Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Khawatir Brian
Langit Manhattan sore itu terlihat muram, awan kelabu menggantung rendah seolah ikut menanggung kegelisahan dua pria di dalam cockpit pesawat yang melaju stabil di ketinggian tiga puluh lima ribu kaki.
Alexander duduk tegak di kursi kaptennya. Sorot matanya lurus ke depan, fokus pada panel instrumen, namun pikirannya jelas tidak sepenuhnya berada di sana. Dua bulan berlalu sejak insiden penembakan itu. Dua bulan sejak Valeria terbaring tak sadarkan diri di ICU. Dua bulan sejak hidupnya terasa seperti menggantung tanpa kepastian.
Di sampingnya, Brian—sahabat sekaligus co-pilot setianya—terlihat tidak setenang biasanya.
Brian menatap ponselnya yang diletakkan di dekat tasnya, walau ia tahu aturan penerbangan melarang penggunaan perangkat pribadi saat fase aktif. Mereka memang sedang dalam kondisi cruise stabil, autopilot menyala, semua sistem berjalan normal. Tapi kegelisahan itu tak bisa disembunyikan.
Sudah tiga kali ia mengecek layar notifikasi.
Kosong.
Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan.
Alexander melirik sekilas ke arahnya.
“Kau menunggu pesan penting?” tanyanya datar, tanpa mengalihkan pandangan sepenuhnya dari panel.
Brian tersenyum tipis, mencoba terlihat santai. “Tidak juga.”
Alexander mengenalnya terlalu lama untuk percaya pada jawaban itu.
Sudah lebih dari sepuluh tahun mereka bersama. Dari sekolah penerbangan, masa pelatihan yang keras, hingga menjadi pilot profesional dengan reputasi tinggi. Mereka bukan hanya rekan kerja—mereka seperti saudara.
“Dari siapa?” tanya Alexander lagi, kali ini lebih lembut.
Brian terdiam sejenak. Lalu menghela napas.
“Caca.”
Nama itu membuat Alexander menoleh cepat.
“Adikmu?”
Brian mengangguk.
“Sejak pagi tidak bisa dihubungi. Biasanya dia selalu membalas pesan. Minimal satu jam sekali.”
Alexander mengernyit. “Dia tidak di apartemenmu?”
Brian menggeleng pelan. “Harusnya di sana. Sudah seminggu dia tinggal denganku.”
Alexander terdiam. Ia tahu Brian memiliki seorang adik perempuan. Tapi tak pernah benar-benar mengenalnya. Ia hanya tahu satu hal—Brian sangat protektif terhadapnya.
“Kenapa dia pindah?” tanya Alexander.
Brian tertawa hambar. “Rumah bukan tempat yang nyaman untuknya.”
Alexander menunggu.
“Orang tuaku…” Brian berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. “Mereka tidak pernah benar-benar menganggap Caca berarti. Papaku hanya peduli pada Mateo—adik laki-lakiku. Caca selalu dibandingkan. Selalu direndahkan.”
Alexander merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.
Entah kenapa, ia membayangkan sosok Valeria. Gadis kuat yang selalu berusaha tersenyum meski dunia terasa berat. Gadis yang kini terbaring tanpa suara.
“Dia baik-baik saja selama ini?” tanya Alexander pelan.
Brian mengangguk. “Dia kuat. Terlalu kuat malah. Tapi minggu lalu dia pergi dari rumah. Katanya sudah tidak tahan. Mama memakinya, Papa tidak pernah membelanya.”
Alexander mengepalkan jemarinya di atas throttle.
Ia tidak suka mendengar kisah seperti itu.
“Dan sekarang dia tidak bisa dihubungi?” tanyanya lagi.
Brian menggeleng.
“Sejak tadi pagi.”
Keheningan menyelimuti cockpit sejenak. Hanya suara mesin pesawat dan notifikasi sistem yang terdengar.
Alexander menatap ke depan, tapi pikirannya mulai menyusun kemungkinan.
“Kau sudah coba hubungi rumah sakit tempat dia praktik?” tanyanya tiba-tiba.
Brian menoleh. “Bagaimana kau tahu dia praktik di rumah sakit?”
