Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:
**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**
Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.
Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.
Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: BABAK GUGUR
Babak gugur dimulai dengan suasana yang jauh lebih tegang dari babak penyisihan.
Arena utama yang kemarin cukup ramai, kini penuh sesak. Hampir dua ribu penonton memadati tribun, memenuhi setiap sudut yang tersedia. Para petinggi Sekte Iblis duduk di tribun khusus dengan ekspresi serius—mereka tidak hanya menonton, tapi juga menilai. Mencari bakat-bakat yang layak direkrut, atau calon-calon eksperimen yang menjanjikan.
Ha-neul berdiri di ruang tunggu peserta bersama sembilan belas petarung lain yang lolos. Dari dua puluh empat peserta babak gugur, dua puluh berasal dari penyisihan grup, dan empat sisanya adalah "wild card"—petarung pilihan juri yang dianggap memiliki potensi meski kalah di grup.
Seo Jun-ho ada di sampingnya, kelihatan gugup. Jemarinya mengetuk-ngetuk pegangan kursi.
"Kang Woo, lo gugup nggak?"
"Biasa."
"Biasa? Lo tuh kayak batu, ya." Jun-ho menghela napas. "Gua deg-degan banget. Lawan pertama gua tuh... gua lihat tadi, orangnya serem. Tinggi, item, pake pedang dua."
"Kalo lo fokus sama kelemahannya, lo menang."
Jun-ho menatapnya. "Lo udah lihat kelemahannya?"
Ha-neul mengangguk. "Waktu dia pemanasan tadi. Dia selalu ngandelin serangan kanan. Kalo lo bisa jaga jarak dan serang dari kiri, dia bakal kesulitan."
Jun-ho terbelalak. "Lo ngapain ngasih tau gua? Kita bisa aja ketemu di babak selanjutnya."
Ha-neul tersenyum tipis. "Kalo ketemu, itu urusan nanti. Sekarang, lawan lo itu. Fokus."
Jun-ho mengangguk, matanya berbinar. "Makasih, Kang Woo. Gua akan ingat ini."
---
Pertarungan pertama babak gugur berlangsung sengit. Dua petarung dari grup A bertarung habis-habisan selama hampir setengah jam. Yang menang adalah seorang pria berjubah merah dengan rambut panjang—gerakannya cepat, hampir seperti bayangan. Ha-neul mencatat namanya: Hyeon Mu. Mungkin salah satu yang harus diwaspadai.
Pertarungan kedua, ketiga, keempat. Ha-neul mengamati semua dengan saksama, merekam gaya bertarung, kelebihan, kelemahan. Di dalam cincin, Hyeol-geon juga ikut menganalisis.
"Yang nomor tujuh itu, perhatikan kakinya. Dia pincang sedikit—mungkin cedera lama."
"Nomor dua belas, terlalu banyak buang energi. Nanti di pertarungan ketiga dia pasti kelelahan."
Ha-neul menyerap semua informasi. Ini seperti ujian sebelum ia sendiri turun.
---
Gilirannya tiba di pertarungan kelima.
Ha-neul melangkah ke arena. Lawannya seorang wanita—salah satu dari sedikit peserta perempuan. Usianya sekitar dua puluh lima, dengan tubuh atletis dan sepasang pisau melengkung di kedua tangan. Rambutnya dikuncir tinggi, matanya tajam seperti elang.
"Kang Woo?" Suaranya rendah. "Grup D? Yang pake pedang kayu?"
Ha-neul mengangguk.
Wanita itu tersenyum. "Gue denger lo menang tiga kali pake tusukan maut. Lo kira gue bakal kena trik yang sama?"
Ha-neul tidak menjawab. Ia mengambil posisi.
Wasit memberi aba-aba. Wanita itu langsung menyerang.
Cepat. Sangat cepat. Ia bergerak seperti angin, pisau-pisaunya menari di sekitar Ha-neul. Serangan dari kanan, kiri, atas, bawah—bergantian dalam hitungan detik. Ha-neul terpaksa mundur, menghindar sekuat tenaga.
Penonton bersorak. Mereka suka melihat petarung agresif.
Tapi Ha-neul tidak panik. Ia terus mengamati, mencari celah.
