Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
Pagi itu, suasana dapur utama terasa lebih dingin dari biasanya. Aurel berdiri di dekat pintu keluar dapur dengan gaun sutra mahalnya, melipat tangan di dada. Matanya yang tajam bak elang terus mengawasi Nadine yang sedang menata nampan berisi bubur gandum dan teh jahe racikannya.
Dalam hati, Aurel mendidih. Kejadian semalam di depan pintu kamar Aditya terus menghantuinya. Ia tidak bisa membiarkan pelayan kusam ini terus mendekati calon suaminya.
Aurel tersenyum licik..."aku akan memberikan hadiah untukmu pelayan jelek"... ucapnya lirih.
Saat Nadine melangkah keluar dari dapur dengan nampan di kedua tangannya, Aurel sengaja berdiri di balik pilar. Begitu Nadine lewat, dengan gerakan cepat dan kasar, Aurel menjulurkan kakinya untuk menyandung Nadine, sekaligus tangannya menyentak sudut nampan itu ke atas.
"Jatuhlah ke lantai, sampah!" desis Aurel dengan senyum kemenangan yang sudah mengembang.
Namun, sesuatu yang di luar nalar pun terjadi, Nadine memiliki keseimbangan tubuh yang luar biasa. Ditambah lagi, instingnya sebagai seorang ibu yang selalu melindungi Noah membuatnya sangat waspada.
Bukannya tersungkur, Nadine justru melakukan gerakan yang menyerupai tarian bela diri yang halus. Saat kakinya tersangkut, ia tidak melawan momentum jatuh itu. Ia justru merendahkan tumpuan tubuhnya, memutar tumitnya 180 derajat sebuah gerakan pivot yang sempurna, dan menggunakan bahunya untuk menyeimbangkan beban nampan(seperti pelayan restoran yang di film-film Cina itu loh... semua makanannya terbang dan dalam gerakan singkat makanan itu bisa kembali pada tempatnya masing-masing...wkkkkk)
Nampan itu sempat melayang di udara, namun dengan gerakan tangan yang lentur dan cepat, seperti gerakan pesilat yang menepis serangan...Nadine menangkap kembali pinggiran nampan itu sebelum satu tetes teh pun tumpah.
Srett!...
Nadine mendarat dengan posisi berlutut satu kaki yang sangat anggun. Nampan itu tetap mendatar sempurna di atas telapak tangannya. Tidak ada denting piring, tidak ada tumpahan air.
"Alhamdulillah" gumamnya dalam hati.
"Terima kasih ya Allah".
Aurel terbelalak. Ia terpaku melihat pelayan yang ia anggap udik itu baru saja melakukan gerakan yang bahkan atlet senam pun akan sulit menirunya.
Nadine perlahan berdiri, membetulkan kacamatanya yang sedikit merosot, lalu menatap Aurel. Kali ini, tatapan Nadine tidak lagi sayu. Ada kilatan ketegasan yang membuat Aurel bergidik.
"kaki Anda kuat juga nona Aurel..." ucap Nadine dengan suara yang tetap tenang namun mengandung penekanan. "Terima kasih sudah mengingatkan saya untuk lebih berhati-hati. Tapi tenang saja, makanan Tuan Muda tidak akan pernah menyentuh tanah selama saya yang membawanya."
Aurel gemetar karena malu dan marah. "K-kamu... kamu sengaja pamer ya?! Kamu pikir kamu hebat?!"tuduh Aurel dengan gugup.
"Saya hanya menjalankan tugas, Nona. Permisi." Nadine berlalu dengan langkah anggun, meninggalkan Aurel yang menghentakkan kakinya ke lantai dengan geram.
Tanpa mereka sadari, di lantai atas, Aditya sedang berdiri di balkon yang menghadap langsung ke arah lorong terbuka dapur. Ia melihat seluruh kejadian itu.
Mata Aditya tidak berkedip. Ia terpesona bukan hanya karena ketangkasan Nadine, tapi karena postur tubuh Nadine saat melakukan gerakan tadi.
"Siapa sebenarnya wanita itu?" gumam Aditya. Jantungnya kembali berdegup kencang. "Seorang pelayan desa tidak mungkin memiliki koordinasi tubuh seperti itu, kecuali dia menyembunyikan sesuatu yang besar."
"aku harus mencari tahu siapa Mona sebenarnya".
Di telinga Nadine, suara Noah terdengar lewat earpiece dengan nada ceria. "Gerakan yang bagus, Ibu!, kerennnn, ibu sangat hebat, Noah baru saja merekamnya dari CCTV dapur, untuk koleksi Noah, Gerakan Ibu tadi lebih keren dari karakter game ninja Noah! Ayah juga lihat dari atas, Bu. Dia makin bingung sekarang."
