Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:
**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**
Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.
Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.
Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: TAMU TAK DIUNDANG
Kedamaian di lembah tersembunyi berlangsung selama sebulan penuh.
Ha-neul menghabiskan setiap hari dengan latihan intensif. Kini ia mampu mengendalikan lima pedang energi sekaligus—masih jauh dari seratus, tapi kemajuannya membuat Hyeol-geon tak henti-hentinya memuji. Tubuhnya juga semakin kuat, otot-otot terbentuk padat, dan yang terpenting, aliran Qi-nya kini stabil seperti sungai yang mengalir tenang.
Soo-ah juga berkembang pesat. Di bawah bimbingan Hyeol-geon dan catatan-catatan kuno peninggalan Baek Ah-jin, ia kini mampu meracik ramuan-ramuan sederhana hingga tingkat menengah. Tanaman-tanaman di kebun belakang paviliun tumbuh subur, memberikan bahan-bahan segar setiap hari.
Mereka hidup dalam rutinitas yang nyaman. Pagi latihan, siang istirahat, sore Soo-ah berkebun dan Ha-neul membantu, malam mereka duduk di tepi danau memandangi bintang. Kadang Hyeol-geon ikut bergabung, bercerita tentang masa lalunya—kisah-kisah pertarungan epik, petualangan, dan tragedi.
Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, dua bersaudara itu merasakan kedamaian sejati.
Tapi kedamaian tidak pernah abadi.
---
Itu terjadi pada malam bulan purnama.
Ha-neul sedang duduk bersila di tepi danau, bermeditasi. Tiba-tiba, cincin di jarinya terasa panas—bukan hangat biasa, tapi panas seperti terbakar.
"Ha-neul!" suara Hyeol-geon mendadak panik. "Ada yang masuk ke lembah!"
Ha-neul membuka mata. "Apa? Siapa?"
"Aku tidak tahu. Tapi mereka melewati lorong rahasia. Sekarang sudah di dalam lembah."
Ha-neul bangkit, mengambil pedang kayunya—masih setia menemaninya. Ia berlari menuju paviliun. Soo-ah sedang tidur, tapi ia harus membangunkannya.
"Soo-ah! Bangun!"
Soo-ah terkejut, duduk dengan mata masih sayu. "Oppa? Ada apa?"
"Kita kedatangan tamu. Tamu jahat. Kau sembunyi di belakang, jangan keluar apa pun terjadi."
Soo-ah langsung sadar sepenuhnya. Ia mengangguk, segera meraih ramuan-ramuan beracun yang ia simpan di bawah tempat tidur—jaga-jaga. Lalu ia bersembunyi di balik lemari kayu besar.
Ha-neul keluar, berdiri di depan paviliun. Matanya mengamati sekeliling. Di bawah sinar bulan yang terang, ia melihat bayangan-bayangan bergerak di antara pepohonan.
Lima orang. Mungkin enam. Mereka bergerak cepat, terlatih.
"Keluar!" teriak Ha-neul. "Aku tahu kalian di sana!"
Bayangan-bayangan itu berhenti. Lalu, dari balik pohon, muncullah sesosok yang sangat dikenalnya.
Jang Cheon-soo.
Iblis Bayangan itu tersenyum tipis, matanya yang seperti elang menatap Ha-neul dengan rasa ingin tahu. Di belakangnya, lima orang berpakaian hitam bersenjatakan pedang panjang—murid-muridnya, mungkin.
"Kang Ha-neul," sapa Jang Cheon-soo lembut. "Senang bertemu lagi. Sudah lama kita tidak berjumpa sejak Lembah Bayangan."
Ha-neul menegang. Ia ingat pertemuan singkat itu, dan bagaimana gurunya panik saat melihat pria ini.
"Apa maumu?" tanyanya dingin.
"Tenang, tenang." Jang Cheon-soo mengangkat tangan, menunjukkan tidak ada niat buruk. "Aku hanya ingin bicara. Dan mungkin... bertemu dengan teman lamaku."
Ia menatap langsung ke arah cincin di jari Ha-neul.
"Hyeol-geon, sudah lama tidak bertemu. Keluarlah. Aku tahu kau di sana."
Sunyi.
Ha-neul diam, tidak bergerak. Tapi di dalam cincin, Hyeol-geon bergolak.
"Dia bisa melihatku," bisiknya. "Mata ketiganya sudah terbuka."
"Keluarlah." Suara Jang Cheon-soo masih lembut, tapi ada ancaman di baliknya. "Aku tidak akan macam-macam. Aku hanya ingin bicara."
Perlahan, Hyeol-geon keluar dari cincin. Sosoknya tampak tegar, meski jelas tegang. Ia melayang di samping Ha-neul, menatap Jang Cheon-soo dengan sorot tajam.
"Sudah lama, Jang Cheon-soo."
"Seratus dua puluh tahun, tepatnya." Jang Cheon-soo tersenyum. "Kau awet, Hyeol-geon. Meski sekarang jadi arwah."
