⚠️Area yang khusus orang besar. ^_^ nak kecil hus hus...
Kisah cinta slow-burn antara siswi petakilan dengan guru muda PJOK yang terlalu cool untuk jadi nyata. Isinya 30% latihan fisik, 70% adu mekanik perasaan.
Mulai dari drama salah kirim stiker WhatsApp ke grup kelas, sampai momen panas di gudang sekolah yang hampir bikin profesionalitas Pak Radit runtuh.
Ini cerita tentang masa transisi jadi dewasa, di mana batas antara guru dan murid cuma sebatas "status" yang siap dihapus setelah hari kelulusan.
"Pak, lari keliling lapangan saya sanggup. Asal finish-nya di pelaminan kita." — Gia, 18 tahun, pejuang remedial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 (Part 2)
Pak Radit menoleh. "Siska?"
Gia membeku. Namanya Siska. Dan cara dia manggil "Radit" itu bukan cara manggil temen biasa. Ada nada familiar yang dalem banget di sana.
"Ya ampun, beneran kamu! Apa kabar?" Siska mendekat, senyumnya manis banget—tipe senyum yang bikin cowok manapun bakal luluh.
"Baik, Sis. Kamu apa kabar? Lagi apa di sini?" tanya Pak Radit. Nada bicaranya tetap tenang, tapi ada sedikit kegugupan yang cuma bisa ditangkep oleh mata tajam Gia.
"Lagi beli vitamin buat Mama. Kamu sendiri? Sama siapa?" Mata Siska langsung melirik ke arah Gia yang berdiri kaku dua meter di belakang Pak Radit. Siska menatap Gia dari ujung rambut sampai ujung sepatu sekolahnya yang agak dekil. "Murid kamu?"
Gia merasa kayak butiran debu yang nggak sengaja nempel di jas mahal.
"Iya, ini murid saya. Tadi ada insiden di lapangan, kakinya cidera," jelas Pak Radit singkat.
Siska tersenyum tipis ke arah Gia. "Halo, Dek. Hati-hati ya kalau olahraga. Radit ini emang disiplin banget, dari dulu nggak berubah."
DEK?! Gia pengen teriak. Heh, Mbak! Gue udah 18 tahun!
"Iya, Tante. Eh, Mbak. Pak Radit emang... tegas banget. Tapi dia baik kok, tadi aja saya digendong sampai sini," sahut Gia dengan nada yang sengaja dibuat agak manja. Dia nekat. Dia nggak mau kalah vibe.
Pak Radit langsung menoleh tajam ke arah Gia, tapi Gia pura-pura nggak liat dan malah sibuk memijat kakinya sendiri sambil meringis kecil.
"Oh, digendong ya?" Siska tertawa kecil, tapi tawanya terdengar agak dipaksakan. "Dulu kamu juga sering gendong aku kalau aku capek naik gunung, kan, Dit?"
BOOM! Kapal Gia serasa kena torpedo.
"Itu udah lama, Sis," jawab Pak Radit pendek. Dia langsung mengambil plastikan obatnya dari kasir. "Kita duluan ya, Sis. Kasihan dia harus segera istirahat."
"Oke. Nice to see you again, Dit. Kabarin ya kalau ada waktu, kita kopi-kopi bareng. Aku masih pakai nomor yang lama kok." Siska melambaikan tangan dengan elegan sebelum berlalu keluar.
Suasana di dalam mobil saat mereka lanjut jalan jadi makin dingin dari AC paling rendah. Gia nggak lagi putar lagu. Dia cuma melipat tangan di dada, melihat ke luar jendela dengan muka ditekuk.
"Kenapa diem?" tanya Pak Radit setelah lima menit keheningan total.
"Nggak papa."
"Gia, suara 'nggak papa' kamu itu terdengar kayak mau ngajak perang dunia ketiga."
Gia menarik napas panjang. "Tante tadi siapa, Pak? Cantik ya. Mapan banget kayaknya. Wanginya juga... wangi uang."
"Itu Siska. Teman kuliah saya dulu," jawab Pak Radit tenang.
"Teman kuliah yang pernah digendong pas naik gunung? Berarti spesial dong? Kenapa nggak jadian aja sekalian?"
Pak Radit menginjak rem pelan karena lampu merah. Dia menoleh sepenuhnya ke arah Gia. "Kenapa kamu jadi interogasi saya? Dan kenapa kamu manggil dia Tante? Dia itu cuma beda dua tahun sama saya."
