Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".
Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.
"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.
Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benturan Darah dan Perak
BUMMM!!!
Ledakan memekakkan telinga merobek langit Gunung Langit. Kepalan tangan kanan Zian yang melaju secepat kilat menabrak telapak darah raksasa milik Tetua Pembantai tepat di udara.
Bukan sihir melawan sihir. Ini murni benturan daging dan tulang baja melawan energi kultivasi tingkat puncak.
Gelombang kejut dari benturan itu menyapu bersih awan tebal di atas mereka. Badai angin meledak ke segala arah dengan sangat ganas. Pangeran Feng dan puluhan jenius lainnya menjerit panik saat tubuh mereka terlempar belasan meter seperti daun kering yang ditiup badai. Batu-batu pelataran hancur berhamburan menjadi debu halus.
"Hancur!" aum Zian. Urat di lehernya hampir pecah menahan tekanan yang luar biasa berat.
Sraaat!
Tekanan angin sonik dari tinju murni Zian secara luar biasa berhasil merobek bagian tengah telapak darah raksasa itu. Sihir mematikan tingkat Raja Puncak tersebut terbelah dan meledak berantakan di udara sebelum sempat meratakan puncak gunung.
Namun, sisa daya hancurnya tidak bisa hilang begitu saja. Kekuatan mutlak dari tingkat Raja Puncak masih terlalu besar.
Krak!
Bunyi patahan tulang terdengar tajam dari lengan kanan Zian. Tubuh pemuda itu terdorong mundur dengan sangat kasar. Sepatunya menggores aspal pelataran, menciptakan dua parit panjang sedalam lutut, sejauh dua puluh meter ke belakang.
Zian akhirnya berhenti menahan dorongan itu. Dia menunduk dan memuntahkan seteguk darah segar ke tanah. Kulit lengan kanannya robek di beberapa bagian, menampilkan otot-otot merah yang berdenyut keras. Tulang lengannya retak cukup parah.
Hening. Seluruh puncak gunung mendadak sepi seperti kuburan.
Para jenius yang terkapar di pinggir pelataran melongo tidak percaya. Pangeran Feng yang baru sadar dari pingsannya kembali pucat pasi, matanya hampir melompat keluar.
"D-dia... dia menahan serangan murni Raja Puncak?" gumam seorang jenius dengan bibir gemetar. "Hanya dengan tangan kosong?! Manusia gila macam apa dia?!"
Di angkasa, mata Tetua Pembantai melebar maksimal. Bekas luka codet di wajahnya berkedut keras. Dia menatap sisa sihir darahnya yang menguap, lalu menatap Zian di bawah sana.
"Mustahil," desis pria tua itu dengan napas tertahan. "Tubuh fisik tanpa inti kultivasi seharusnya sudah menguap jadi debu darah saat bersentuhan dengan sihirku! Monster dari lubang mana kau ini?!"
Zian tidak jatuh berlutut seperti dugaan semua orang. Dia justru menegakkan tubuhnya perlahan. Dia mengangkat lengan kanannya yang retak berlumuran darah, lalu mengepalkan jarinya lagi. Rasa sakit yang luar biasa menyengat sarafnya, tapi tawa liar justru keluar dari mulutnya.
"Hahaha! Pukulanmu lumayan juga, Pak Tua," kekeh Zian sambil mengusap sisa darah di dagunya. Matanya menatap tajam menantang ke udara. "Tulangku sampai gatal dibuatnya. Tapi sayang sekali, kau belum cukup kuat untuk membunuhku hari ini."
"Bocah sombong yang tidak tahu diuntung!" amarah Tetua Pembantai meledak berkali-kali lipat. Wajahnya merah padam. Bertahan hidup dari serangannya lalu diejek oleh orang tanpa energi adalah aib yang tak bisa dia terima.
Pria tua itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Langit kembali bergemuruh hebat. Kali ini, lautan darah yang jauh lebih pekat dan luas berkumpul cepat di atas kepalanya. Dia berniat menggunakan sihir kutukan pamungkas yang akan melelehkan seluruh puncak gunung itu tanpa sisa.
"Akan kupastikan tidak ada sepotong pun dagingmu yang tersisa untuk dikubur!" teriak Tetua itu buas.
Zian menyeringai. Kakinya kembali memasang kuda-kuda. Tulang Asuranya mendidih, bersiap memaksakan diri melewati batas maksimalnya untuk menyambut serangan kedua.
Tapi, sebelum lautan darah itu jatuh, seberkas cahaya perak yang sangat menyilaukan melesat keluar dari pintu Kapal Penembus Awan. Cahaya itu menembus langit merah dan membentuk sebuah proyeksi raksasa setinggi puluhan meter.