Nadine tersenyum tipis di balik tundukannya. "Biarkan dia bingung, Noah. Biarkan dia terus mencari potongan puzzle yang hilang itu."
Nadine terus berjalan dan menata makanannya di atas meja makan besar, di sana sudah ada Tuan Pratama dan nyonya Adelia serta Aurel dengan wajah masam.
Aditya datang dengan mata sedikit curi-curi pandang pada Nadine.. dan Aurel memperhatikan itu, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja.
kali ini tidak ada protes dari Adelia dan kepala keluarga melihat Aditya makan bubur gandum itu begitu lahap.
"emmm... Mona "ucap Aditya dengan suara beratnya.
"iya tuan...!"sahut Nadine dengan sopan.
"bisakah kau ikut ke kantor...?"tanya Aditya yang membuat semua orang tercengang...
"apa-apaan maksudmu Adit?"seru Adelia marah.
"mah... Aku butuh asisten yang siap melayaniku selama 24 jam, aku melihat wajah Mona yang tidak seperti wanita-wanita lainnya, bukankah itu tidak masalah..., ?" jawab Aditya dengan suara dinginnya.
Ardan menggenggam tangan istrinya"biarkan saja dia ikut mah... dengan wajah seperti itu, Dia cocok jadi asisten Aditya, bukankah itu lebih aman daripada asisten yang memiliki wajah cantik, itu akan membuat Aurel cemburu, lagian ... putra kita mana mungkin tergoda dengan wajah jeleknya"ucapnya tajam, menenangkan sang istri lalu menoleh ke arah Aurel.
"benar begitu Aurel...?"
Aurel mengangguk meski dalam hatinya mengumpat"sial... pelayan jelek itu mendapat dukungan, tapi biarlah, di kantor nanti aku akan mengerjainya, enak saja bisa berdekatan dengan calon suamiku ", gumamnya dalam hati.
" iya Om,tentu saja, lagian ruangan kami juga terpisah jadi saya tidak bisa melayani kak Adit sepenuhnya"jawab Aurel tersenyum, senyum yang penuh perencanaan.
"bagaimana Mona?, apakah kamu mau?, tenang saja, aku akan menaikan gajimu menjadi 5 kali lipat?" tawar Aditya yang membuat Adelia melototkan matanya...
Sementara di sudut ruangan , ibu Tika mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"sial... pelayan kusam itu langsung naik pangkat, Aku tidak akan membiarkan itu terjadi... enak saja, aku yang sudah puluhan tahun di sini, masih tetap berada di dalam sangkar"
Nadine mengangguk saja, ini kesempatan dirinya agar bisa selalu berdekatan dengan suaminya , walaupun suaminya belum mengingat dirinya kembali.
___
Setelah selesai sarapan, Aditya mendatangi kamar Nadine...
Aditya berdiri di depan Nadine dengan tatapan yang sulit diartikan. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak berisi masker medis hitam dan beberapa tas belanja bermerek.
"Mona, mulai hari ini kamu ikut aku ke kantor sebagai asisten pribadi khusus, Aku ingin kamu melayaniku di rumah maupun di kantor ataupun di mana saja. Aku tidak bisa membiarkan orang lain menyentuh jadwalku, apalagi seleraku," ucap Aditya dingin, namun ada nada protektif di baliknya... entah mengapa, berada di dekat Mona ia merasa lebih tenang, bahkan sakit kepala yang biasa terjadi, bisa hilang dengan menghirup aroma melati dari tubuh Mona.
Ia menyodorkan masker itu. "Pakai ini. Aku tidak mau klienku terganggu dengan wajah kusammu itu. Dan ini..." Aditya menyerahkan tas belanja berisi setelan kantor yang sangat sopan, tunik modern , celana kain yang elegan, serta jilbab sutra bermotif minimalis yang terkesan sangat berkelas.
"Ganti pakaianmu. Aku beri waktu sepuluh menit. Jangan buat aku menunggu," tambahnya sebelum berbalik pergi.
Di dalam kamarnya, Nadine membuka tas belanja itu dengan tangan bergetar. Ia tertegun. Pakaian ini... ukurannya sangat pas. Bahkan warnanya adalah warna kesukaannya. “Bagaimana mungkin dia masih ingat ukuran tubuhku dan warna favoritku?” batinnya teriris.
Nadine mengenakan pakaian itu. Meskipun wajahnya masih dipoles kusam di balik masker, aura keanggunan seorang Nadine yang asli mulai terpancar melalui cara ia mengenakan jilbab modern itu. Postur tubuhnya yang tegak dan langkahnya yang ringan membuat penampilannya berubah drastis dari seorang pelayan menjadi asisten yang sangat profesional.