Alexander mengangkat bahu tipis. “kau pernah mengatakan sekali. Dia dokter, bukan?”
Brian mengangguk. “Iya. Residen.”
Alexander menahan napas sejenak.
Residen.
Rumah sakit.
Entah kenapa, hatinya terasa tidak nyaman.
“Setelah landing nanti, kita ke sana,” ucap Alexander tegas.
Brian terkejut. “Kau tidak perlu—”
“Aku perlu,” potong Alexander datar. “Kau sahabatku.”
Brian menatapnya dalam diam. Ada rasa terima kasih yang tidak terucap.
Dua jam kemudian, pesawat mendarat dengan mulus. Prosedur selesai, laporan ditandatangani, dan tanpa banyak bicara mereka berdua langsung meninggalkan bandara.
Mobil melaju cepat menuju rumah sakit tempat Camille bekerja.
Sepanjang perjalanan, Brian terus mencoba menghubungi nomor adiknya.
Tidak aktif.
Alexander memperhatikan dari sudut mata. Ia tahu perasaan itu. Menunggu seseorang yang tidak memberi kabar. Ketakutan akan kemungkinan terburuk.
Ia sudah mengalaminya.
Dua bulan lalu.
Ketika panggilan darurat itu datang.
Ketika ia mendengar Valeria tertembak.
Tangannya tanpa sadar menggenggam setir lebih erat.
“Dia tidak pernah seperti ini,” gumam Brian pelan. “Kalau pun sibuk, dia akan kirim pesan. Minimal satu kata.”
Alexander tidak menjawab. Ia hanya mempercepat laju mobil.
Begitu tiba di rumah sakit, suasana terasa berbeda.
Ada bisik-bisik kecil di lorong. Beberapa perawat terlihat saling bertukar pandang.
Brian langsung menghampiri meja perawat.
“Saya mencari Camille,” katanya cepat.
Alexander tegang saat mendengar nama Camille. bukannya itu sahabat gadisnya. ahh. mungkin hanya kebetulan namanya sama.
Perawat itu tampak ragu sejenak sebelum menjawab, “Dia… sedang di ruang observasi.”
“Kenapa?” suara Brian menegang.
Perawat itu menatapnya hati-hati. “Dia mengalami insiden di kantin tadi siang.”
Alexander dan Brian saling pandang.
Jantung Brian seperti berhenti berdetak.
“Insiden apa?” tanyanya dengan suara hampir bergetar.
“Dia… diserang.”
Kata itu terasa seperti pukulan.
Brian langsung berlari ke arah yang ditunjukkan perawat. Alexander menyusul di belakangnya.
Lorong demi lorong dilewati dengan napas memburu.
Dan ketika pintu ruang observasi itu terbuka—
Brian membeku.
Camille duduk di ranjang pasien. Wajahnya pucat. Sudut bibirnya lebam. Ada bekas goresan di pipinya. Lengan kirinya diperban.
Matanya yang biasanya cerah kini redup.
“Camille…” suara Brian pecah.
Gadis itu menoleh perlahan.
Air matanya langsung jatuh begitu melihat kakaknya. Dia ingin memeluk Brian.
Brian peka kan itu.
Ditariknya adik ke dalam dekapananya.
Tenang. itu yang mereka rasakan.
“Maaf…” bisiknya lirih.
Brian menghampiri dan memeluknya hati-hati, seolah ia terbuat dari kaca rapuh.
“Siapa yang melakukan ini?” tanyanya dengan suara bergetar menahan amarah.
Camille terdiam.
Alexander berdiri beberapa langkah dari mereka. Dadanya terasa panas. Ia tidak mengenal gadis itu secara dekat, tapi melihat luka-luka itu cukup membuat darahnya mendidih. Dia baru sadar gadis itu yang sering dia liat dekat dengan Daniel maupun gadisnya. Ternyata Caca itu Camille adik sahabatnya.
“Siapa?” ulang Brian lebih tegas.
Camille menunduk. “Mama.”
Satu kata itu menghantam ruangan.
Brian terdiam beberapa detik, seolah otaknya menolak mencerna.