"Apa maumu?"
"Pertanyaan yang sama dari muridmu." Jang Cheon-soo tertawa kecil. "Dengar, aku tidak datang untuk bertarung. Aku datang untuk menawarkan kerja sama."
Ha-neul dan Hyeol-geon saling pandang.
"Kerja sama apa?"
"Kita punya musuh yang sama, Hyeol-geon. Muridku yang dulu—murid yang mengkhianatimu—kini menjadi Penguasa Sekte Iblis. Ia juga musuhku, karena ia merebut posisi yang seharusnya menjadi hakku." Mata Jang Cheon-soo berkilat. "Aku ingin menjatuhkannya. Dan kau, aku yakin, juga ingin balas dendam."
Hyeol-geon diam.
"Kenapa aku harus percaya padamu?"
"Karena tanpa aku, kau tidak akan bisa mendekatinya. Ia sekarang salah satu orang terkuat di Murim. Bahkan dengan murid barumu yang berbakat ini..." Ia menatap Ha-neul. "...butuh bertahun-tahun untuk bisa menandinginya. Tapi dengan bantuanku, kalian bisa mencapai level itu lebih cepat."
Ha-neul mengerutkan kening. "Kau mau membantu kami?"
"Sebagai mitra. Bukan guru. Kau tetap murid Hyeol-geon. Aku hanya akan memberi informasi, sumber daya, dan kadang... pelatihan tambahan." Jang Cheon-soo tersenyum. "Tentu saja, dengan imbalan: saat kita menjatuhkan Penguasa Sekte Iblis, aku yang akan menghabisinya."
Ha-neul ragu. Ia menatap Hyeol-geon, meminta pendapat.
"Jangan percaya dia," bisik Hyeol-geon. "Dia ular."
Tapi Ha-neul juga berpikir. Jika Jang Cheon-soo benar-benar musuh dari musuh mereka, mungkin ini kesempatan. Tapi risikonya besar.
"Beri kami waktu," kata Ha-neul akhirnya. "Kami perlu bicara."
Jang Cheon-soo mengangguk. "Tentu. Aku akan berkemah di luar lembah. Tiga hari. Setelah itu, aku akan kembali untuk jawabanmu."
Ia memberi isyarat pada murid-muridnya. Mereka mundur perlahan, lalu lenyap dalam bayangan.
Ha-neul menghela napas lega. Tapi di dalam hatinya, kegelisahan justru tumbuh.
---
Malam itu, mereka tidak bisa tidur.
Ha-neul, Soo-ah, dan Hyeol-geon duduk di paviliun, membahas tawaran Jang Cheon-soo. Hyeol-geon menentang keras, tapi Ha-neul melihat sisi lain.
"Guru, jika kita bisa mendapatkan sumber dayanya, mungkin kita bisa lebih cepat kuat."
"Dia pengkhianat, Ha-neul. Sama seperti muridku dulu. Aku tidak percaya padanya."
"Tapi dia benci Penguasa Sekte Iblis. Itu musuh bersama."
"Untuk sekarang. Tapi setelah musuh itu mati, dia bisa berbalik."
Soo-ah angkat bicara. "Guru, Soo-ah punya usul."
Mereka menatapnya.
"Kita terima tawarannya, tapi tetap waspada. Kita ambil apa yang bisa kita ambil—informasi, sumber daya—tapi jangan pernah bergantung padanya. Dan kita siapkan rencana cadangan kalau dia berkhianat."
Ha-neul tersenyum. Adiknya semakin pintar.
Hyeol-geon merenung. "Itu... sebenarnya cukup masuk akal."
"Setuju, Guru?"
"Setuju. Tapi dengan satu syarat: aku yang akan berhadapan langsung dengannya. Kau jangan pernah percaya sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya."
Ha-neul mengangguk. "Baik."
---
Tiga hari kemudian, Jang Cheon-soo kembali.
Ha-neul sudah menunggu di tepi danau. Sendirian.
"Sudah dapat jawaban?" tanya Jang Cheon-soo.
"Kami setuju. Tapi dengan syarat."
"Silakan."
"Pertama, semua informasi yang kau berikan harus diverifikasi. Kedua, kau tidak boleh ikut campur dalam urusan kami di luar target utama. Ketiga..." Ha-neul menatap tajam. "Jika kau berkhianat, aku akan memburumu sampai ke ujung dunia."
Jang Cheon-soo tertawa. "Bagus! Bagus sekali! Hyeol-geon, kau benar-benar dapat murid yang baik." Ia mengangguk. "Aku setuju semua syarat."
Ia mengulurkan tangan. Ha-neul menjabatnya—kesepakatan dua iblis.
Di balik paviliun, Hyeol-geon mengawasi dengan waspada. Soo-ah di sampingnya, tangan sudah siap dengan ramuan beracun.
Perjalanan baru akan dimulai. Dengan sekutu yang berbahaya, musuh yang kuat, dan masa depan yang penuh ketidakpastian.