yang lebih formal daripada biasanya. Nada hormat. Nada takut.

Melati berdiri di dekat jendela kecil.

Ia melihat rombongan itu.

Seragam mereka berbeda. Lebih rapi. Lambang kekaisaran di lengan. Wajah tanpa ekspresi.

Utusan.

Jantung Melati jatuh.

Nama itu langsung muncul di kepalanya sebelum ada yang mengucapkannya.

Kaisar.

---

Kenjiro berdiri ketika pintu ruangannya dibuka.

Luka di bahunya belum sepenuhnya pulih, tetapi ia mengenakan seragam lengkap. Pedang di pinggang. Wajahnya kembali seperti topeng—dingin, terkendali, tidak memberi ruang bagi siapa pun membaca sesuatu di baliknya.

Utusan masuk.

Seorang pria lebih tua melangkah ke depan. Tatapannya tajam seperti seseorang yang terbiasa menyampaikan hukuman.

Ia membungkuk singkat.

“Yang Mulia Pangeran Kenjiro.”

Kenjiro tidak membalas membungkuk sedalam itu.

“Langsung ke tujuan.”

Tidak ada basa-basi.

Utusan itu mengeluarkan gulungan dokumen. Segel kekaisaran terlihat jelas.

Udara di ruangan berubah.

Semua orang tahu: perintah dari istana bukan sesuatu yang bisa ditawar.

Utusan membaca dengan suara datar.

“Kaisar murka.”

Sunyi.

Kalimat pertama sudah cukup seperti pisau.

“Pasukan melaporkan penundaan operasi. Fokus yang menyimpang. Keputusan yang dipengaruhi faktor non-militer.”

Tatapan utusan naik.

“Seorang gadis desa.”

Ruangan menjadi dingin.

Kenjiro tidak bergerak.

Utusan melanjutkan.

“Kaisar menyatakan bahwa seorang pangeran yang gagal menempatkan perang di atas perasaan tidak layak memimpin.”

Beberapa perwira menahan napas.

Tetapi kalimat berikutnya yang benar-benar mengubah segalanya.

“Perintah langsung: eliminasi sumber gangguan.”

Ia menutup dokumen.

“Gadis itu harus dieksekusi.”

Sunyi pecah seperti kaca di dalam dada.

---

Melati tidak mendengar kata-katanya.

Tetapi ia melihat perubahan.

Seorang prajurit datang tergesa. Wajahnya pucat. Ia tidak menatap Melati ketika mengatakan:

“Nona… dipanggil.”

Nada itu berbeda.

Melati berdiri tanpa bertanya.

Ia sudah tahu.

Koridor terasa lebih panjang daripada sebelumnya. Setiap langkah seperti mendekati sesuatu yang tidak bisa dibatalkan.

Ketika pintu ruang Kenjiro dibuka, ia langsung melihatnya.

Kenjiro berdiri di tengah ruangan. Utusan kekaisaran di seberang. Perwira lain di sekitar, kaku seperti patung.

Dan sesuatu di udara… terasa seperti sebelum badai pecah.

Melati berhenti beberapa langkah dari pintu.

Semua mata padanya.

Ia mengerti sekarang.

Bukan firasat.

Vonis.

Utusan menatapnya seperti melihat benda.

“Ini dia.”

Tidak ada kebencian. Tidak ada emosi. Hanya penilaian dingin.

Kenjiro berbicara pelan.

“Keluar.”

Tak seorang pun bergerak.

Nada Kenjiro berubah—lebih rendah, lebih berbahaya.

“Aku tidak mengulang perintah.”

Perwira keluar. Pintu tertutup. Tinggal mereka bertiga.

Utusan menatap Kenjiro.

“Keputusan Anda akan menentukan masa depan Anda, Pangeran.”

Kenjiro tidak langsung menjawab.

Ia menatap Melati.

Tatapan itu tidak lembut. Tidak hangat. Tetapi ada sesuatu yang lebih liar—sesuatu yang Melati belum pernah lihat sepenuhnya.