"Ya karena dia kelihatan jauh lebih tua dari saya! Dan dia manggil saya 'Dek'! Dia pikir saya anak SD apa?!" Gia mulai meledak. "Terus Bapak juga, kenapa nggak bilang kalau Bapak punya mantan yang speknya kayak gitu? Saya jadi ngerasa... saya ini apa sih? Cuma murid yang salah kirim stiker 'Daddy'!"
Pak Radit terdiam. Dia menatap mata Gia yang mulai berkaca-kaca—antara marah, cemburu, dan malu jadi satu.
"Gia," panggil Pak Radit lembut. Kali ini tanpa embel-embel nada guru.
"Apa?"
"Siska itu masa lalu. Dan saya nggak punya kewajiban buat laporan soal masa lalu saya ke kamu," kata Pak Radit. "Tapi satu hal yang kamu harus tahu. Saya nggak suka dibanding-bandingkan.
Dan saya juga nggak suka murid saya bersikap nggak sopan sama orang lain, apalagi cuma karena perasaan yang... nggak jelas kayak gini."
"Perasaan nggak jelas?! Bapak bilang ini nggak jelas?!" Gia menunjuk dadanya sendiri. "Saya deg-degan setiap liat Bapak! Saya rela remedial tiap hari biar bisa deket sama Bapak! Terus sekarang Bapak bilang ini nggak jelas?!"
Lampu hijau menyala. Klakson mobil di belakang mulai berbunyi nyaring. Pak Radit tidak langsung jalan. Dia menatap Gia dengan intensitas yang bikin Gia lupa cara napas.
"Gia, kamu masih sekolah. Fokus kamu harusnya ujian, bukan saya," kata Pak Radit dingin sebelum akhirnya melajukan mobilnya lagi.
Gia langsung memalingkan wajah. Air mata yang tadi ditahan akhirnya jatuh satu tetes. Dia merasa sangat bodoh. Sangat kekanak-kanakan. Benar kata Pak Radit, dia kurang dewasa.
Sesampainya di depan rumah Gia—sebuah rumah minimalis dengan banyak tanaman hias—Pak Radit menghentikan mobilnya. Dia tidak langsung membukakan pintu. Dia mengambil plastik obat tadi dan memberikannya ke Gia.
"Pakai salepnya tiga kali sehari. Jangan banyak gerak dulu. Besok kalau masih sakit, nggak usah ikut pelajaran saya," kata Pak Radit tanpa menoleh.
Gia mengambil plastik itu tanpa suara. Dia membuka pintu mobil, tapi sebelum turun, dia berhenti sebentar.
"Pak," panggil Gia serak.
"Ya?"
"Makasih buat tumpangannya. Dan maaf kalau saya... too much. Saya bakal usaha buat jadi 'dewasa' versi Bapak."
Gia turun dari mobil dan berjalan tertatih-tatih masuk ke gerbang rumahnya tanpa menoleh lagi.
Di dalam mobil, Pak Radit memukul setirnya pelan. Dia melihat ke arah jok penumpang yang kosong. Aroma parfum manis cherry blossom milik Gia masih tertinggal di sana, bercampur dengan wangi woodsy miliknya.
Pak Radit mengambil HP-nya. Dia membuka WhatsApp. Dia melihat grup PJOK yang tadi dia bersihkan dari stiker Gia. Kemudian dia membuka kontak Gia yang baru saja dia simpan diam-diam dengan nama "Gia 12-IPS 3".
Dia mengetik sesuatu, tapi kemudian dihapus lagi. Diketik lagi, dihapus lagi.
Hingga akhirnya, sebuah pesan terkirim.
Radit PJOK: Gia, jangan nangis. Besok saya bawain es krim kalau kaki kamu udah baikan.
Gia yang baru saja mau merebahkan diri di kasur sambil nangis sesenggukan, langsung melonjak duduk saat melihat notifikasi itu. Jantungnya yang tadi hancur berkeping-keping, mendadak dirakit kembali pakai lem paling kuat di dunia.
"GILA! PAK RADIT NGE-CHAT DULUAN?!" teriak Gia histeris, lupa kalau kakinya lagi sakit.
Tapi kebahagiaan itu cuma bertahan sedetik, sebelum sebuah pikiran buruk muncul, Apakah ini cuma bentuk rasa kasihan seorang guru, atau Pak Radit juga lagi 'clash' sama perasaannya sendiri?
...
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰
Thor bikin Gia jangan ngejar2 nih guru lagi,Bikin gia cuekin nih guru biar tau rasa dia..