Sosok pemuda berjubah perak dengan kipas lipat muncul di angkasa, menghalangi pandangan Tetua Pembantai. Itu adalah Bai Chen, utusan dari Benua Tengah.
"Tahan sihir kotor mu itu, Tetua Sekte Bintang Es," suara Bai Chen terdengar sangat santai, tapi mengandung tekanan wibawa yang membuat napas semua orang di gunung itu tercekat.
Tetua Pembantai mengerem serangannya secara paksa. Dia menatap proyeksi Bai Chen dengan ragu, lalu matanya membelalak mengenali seragam mewah utusan itu.
"Utusan dari Fraksi Langit Benua Tengah?!" Tetua Pembantai menggertakkan giginya. "Tuan Utusan, bocah cacat ini sudah membunuh Pemimpin Cabang kami di ibu kota bawah. Ini urusan pribadi sekte kami. Harap Tuan jangan ikut campur!"
Bai Chen membuka kipas lipat raksasanya dengan anggun. "Aku tidak peduli kalau dia membunuh ayahmu sekalipun. Kau buta? Ini adalah pelataran Kapal Penembus Awan. Ini Zona Netral Turnamen Kematian."
"Tapi Tuan, dia hanyalah sampah tanpa kultivasi..."
"Turunkan tanganmu sekarang," potong Bai Chen datar. Nada suaranya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan mematikan. "Atau kau ingin aku mengirim pesan ke atas agar seluruh Sekte Bintang Es Pusat dihapus dari peta besok pagi?"
Ancaman itu tidak main-main. Keringat dingin langsung membasahi punggung Tetua Pembantai. Dia tahu betul seberapa mengerikan kekuatan Fraksi Langit di Benua Tengah. Sektenya yang besar dan sombong di benua kecil ini hanyalah segerombolan semut di mata fraksi itu.
Dengan sangat terpaksa dan wajah berkerut penuh kebencian, Tetua Pembantai menurunkan tangannya. Lautan darah di langit seketika memudar dan menghilang ditiup angin. Awan mendung kembali normal.
"Bagus," Bai Chen tersenyum puas. Proyeksi raksasanya kemudian menunduk menatap Zian yang masih memasang kuda-kuda bertarung. "Hei, Tulang Keras. Kau mau terus berdiri di situ memamerkan lenganmu yang patah, atau kau mau naik ke kapalku sekarang?"
Zian mendengus pelan. Dia melemaskan otot kakinya. Ketegangan tempur di tubuhnya perlahan mengendur. Dia melirik lengan kanannya yang mati rasa sejenak, lalu menatap lurus ke arah Tetua Pembantai yang masih melayang di udara.
Zian melangkah maju menaiki tangga kayu pelataran kapal. Saat berada di anak tangga terakhir, dia berhenti dan menoleh ke belakang.
"Pak Tua," panggil Zian dengan nada suara santai, namun menggema jelas di seluruh penjuru gunung. "Simpan baik-baik dendammu itu."
Tetua Pembantai memicingkan mata penuh amarah. "Kalau kau berani menginjakkan kaki di Benua Tengah, aku akan memastikan kau memohon untuk mati perlahan, Bocah!"
"Jangan khawatir," Zian tersenyum sangat lebar dan kejam. "Aku pasti akan datang mencari sekte pusat kalian. Aku sendiri yang akan mematahkan leher tuamu itu. Ingat baik-baik wajahku hari ini."
Tanpa menunggu balasan lagi, Zian berbalik dan melangkah santai masuk ke dalam perut Kapal Penembus Awan. Pintu perak raksasa itu langsung tertutup rapat di belakangnya dengan suara dentuman berat.
Begitu pintu tertutup, puluhan jenius yang sedari tadi merangkak ketakutan di pelataran langsung buru-buru berlari naik ke kapal lewat pintu samping. Mereka menunduk dalam-dalam saat berpapasan dengan bayangan Zian, tidak berani menatap matanya apalagi membuka mulut untuk mengejek. Pemuda tanpa aura ini baru saja menantang kematian dari seorang Raja Puncak dan selamat. Bagi mereka, Zian adalah monster sejati.
TUUUUT!
Terompet kapal kembali berbunyi. Kapal kayu raksasa itu perlahan terangkat ke udara. Lingkaran sihir perak menyala terang di bawah lambung kapal, mendorongnya melesat menembus awan tebal dengan kecepatan luar biasa. Daratan benua kecil tempat Zian dilahirkan perlahan mengecil dan hilang tertelan kabut awan.