"Dia kuat, tapi pola serangannya berulang. Tiga serangan, lalu jeda satu detik."
Ha-neul melihat. Benar. Setiap tiga serangan berturut-turut, wanita itu berhenti sejenak—hanya sepersekian detik, tapi cukup.
Saat jeda itu tiba, Ha-neul tidak mundur. Ia melesat maju.
Wanita itu terkejut, tapi cepat bereaksi. Pisau kirinya menyabet. Ha-neul menghindar dengan memiringkan tubuh, lalu pedang kayunya menusuk—tepat di siku kanan.
Wanita itu menjerit, pisau kanannya jatuh. Tapi ia tidak menyerah. Dengan tangan kiri, ia terus menyerang, lebih liar, lebih membabi buta.
Ha-neul menghindar, lalu menusuk lagi—ke pangkal paha. Kaki wanita itu lemas. Ia jatuh berlutut, napas tersengal.
"Apa... apa yang..."
Ha-neul tidak menjawab. Ia mundur, menunggu.
Wanita itu mencoba bangkit, tapi tidak bisa. Ia menyerah.
"Pemenang: Kang Woo!"
Sorak-sorai lagi. Ha-neul melangkah keluar arena, sama datarnya seperti sebelumnya.
---
Di tribun khusus, Penguasa Sekte Iblis tersenyum tipis.
"Menarik," gumamnya. "Ia tahu persis di mana harus menusuk. Seperti seseorang yang pernah kukenal."
Ajudan di sampingnya menunduk. "Apa perlu kami selidiki lebih lanjut, Tuan?"
"Tidak usah. Biarkan dia terus bertarung. Aku ingin lihat sejauh mana kemampuannya." Mata Penguasa Sekte berkilat. "Jika ia sebagus yang kukira... mungkin ia layak menjadi bagian dari koleksiku."
---
Di ruang tunggu, Jun-ho menyambutnya dengan kagum.
"LO GILA! Itu tadi Kim Hye-rin! Peringkat tiga grup B! Lo kalahin dia!"
Ha-neul duduk, mengatur napas. "Dia kuat."
"Kuat? Dia monster! Dan lo kalahin dia!" Jun-ho tertawa. "Gua makin nggak sabar pengen lawan lo."
Ha-neul menatapnya. "Jun-ho, lo kapan bertarung?"
"Besok. Lawan gua itu yang item tinggi tadi." Jun-ho menghela napas. "Tapi sekarang gua lebih pede. Berkat tips lo tadi."
"Semoga berhasil."
"Iya, makasih." Jun-ho tersenyum lebar. "Kang Woo, gua senang kenal lo. Serius. Di tempat kayak gini, susah cari temen yang bisa dipercaya."
Ha-neul diam. Ia juga merasa ada sesuatu yang berbeda dengan Jun-ho. Mungkin karena mereka sama-sama punya misi tersembunyi.
"Jun-ho, lo hati-hati. Di sini banyak yang mengincar."
"Gua tahu. Lo juga."
Mereka beradu pandang, lalu tersenyum. Persahabatan aneh di tengah sarang musuh.
---
Malam harinya, Ha-neul duduk di atap asrama, memandangi bintang yang samar di balik awan kelabu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Hyeol-geon.
"Aku lelah, Guru. Bukan fisik, tapi batin."
"Aku tahu. Berpura-pura terus itu melelahkan."
"Tapi aku harus terus."
"Iya. Sebentar lagi. Kita akan dapat informasi yang kita butuhkan, lalu pergi dari sini."
Ha-neul mengangguk. Ia memandang ke arah bangunan pusat yang masih menyala. Di balik jendela itu, musuh bebuyutannya mungkin sedang merencanakan sesuatu.
"Guru, aku akan bunuh dia."
"...Aku tahu."
"Tapi tidak sekarang. Nanti. Saat aku siap."
"Itu muridku."
Malam di Sekte Iblis semakin larut. Di dalam asrama, para peserta tidur dengan mimpi masing-masing—ada yang bermimpi kemenangan, ada yang bermimpi kekalahan.
Ha-neul bermimpi tentang Soo-ah, tentang lembah tersembunyi, tentang kedamaian yang suatu hari nanti akan ia raih.
Tapi untuk sekarang, ia harus bertahan di neraka ini.
]