Ketakutan bercampur kepemilikan.

Dan kegilaan yang mulai muncul.

“Ulangi perintahnya,” kata Kenjiro.

Utusan tidak ragu.

“Eksekusi gadis itu. Segera. Sebagai bukti loyalitas.”

Melati menahan napas.

Kenjiro tertawa kecil.

Itu suara yang membuat ruangan terasa lebih dingin.

“Kau datang jauh hanya untuk mengatakan aku harus membunuh seseorang?”

“Bukan seseorang,” jawab utusan. “Gangguan.”

Kenjiro menatap Melati lagi.

“Gangguan,” ulangnya pelan.

Melati merasa anehnya tidak gemetar. Ketakutan ada, tetapi sesuatu lain berdiri di sampingnya—kelelahan, mungkin. Atau penerimaan bahwa hidupnya memang selalu berada di tangan orang lain.

“Kau bisa melakukannya,” bisiknya.

Utusan terkejut sedikit. Kenjiro menegang.

Melati menatapnya.

“Aku bukan takhta. Aku bukan perang. Aku bukan apa pun yang layak membuatmu kehilangan segalanya.”

Sunyi panjang.

Kenjiro berjalan mendekat.

Langkahnya lambat. Terukur. Seperti predator yang memikirkan sesuatu lebih besar daripada mangsa.

Ia berhenti sangat dekat.

“Diam.”

Satu kata.

Tetapi nadanya bergetar—bukan marah. Sesuatu lain.

Utusan berbicara lagi.

“Keraguan Anda sudah dilaporkan. Kaisar memberi satu kesempatan terakhir.”

Kenjiro menoleh.

“Kesempatan?” ulangnya.

“Buktikan Anda putra yang layak.”

Sunyi.

Kenjiro tersenyum.

Itu bukan senyum yang menenangkan.

“Putra yang layak,” katanya pelan. “Adalah putra yang membunuh apa pun yang diminta.”

Utusan tidak menjawab. Karena itu memang benar.

Kenjiro memejamkan mata sebentar.

Ketika membukanya kembali, sesuatu telah berubah.

Keputusan.

Dan keputusan Kenjiro tidak pernah setengah.

Ia mengeluarkan pedangnya.

Suara logam memenuhi ruangan.

Melati menutup mata sesaat—bukan karena takut, tetapi karena tubuhnya bersiap menerima akhir.

Langkah Kenjiro mendekat.

Satu.

Dua.

Tiga.

Pedang berhenti.

Bukan di leher Melati.

Tetapi mengarah ke utusan.

Sunyi meledak.

“Pangeran—” suara utusan tajam.

Kenjiro berbicara pelan.

“Ayahku selalu berkata: memiliki berarti siap menghancurkan.”

Tatapannya dingin.

“Tetapi ia tidak pernah mengatakan apa yang terjadi jika aku menolak memiliki dengan cara itu.”

Utusan mundur setengah langkah.

“Ini pengkhianatan.”

Kenjiro tersenyum.

“Aku tahu.”

Melati menatapnya. Jantungnya berdegup keras sekarang—bukan karena takut mati, tetapi karena menyadari apa yang sedang ia lakukan.

Kenjiro tidak sedang ragu.

Ia memilih.

“Perang tidak akan berhenti karena satu gadis hidup,” kata Kenjiro. “Tetapi aku akan berhenti menjadi diriku jika aku membunuhnya karena perintah.”

Utusan marah.

“Kaisar akan mencabut segalanya dari Anda.”

Kenjiro mengangguk pelan.

“Takhta. Nama. Kehormatan.”

Ia menatap Melati.

“Semua itu sudah terasa kosong lebih lama dari yang kau kira.”

Sunyi menekan dada.

Utusan mencoba terakhir.

“Seorang pangeran tanpa istana bukan apa-apa.”

Kenjiro tertawa pelan.

“Seorang manusia tanpa pilihan juga bukan apa-apa.”

