Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinkronisasi Jiwa
Ruangan di Sektor Zero bergetar hebat, bukan karena gempa tektonik, melainkan karena frekuensi yang saling bertabrakan. Pria di dalam tabung Adam yang asli, Proyek 00 mulai membuka matanya. Matanya tidak memiliki pupil yang jelas; mereka seperti galaksi kecil berisi data yang terus mengalir. Dr. Maru, melalui layar monitor, tampak gemetar karena kegirangan yang fanatik.
"Lihat itu, Liora! Kesempurnaan! Tubuh yang mampu menahan tekanan tujuh ribu meter di bawah laut dan radiasi mematikan di luar angkasa. Dia adalah wadah abadi!" teriak Maru.
Liora berdiri hanya beberapa senti dari tabung itu. Ia bisa merasakan hawa dingin yang keluar dari tubuh Adam 00. Tangannya yang memegang senjata masih bergetar. "Dia bukan manusia, Maru. Dia hanyalah perangkat keras yang kalian beri wajah seseorang yang aku cintai."
"Cinta adalah residu kimiawi yang tidak berguna, Liora! Masukkan kode enkripsinya sekarang, atau aku akan meledakkan The Nautilus-X dan membiarkanmu mati perlahan di kegelapan ini!"
Hendrawan, yang masih berada di dalam kapal selam, berteriak melalui komunikator internal. "Liora! Jangan lakukan! Aku sedang mencoba meretas balik protokol ledakannya, tapi sistem mereka terlalu kuat! Mereka menggunakan enkripsi berbasis DNA!"
Liora menatap pria di dalam tabung itu. Adam 00 mulai mengangkat tangannya, jemarinya yang pucat menyentuh dinding kaca. Di saat itulah, Liora melihatnya. Di pergelangan tangan pria itu, terdapat bekas luka bakar kecil yang sangat spesifik sebuah luka yang didapat Adam Satria saat ia menyelamatkan Liora dari ledakan di lantai 88 gedung Ate gard.
Liora tertegun. "Jika dia adalah prototipe yang disimpan di sini selama bertahun-tahun, kenapa dia punya luka dari kejadian di Singapura?"
Tiba-tiba, suara Adam "digital" yang tadi menghilang dari kepalanya kembali muncul, namun suaranya terdengar sangat nyata, seolah ia berdiri tepat di belakang Liora.
"Karena tidak pernah ada dua Adam, Liora."
Liora berbalik, namun tidak ada siapa pun di sana.
"Elit berbohong padamu tentang 'Proyek 01'. Mereka ingin kau percaya bahwa aku hanyalah salinan digital agar kau tidak ragu untuk menghancurkan tubuh ini jika diperlukan. Faktanya, mereka melakukan 'Quantum Entanglement' pada kesadaranku. Tubuhku ada di sini, di Sektor Zero, sementara kesadaranku diproyeksikan ke Singapura untuk membangun dunia yang mereka inginkan. Aku adalah satu jiwa yang dipaksa hidup di dua tempat."
Liora menatap tabung itu lagi dengan pemahaman baru. "Jadi... jika aku memasukkan kode ini, apa yang akan terjadi padamu?"
"Jika kau memasukkan kode dari Maru, kesadaran 'Elit' akan masuk ke tubuh ini dan menghapusku selamanya. Tapi jika kau menggunakan lagu rakyat yang dibawa Hendrawan... kau akan menyatukan kembali proyeksi digital-ku dengan tubuh asliku. Aku akan menjadi manusia lagi, Liora. Tapi dengan risiko seluruh jaringan Elit akan ikut meledak bersamaku."
"Lakukan saja, Liora!" teriak Maru. "Jangan dengarkan suara-suara di kepalamu! Itu hanyalah sisa-sisa halusinasi dari radiasi bawah laut!"
Liora mengambil perangkat enkripsi itu. Ia tidak memasukkannya ke slot utama yang diminta Maru. Sebaliknya, ia membongkar perangkat itu dengan kasar menggunakan pisau komandonya. Di dalamnya, terdapat sebuah chip memori kecil. Liora menghubungkan chip itu dengan pemancar musik milik Hendrawan.