“Apa?”
“Mama datang ke kantin,” suara Camille bergetar. “Dia marah karena aku tinggal di apartemenmu. Katanya aku mempermalukan keluarga. Dia bilang aku tidak tahu diri.”
Brian mengepalkan tinjunya.
“Dia memukulmu?” suaranya bergetar hebat.
Camille mengangguk pelan. “Di depan semua orang.”
Alexander merasakan rahangnya menegang.
Ia tahu rasanya menyaksikan orang yang dicintai terluka dan tak berdaya.
Ia melihatnya setiap hari di ICU.
Dan kini, ia melihatnya lagi di hadapannya.
“Kenapa kau tidak memberitahuku?” tanya Brian pelan.
Camille tersenyum pahit. “Aku tidak ingin menambah bebanmu. Kau baru kembali terbang. Aku tidak ingin mengganggu.”
Kalimat itu membuat Brian hampir tak mampu menahan emosinya.
“Aku kakakmu,” katanya tegas. “Kau bukan bebanku.”
Tangis Camille pecah.
Alexander menatap mereka dalam diam. Sesuatu dalam dirinya tersentuh.
Ia teringat pada dirinya sendiri yang duduk di sisi ranjang Valeria, menceritakan kisah demi kisah dengan harapan gadis itu membuka mata.
Rasa tak berdaya itu… sama.
Brian menoleh pada Alexander, seolah baru sadar ia tidak sendirian.
“Ini adikku,” katanya pelan.
Alexander melangkah mendekat. Tatapannya lembut, jauh dari kesan dingin dan arogan yang biasa orang lihat.
“Halo, ternyata Manhattan sempitnya,” ucapnya singkat. sambil terkekeh.
Camille menatapnya. Ia mengenali wajah itu. Kapten Alexander. Sahabat kakaknya. Dan juga kekasih Valeria.
Yang terkenal dingin.
Tapi kini sorot matanya berbeda.
“Terima kasih sudah datang,” bisik Camille.
Alexander mengangguk kecil.
“Tidak ada yang berhak menyakitimu,” katanya pelan namun tegas.
Kalimat sederhana itu membuat Camille terdiam.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa dilindungi.
Brian mengusap rambut adiknya perlahan. Dan mencium keningnya.
“Kau tidak akan kembali ke rumah itu,” katanya mantap. “Kau tinggal denganku. Selamanya kalau perlu.”
Camille terisak pelan.
Alexander menatap pemandangan itu dan tiba-tiba menyadari sesuatu.
Selama ini ia merasa paling hancur.
Paling terluka.
Paling menderita karena Valeria belum membuka mata.
Tapi dunia tidak pernah berhenti memutar tragedi bagi orang lain juga.
Ia menarik napas panjang.
“Kalau ada yang mencoba menyakitinya lagi,” ucap Alexander pelan, “aku akan pastikan mereka menyesal.”
Brian menatapnya.
Ia tahu Alexander bukan tipe pria yang bicara sembarangan.
Camille menatap kedua pria itu.
Untuk pertama kalinya sejak siang tadi, ketakutan di dadanya sedikit mereda.
Tapi tidak dengan hati seorang laki-laki di luar sana.
ya, itu Daniel. Dia hanya melihat interaksi mereka tanpa tau apa yang sedang di bicarakan.
Entah mengapa hatinya seperti di remas oleh tangan tak kasat mata. Dia Cemburu.
"Kenapa denganku. Aku cemburu kepada pilot itu? Valeria masih terbaring tenang di sana apa yang kamu pikirkan Niel." membela diri.
Dan meninggalkan mereka bertiga.
Di luar ruangan, lorong rumah sakit kembali berjalan normal.
Pasien datang dan pergi.
Dokter dan perawat berlalu-lalang.
Hidup terus berjalan.
Namun di dalam ruangan kecil itu, sebuah ikatan semakin kuat.
Ikatan saudara.
Ikatan sahabat.
Dan tanpa mereka sadari—
Takdir sedang menenun benang-benang cerita mereka semakin erat.
Karena konflik ini bukan akhir.
Ini baru permulaan.