Pedang turun.

Bukan untuk membunuh.

Tetapi sebagai garis.

Batas.

“Perintah itu ditolak.”

Kata-kata itu jatuh seperti bom.

Utusan menatapnya lama—campuran tidak percaya dan kemarahan yang dingin.

“Kaisar tidak memaafkan.”

Kenjiro menjawab tanpa ragu.

“Aku tidak meminta maaf.”

---

Setelah utusan pergi, markas terasa berbeda.

Lebih sunyi.

Lebih berbahaya.

Keputusan Kenjiro bukan hanya keputusan pribadi. Itu gelombang yang akan menyebar—ke istana, ke militer, ke perang.

Melati berdiri di ruangan yang sama, masih mencoba memahami apa yang baru terjadi.

“Kau gila,” bisiknya.

Kenjiro tidak menyangkal.

“Mungkin.”

“Kau kehilangan segalanya.”

Kenjiro menatap jendela.

“Aku kehilangan banyak hal sebelum kau datang.”

Melati mendekat sedikit.

“Kenapa?”

Pertanyaan itu sederhana. Tetapi jawabannya berat.

Kenjiro menatapnya lama.

“Karena aku tidak bisa lagi berpura-pura bahwa kemenangan membuatku hidup.”

Melati menelan.

“Dan aku?” suaranya hampir hilang. “Apa aku alasanmu?”

Kenjiro tidak menjawab cepat.

Itu yang membuatnya jujur.

“Kau bukan alasan,” katanya akhirnya. “Kau cermin.”

Melati tidak mengerti.

Kenjiro melanjutkan.

“Kau membuatku melihat bahwa aku masih bisa memilih. Dan itu… lebih menakutkan daripada perang.”

Sunyi.

Melati merasakan sesuatu di dadanya retak—bukan cinta, bukan pengampunan, tetapi kesadaran bahwa hidupnya sekarang terikat pada keputusan seseorang yang baru saja menentang kekaisaran.

“Itu berarti mereka akan datang lagi,” bisiknya.

Kenjiro mengangguk.

“Ya.”

“Dan kali ini bukan hanya perintah.”

“Ya.”

Melati menutup mata.

“Kau seharusnya membiarkanku mati.”

Kenjiro langsung menjawab.

“Tidak.”

Tidak keras. Tidak dramatis. Tetapi mutlak.

Melati menatapnya.

“Kenapa kau begitu keras kepala?”

Kenjiro tersenyum tipis—senyum yang lebih manusiawi daripada apa pun yang pernah ia tunjukkan.

“Karena untuk pertama kalinya aku memilih sesuatu yang bukan kemenangan.”

Hujan mulai turun lagi di luar.

Suara yang sama seperti malam sebelumnya. Tetapi maknanya berbeda.

Dunia mereka baru saja bergeser.

Kenjiro berdiri di antara dua jurang—takhta di satu sisi, seorang gadis desa di sisi lain.

Dan ia sudah melangkah.

Melati menyadari sesuatu yang menakutkan:

Pilihan itu tidak membuat Kenjiro lebih lembut.

Justru lebih berbahaya.

Karena seseorang yang berani menentang kekaisaran demi satu orang… tidak lagi takut kehilangan apa pun.

Kenjiro menatap hujan.

“Mulai sekarang,” katanya pelan, “kau bukan gangguan.”

Melati menahan napas.

“Kau tanggung jawabku.”

Kalimat itu tidak romantis.

Tidak lembut.

Tetapi beratnya terasa seperti sumpah.

Di luar, badai perlahan datang.

Dan di dalam markas yang dingin itu, keputusan seorang pangeran baru saja mengubah arah perang—bukan di peta, tetapi di hati manusia yang tidak pernah diajari memilih.

Kenjiro akhirnya memilih.

Bukan takhta.

Bukan kemenangan.

Melainkan sesuatu yang bahkan lebih berbahaya:

Kehendaknya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!