"Apa yang kau lakukan?!" Maru menjerit di layar. "Kau akan merusak sinkronisasinya!"
"Aku tidak sedang mensinkronisasi data, Maru," kata Liora dingin. "Aku sedang memanggil temanku pulang."
Liora menekan tombol Play.
Melodi seruling bambu dan tabuhan kendang yang sama yang menyelamatkan mereka di Gunung Padang kini bergema di ruang kedap suara Sektor Zero. Melodi itu terasa aneh di tempat sedalam ini sebuah kontras antara akar budaya bumi dengan teknologi dingin tanpa jiwa.
Seketika, tubuh Adam 00 di dalam tabung bereaksi hebat. Ia kejang. Data di matanya mulai memudar, digantikan oleh warna cokelat manusia yang hangat. Kabel-kabel sensor di sekeliling tabung mulai meledak satu per satu, mengeluarkan percikan api biru.
"TIDAK! SISTEMNYA OVERLOAD!" teriak Maru sebelum layarnya meledak dan menjadi gelap total.
Liora memecahkan kaca tabung dengan teropong senjatanya. Air biogenik tumpah ke lantai, membasahi sepatu Liora. Tubuh Adam 00 jatuh ke pelukannya. Ia terasa dingin, sangat dingin, namun jantungnya mulai berdetak dengan irama yang sinkron dengan musik tersebut.
"Adam... bangun..." bisik Liora, memeluk pria itu di tengah reruntuhan laboratorium bawah laut yang mulai runtuh.
Pria itu terbatuk, memuntahkan cairan nutrisi dari paru-parunya. Ia membuka matanya perlahan. Kali ini, ia melihat Liora dengan tatapan yang sangat dikenal Liora. Tatapan seorang pria yang telah menempuh perjalanan melintasi dimensi digital hanya untuk kembali ke pelukan wanita yang ia cintai.
"Liora..." suaranya parau, namun nyata. Bukan suara digital, bukan suara gema. Itu adalah suara manusia. "Bau... bau tanah setelah hujan... aku bisa merasakannya lagi."
Namun, kemenangan mereka belum lengkap. Pangkalan Sektor Zero mulai berguncang hebat. Tekanan air tujuh ribu meter mulai menekan dinding-dinding yang sudah retak.
"Hendrawan! Buka pintu dermaga! Kita harus keluar sekarang!" teriak Liora sambil memapah Adam menuju The Nautilus-X.
Di luar, mereka melihat kapal-kapal elit mulai melarikan diri ke permukaan. Namun, sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. Karena Sektor Zero adalah "Jangkar Samudera", kehancuran sistem di sini memicu reaksi berantai global. Kabel-kabel bawah laut yang menghubungkan benua-benua mulai terbakar, memutus akses para elit di Bulan terhadap budak-budak mereka di bumi.
Saat The Nautilus-X melesat naik menuju permukaan, Liora menatap Adam yang duduk bersandar di kursi penumpang. Adam tampak sangat lemah, namun ia memegang tangan Liora dengan erat.
"Semuanya berakhir, Adam?" tanya Liora.
Adam menggeleng perlahan. "Di bawah sini, ya. Tapi di atas sana... di Bulan... Pemegang Kendali masih memiliki 'The Silence'. Kita baru saja memutus tangannya, tapi kepalanya masih hidup. Dan dia sekarang sangat, sangat marah."
Liora melihat ke arah jendela kapal selam. Di permukaan air yang semakin dekat, ia melihat cahaya matahari yang mulai menembus kegelapan. Namun di balik cahaya itu, ia juga melihat sebuah bayangan raksasa di angkasa. Bahtera elit sedang turun ke atmosfer bumi. Mereka tidak lagi mencoba memerintah secara rahasia. Mereka datang untuk perang total.
"Biarkan mereka datang," kata Liora sambil mengisi ulang senjatanya. "Sekarang mereka akan melawan manusia yang memiliki jiwanya kembali."
Pembaca kini menyadari bahwa kemenangan di bawah laut hanyalah pembuka bagi perang yang lebih besar di atmosfer. Dan Adam, meskipun sudah kembali ke tubuh manusianya, membawa sesuatu yang tertinggal dari dunia digital sebuah pengetahuan tentang kelemahan terakhir para elit.