Di dalam kapal, suasananya sangat mewah. Lantainya berlapis karpet sutra merah yang tebal, dan lampu-lampu kristal menerangi lorong yang panjang. Para pelayan wanita menunduk hormat menyambut tamu-tamu undangan.
Zian mengabaikan semua kemewahan itu. Dia berjalan lurus menyusuri lorong mencari nomor kabin yang tertera di Medali Kematian miliknya. Para jenius elit dari berbagai kerajaan buru-buru menempel ke dinding lorong setiap kali Zian lewat, memberi jalan seluas-luasnya untuk pemuda berpenampilan kumal namun mematikan itu.
"Kabin nomor 13," gumam Zian saat menemukan pintunya di ujung lorong VIP.
Dia masuk dan langsung mengunci pintu. Kabin itu sangat luas, dilengkapi ranjang empuk dan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke lautan awan yang bergulung cepat di luar.
Zian tidak peduli dengan ranjang empuk itu. Dia langsung menjatuhkan dirinya duduk bersila di atas lantai kayu yang keras. Dia memegang lengan kanannya yang kini membengkak keunguan. Rasa sakitnya perlahan mulai terasa ribuan kali lebih tajam, seperti ditusuk-tusuk ratusan paku panas dari dalam sumsum tulangnya.
"Kau benar-benar nekat, Bocah," tawa serak leluhur Asura tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Tawanya terdengar sangat puas dan bangga. "Berani meninju serangan sihir murni Raja Puncak dengan fisikmu yang masih di tahap awal? Kau beruntung lenganmu tidak hancur jadi debu darah."
"Bicara saja terus, Pak Tua," balas Zian sambil meringis menahan sakit. Dia merobek sisa lengan bajunya agar ototnya bisa bernapas. "Cepat beri tahu aku cara menyembuhkan tulang retak ini. Kita sudah dalam perjalanan ke tempat yang isinya monster semua."
"Menyembuhkan? Hahaha!" leluhur Asura tertawa makin liar. "Itu bukan sekadar retak, Zian! Coba kau rasakan baik-baik ke dalam lukamu!"
Zian memusatkan fokusnya. Benar saja, dari celah-celah tulang lengannya yang retak, ada serpihan hawa energi berwarna merah darah yang tertinggal dari benturan dengan Tetua Pembantai tadi. Energi itu bukannya merusak sisa tulangnya, malah perlahan ditarik dan diserap oleh sumsum Tulang Asuranya.
"Tulang Asura hidup dari pertarungan brutal yang melampaui batas," jelas leluhur itu dengan nada serius. "Setiap kali kau membentur kekuatan yang lebih besar dan bertahan hidup, tulangmu akan merekam ingatan tekanan itu. Retakan itu bukan luka, Zian! Melainkan ruang kosong untuk memadatkan tulangmu ke tahap berikutnya!"
Zian tersenyum tipis menahan perih. "Maksudmu, ini proses Penempaan Ulang?"
"Tepat! Tahan rasa sakitnya sepanjang malam ini," suara leluhur Asura berubah menjadi seringai penuh antisipasi. "Besok pagi saat kau membuka mata, kepalan tanganmu tidak hanya akan mengeluarkan suara ledakan angin, tapi cukup padat untuk membelah ombak lautan!"
Zian menutup matanya rapat-rapat. Dia mulai mengatur tempo napasnya, membiarkan rasa sakit dari tulangnya yang retak dan menyatu kembali menyiksa setiap inci sarafnya. Dia menikmati rasa sakit ini, karena dia tahu ini adalah harga mutlak dari kekuatan sejati.
Namun, baru beberapa jam Zian bermeditasi di dalam keheningan kabinnya, tiba-tiba suhu udara di dalam ruangan itu anjlok drastis.
Bukan dingin karena sihir es, melainkan rasa dingin yang berasal dari tekanan niat membunuh yang luar biasa pekat dan murni. Hawa itu merayap pelan dari bawah lantai kayunya.
Zian langsung membuka matanya. Tulang lehernya otomatis menegang keras.
Tekanan itu tidak datang dari luar kapal. Tekanan itu bocor dari kabin bernomor 14, tepat di sebelah kamarnya. Sangat tipis, sangat sunyi, tapi bagi insting bertarung Zian yang tajam, rasanya seperti ada seekor naga buas yang sedang terbangun dari tidur panjang, dan monster itu hanya dibatasi oleh selembar dinding kayu dari tempatnya duduk.
Zian menyipitkan matanya. Dia menatap dinding kayu di sebelahnya dengan kewaspadaan penuh. Kapal terbang ini ternyata mengangkut sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari semua musuh yang pernah dia temui di daratan.
cuma tinju asal ajaaa